Asep Sofyan
Program Studi Magister Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

ANALISIS PENGARUH VARIASI MUSIMAN TERHADAP DISPERSI NO2 DI KOTA TANGERANG DENGAN MENGGUNAKAN MODEL WRF-CHEM Faisal, Irvan; Sofyan, Asep
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 25, No 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Nitrogen dioksida (NO2) merupakan salah satu pencemar udara yang sebagian besar diemisikan ke atmosfer melalui aktivitas transportasi yang terbentuk akibat adanya reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara ketika pembakaran bahan bakar pada temperatur tinggi. NO2 merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan partikulat matter (PM) dan ozon troposferik yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Kota Tangerang merupakan salah satu kota di Banten yang memiliki perkembangan pesat di berbagai bidang, termasuk ekonomi, industri, dan transportasi. Pesatnya perkembangan Kota Tangerang berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah pencemar udara yang diemisikan oleh aktivitas-aktivitas tersebut. Dispersi dari pencemar udara di suatu wilayah sangat bergantung pada kondisi meteorologi dari wilayah tersebut. Analisis pengaruh variasi musiman dari pencemar udara dapat dilakukan dengan menggunakan model WRF-Chem. Simulasi dengan menggunakan WRF-Chem dilakukan dengan menggunakan inventarisasi emisi Kota Tangerang. Simulasi dilakukan selama 3 hari di musim basah dan musim kering, dengan domain paling dalam memiliki resolusi spasial 1 km dan resolusi temporal 1 jam. Hasil simulasi kualitas udara di bulan basah dan bulan kering menunjukkan bahwa dispersi NO2 di Kota Tangerang sangat dipengaruhi oleh kondisi sirkulasi angin laut di daerah tersebut. Ketika musim kering, monsun Australia akan memperkuat sirkulasi angin darat di malam hari, namun memperlemah sirkulasi angin laut di siang hari. Ketika musim basah, sirkulasi angin laut akan diperkuat oleh monsun Asia namun memperlemah angin darat di malam hari. Selain kondisi angin, tingkat kestabilan atmosfer juga mempengaruhi variasi diurnal dari konsentrasi NO2. Di siang hari, kondisi atmosfer yang cenderung tidak stabil akan mengakibatkan konsentrasi NO2 terdispersi secara vertikal. Di malam hari, kondisi atmosfer yang lebih stabil mengakibatkan NO2 akan terdispersi secara horizontal. Kata kunci: pemodelan pencemaran udara, NO2, WRF-Chem Abstract: Nitrogen dioxide (NO2) are are air pollutants emitted mainly from vehicle combustion  which formed by a reaction between nitrogen and oxigen during fuel combustion in high temperature. NO2 is important in particulate matter (PM) and tropospheric ozone production that could harm human health. Tangerang is one major city in Banten that have rapid development in various sector, including economy, industry, and transportation. This rapid development causing an increase of air pollutant emitted by these activities. Air pollutant dispersion is very dependent with meteorological condition in the Tangerang. Seasonal variation of air pollutant could be done with WRF-Chem model. Simulation using WRF-Chem is done using Tangerang emission inventory for 3 days during wet season and dry season, with spatial resolution of 1 km in the finest domain and temporal resolution of 1 hour. The simulations show the dispersion of NO2 in Tangerang are following the sea breeze flow wind pattern both in dry and wet season. During dry season, Australian monsoon will strengthen landbreeze circluation in the night, but weaken seabreeze circulation in the day. During wet season, Asian monsoon will strengthen seabreeze circulation but weaken landbreeze circulation. The dispersion of NO2 also closely connected to atmosphere stability condition. During day, the unstable atmosphere causing the NO2 dispersed more vertically, while during night, NO2 is dispersed far horizontally caused by stable atmosphere.Keywords: air pollution model, NO2, WRF-Chem
ANALISIS DISPERSI PENCEMAR UDARA PM10 DI KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN WRFCHEM DATA ASIMILASI Pratama, Alvin; Sofyan, Asep
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 26, No 1 (2020)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2020.26.1.2

