Weli Arjuna Wiwaha
Institut Agama Islam Nurul Hakim

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kontribusi Ilmu Psikologi dan Sosiologi dalam Perilaku Organisasi serta Implikasinya Terhadap Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam Zahratul Aeni; Weli Arjuna Wiwaha
JURNAL MAHASANTRI Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Mahasantri Volume II Nomor 2 Maret 2022
Publisher : LP2M IAI NURUL HAKIM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan bentuk-bentuk kontribusi ilmu psikologi dan sosiologi dalam perilaku organisasi serta implikasinya terhadap pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) yang berbasis pada penelitian kualitatif, dan dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian terdahulu sebagai sumber data penulisan. Adapun analisis data menggunakan dua prosedur, yaitu analisis deskriptif dan analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menemukan bahwa ilmu psikologi dan sosiologi yang berasal dari rumpun ilmu-ilmu sosial memiliki kontribusi penting dalam perilaku organisasi. Ilmu psikologi menyumbangkan beberapa hal, di antaranya adalah motivasi, keefektifan kepemimpinan dan stres kerja, sedangkan ilmu sosiologi memberikan sumbangan dalam hal dinamika kelompok, tim kerja, komunikasi, kekuasaan, konflik dan perilaku antar kelompok. Implikasinya terhadap pengelolaan lembaga pendidikan Islam sebagai wujud dari organisasi sangatlah jelas, baik implikasi pengelolaan pada madrasah, pondok pesantren maupun sekolah Islam.
PENGUATAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMK MELALUI PEMBINAAN ROHANI DAN KOLABORASI ORANG TUA WELI ARJUNA WIWAHA; KHALID MAKKY; MUHAMMAD MUHLIS; BQ .RAUDATUL JANNAH; ZUL AZHAR
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v4i4.15678

Abstract

Vocational high school students need to maintain religious values while participating in off-campus training, whereas their engagement in religious activities is not always optimal. This program aimed to strengthen Islamic Religious Education among students of SMK Abdul Karim Montong Sapah through spiritual mentoring, pre-training spiritual reinforcement, IMTAQ activities, short religious talks, and WhatsApp-based school–parent collaboration. The program used a school-based educational mentoring approach involving needs mapping, implementation of religious activities, strengthened family communication, and evaluation. Data were collected through observation, interviews with the principal, Islamic Religious Education teachers, students, and parents, as well as documentation, and were analyzed using qualitative descriptive procedures and participation percentages. The results show that the program integrated Qur’an recitation, faith and moral reinforcement, prophetic exemplars, and congregational worship. Specific reinforcement was provided to Grade XI students before off-campus training. Following stronger parent coordination through WhatsApp, active participation increased from approximately 60% to 80%. Key constraints included limited student interest and discipline, schedule conflicts with training, and speaker availability. The program produced a three-layer model consisting of religious habituation, transitional reinforcement before training, and digital school–parent collaboration, offering a practical approach that can be adapted by other vocational schools with similar needs. ABSTRAK Siswa sekolah menengah kejuruan menghadapi kebutuhan untuk mempertahankan nilai agama ketika mengikuti training di luar sekolah, sementara partisipasi dalam kegiatan keagamaan belum selalu optimal. Program ini bertujuan memperkuat Pendidikan Agama Islam (PAI) siswa SMK Abdul Karim Montong Sapah melalui pembinaan rohani, penguatan rohani pra-training, IMTAQ, kultum, serta kolaborasi sekolah–orang tua berbasis WhatsApp. Pelaksanaan menggunakan pendampingan pendidikan berbasis sekolah dengan tahapan pemetaan kebutuhan, pelaksanaan kegiatan keagamaan, penguatan komunikasi keluarga, dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan kepala sekolah, guru PAI, siswa, dan wali murid, serta dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan persentase partisipasi. Hasil menunjukkan bahwa kegiatan penguatan mengintegrasikan materi akidah, akhlak, keteladanan, pembacaan Al-Qur’an, dan ibadah berjamaah. Penguatan khusus diberikan kepada siswa kelas XI sebelum training. Setelah koordinasi dengan orang tua melalui WhatsApp, partisipasi aktif meningkat dari sekitar 60% menjadi 80%. Kendala utama meliputi minat dan kedisiplinan siswa, benturan jadwal training, serta ketersediaan pemateri. Program menghasilkan model tiga lapis berupa pembiasaan religius, penguatan transisional pra-training, dan kolaborasi digital sekolah–orang tua yang berpotensi direplikasi pada sekolah kejuruan dengan karakteristik serupa.
IMPLEMENTASI PROBLEM BASED LEARNING DAN PENGUATAN PEMAHAMAN AKIDAH AKHLAK SISWA MADRASAH TSANAWIYAH: STUDI KUALITATIF DI MTS NURUL FALAH NW LAJUT Nawai Hakim; Weli Arjuna Wiwaha
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the implementation of Problem-Based Learning (PBL), indications of strengthened student understanding, and the supporting and inhibiting factors in Aqidah Akhlak learning among Grade VIII C students at MTs Nurul Falah NW Lajut. A descriptive qualitative approach was employed involving 22 students and two Aqidah Akhlak teachers selected purposively. Data were collected from April to May 2024 through participatory observation, interviews, and documentation, and were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. Trustworthiness was strengthened through technique and source triangulation. The findings indicate that PBL encouraged students’ active participation in group discussions, problem solving, and contextual connections between religious-moral values and everyday situations. Strengthened understanding was indicated by students’ ability to explain learning materials more contextually and discuss alternative solutions collaboratively. Student enthusiasm and peer cooperation were the main supporting factors. In contrast, limited instructional time, uneven learning readiness and motivation, and difficulties expressing ideas in formal Indonesian constrained the learning process. These findings suggest that PBL has strong potential to strengthen students’ understanding of Aqidah Akhlak when supported by adequate scaffolding, structured time management, and explicit support for academic communication. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Problem Based Learning (PBL), indikasi penguatan pemahaman siswa, serta faktor pendukung dan penghambat pembelajaran Akidah Akhlak pada siswa kelas VIII C MTs Nurul Falah NW Lajut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan 22 siswa dan dua guru Akidah Akhlak yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan pada April–Mei 2024 melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PBL mendorong keterlibatan aktif siswa dalam diskusi kelompok, pemecahan masalah, dan pengaitan nilai-nilai akidah dan akhlak dengan situasi kehidupan sehari-hari. Indikasi penguatan pemahaman tampak dari kemampuan siswa menjelaskan makna materi secara lebih kontekstual serta mendiskusikan alternatif penyelesaian masalah secara kolaboratif. Semangat belajar dan kerja sama antarsiswa menjadi faktor pendukung utama. Sementara itu, keterbatasan waktu, perbedaan kesiapan belajar, motivasi yang belum merata, dan keterampilan menyampaikan gagasan dalam bahasa Indonesia menjadi hambatan. Temuan menegaskan bahwa PBL berpotensi memperkuat pemahaman Akidah Akhlak apabila diterapkan dengan scaffolding yang memadai, pengelolaan waktu yang terstruktur, serta dukungan komunikasi akademik siswa.
PERILAKU GENERASI Z DALAM PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI MEDIA EDUKASI: STUDI KASUS PADA MAHASISWA INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL HAKIM Hairuman Rusandi; Weli Arjuna Wiwaha; Sahrizal Fahlawi; Abdul Aziz; Saiful Rizal
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.15684

