Jimmy Fransisco Abadinta Barus
Atma Jaya Neuroscience And Cognitive Center, Department Of Neurology, School Of Medicine And Health Science, Atma Jaya Catholic University Of Indonesia, Jakarta, Indonesia

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

In connection with the publication in Bali Med J 2016, Volume 5, Number 2: 25-29, entitled "Intra-Arterial Heparin Flushing Increases Manual Muscle Test – Medical Research Councils (MMT-MRC) Score in Chronic Ischemic Stroke Patient " Machfoed, Moh Hasan; Usman, Fritz Sumantri; Barus, Jimmy; Wreksoatmodjo, Budi Riyanto; Gunawan, Dede; Bintang, Andi Kurnia; Tugasworo, Dodik; Subroto, Gatot; Lamsudin, Rusdi; Harsono, H.; Sulthan, Riza
BALI MEDICAL JOURNAL Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : BALI MEDICAL JOURNAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.667 KB)

Abstract

In connection with the publication in Bali Med J 2016, Volume 5, Number 2: 25-29,entitled "Intra-Arterial Heparin Flushing Increases Manual Muscle Test – Medical Research Councils (MMT-MRC) Score in Chronic Ischemic Stroke Patient ", herewith, please allow us to do reviews of the study discussion. By assessing the discussion, it can be proved whether there are references that support the results of study.
PSYCHIATRIC DISORDER COMORBIDITY IN CHRONIC NEUROMUSCULOSKELETAL PAIN IN ATMA JAYA HOSPITAL Barus, Jimmy; Yaputra, Faldi
Jurnal Kedokteran YARSI Vol 25, No 2 (2017): MEI - AGUSTUS 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.737 KB) | DOI: 10.33476/jky.v25i2.336

Abstract

Background : This study describe comorbid psychiatric disorder especially in depressive disorder, anxiety disorder and sleep disturbance in chronic neuromusculoskeletal pain patients.Objective : The aim of this research is to measure the prevalence of psychiatric comorbidity in choric neuromusculoskeletal pain.Methods : Cross sectional study with consecutive sampling method is used in this study. The data are collected in the neurology clinic in Atma Jaya Hospital, Jakarta between July ? December 2015. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) V criteria was used to diagnose the psychiatric condition. Results : The data were obtain from 55 study samples, consist of 12 males (21,8%), 43 females (78,2%). Thirty of them are ? 60 years old (55%) and 25 are ? 60 years old (45%). The most common is low back pain 30 patients (55%). Non-neuropathic pain 12 patients (22%), and neurophatic pain 43 patients (78%). The most common pain intensity is severe, Visual Analog Scale (VAS) ?8 (43%). The most common psychiatric disorder is insomnia (20%), followed by anxiety and insomnia (16,3%), and anxiety (12,7%).Discussion : Majority of chronic pain has psychiatric disoder comorbidity, coexisting condition should be considered in evaluation, diagnosis, and therapy.Conclusions : Chronic pain usually accompanied by psychiatric disorder, so thorough evaluation, diagnosis and therapy have to be fully addressed to achieve optimum functionality and good quality of life.Suggestions : Next study should collect samples from some hospitals and design the analitic study that can explain association between factors that can influence the comorbidity.
Penatalaksanaan Farmakologis Nyeri pada Lanjut Usia Barus, Jimmy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.468 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1027

Abstract

Sejalan dengan meningkatnya populasi lansia maka meningkat pula jumlah kasus nyeri terkait disabilitas dan perubahan degeneratif pada kelompok ini. Penggunaan analgetik pada lansia perlu pertimbangan khusus. Secara umum, asetaminofen/parasetamol merupakan pilihan pertama untuk kasus nyeri muskuloskeletal dengan pemantauan dosis dan efek samping. Jika perlu, COX 2 inhibitor lebih diutamakan untuk menghindari efek gastrointestinal, dan pemberian aspirin bersama PPI untuk mengurangi risiko kardiovaskuler. Penggunaan OAINS sedapat mungkin dibatasi, karena berkaitan dengan efek samping gastrointestinal dan peningkatan risiko gangguan kardiovaskuler. OAINS harus dihindari pada gangguan ginjal. Opioid secara umum dianggap lebih aman, tetapi efek samping harus tetap diperhatikan. Analgetik adjuvan yang dianjurkan adalah antikonvulsan golongan gabapentin dan pregabalin, dan antidepresan golongan SNRI.The increase of elderly population resulted in increasing problem of pain connected to degenerative diseases and disabilities. The use of analgetics among elderly needs special consideration. Acetaminophen/paracetamol is still the first choice for musculoskeletal pain with dose and side effect monitoring. COX2 inhibitor is preferred to avoid gastrointestinal effect, and aspirin in combination with PPI is used to minimize cardiovascular risk. NSAID use is limited as much as possible, because it is associated with gastrointestinal side effects and increased risk of cardiovascular disorders. NSAID should be avoided in renal insufficiency. Opioid is relatively safe but needs monitoring of side effect. Adjuvant analgesics that can be considered are anticonvulsants: gabapentin and pregabalin, and SNRI antidepressant.
HUBUNGAN KADAR GULA DARAH DAN TEKANAN DARAH TERHADAP FUNGSI KOGNITIF LANSIA DI KELURAHAN MERUYA, JAKARTA BARAT Magistra Cylvia Margaretha; Yuda Turana; Jimmy Barus; Nelly Tina Widjaja
Bahasa Indonesia Vol 19 No 2 (2020): Damianus : Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v19i2.1248

