Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemaknaan School Well-being pada Siswa SMP: Indigenous Research Rudy Yuniawati; Nissa Tarnoto
Jurnal Psikologi Islam dan Budaya Vol 2, No 2 (2019): JPIB : Jurnal Psikologi Islam dan Budaya
Publisher : Faculty of Psychology, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jpib.v2i2.4408

Abstract

This study examined school well-being from the perspective of junior high school students and influential factors of school well-being in the context and culture of Indonesia. This study used qualitative method with indigenous approach. This study was conducted in two phases, the first stage research subjects were 223 students and the second stage were 68 students. The finding shows that school well-being includes student satisfaction with learning programs in schools, have good relationships with other students and teachers, feeling happy doing worship activities and deepening religious knowledge which is a characteristic of religious-based schools. However, the learning schedule is not satisfactory because many empty hours made students feel bored, the class situation was not conducive, and some subject matters were not complete. The factors that influence school well-being in students are internal motivation to study, positive relationships with peers and teachers, and religiosity.
Remaja Ngawen Berani Lawan Bullying: Psikoedukasi untuk Kesehatan Mental dan Lingkungan Sekolah Aman Muhammad Reza Fadila; Muhammad Rizal Marwan; Givana Firyal Fauziyah; Afni Nurul Izzah Bur; Rudy Yuniawati
Kontribusi: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Cipta Media Harmoni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53624/kontribusi.v6i2.884

Abstract

Latar Belakang: Bullying merupakan permasalahan psikososial yang berdampak signifikan terhadap kesehatan mental remaja, termasuk peningkatan risiko depresi, kecemasan, dan penarikan diri sosial. Data menunjukkan tingginya prevalensi perundungan pada remaja di Indonesia, sehingga diperlukan upaya preventif berbasis komunitas. Tujuan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap anti-bullying pada kader Posyandu Remaja wilayah kerja Puskesmas Ngawen 2, Gunungkidul. Metode: Intervensi dilakukan melalui psikoedukasi interaktif menggunakan desain one group pretest-posttest. Sebanyak 29 peserta mengikuti kegiatan, dan 20 peserta dianalisis secara statistik. Instrumen yang digunakan mengukur aspek kognitif dan non-kognitif (sikap). Hasil: Hasil uji Wilcoxon menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada aspek kognitif (p=1,000), yang mengindikasikan adanya ceiling effect akibat tingginya pengetahuan awal peserta. Namun, uji Paired Samples t-test menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek sikap (p=0,026), dengan rata-rata skor meningkat dari 48,85 menjadi 52,85. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa psikoedukasi efektif dalam memperkuat sikap anti-bullying dan kesiapan remaja sebagai agen perubahan di lingkungan sebaya. Program berbasis Posyandu Remaja berpotensi menjadi strategi preventif berkelanjutan dalam mendukung kesehatan mental remaja di tingkat komunitas.