Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KARAKTERISTIK UNIT HUNIAN DAN PENGHUNI PADA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) DI KELURAHAN SUNGAI BELIUNG KOTA PONTIANAK Zairin Zain
NALARs Vol 14, No 2 (2015): NALARs Volume 14 Nomor 2 Juli 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.14.2.%p

Abstract

ABSTRAK. Efisiensi dalam penggunaan lahan di perkotaan dan perlunya penataan permukiman menjadikan pembangunan rumah susun menjadi pilihan bagi penentu kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan perumahan. Rusunawa di kelurahan Sungai Beliung Kecamatan Pontianak Barat dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang dan karakteristik yang beragam.Perbedaan unit hunian terletak pada ketinggian lantai, posisi dan orientasi dalam blok massa bangunan.Hal ini menyebabkan penghuni melakukan penyesuaian (adjusment) terhadap tipe hunian vertikal dengan memanfaatkan ruang-ruang yang tersedia.penelitian ini dilakukan untuk menelusuri karakteristik unit hunian dan penghuni yang mempengaruhi pola pemanfaatan ruang unit hunian pada Rumah Susun Sederhana Sewa (rusunawa) di Kelurahan Sungai Beliung, Kota Pontianak.Penelitian in termasuk ke dalam klasifikasi basic research (penelitian dasar). Penelitian dasar tidak ditujuan untuk memberikan efek langsung terhadap pemecahan masalah sehari-hari namun untuk menjawab pertanyaan penelitian atau fenomena yang terjadi untuk pengembangan suatu teori. Dari hasil pengamatan dan analisis dapat disimpulkan bahwa Karakteristik unit hunian Pada Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Di Kelurahan Sungai Beliung Kota Pontianak adalah unit dengan pemanfaatan ruang yang diterjemahkan berdasarkan pemahaman tentang kebutuhan bagi setiap penghuni unit hunian, dan karakteristik penghuni sementara untuk suatu unit hunian yang menjadikannya seperti rumah tinggal horizontal. Kondisi ini dapat dilihat dari motivasi menghuni, intensitas lama tinggal (beraktivitas) di hunian dan jumlah penghuni dengan melakukan perubahan dan fungsi jamak untuk setiap ruang.Kata kunci: unit hunian, penghuni, ruang, rusunawa ABSTRACT. Efficiency of landuse within city and the need of settlement planning had encouraged government to deliver a policy to provide vertical houses as an alternative solution to solve a housing problem. Rental vertical houses as known as Rusunawa at Sungai Beliung district, West Pontianak are occupied by community with variety background and characteristic. The differences of dwelling unit could be seen at the level of floor, position and orientation of the building’s blocks. This situation will affect the dwellers to do adjustment to the vertical dwelling’s unit type by using avalible rooms. This research is aimed to explore the characteristic of dwelling units and the dwellers as well which will affect the pattern of dwelling’s unit rooms at Rusunawa at Sungai Beliung district, West Pontianak.This research has been classified as a fundamental research. This fundamental research is not aimed to give a driect effect to the daily problem solution, but to answer research question or happening phenomena to develop a related theory. From the exploration and analysis result, it could be concluded that dwelling’s unit characteristic of Rusunawa at Sungai Beliung District, West Pontianak is a unit with a space utilization which transformed from an understanding of need for each dwellers, and the characteristic of temporary dwellers of a dwelling’s unit who make it as a horizontal houses. This condition could be seen from the dwellers’ motivation, intensity of the length of stay (activities within dwelling’s unit) and the number of dwellers who make changes and do some functions/ activities in the same room.Keywords: dwelling unit, dwellers, space, rental vertical house.
STRATEGI PERLINDUNGAN TERHADAP ARSITEKTUR TRADISIONAL UNTUK MENJADI BAGIAN PELESTARIAN CAGAR BUDAYA DUNIA Zairin Zain
NALARs Vol 13, No 1 (2014): NALARs Volume 13 Nomor 1 Januari 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.13.1.%p

