Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

A Preparation and Characterization of Chitosan-Silica Membranes and Applications for Creatinine and Urea Transport Ayuni, Ni Putu Sri; Yuningrat, Ni Wayan; Panjaitan, Yuyunda Sari
Molekul Vol 19 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jm.2024.19.3.10436

Abstract

The main organ that of the urinary system after the main organ functions to filter waste products from the body's metabolism that must be removed through the excretion process is the kidneys. The remaining metabolite compounds that accumulate in the blood are caused by the kidneys being unable to filter and remove uremia toxin compounds such as urea and creatinine from the body. One indication of kidney damage can be seen from levels of creatinine and urea in the blood that exceed normal limits. Urea and creatinine levels can be lowered by improving kidney function, namely by the blood washing process (hemodialysis). In the hemodialysis technique, the price of an artificial kidney or hemodialyzer is very expensive so that kidney failure sufferers require very large costs for treatment. To overcome this problem, alternative natural materials are needed to make membrane artificial kidneys. The aim of the research is (1) to analyze the synthesis and characteristics of membranes and, (2) to apply them for the transport of creatinine and urea using silica chitosan membranes. Characterization includes functional group testing using an Fourier-Transform Infrared (FTIR) spectrophotometer, water absorption test (swelling test), tensile test, and morphology with Scanning Electron Microscope (SEM). The membranes were applied for creatinine transport with varying concentrations of 70, 100, and 130 mg/L. It was also used for transporting urea at various concentrations of 500, 1000, and 1500 mg/L. This study disclosed a window of opportunity to produce novel hemodialysis membranes using bio-based materials. Keywords: Biocompatibility, chitosan, creatinine, hemodialysis, membrane, silica, urea
TEKNOLOGI TEPAT GUNA PENGOLAHAN LIMBAH TEKSTIL BAGI INDUSTRI TENUN BINTANG TIMURTEKNOLOGI TEPAT GUNA PENGOLAHAN LIMBAH TEKSTIL BAGI INDUSTRI TENUN BINTANG TIMUR Yuningrat, Ni Wayan; Ayuni, Ni Putu Sri; Martiningsih, Ni Wayan; Gunamantha, I Made; Widana, Gede Agus Beni
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 7 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.317 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v7i1.12673

Abstract

Pada umumnya industri tekstil khususnya tenun menggunakan zat warna sintetis untuk proses pencelupannya, dengan pertimbangan warna yang dihasilkan akan lebih menarik dan tidak mudah pudar. Zat warna yang telah selesai digunakan dalam pencelupan seringkali dibuang langsung ke lingkungan tanpa diolah terlebih dahulu. Hal ini juga dilakukan oleh industri bintang timur, yang mana zat warna hanya ditampung dalam tanah yang digali sedalam 1 meter, sedangkan lokasinya dekat dengan persawahan. Kegiatan pengabdian diawali dengan identifikasi pengetahuan peserta tentang karakteristik, bahaya, penanggulangan dan penanganan awal zat warna tekstil melalui kuisioner. Sosialisasi alat pengolahan limbah dilakukan melalui penyerahan reaktor fotokatalitik fixed bed TiO2-batu apung dan dilanjutkan dengan demonstrasi pengoperasiannya menggunakan zat warna sisa pencelupan. Berdasarkan hasil kuisioner, sebagian besar peserta belum mengetahui karakteristik zat warna tekstil dan proses pengolahan yang diperlukan agar zat warna tekstil tidak mencemari lingkungan. Proses degradasi zat warna tekstil berjalan kurang efektif (26%) yang disebabkan kurangnya sinar matahari yang diperlukan untuk proses fotodegradasi tersebut. Pada umumnya industri tekstil khususnya tenun menggunakan zat warna sintetis untuk proses pencelupannya, dengan pertimbangan warna yang dihasilkan akan lebih menarik dan tidak mudah pudar. Zat warna yang telah selesai digunakan dalam pencelupan seringkali dibuang langsung ke lingkungan tanpa diolah terlebih dahulu. Hal ini juga dilakukan oleh industri bintang timur, yang mana zat warna hanya ditampung dalam tanah yang digali sedalam 1 meter, sedangkan lokasinya dekat dengan persawahan. Kegiatan pengabdian diawali dengan identifikasi pengetahuan peserta tentang karakteristik, bahaya, penanggulangan dan penanganan awal zat warna tekstil melalui kuisioner. Sosialisasi alat pengolahan limbah dilakukan melalui penyerahan reaktor fotokatalitik fixed bed TiO2-batu apung dan dilanjutkan dengan demonstrasi pengoperasiannya menggunakan zat warna sisa pencelupan. Berdasarkan hasil kuisioner, sebagian besar peserta belum mengetahui karakteristik zat warna tekstil dan proses pengolahan yang diperlukan agar zat warna tekstil tidak mencemari lingkungan. Proses degradasi zat warna tekstil berjalan kurang efektif (26%) yang disebabkan kurangnya sinar matahari yang diperlukan untuk proses fotodegradasi tersebut.
ADSORPSI-DESORPSI ZAT WARNA AZO JENIS REMAZOL BLACK B MENGGUNAKAN MEMBRAN POLIELEKTROLIT (PEC) KITOSAN-PEKTIN Ayuni, Ni Putu Sri; Yuningrat, Ni Wayan; Andriani, Ketut Yesi
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 5 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.754 KB) | DOI: 10.23887/jstundiksha.v5i1.8277

