Jimmy Barus
Departemen Neurologi, FKIK Unika Atma Jaya, Jakarta, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERANAN INTENSITAS NYERI TERHADAP ASPEK PSIKOLOGIS PENDERITA NYERI NEUROMUSKULOSKELETAL KRONIS NON KANKER RUMAH SAKIT ATMA JAYA Hendro Saulata; Jimmy Barus; Surilena Surilena
Callosum Neurology Vol 2 No 2 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.797 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i2.23

Abstract

Latar Belakang: Nyeri kronis dapat menimbulkan dampak psikologis (depresi, cemas, dan stres) yang memengaruhi kualitas hidup. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan hubungan antara intensitas nyeri dengan depresi, cemas, dan stres pada penderita nyeri neuromuskuloskeletal kronis di Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta. Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan data sekunder dari Pain Registry, Departemen. Neurologi FKUAJ. Instrumen penelitian adalah kuesioner demografi, intensitas nyeri, dan DASS (Depression Anxiety Stress Scale). Intensitas nyeri dibagi dalam 2 kategori, yaitu nyeri saat ini (IN1), dan rata – rata nyeri dalam seminggu (IN2). Hasil: Hasil penelitian terhadap 85 penderita nyeri neuromuskuloskeletal kronis didapatkan 63,5% depresi, 78,8% cemas, dan 70,6% stres. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan bermakna antara usia dengan depresi dan cemas (OR=3,67; 95% CI 1,39-9,64; OR=2,94; 95% CI 1,00-8,62). Penelitian ini juga menunjukan adanya hubungan bermakna antara IN1 dengan depresi (OR=15,4; 95% CI 1,80-132,72), antara IN1 dan IN2 dengan cemas (OR=42; 95% CI 4,699-375,413; OR=3,69; 95% CI 1,25-10,90), dan antara IN1 dengan stres (OR=4,75; 95% CI 1,04-21,70). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara berbagai kategori intensitas nyeri dengan depresi, cemas, dan stres pada pasien nyeri neuromuskuloskeletal kronis di Rumah Sakit Atma Jaya. Kata Kunci: Intensitas Nyeri, Aspek Psikologis, Nyeri Neuromuskuloskeletal
HUBUNGAN DURASI DUDUK DENGAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PERAWAT RUMAH SAKIT ATMA JAYA, JAKARTA, INDONESIA Fanuel Utama; Robby Irawan; Jimmy Barus; Stefanie Agustine
Callosum Neurology Vol 1 No 3 (2018): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.512 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v1i3.35

Abstract

Latar Belakang: Nyeri punggung bawah (NPB) pernah diderita oleh 24.7% dari seluruh pekerja di Indonesia pada tahun 2013. Prevalensi NPB pada perawat ditemukan sebesar 84.2%. Beberapa penelitian melaporkan bahwa tugas administratif seperti duduk dengan durasi lama menjadi salah satu faktor resiko NPB. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh durasi duduk terhadap kejadian NPB pada perawat di Rumah Sakit Atma Jaya. Metode Penelitian: Penelitian analitik kuantitatif dengan desain penelitian potong lintang.Jumlah sampel sebanyak 131 perawat Rumah Sakit Atma Jaya, diambil menggunakan metode total sampling.Penelitian dilakukan sejak bulan Januari-Mei 2017 dengan menggunakan kuesioner NPB yang telah divalidasi. Hasil: Sebanyak 40 (30,5%) perawat ditemukan mengalami NPB dalam 12 bulan terakhir. Hasil analisis ditemukan bahwa durasi duduk berhubungan dengan NPB (p=0,000). Hasil analisis untuk jenis kelamin ditemukan tidak bermakna (p=0.211). Hasil analisis untuk obesitas juga ditemukan tidak berhubungan terhadap NPB (p=0.443). Simpulan: Durasi duduk merupakan salah satu faktor resiko terjadinya NPB. Intervensi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengurangi probabilitas terjadinya NPB. Kata Kunci: Nyeri Punggung Bawah, Penyakit Kerja, Perawat, Durasi Duduk, Petugas Kesehatan
PREVALENSI DAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN NYERI BAHU PADA TENAGA KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT ATMA JAYA Aurelia Vania; Jimmy Barus
Callosum Neurology Vol 3 No 2 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.038 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v3i2.112

Abstract

Latar belakang: Perawat bekerja dalam lingkungan dengan risiko tinggi mengalami nyeri muskuloskeletal. Nyeri bahu merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang paling sering terjadi pada perawat dan dapat mempengaruhi kemampuan dan produktivitas saat bekerja maupun aktivitas sehari-hari lainnya. Studi dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan faktor risiko nyeri bahu pada tenaga keperawatan di RS Atma Jaya. Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan pada populasi perawat di RS Atma Jaya pada bulan Juli-Agustus 2019. Studi dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner yang diisi oleh setiap responden. Hasil: Studi ini melibatkan 110 responden yang terdiri dari 98 wanita dan 12 laki-laki dengan rata-rata usia 29,6 ± 7 tahun. 47,3% responden pernah mengalami nyeri bahu dalam 1 tahun terakhir dengan rata-rata skala NRS 3,3 ± 1,4. 76,9% kejadian nyeri bahu timbul setelah bekerja. Studi menemukan shift malam menjadi faktor protektif kejadian nyeri bahu (RO=0,3). Faktor usia >30 tahun, lama bekerja >5 tahun, adanya nyeri area tubuh lain, aktivitas menarik atau menopang beban >10 kg, dan aktivitas bekerja dengan posisi lengan di atas bahu merupakan faktor risiko yang signifikan (95% IK, p?0.05). Analisis multivariat regresi logistik menunjukkan adanya nyeri area tubuh lain sebagai faktor risiko yang paling signifikan (95% IK, p?0.05). Kesimpulan: Adanya nyeri area tubuh lain merupakan faktor yang paling berperan dalam terjadinya nyeri bahu. Faktor risiko nyeri bahu lainnya adalah usia >30 tahun, lama bekerja >5 tahun, aktivitas menarik atau menopang beban berat, dan aktivitas bekerja dengan posisi lengan di atas bahu. Shift malam merupakan faktor protektif kejadian nyeri bahu. Kata Kunci: Faktor Risiko, Nyeri Bahu, Perawat