Abstract

Introduction: A decline in cognitive function in the elderly occurs in the body due to aging. Internal and external factors influence the decline in cognitive function in the elderly. This research focuses on blood sugar, blood pressure, and the elderly's characteristics as a factor in decreasing the cognitive function of the elderly.Methods: This research uses the descriptive-analytic method with a cross-sectional design of 101 respondents. The independent variables of this study are blood sugar, blood pressure, and demographic characteristics. The dependent variable is the cognitive function of the elderly. Data obtained were analyzed both univariate and bivariate using the Chi-square test.Results: Blood pressure has a significant relationship with the impaired cognitive function in the elderly (p<0.05). Other factors, such as blood sugar, age, sex, and education level did not show any relationship with the cognitive function of the elderly (p>0.05).Conclusion: Blood pressure has a relationship with cognitive function in the elderly. In contrast, blood sugar does not have a relationship with cognitive function.
PENATALAKSANAAN NYERI KEPALA PADA LAYANAN PRIMER Sonnia Haryani; Vindi Tandy; Aurelia Vania; Jimmy Barus
Callosum Neurology Vol 1 No 3 (2018): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.277 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v1i3.16

Abstract

Nyeri kepala merupakan keluhan pasien yang paling umum pada layanan kesehatan primer di seluruh dunia dengan prevalensi mencapai lebih dari 60% populasi dunia. Nyeri kepala merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting akibat disabilitas yang ditimbulkan sehingga menurunkan produktivitas yang mengakibatkan beban ekonomi dalam keluarga. Sayangnya, praktik penanganan nyeri kepala di layanan primer masih belum adekuat, baik dari segi diagnosis maupun tatalaksana terkait dengan masalah nyeri. Karakteristik nyeri kepala yang bersifat subjektif dan beragam memberikan tantangan tersendiri dalam penegakkan diagnosa yang seringkali menimbulkan diagnosa yang kurang tepat sehingga mempengaruhi kualitas penanganan nyeri pada pasien. Penanganan yang tidak adekuat dapat meningkatkan risiko progresitivitas nyeri kepala episodik menjadi nyeri kepala kronis. Dalam pendekatan terapi nyeri, diperlukan perhatian lebih terhadap kondisi psikososial pasien dalam upaya penanganan nyeri yang komprehensif. Hal ini terutama dikarenakan adanya hubungan timbal balik antara nyeri kronik dan stres yang berkaitan dengan disabilitas yang ditimbulkan. Kata Kunci: Nyeri Kepala, Nyeri Kronik, Tatalaksana Nyeri, Layanan Primer
PERANAN INTENSITAS NYERI TERHADAP ASPEK PSIKOLOGIS PENDERITA NYERI NEUROMUSKULOSKELETAL KRONIS NON KANKER RUMAH SAKIT ATMA JAYA Hendro Saulata; Jimmy Barus; Surilena Surilena
Callosum Neurology Vol 2 No 2 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.797 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i2.23

