Wahyu Nurharjadmo
Universitas Sebelas Maret

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konflik dan Resolusi Konflik Berbasis Collaborative Governance dalam Revitalisasi Kawasan Rowo Jombor Pramudya Nur Hayati; Wahyu Nurharjadmo
Wacana Publik Vol 4, No 1 (2024): Jurnal Mahasiswa Wacana Publik
Publisher : Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/wp.v4i1.89671

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemetaan konflik dan mengetahui peluang penerapan resolusi konflik berbasis collaborative governance dalam revitalisasi kawasan Rowo Jombor. Dalam menganalisa pemetaan konflik dilakukan sesuai dengan pendapat Susan yang mengacu pada Amr (2009:90-91) yaitu menggunakan teori SIPABIO dari dimana memetakan konflik berdasarkan sumber, isu, pihak, sikap, perilaku, intervensi dan output. Kemudian, selain itu akan dilihat terpenuhinya prasyarat terselenggaranya resolusi konflik berbasis collaborative governance melalui authentic dialogue yang terdiri dari prasyarat politis, prasyarat teknis dan prasyarat institusional. Data diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan validasi data menggunakan teknik triangulasi sumber. Teknik analisa data yang digunakan adalah Miles & Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dapat diketahui terdapat konflik dalam revitalisasi kawasan rowo Jombor. Konflik bersumber mulai dari tahap perencanaan dan pelaksanaan revitalisasi. Tahap konflik perencanaan berasal dari perbedaan kepentingan antara pengelola rowo Jombor dan pemanfaat rowo Jombor. Pada tahap konflik pelaksanaan bersumber pada masyarakat yang mengalami kerugian materi dari adanya revitalisasi. Pihak yang terlibat terdiri dari BBWS Bengawan Solo, Dinas Pariwisata Kabupaten Klaten, pedagang warung apung, nelayan keramba jaring apung, pemancingan dan pedagang kaki lima. Upaya mengatasi konflik dilakukan dengan adanya dialog autentik berbasis collaborative governance dengan temuan: prasyarat politis adanya dialog, prasyarat teknis tidak adanya aturan tertulis dalam pelaksanaan dialog dan prasyarat institusional yang terdiri dari keterwakilan pihak berkonflik dan adanya fasilitator independent. Terpenuhinya tiga dari empat prasyarat pelaksanaan dialog autentik maka secara umum konflik revitalisasi kawasan rowo jombor dapat disebut maupun di resolusi menggunakan dialog autentik dalam resolusi konflik berbasis collaborative governance.
Evaluasi Implementasi Program Kartu Lansia Jakarta di RW.001 Kelurahan Ulujami Nanda Saskia Putri; Wahyu Nurharjadmo
Wacana Publik Vol 3, No 2 (2023): Jurnal Mahasiswa Wacana Publik
Publisher : Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/wp.v3i2.80229

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan Program Kartu Lansia Jakarta dan faktor yang penghambat pelaksanaan Program Kartu Lansia Jakarta di RW.001 Kelurahan Ulujami. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif analisis yang dilaksanakan di RW.001 Kelurahan Ulujami. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan informan penelitian. Data sekunder diperoleh dari dokumendokumen seperti buku, jurnal, dan dokumen tahunan. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan menggunakan teknik triangulasi. Analisis data menggunakan teknik analisis interaktif Miles dan Hurbermen yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori dalam penelitian ini menggunakan Teori Evaluasi Implementasi oleh Ripley untuk mengetahui evaluasi implementasi Program Kartu Lansia Jakarta di RW.001 Kelurahan Ulujami. Penelitian ini diperoleh hasil bahwa implementasi Program Kartu Lansia Jakarta di RW.001 Kelurahan Ulujami sudah cukup efektif. Hal ini dapat dilihat dari kemudahan akses informasi tentang pencairan dana, lokasi ATM DKI yang mudah ditemukan, pemberian pangan murah bersubsidi kepada lansia, akses pemeriksaan kesehatan secara gratis, dan pemberian bantuan proses pendaftaran dari pihak kelurahan apabila menemukan kesulitan. Sedangkan faktor penghambatnya adalah kouta penerima Kartu Lansia Jakarta yang terbatas, banyaknya data lansia yang belum masuk di dalam DTKS, adanya penyalahgunaan Kartu Lansia Jakarta, lansia yang memiliki kekurangan dalam hal penggunaan teknologi.