Abstract

Abstrak Sekitar 2-50% dari zat warna azo yang digunakan selama proses pencelupan ini tidak mengikat serat dan langsung dilepaskan ke lingkungan melalui instalasi pengolahan limbah. Hal ini perlu dilakukan pengolahan limbah cair yang mengandung zat warna azo jenis Remazol Black B sebelum dibuang ke lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum membran PEC kitosan-pektin yang dapat digunakan untuk mengadsorpsi zat warna azo jenis Remazol Black B .Untuk memperoleh kondisi optimum akan dilakukan adsorpsi zat warna azo jenis Remazol Black B dengan variasi waktu kontak (5-150 menit), pH (5-9) dan konsentrasi larutan zat warna azo jenis Remazol Black B (5, 10, 15, 20, dan 25 mg/L). Untuk mengetahui karakteristik zat warna jenis Remazol Black B oleh membran PEC kitosan-pektin di analisis dengan persamaan isoterm adsorpsi Langmuir dan isoterm adsorpsi Freundlich sedangkan daya adsorpsi maksimum dari membran PEC kitosan pektin ditentukan dari kurva berdasarkan karakteristik membran yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorpsi zat warna azo jenis Remazol Black B terjadi pada kondisi optimum dengan pH 5, waktu 120 menit dan konsentrasi larutan zat warna azo jenis Remazol Black B 10 mg/L (62,75 %). Pola adsorpsi mengikuti pola adsorpsi isoterm Freundlich dengan daya adsorpsi maksimum 0,02 (mg/g). Untuk efisiensi desorpsi maksimal diperoleh pada larutan NaCl 1 M (11,17 %) Kata Kunci: adsorpsi, membran polielektrolit kitosan pektin, Remazol Black B Abstract Azo dyes produced approximately 2-50% from dying process were thrown through effluent to the environment without any treatment. The objective of this research were to know the optimum condition of PEC chitosan pectin membrane using to adsorp Remazol Black B with various contact time (5-150 min), pH (5-9) and Remazol Black B concentration (5, 10, 15, 20, dan 25 mg/L). Adsorption charactheristic of Remazol Black B by PEC chitosan pectin membrane were determined by Langmuir and Freundlich isotherm equation. Maximum capacity adsorption was determined by the graph of membrane characteristic. The results show that optimum condition of Remazol Black B adsorption by PEC chitosan pectin membrane at pH 5, 10 mg/L remazol black B for 120 minutes (62,75 %). The adsorption pattern is Freundlich isoterm with maximum capacity 0,02 (mg/g).Maximal Desorption efisiency at NaCl 1 M (11,17 %) Keywords : adsorption, PEC chitosan pectin membrane, Remazol Black B
Sintesis Membran Selulosa Asetat-Tio2 Sebagai Media Penyaring Mikroplastik Luh Sri Suryani; Ni Putu Sri Ayuni; Ni Wayan Yuningrat
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1337