Abstract

Latar Belakang: Nyeri kronis dapat menimbulkan dampak psikologis (depresi, cemas, dan stres) yang memengaruhi kualitas hidup. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan hubungan antara intensitas nyeri dengan depresi, cemas, dan stres pada penderita nyeri neuromuskuloskeletal kronis di Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta. Metode: Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan data sekunder dari Pain Registry, Departemen. Neurologi FKUAJ. Instrumen penelitian adalah kuesioner demografi, intensitas nyeri, dan DASS (Depression Anxiety Stress Scale). Intensitas nyeri dibagi dalam 2 kategori, yaitu nyeri saat ini (IN1), dan rata – rata nyeri dalam seminggu (IN2). Hasil: Hasil penelitian terhadap 85 penderita nyeri neuromuskuloskeletal kronis didapatkan 63,5% depresi, 78,8% cemas, dan 70,6% stres. Analisis bivariat menunjukan adanya hubungan bermakna antara usia dengan depresi dan cemas (OR=3,67; 95% CI 1,39-9,64; OR=2,94; 95% CI 1,00-8,62). Penelitian ini juga menunjukan adanya hubungan bermakna antara IN1 dengan depresi (OR=15,4; 95% CI 1,80-132,72), antara IN1 dan IN2 dengan cemas (OR=42; 95% CI 4,699-375,413; OR=3,69; 95% CI 1,25-10,90), dan antara IN1 dengan stres (OR=4,75; 95% CI 1,04-21,70). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara berbagai kategori intensitas nyeri dengan depresi, cemas, dan stres pada pasien nyeri neuromuskuloskeletal kronis di Rumah Sakit Atma Jaya. Kata Kunci: Intensitas Nyeri, Aspek Psikologis, Nyeri Neuromuskuloskeletal
HUBUNGAN DURASI DUDUK DENGAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PERAWAT RUMAH SAKIT ATMA JAYA, JAKARTA, INDONESIA Fanuel Utama; Robby Irawan; Jimmy Barus; Stefanie Agustine
Callosum Neurology Vol 1 No 3 (2018): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.512 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v1i3.35

Abstract

Latar Belakang: Nyeri punggung bawah (NPB) pernah diderita oleh 24.7% dari seluruh pekerja di Indonesia pada tahun 2013. Prevalensi NPB pada perawat ditemukan sebesar 84.2%. Beberapa penelitian melaporkan bahwa tugas administratif seperti duduk dengan durasi lama menjadi salah satu faktor resiko NPB. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh durasi duduk terhadap kejadian NPB pada perawat di Rumah Sakit Atma Jaya. Metode Penelitian: Penelitian analitik kuantitatif dengan desain penelitian potong lintang.Jumlah sampel sebanyak 131 perawat Rumah Sakit Atma Jaya, diambil menggunakan metode total sampling.Penelitian dilakukan sejak bulan Januari-Mei 2017 dengan menggunakan kuesioner NPB yang telah divalidasi. Hasil: Sebanyak 40 (30,5%) perawat ditemukan mengalami NPB dalam 12 bulan terakhir. Hasil analisis ditemukan bahwa durasi duduk berhubungan dengan NPB (p=0,000). Hasil analisis untuk jenis kelamin ditemukan tidak bermakna (p=0.211). Hasil analisis untuk obesitas juga ditemukan tidak berhubungan terhadap NPB (p=0.443). Simpulan: Durasi duduk merupakan salah satu faktor resiko terjadinya NPB. Intervensi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengurangi probabilitas terjadinya NPB. Kata Kunci: Nyeri Punggung Bawah, Penyakit Kerja, Perawat, Durasi Duduk, Petugas Kesehatan
PREVALENSI DAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN NYERI BAHU PADA TENAGA KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT ATMA JAYA Aurelia Vania; Jimmy Barus
Callosum Neurology Vol 3 No 2 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.038 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v3i2.112

Abstract

Latar belakang: Perawat bekerja dalam lingkungan dengan risiko tinggi mengalami nyeri muskuloskeletal. Nyeri bahu merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang paling sering terjadi pada perawat dan dapat mempengaruhi kemampuan dan produktivitas saat bekerja maupun aktivitas sehari-hari lainnya. Studi dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan faktor risiko nyeri bahu pada tenaga keperawatan di RS Atma Jaya. Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan pada populasi perawat di RS Atma Jaya pada bulan Juli-Agustus 2019. Studi dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner yang diisi oleh setiap responden. Hasil: Studi ini melibatkan 110 responden yang terdiri dari 98 wanita dan 12 laki-laki dengan rata-rata usia 29,6 ± 7 tahun. 47,3% responden pernah mengalami nyeri bahu dalam 1 tahun terakhir dengan rata-rata skala NRS 3,3 ± 1,4. 76,9% kejadian nyeri bahu timbul setelah bekerja. Studi menemukan shift malam menjadi faktor protektif kejadian nyeri bahu (RO=0,3). Faktor usia >30 tahun, lama bekerja >5 tahun, adanya nyeri area tubuh lain, aktivitas menarik atau menopang beban >10 kg, dan aktivitas bekerja dengan posisi lengan di atas bahu merupakan faktor risiko yang signifikan (95% IK, p?0.05). Analisis multivariat regresi logistik menunjukkan adanya nyeri area tubuh lain sebagai faktor risiko yang paling signifikan (95% IK, p?0.05). Kesimpulan: Adanya nyeri area tubuh lain merupakan faktor yang paling berperan dalam terjadinya nyeri bahu. Faktor risiko nyeri bahu lainnya adalah usia >30 tahun, lama bekerja >5 tahun, aktivitas menarik atau menopang beban berat, dan aktivitas bekerja dengan posisi lengan di atas bahu. Shift malam merupakan faktor protektif kejadian nyeri bahu. Kata Kunci: Faktor Risiko, Nyeri Bahu, Perawat
Penatalaksanaan Farmakologis Nyeri pada Lanjut Usia Jimmy Barus
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1027

