Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faʿāliyyah Istikhdām Ṭarīqah Tamthīl al-Adwār fī Taʿlīm al-Ḥiwār li Tanmiyah Mahārah al-Kalām Ladā Ṭullāb al-Ṣaff al-Awwal bi al-Madrasah al-Thānawiyyah Luqmān al-Hakīm Surabaya Fedya Ainur
Jurnal Al-Fawa'id : Jurnal Agama dan Bahasa Vol 10 No 1 (2020): Maret
Publisher : STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.272 KB) | DOI: 10.54214/alfawaid.Vol10.Iss1.94

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode bermain peran dalam pengajaran percakapan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas I di Sekolah Menengah Atas Luqman Al Hakim Surabaya.Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif, sedangkan instrumen yang digunakan yaitu tes, angket dan wawancara. Adapun hasil penelitian ini adalah bahwasannya penggunaan metode bermain peran untuk pengajaran percakapan efektif dan memberikan pengaruh dalam menumbuhkan atau meningkatkan kemahiran berbicara siswa. Hal itu dapat diketahui karena hasil (to) lebih besar dari (t-table) yaitu 2,77 <17,2> 2,05. Kemudian hasil ini dikuatkan dengan hasil angket yang dibagikan ke siswa bahwasannya 71,43 % dari siswa berpendapat bahwa penggunaan metode bermain peran baik dalam pengajaran percakapan dan baik pula untuk meningkatkan kemahiran berbicara.
Critical Analysis of DSN-MUI Fatwas on Hybrid Contracts: Toward a Reconstructive Drafting Framework Chamim Tohari; Jejen Hendar; Fedya Ainur; Alfain Jalaluddin Ramadlan; Aiitmamat Kariev
Tadayun: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/tadayun.v7i1.627

Abstract

This study examines the regulatory construction of hybrid contracts (al-ʿuqūd al-murakkabah) in fatwas issued by the National Sharia Council of the Indonesian Ulama Council (DSN-MUI) following Constitutional Court Decision No. 65/PUU-XIX/2021. It focuses on Fatwa No. 71 on Sale and Lease Back, Fatwa No. 73 on Musyārakah Mutanāqiṣah, and Fatwa No. 104 on Shariah Subrogation. Employing doctrinal legal research with statutory, conceptual, and comparative approaches, the study evaluates the legislative drafting quality of these fatwas under Law No. 12 of 2011 and assesses their transformation into binding law through Financial Services Authority Regulations (POJK) and Bank Indonesia Regulations (PBI). The findings are threefold. First, although DSN-MUI applies the Hanbali-based principles of taysīr and maṣlaḥah, ambiguities in risk allocation and asset separation create doctrinal tensions. Second, when assessed under Law No. 12 of 2011, the fatwas fall short of legislative drafting standards because theological narratives predominate, operational definitions are limited, and legal terminology is inconsistent. These shortcomings may create uncertainty when the fatwas are incorporated into regulations and contracts. Third, the study proposes a reconstruction model that places theological reasoning in a “Shariah Resolution” and codifies technical norms in a “Regulatory Standard” specifying definitions, obligations, prohibitions, oversight mechanisms, and legal consequences. This model preserves DSN-MUI’s authority to exercise ijtihād while enabling the Financial Services Authority and Bank Indonesia to formulate clearer and more enforceable rules for Islamic financial institutions. Abstrak Penelitian ini mengkaji konstruksi regulasi kontrak hibrida (al-ʿuqūd al-murakkabah) dalam fatwa DSN-MUI pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 65/PUU-XIX/2021, dengan fokus pada Fatwa No. 71 (Sale and Lease Back), Fatwa No. 73 (Musyārakah Mutanāqiṣah), dan Fatwa No. 104 (Subrogasi Syariah). Menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan komparatif, penelitian ini mengevaluasi kualitas perancangan peraturan dari fatwa tersebut berdasarkan UU No. 12/2011 untuk menilai transformasinya menjadi hukum positif melalui POJK dan PBI. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal. Pertama, meskipun DSN-MUI menerapkan prinsip taysīr dan maṣlahah berbasis doktrin Hanbali, ambiguitas dalam alokasi risiko dan pemisahan aset memicu ketegangan doktrinal. Kedua, berdasarkan UU No. 12/2011, fatwa-fatwa tersebut menyimpang dari standar legislatif karena didominasi narasi teologis, minim definisi operasional, dan diksi hukum yang tidak konsisten. Karakteristik ini dapat menimbulkan ketidakpastian ketika fatwa diterjemahkan ke dalam regulasi dan kontrak. Ketiga, penelitian ini menawarkan model rekonstruksi yang memisahkan rasionalitas teologis ke dalam "Resolusi Syariah" dan mengodifikasi norma teknis ke dalam "Standar Regulasi" yang memuat definisi, kewajiban, larangan, pengawasan, dan akibat hukum. Model ini mempertahankan otoritas ijtihad DSN-MUI sekaligus memungkinkan OJK dan Bank Indonesia merumuskan aturan yang lebih jelas dan dapat ditegakkan bagi lembaga keuangan syariah.