Abstract

ABSTRAK. Sebagai salah satu benda cagar budaya bersifat kebendaan, arsitektur tradisional perlu dilakukan pelestariannya. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pelestarian arsitektur tradisional agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan baik dan tidak berkurang nilainya, bahkan perlu ditingkatkan untuk membentuknya sebagai pusaka pada masa datang. Strategi perlindungan terhadap arsitektur cagar budaya beserta artefaknya perlu dilakukan sebagai upaya pelestarian benda cagar dunia. Strategi pelestarian tidak hanya berorientasi masa lampau, namun pelestarian dan perlindungan terhadap arsitektur cagar budaya beserta artefaknya harus dilakukan dengan visi yang berwawasan dan diperuntukkan bagi kepentingan ke masa kini dan masa depan. Adapun hasil dari strategi pelestarian dan perlindungan ini agar dapat berguna bagi masyararakat harus dengan memperhatikan dan menjaga unsur-unsur penting, yaitu:integritas (integrity), keaslian (authenticity) dan kemanfaatan (sustainability use), baik untuk ilmu pengetahuan, sejarah, agama, jatidiri, kebudayaan, maupun ekonomi melalui pelestarian cagar budaya yang keuntungannya (benefit) dapat dirasakan oleh generasi saat ini. Untuk mencapai tujuan ini, langkah strategis yang harus dilakukan untuk perlindungan dan pelestarian arsitektur tradisional untuk menjadi bagian pelestarian cagar budaya dunia adalah menyusun kebijakan umum untuk perlindungan dan pelestarian, menentukan prioritas untuk artefak yang pantas dimasukan, melakukan langkah-langkah hukum, ilmiah, teknis, administrasi dan keuangan yang memadai, melakukan pembentukan atau pengembangan pusat-pusat kajian ilmiah lokal untuk pelatihan dalam perlindungan dan pelestarian serta memperkuat sinergisitas antara pemerintah dengan lembaga penelitian dan lembaga adat setempat.Kata kunci: Strategi, Perlindungan dan Pelestarian, Arsitektur Tradisional, Cagar BudayaABSTRACT. As one of cultural heritage objects, it had been defined that traditional architecture is necessary to be preserved. According to Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 about Cultural Heritage , Preservation is a dynamic effort to maintain the existence of the cultural heritage and its values in a way to protect , develop , and use it. Therefore, it is important to apply the concept of preservation of traditional architecture. This is not for the present generation but also for the future generations, which is needed to be in good condition and will not degrade the value. Though, it is needed too to be improved for the future heritage.The strategy of preservation in architectural heritage and its artifacts is needed to be done as an effort to preserve the world heritage objects. The strategy of preservation is not only oriented to the past, but the preservation and conservation of architectural heritage and its artifact should be completed by applying the vision which eligible for the present and future. The results of the preservation and conservation strategy could be used for community by considering and keeping the essential elements as follow: integrity, authenticity and sustainability use, either for science, history, religion, identity, culture or economy through preservation of cultural heritage which the benefit of it could be used by present generation. To achieve this goal, there are some strategic steps that could be applied to concerved and preserved the traditional architecture to become part of world cultural heritage preservation. Those strategies are by developing a public policy of conservation and preservation, determining the priority of eligible and appropriate artifact, performing some measurement which include legacy, scientific, technical, adequate financial and administration, performing the establishment or development of local training centers for scientific studies for conservation and preservation as well as by strengthening the synerginity of government and local authority either local research institution or local traditional institution.Keywords: Strategy, Conservation and Revitalization, Traditional Architecture, Cultural Heritage
AKULTURASI SOSIAL BUDAYA MELAYU DALAM PENERAPAN ARSITEKTUR BANGUNAN DI INDONESIA Imanuel; Zairin Zain
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 10 No 1 (2023): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v10i1a6

Abstract

Melayu adalah suku tertua di Indonesia. Mereka adalah orang-orang pendatang yang berhasil menguasai tanah Indonesia sejak beribu-ribu tahun lalu. Mereka datang dengan melalui jalur air/laut, dengan menggunakan kapal dan perahu. Mereka kemudian tumbuh dan berkembang membentuk kerajaan-kerajaan ataupun kesultanan-kesultanan. Nilai-nilai sosial lahir seiring dengan perkembangan masyarakat mereka, kemudian berkembang menjadi nilai-nilai budaya yang menjadi identitas dan ciri dari masyarakat Melayu. Arsitektur kemudian lahir sebagai bentuk perpaduan antara nilai-nilai sosial dan budaya, yang dituangkan ke dalam bentuk sebuah bangunan. Setiap data yang ada diperoleh menggunakan metode literatur dan internet searching dengan batasan-batasan tertentu, kemudian diolah dengan menggunakan metode analisis bibliometrik, yang bertujuan untuk memetakan, menggolongkan, dan mengelompokkan kata-kata kunci yang digunakan oleh setiap data yang akan diolah. Kemudian divisualisasikan ke dalam bentuk diagram menggunakan VOSviewer untuk mengetahui apa saja hasil akulturasi yang tercipta antara sosial budaya yang diterapkan dalam bentuk arsitektur, serta penyebabnya. Akulturasi yang ada merupakan perpaduan dari unsur agama, nilai moral, nilai sosial, budaya, serta kondisi lingkungan sekitar. Akulturasi ini sangat erat hubungannya dengan Qur’an dan hadits, yang merupakan dasar dalam kehidupan masyarakat Melayu sebagai seorang Muslim. Sehingga melahirkan bentuk-bentuk fisik, berupa bangunan, ornamen, dan lain-lain, serta bentuk non fisik, berupa tradisi, sampai sikap/kebiasaan mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari.