Muhammad Dirman Rasyid
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemahaman Komprehensif Terhadap Hadis Perintah Memerangi Orang Kafir Antara Hikmah dan Legalitas Hidayatulah Abdul Rachman; Mohamad Anton Athoillah; Dede Rodlyana; Muhammad Dirman Rasyid
Cakrawala: Journal of Religious Studies and Global Society Vol. 2 No. 1 (2025): Juni
Publisher : Yayasan Cendekia Gagayunan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63142/cakrawala.v2i1.96

Abstract

The Umirtu an uqotila an-naas hadith often draws attention in Islamic legal discourse, sparking profound questions about its meaning in social and legal contexts. This study offers a fresh perspective by combining thematic analysis with an in-depth review of hadith commentary (syarah) and scholarly interpretations. By weighing the wisdom behind the text and its legal implications, the research highlights the importance of understanding this hadith comprehensively and contextually. The findings affirm that narrow interpretations can lead to detrimental misunderstandings, while a balanced approach paves the way for a more relevant and humane application of Islamic law. This article calls readers to delve into the depths of wisdom and legalities, harmonizing the two in addressing the challenges of contemporary Islamic thought.
PESANTREN-BASED RELIGIOUS MODERATION IN SULAWESI: CONTEXTUAL QUR’ANIC VALUES OF AMBO DALLE AND SAHABUDDIN Muhammad Dirman Rasyid; Muh Ilham Usman; Muhammad Zakir Husain
MUSHAF: Jurnal Tafsir Berwawasan Keindonesiaan Vol 6, No 2 (2026): Manuscripts, Exegesis, and the Contextualization of Qur’anic Values within the I
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/mushaf.v6i2.14102

Abstract

Religious moderation (wasat}iyyah) has become a strategic response to intolerance, exclusivism, and violent extremism in plural societies such as Indonesia, yet its implementation often remains a top-down programme detached from local culture. This study examines how two influential Sulawesi ulama, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle of South Sulawesi and Annangguru KH. Sahabuddin of West Sulawesi, contextualised Qur’anic values of moderation through pesantren-based education rooted in Bugis and Mandar traditions. The study aims to reconstruct the interpretive logic and the institutional mechanisms through which moderation was produced and sustained, rather than merely to label the two figures as moderate. Using a qualitative approach combining figure (tokoh) study and the sociology of knowledge, data were drawn from documentation, field observation, and in-depth interviews with family members, colleagues, and former students selected through purposive and snowball sampling across South and West Sulawesi, and analysed through data reduction, thematic categorisation, and interpretive analysis, with source triangulation. The findings suggest that both scholars read verses such as QS. al-Baqarah (2): 143, al-H{ujurāt (49): 13, QS. al-Nisā’ (4): 135, and QS. al-Anbiyā’ (21): 107 not as abstract doctrine but as ethical guidance embodied in pedagogy, vernacular preaching, and community mediation. The study contributes a contextual, sociological account of how localised tafsīr and grassroots authority can institutionalise a durable, culturally grounded model of moderation.
Perdebatan Aspek Ketuhanan Dalam Teologi Islam Aksa Muhammad Nawawi; Muhammad Dirman Rasyid
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2024): Januari-Maret 2024
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang gambaran tiga sekte besar Islam di dalam akidah, atau kadang disebut dengan ilmu kalam, serta perdebatan mereka tentang masalah teology. Tiga sekte tersebut adalah Asy'ariyyah, Maturidiyyah dan Mu'tazilah. Hasil peneltian menunjukkan bahwa Semua aliran tersebut, memiliki kemiripan dan perbedaan, persamaannya, masing-masing ingin membela dan memperjuangkan agama Allah serta menjauhkannya dari syubhat, dan masing-masing memiliki prinsip-prinsip dasar yang mesti dipegangi dalam membahas permasalahan akidah, disinilah letak perbedaannya. Munculnya suatu aliran ternyata sangat terpengaruh dengan aliran sebelumnya, aliran Asy'ariyyah dan Maturidiyyah muncul karena adanya aliran Mu'tazilah, keduanya muncul karena menganggap beberapa pemikiran Mu'tazilah telah mengalami penyimpangan dan bertentangan dengan teks wahyu. Sehingga hal ini perlu diketahui oleh seorang muslim, agar akidah kita termurnikan, sesuai dengan ajaran yang dibawa Oleh Baginda Nabi.
Relasi Simbiosis Al-Qur’an dan Sunnah Dalam Tradisi Penafsiran Muhammad Dirman Rasyid; Anugrah Reskiani; Aksa Muhammad Nawawi
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 2 No. 2 (2024): April-Juli 2024
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tafsir Al-Qur’an berbasis sunnah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam khazanah intelektual Islam. Penelitian ini mengeksplorasi relasi dan signifikansi sunnah sebagai sumber penafsiran Al-Qur’an. Melalui studi kepustakaan dengan pendekatan multidisipliner, penelitian ini mengkaji definisi sunnah, bentuk-bentuk penafsiran dengan sunnah, kaidah-kaidah tafsir berbasis sunnah, serta urgensinya dalam memahami makna-makna Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sunnah merupakan sumber penafsiran utama setelah Al-Qur’an itu sendiri, dengan beragam format seperti penafsiran langsung oleh Nabi, koreksi atas kesalahpahaman sahabat, hingga perbuatan Nabi yang merefleksikan kandungan ayat. Para ulama menetapkan kaidah mengutamakan penafsiran dari Nabi dan memperhatikan kekhususan lafal syar’i. Tafsir Al-Qur’an berdasarkan sunnah memiliki signifikansi sebagai kunci dalam menangkap maksud sebenarnya firman-firman Ilahi yang sulit dijangkau nalar manusia. Mengkajinya merupakan urgensi demi mereguk makna-makna luhur Al-Qur'an sebagai bekal kebahagiaan dunia dan akhirat sebagaimana diwasiatkan Nabi agar berpegang pada Al-Qur’an dan sunnahnya.