Salamah Eka Susanti
Universitas Islam Zainul Hasan Genggong

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN ISLAM : MELACAK AKAR PEMIKIRAN SYED. M. NAQUIB AL-ATTAS Salamah Eka Susanti
Al-Fikru : Jurnal Pendidikan Dan Sains Vol 1 No 2 (2020): VOLUME 1 NUMBER 2 (2020) DESEMBER
Publisher : UNZAH Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.484 KB) | DOI: 10.55210/al-fikru.v1i2.514

Abstract

In the context of finding the ideal Islamic education concept, it is a moral responsibility for Muslim scholars to come up with Islamic theory as a paradigm of educational science. Islam as an educational paradigm has different characteristics from other paradigms that underlie the concept of education. It is a must (a must), especially for scientists who are concerned in the field of education, to reconstruct a paradigm building that can be used as a basis for the education system. The alternative Islamic paradigm is a wise choice in the framework of the foundation of the educational paradigm based on the values ​​of the Qur'an. The paradigmatic or conceptual development of Islamic education has been carried out by both Muslim education experts and scientists. Syed M. Naquib Al-Attas is known as a prominent Muslim scientist and thinker, founder and Rector of ISTAC Kuala Lumpur Malaysia, who has fundamental thoughts about the concept of Islamic education. Among the fundamental educational concepts of Syed M. Naquib Al-Attas, which is presented in this paper, is his concept of ta'dib. For him, the fundamental problem in Islamic education is the loss of ethical values ​​in a broad sense. This is due to the unclear understanding of the concepts of tarbiyah, ta'lim and ta'dib. Syed M. Naquib Al-Attas prefers to use the term ta'dib for the concept of Islamic education, because if the concept of ta'dib is applied comprehensively, integrally, and systematically in Islamic education practice, various problems in developing Muslim human resources are expected to be resolved. The basic reason for the application of the concept of ta'dib is adab is closely related to science, because science cannot be taught or transmitted to students unless the person has proper etiquette towards science in various fields. The concept of Islamic education which is only limited to the meanings of tarbiyah and ta'lim has been penetrated by a Western view of life which is based on the values ​​of dualism, secularism, humanism and Sufism so that the values ​​of adab become increasingly blurred and further away from the values ​​of divine wisdom. The reconstruction of the concept of Islamic education carried out by Syed M. Naquib Al-Attas aims to restore Islamic education that has been contaminated and interfered with by the concept of secular Western education to the concept of education that is in accordance with Islamic ideals that have existed since the Prophet Muhammad SAW was sent as an Apostle. The concept of ta'dib which was formulated by Syed M. Naquib Al-Attas, really has high relevance and significance to be implemented in the world of education. Because basically it is an educational concept that intends to integrate the dichotomy of science, maintain equilibrium, have moral and religious characteristics. Key Words: Epistemology, Education, Islamic, Thought.
Kebiasaan Membaca Rotibul Haddad Untuk Membentuk Karakter Santri Di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Besuk Probolinggo Neneng Intan Bulgis Humairoh; Haqqul Yakin; Salamah Eka Susanti
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 4 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.552 KB) | DOI: 10.31004/jpdk.v4i4.5880

Abstract

Karakter merupakan sifat atau perilaku yang dimiliki oleh setiap santri, sehingga dapat menggemakan setiap individu yang tertuju dalam diri santri. Santri juga memiliki budi pekerti yang mendominasi dalam ilmu agama sehinggga santri kerap dibutuhkan oleh lingkungan masyarakat. Di pesantren banyak macam bacaan Dzikir yaitu salah satunya Rotibul Haddad yang merupakan amalan yang berisi doa dan dzikir yang disusun oleh ulama asal hadramaut, habib abdullah  bin alwi bin muhahammad al haddad, amalan ini memiliki banyak khasiat yang sangat banyak khasiat yang sangat dasyat, sehingga kerap dijadikan amalan rutin umat islam termasuk. Metode penelitian yang digunakan penelitian kualitatif dimana penelitian ini tidak berupa angka melainkan berupa analisi deskriftif dengan aktual dan kongkrit sehingga peneliti melakukan wawancara secara mendalam kepada informan dan melakukan dokumentasi terkait dengan pembacaan Rotibul Haddad. Dari hasil penelitian ini kebiasaan membaca Rotibul Haddad sangatlah berhubungan  dengan karakter santri dipesantren bahrul ulum sehingga Rotibul Haddad menjadi kebiasaan membaca di pesantren yang dimana di baca setiap habis sholat  magrib yang dimana pembacaan di pimpin dan di ikuti santri sehingga terbentuknya karakter santri.  Pembacaan Rotibul Haddad ini dapat membentuk karakter santri dipondok bahrul ulum seperti karakter yaitu Kebersamaan, kekeluargaa, kepatuhan dan disiplin,  dimana santri dapat mengembangkan karakternya dengan adanya kegiatan pembacaan Rotibul Haddad di pondok pesantren bahrul ulum. Yang kedua faktor penghambat dan pendukung, faktor penghambatnya ketika ada santri baru maka santri baru tersebut tidak lancar dalam pembacaan Rotibul Haddad, itu menjadi kendala atau hambatan untuk membentuk karakter santri di pondok pesantren bahrul ulum. Faktor pendukungnnya adanya dukungan penuh dari pengasuh pondok pesantern putri dimana pengasuhnya membina langsung dalam kegiatan pembacaan Rotibul Haddad.
Pendidikan Remaja Perspektif Al-Qur’an Studi Analisa Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Tahapan Pendidikan Azkalakum Zakiyullah; Endah Tri Wisudaningsih; Salamah Eka Susanti
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 4 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.182 KB) | DOI: 10.31004/jpdk.v4i4.6052

Abstract

Anak adalah sebagai cerminan orang tua, bila anak tersebut sukses dan berakhlaqul karimah, maka di situlah peran seorang tua sukses mendidik anaknya dalam beretika / berakhlaqul karimah. Disebut manusia yang layak karena manusia tersebut berakhlak, dan akhlak merupakan pondasi dasar sebuah pembentukan karakter, sehingga di masyarakat seseorang yang didahulukan adalah akhlaknya. Seseorang meskipun nilai akademiknya tinggi dan titel perguruannya tinggi, tidak ada gunaya jika tidak berakhlakul karimah, semua tidak bernilai jika tanpa adanya Akhlak. Masa yang memeiliki egisentris yang tinggi adalah masa yang mana selalu berkeinginan untuk menjadi diri sendiri. Inilah yang menjadikan dirinya terjerumus kepada hal positif dan negatif. Terdapat pilihan atau jalan hidup masing-masing, yang merasa dirinya bisa mengatur jalan hidupnya sendiri. Dalam pendidikan terdapat beberapa fase-fase yang perlu dilaksanakan. Dan yang di jelaskan secara terperinci sesuai tahapan Al-Qur’an. Yang pertama konsep pendidikan adalah tentang keimanan atau ketauhidan, berbakti kepada orang tua, akhlaqul karimah.