Abstract

Mikroplastik merupakan polutan yang berpotensi mencemari lingkungan perairan dan menimbulkan dampak negatif terhadap organisme akuatik maupun kesehatan manusia. Keberadaan mikroplastik yang semakin meningkat di lingkungan perairan mendorong perlunya pengembangan metode penyisihan yang efektif, salah satunya melalui teknologi filtrasi membran. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis selulosa asetat serta mengkaji pengaruh penambahan nanopartikel TiO₂ terhadap karakteristik dan kinerja membran dalam penyaringan mikroplastik. Selulosa asetat disintesis melalui reaksi asetilasi menggunakan selulosa dan anhidrida asetat, kemudian dikarakterisasi menggunakan spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR), uji swelling, uji permeabilitas (fluks), serta pengujian kinerja filtrasi. Membran komposit selulosa asetat–TiO₂ dibuat dengan metode inversi fasa menggunakan variasi konsentrasi TiO₂ sebesar 0, 1, 2, dan 3% (b/b). Hasil analisis FTIR menunjukkan terbentuknya selulosa asetat yang ditandai dengan munculnya pita serapan karbonil ester pada sekitar 1730 cm⁻¹ dan nilai derajat substitusi sebesar 2,30. Penambahan TiO₂ memengaruhi karakteristik membran, terutama kemampuan penyerapan air dan permeabilitasnya. Membran dengan konsentrasi TiO₂ sebesar 2% (b/b) menunjukkan nilai swelling tertinggi sebesar 63% dan nilai fluks tertinggi sebesar 541,4 L/m².jam. Hasil filtrasi menggunakan partikel glitter sebagai model mikroplastik menunjukkan bahwa seluruh membran mampu menahan partikel mikroplastik selama proses penyaringan. Secara keseluruhan, membran selulosa asetat–TiO₂ dengan konsentrasi TiO₂ 2% memberikan kinerja filtrasi terbaik dan berpotensi dikembangkan sebagai material penyaring mikroplastik pada lingkungan perairan.
Chemical composition of Organic Extract and Floral Volatile Profiles of Plumeria rubra and P. alba Flowers from Bali, Indonesia Luh Made Kurnia Dewi; Ni Luh Wayan Sukartini; Ni Wayan Yuningrat; Mudianta, I Wayan
The Journal of Pure and Applied Chemistry Research Vol. 15 No. 2 (2026): Edition May-August 2026
Publisher : Chemistry Department, The University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpacr.2026.015.02.8026

Abstract

Plumeria rubra and P. alba (Family: Apocynaceae) are aromatic tropical plants widely cultivated for ornamental purposes. In Bali used as key component of traditional Hindu offerings. Despite their cultural and horticultural significance, the volatile chemistry of Indonesian-grown Plumeria flowers has not previously been characterized. Here, we compared the chemical composition of organic solvent extracts and the floral headspace volatiles of fresh P. rubra and P. alba flowers collected in Bali. GC-MS analysis of solvents extracts revealed that P rubra was dominated by aromatic esters (34.15%), fatty acid methyl esters (28.42%), aromatic alcohols (12.99%), and phenolic compounds (10.90%), whereas P. alba showed a distinct profile dominated by fatty acid methyl esters (47.26%), with oxygenated monoterpenes (10.89%), aromatic alcohols (11.37%), and phenolic compounds (8.47%). HS-SPME GC-MS analysis of fresh flower provided P. rubra is composed of oxygenated monoterpenes (38.49%), chiefly linalool, aromatic aldehydes (28.00%, including benzaldehyde and benzene acetaldehyde), both absent in the P. alba, which was dominated by monoterpene hydrocarbons (34.71%, primarily ocimene), undetected in P. rubra. These compositional differences underlie the sweeter, more opulent fragrance of P. rubra versus the green, fresh, citrus notes of P. alba, providing the first chemical characterization of Plumeria flower volatiles from Indonesia.