Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

AKULTURASI SOSIAL BUDAYA MELAYU DALAM PENERAPAN ARSITEKTUR BANGUNAN DI INDONESIA Imanuel; Zairin Zain
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 10 No 1 (2023): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v10i1a6

Abstract

Melayu adalah suku tertua di Indonesia. Mereka adalah orang-orang pendatang yang berhasil menguasai tanah Indonesia sejak beribu-ribu tahun lalu. Mereka datang dengan melalui jalur air/laut, dengan menggunakan kapal dan perahu. Mereka kemudian tumbuh dan berkembang membentuk kerajaan-kerajaan ataupun kesultanan-kesultanan. Nilai-nilai sosial lahir seiring dengan perkembangan masyarakat mereka, kemudian berkembang menjadi nilai-nilai budaya yang menjadi identitas dan ciri dari masyarakat Melayu. Arsitektur kemudian lahir sebagai bentuk perpaduan antara nilai-nilai sosial dan budaya, yang dituangkan ke dalam bentuk sebuah bangunan. Setiap data yang ada diperoleh menggunakan metode literatur dan internet searching dengan batasan-batasan tertentu, kemudian diolah dengan menggunakan metode analisis bibliometrik, yang bertujuan untuk memetakan, menggolongkan, dan mengelompokkan kata-kata kunci yang digunakan oleh setiap data yang akan diolah. Kemudian divisualisasikan ke dalam bentuk diagram menggunakan VOSviewer untuk mengetahui apa saja hasil akulturasi yang tercipta antara sosial budaya yang diterapkan dalam bentuk arsitektur, serta penyebabnya. Akulturasi yang ada merupakan perpaduan dari unsur agama, nilai moral, nilai sosial, budaya, serta kondisi lingkungan sekitar. Akulturasi ini sangat erat hubungannya dengan Qur’an dan hadits, yang merupakan dasar dalam kehidupan masyarakat Melayu sebagai seorang Muslim. Sehingga melahirkan bentuk-bentuk fisik, berupa bangunan, ornamen, dan lain-lain, serta bentuk non fisik, berupa tradisi, sampai sikap/kebiasaan mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Mental Health Matters: How to Stay Emotionally Fit in a Busy World Imanuel
JHN: Journal of Health and Nursing Vol. 2 No. 1 (2024): JHN: Journal of Health and Nursing, Mei 2024
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/jhn.v2i1.646

Abstract

In the midst of a rapidly changing world marked by busy routines, digital overload, and increasing social and professional demands, mental health often takes a back seat. This article sheds light on the significance of maintaining emotional well-being and how it directly impacts one’s overall health, relationships, and quality of life. Emotional fitness is not merely the absence of mental illness but involves developing a healthy mindset, managing emotions effectively, and responding to life's challenges with resilience and clarity. The article provides readers with practical, easy-to-apply strategies to stay mentally balanced despite a hectic lifestyle. These include establishing a consistent self-care routine, practicing mindfulness and gratitude, setting boundaries, improving time management, and maintaining strong social connections. It also discusses the role of nutrition, sleep, physical activity, and digital detox in supporting mental health. Additionally, the article highlights the importance of breaking the stigma surrounding mental health, encouraging open conversations, and knowing when to seek professional help. Through a blend of scientific insight and relatable advice, the article aims to empower individuals to prioritize their mental health and embrace a more balanced, emotionally fulfilling life.
Efektivitas Pendekatan Non-Pidana dalam Perlindungan Lingkungan Berdasarkan Studi Lapangan di RT 08 Malaka Jaya Jakarta Timur: Penelitian Taufiq Supriadi; Divya Aliyyu; Imanuel
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.5635

Abstract

Perlindungan lingkungan hidup di Indonesia secara normatif menempatkan sanksi pidana sebagai ultimum remedium, namun realitas empiris menunjukkan bahwa penegakan hukum pidana formal kurang efektif dalam menjangkau pelanggaran lingkungan berskala kecil tetapi masif di tingkat komunitas. Penelitian ini membahas dua rumusan masalah, yaitu: (1) mekanisme penerapan instrumen non-pidana berbasis komunitas dalam membangun kesadaran dan kepatuhan hukum lingkungan warga, serta (2) efektivitas sanksi sosial dan nilai-nilai living law sebagai alternatif penegakan hukum lingkungan yang berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum yuridis empiris dengan pendekatan sosio-legal dan pendekatan kasus, melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi di RT 008 RW 04 Malaka Jaya, Jakarta Timur. Hasil pembahasan rumusan masalah pertama menunjukkan bahwa instrumen non-pidana bekerja efektif melalui sinergi regulasi lokal berupa Surat Edaran Eco-RT, pengawasan sosial berbasis teknologi CCTV, serta pelembagaan partisipasi warga, yang membentuk sistem pengendalian internal komunitas. Hasil pembahasan rumusan masalah kedua membuktikan bahwa sanksi sosial berbasis rasa malu, kewajiban moral, dan insentif ekonomi lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan pendekatan pidana formal karena mampu mengubah perilaku warga, menekan biaya penegakan hukum, dan menciptakan manfaat ekonomi sirkular dari pengelolaan lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan non-pidana berbasis living law merupakan model penegakan hukum lingkungan yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan di kawasan perkotaan padat penduduk. Oleh karena itu, disarankan agar pemerintah daerah mengadopsi dan memformalkan model ini melalui regulasi daerah serta pendekatan restorative justice dalam tata kelola lingkungan hidup.