Abstract

This study aims to analyze Generation Z behavior in using social media as an educational medium and to describe the extent to which it is implemented in the learning process at Institut Agama Islam Nurul Hakim, Kediri, West Lombok. A descriptive qualitative approach was employed with ten informants as specified in the research method: six students and four lecturers. Data were collected through observation, unstructured interviews, and documentation, and were analyzed inductively through data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. Technique triangulation was used to strengthen data credibility. The findings show that Generation Z students perceive social media as a learning space that is close to their daily lives, flexible, visual, interactive, and useful for information seeking, collaboration, and creativity. YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, and instant-messaging services are informally used to access learning materials, tutorials, educational videos, online events, and academic information. Nevertheless, these practices have not been optimally integrated into formal classroom instruction. Wi-Fi and computer laboratory facilities are available, but classroom practice remains dominated by conventional discussions and presentations. The study therefore identifies a gap between students' strong digital readiness and the limited pedagogical integration of social media at the institutional level. Higher education institutions should respond by developing guidelines, lecturer and student training, and learning designs that position social media as a purposeful, critical, and responsible pedagogical complement. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis perilaku Generasi Z dalam memanfaatkan media sosial sebagai media edukasi serta menggambarkan tingkat penerapannya dalam proses pembelajaran di Institut Agama Islam Nurul Hakim, Kediri, Lombok Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan 10 informan yang dirinci pada bagian metode penelitian, yaitu enam mahasiswa dan empat dosen. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara tidak terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara induktif melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Generasi Z memandang media sosial sebagai ruang belajar yang dekat dengan keseharian, fleksibel, visual, interaktif, dan mendukung pencarian informasi, kolaborasi, serta pengembangan kreativitas. YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, dan layanan pesan instan digunakan secara informal untuk memperoleh materi, tutorial, video edukasi, mengikuti kegiatan daring, dan bertukar informasi akademik. Namun, pemanfaatan tersebut belum terintegrasi secara maksimal ke dalam pembelajaran formal di kelas. Fasilitas seperti jaringan Wi-Fi dan laboratorium komputer telah tersedia, tetapi praktik pembelajaran masih didominasi diskusi dan presentasi konvensional. Temuan ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara tingginya kesiapan digital mahasiswa dan rendahnya integrasi pedagogis media sosial di tingkat institusi. Implikasinya, perguruan tinggi perlu mengembangkan pedoman, pelatihan, dan desain pembelajaran yang menempatkan media sosial sebagai pelengkap pedagogis secara terarah, kritis, dan bertanggung jawab.