Abstract

Sejalan dengan meningkatnya populasi lansia maka meningkat pula jumlah kasus nyeri terkait disabilitas dan perubahan degeneratif pada kelompok ini. Penggunaan analgetik pada lansia perlu pertimbangan khusus. Secara umum, asetaminofen/parasetamol merupakan pilihan pertama untuk kasus nyeri muskuloskeletal dengan pemantauan dosis dan efek samping. Jika perlu, COX 2 inhibitor lebih diutamakan untuk menghindari efek gastrointestinal, dan pemberian aspirin bersama PPI untuk mengurangi risiko kardiovaskuler. Penggunaan OAINS sedapat mungkin dibatasi, karena berkaitan dengan efek samping gastrointestinal dan peningkatan risiko gangguan kardiovaskuler. OAINS harus dihindari pada gangguan ginjal. Opioid secara umum dianggap lebih aman, tetapi efek samping harus tetap diperhatikan. Analgetik adjuvan yang dianjurkan adalah antikonvulsan golongan gabapentin dan pregabalin, dan antidepresan golongan SNRI.The increase of elderly population resulted in increasing problem of pain connected to degenerative diseases and disabilities. The use of analgetics among elderly needs special consideration. Acetaminophen/paracetamol is still the first choice for musculoskeletal pain with dose and side effect monitoring. COX2 inhibitor is preferred to avoid gastrointestinal effect, and aspirin in combination with PPI is used to minimize cardiovascular risk. NSAID use is limited as much as possible, because it is associated with gastrointestinal side effects and increased risk of cardiovascular disorders. NSAID should be avoided in renal insufficiency. Opioid is relatively safe but needs monitoring of side effect. Adjuvant analgesics that can be considered are anticonvulsants: gabapentin and pregabalin, and SNRI antidepressant.
The Relationship between Excessive Daytime Sleepiness and Cumulative Achievement Index of Medical Student in Atma Jaya Faculty of Medicine Batch 2018 Jessica Clara Andriani; Jimmy Fransisco Abadinta Barus
Journal of Urban Health Research Vol. 1 No. 1 (2022): Journal of Urban Health Research
Publisher : School of Medicine and Health Sciences, Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/juhr.v1i1.3857

Abstract

Introduction: Excessive Daytime Sleepiness (EDS) is the inability to maintain wakefulness and alertness during the major waking episodes of the day, with sleep occurring unintentionally or at inappropriate times almost daily for at least three months. Poor concentration is commonly reported as a symptom of EDS and frequently disrupt academic performance in the learning activity. This study aims to determine the relationship between EDS and cumulative achievement index (GPA) among medical undergraduates at Atma Jaya Catholic University of Indonesia. Methods: This research is an analytic observation research with cross-sectional data collection on 180 respondents out of the 2018 class of preclinical students at the Faculty of Medicine of the Atma Jaya Catholic University of Indonesia. The data collection methods used were the ESS (Epworth Sleepiness Scale) and cumulative achievement index (IPK) questionnaires. Demographic variables were also measured. Data were analyzed using the statistic software SPSS with a chi-square test (α ≥0,05). Results: From 180 respondents, 52,8% had EDS, 25% of the total had mild EDS, 16,1% had moderate EDS, and 11,7% with severe EDS. The cumulative achievement index found in respondents mostly ranged from moderate (43,3%) to high (42,3%). The rest had low scores. Furthermore, 25% of respondents had a high IPK score with EDS, 22% had a moderate IPK score with EDS, 5,4% had a low IPK score with EDS, 18,5% had a high IPK score without EDS, 22% had a moderate IPK score without EDS, and the rest 7,1% had low IPK score without EDS. Analysis with chi-square showed no significant relationship between EDS and IPK (P=0,425). Conclusions: There was no relationship between excessive daytime sleepiness and cumulative achievement index of medical students in Atma Jaya Faculty of Medicine and Health Batch 2018.