Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identifikasi Ketersediaan Unsur HARA NITROGEN, FOSFOR, DAN KALIUM PADA LAHAN ALUVIAL YANG DITANAMI JERUK SIAM DI DESA TEBING BATU KABUPATEN SAMBAS ENY ENY; Denah Suswati; Rini Hazriani
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 6, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v6i2.22884

Abstract

Jeruk siam merupakan anggota dari kelompok jeruk keprok yang memiliki nama ilmiah Citrus nobilis. Nama jeruk siam karena jeruk ini berasal dari Siam (Thailand), yang di negara asalnya disebut Som Kin Wan. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman jeruk sangat dipengaruhi oleh pemberian pupuk dan ketersediaan unsur hara di dalam tanah. Status hara yang terendah akan mengendalikan proses pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan unsur hara nitrogen, fosfor, dan kalium pada lahan Aluvial yang ditanami jeruk siam di Desa Tebing Batu Kabupaten Sambas. Parameter penelitian meliputi: reaksi tanah (pH), nitrogen total tanah, fospor tersedia, kalium tersedia, kalsium tertukar, magnesium tertukar, C-organik, rasio C/N, kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa (KB), dan bobot isi tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada lokasi penelitian pH termasuk dalam kriteria sangat masam, sehingga perlu dilakukan pengapuran. Kadar nitrogen (N) total dalam tanah pada  masing-masing lokasi penelitian masuk dalam kriteria sedang, kadar fosfor (P) tersedia pada lokasi penelitian termasuk dalam kriteria sangat tinggi, dan kadar kalium (K) pada lokasi penelitian termasuk dalam kriteria sangat rendah sampai rendah. Berdasarkan hasil analisis tanah pada lokasi penelitian, maka diperoleh rekomendasi sebagai berikut: Unsur hara P tersedia di dalam  tanah pada lokasi penelitian termasuk sangat tinggi, sehingga tidak perlu dilakukan rekomendasi pemupukan P. Rekomendasi pemupukan N (Urea) dan K (KCl) pada masing-masing lokasi penelitian  untuk 1 kali pemupukan  yaitu  lokasi A= 195,51 kg/ha dan 570,64 kg/ha; lokasi B = 206,33 kg/ha dan 634,8 kg/ha; lokasi C = 202,72 kg/ha dan 649,31 kg/ha; lokasi D = 196,70 kg/ha dan 801,03 kg/ha. Rekomendasi pengapuran dolomit pada lokasi penelitian untuk 1 kali pengapuran, yaitu lokasi A = 1.770 kg/ha, lokasi B = 1.850 kg/ha, lokasi C = 1.310 kg/ha, dan Lokasi D = 890 kg/ha.Kata Kunci : Unsur hara, Jeruk, Rekomendasi pemupukan dan pengapuran
Dinamika Spasial Perubahan Penggunaan Lahan dan Potensi Lahan Pertanian pada Daerah Aliran Sungai Tropis: Studi Kasus Sub Das Melawi, Indonesia Gunadi Gunadi; Rini Hazriani; Romiyanto Romiyanto; Fitriana Fitriana
Jurnal Solum Vol 23 No 2 (2026): Jurnal Solum
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/solum.v23i2.336

Abstract

Land-use change within watersheds represents a major challenge for land resource management, as it impacts agricultural productivity, hydrological functions, and environmental sustainability. The Melawi Sub-watershed, part of the Kapuas Watershed, is experiencing land-use dynamics driven by plantation expansion, agricultural activities, and shifts in spatial utilization. This study aims to analyze land-use change dynamics in the Melawi Sub-watershed from 2022 to 2024, evaluate the presence of agricultural land within forest areas and Business Use Rights (HGU) zones, and identify potential agricultural land available for future development. The analysis utilized Sentinel-2 imagery processed on the Google Earth Engine platform using the Random Forest algorithm; subsequent spatial overlay analysis generated a land-use change matrix and identified land distribution across forest areas and HGU zones. The results indicate an increase in plantation area by 20,153.357 hectares, while mixed dryland agriculture and shrubland decreased by 26,879.009 hectares, signaling a conversion toward more intensive land use. Overlay results reveal that of the total 1,148,066.594 hectares of agricultural land, approximately 540,005.663 hectares (47.04%) are located within forest areas, and 99,339.002 hectares (8.65%) fall within HGU zones. After accounting for these areas, a potential 508,721.929 hectares (44.31%) of agricultural land remains available for sustainable agricultural development. Key words: Land Use Change, Melawi Sub-watershed, Sentinel-2