Abstract

Abstrak: Pencemaran udara merupakan salah satu permasalahan utama di kota-kota besar di Indonesia, salah satunya Kota Bandung. Permasalahan ini muncul akibat semakin tingginya kebutuhan dan tingkat aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Hal ini menjadi salah satu pemicu semakin tingginya konsentrasi polutan di atmosfer yang dapat memengaruhi kehidupan manusia ataupun ekosistem. Di atmosfer, tingkat konsentrasi dan pergerakan polutan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi meteorologi, karakteristik topografi, dan sumber emisi. Untuk mengetahui pesebaran dan tingkat konsentrasi polutan tersebut, dilakukan simulasi menggunakan model WRFCHEM. Simulasi ini memanfaatkan data Automatic Weather Station dan data inventarisasi emisi Kota Bandung menggunakan metode asimilasi. Dari hasil simulasi diperoleh bahwa emisi terbesar kota Bandung bersumber dari kendaraan bermotor yang didominasi di bagian selatan yaitu tol Padaleunyi dan Jalan Soekarno Hatta. Sedangkan pemanfaatan data asimilasi dalam model WRFDA, mampu meningkatkan akurasi parameter meteorologi dari hingga 7%. Pesebaran polutan di kota Bandung sangat dipengaruhi oleh faktor lokal dan fenomena monsun. Pada bulan kering, polutan cenderung tersebar ke arah utara dan barat, sedangkan pada bulan basah cenderung tersebar ke arah selatan dan timur. Selain itu, tingginya kecepatan angin pada bulan kering (dari arah selatan dan tenggara) dan karakter topografi yang datar (di selatan) menyebabkan PM10 tersebar hingga keluar Kota Bandung. Sedangkan pada bulan basah, pelemahan kecepatan angin akibat topografi yang komplek di utara Kota Bandung meyebabkan PM10 cenderung tidak terdispersi dengan baik. Dari hasil simulasi tersebut, juga terdapat beberapa daerah yang perlu menjadi prioritas pengelolaan kualitas udara jika dibandingkan dengan baku mutu berdasarkan PP 41 Tahun 1999. Daerah-daerah yang perlu mendapatkan perhatian khusus diantaranya Rancabolang, Mekarjaya dan Pasirluyu. Kata kunci: Pencemaran Udara, WRFCHEM, Asimilasi data, PM10, Kota Bandung Abstract: Air pollution is one of the main problems in big cities in Indonesia, one of which is the city of Bandung. This problem arises due to the increasing needs and level of activity carried out by humans. This has become one of the triggers of higher concentrations of pollutants in the atmosphere that can affect human life or ecosystems. In the atmosphere, the level of concentration and movement of pollutants is influenced by various factors, such as meteorological conditions, topographic characteristics, and emission sources. To find out the distribution and concentration level of these pollutants, simulations were carried out using the WRFCHEM model. This simulation utilizes Automatic Weather Station data and Bandung City emissions inventory data using the assimilation method. From the simulation results it was found that the biggest emissions of the city of Bandung were sourced from motor vehicles dominated in the southern part of the Padaleunyi toll road and Jalan Soekarno Hatta. While the use of assimilation data in the WRFDA model, can improve the accuracy of meteorological parameters from up to 7%. The spread of pollutants in the city of Bandung is strongly influenced by local factors and the phenomenon of the monsoon. In the dry month, pollutants tend to spread to the north and west, while in the wet months tend to spread to the south and east. In addition, the high wind speed in the dry months (from the south and southeast) and the flat topographic character (in the south) causes PM10 to spread out of the city of Bandung. Whereas in the wet month, the weakening of the wind speed due to the complex topography in the north of Bandung city causes PM10 to not be well dispersed. From the results of the simulation, there are also some areas that need to be prioritized in air quality management when compared with the quality standards based on PP 41 of 1999. Areas that need special attention include Rancabolang, Mekarjaya and Pasirluyu. Keywords: Air Pollution, WRFCHEM, Data assimilation, PM10, Bandung City
Berbagai Faktor yang Memengaruhi Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Bandung Titik Respati; Ardini Raksanegara; Heni Djuhaeni; Asep Sofyan; Dwi Agustian; Lia Faridah; Hadyana Sukandar
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 9 No 2 (2017): Jurnal Aspirator Volume 9 Nomer 2 2017
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.153 KB)

Abstract

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) reemerged as a significant public health problem, whichreflects the difficulty in sustaining DHF control program. Community-based strategy to control Aedesaegypti breeding sites needs to be understood. The objective of this study is to understand contributedfactors to DHF based on characteristics, the availability of basic sanitation, knowledge, perception, andattitude towards DHF prevention program. A survey conducted to 2035 households in 12 districts and 16villages in Kota Bandung in April to June 2015 using stratified random sampling method. A questionnairewas administered to collect information on variables related to economic status, knowledge on DBD, riskperception and practices associated with Aedes aegypti breeding sites, also basic sanitation facilities. Theanalysis used was correlation and Generalized Estimating Equation (GEE). Results showed that gender, basic sanitation availability, knowledge about dengue in general, knowledge about DHF symptoms, andperception about the disease contribute to dengue cases (p ≤ 0.05). The conclusion of this study is factorscontributed to dengue cases were sex, education, basic sanitation, knowledge about dengue in general,knowledge about DHF symptoms and perception about the disease. Program planning should also include factors and the need for the local community.
Spatial Distribution of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Urban Setting of Bandung City Titik Respati; Ardini Raksanagara; Henni Djuhaeni; Asep Sofyan
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.601 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.2535

Abstract

The proximity of urban area provides fertile ground for the exchange of bacteria, virus and other health problem. One of the diseases which have a close relationship with the environment and people interaction is dengue. At present, it still is one of the major health problems for Indonesia. One method to understand the disease is by using spatial analysis that the prevention program can be focusing on the area most affected. This study aims to analyze the spatial distribution of dengue cases in Bandung city. The method used was the mapping of dengue cases using geographic information system (GIS) with ArcView software. Data were collected from August 2015 to March 2016 in Bandung city. Results showed that dengue cases increased with fluctuated hyperendemic years especially in the year 2009, 2012, and 2013. Spreading pattern of the disease was from north of Bandung to east. The conclusion of this study dengue cases in Bandung city showed an increased trend with fluctuated hyperendemic year especially in the year 2009, 2012, and 2013. Pockets of highest reported cases were found in north to middle and east for the whole year. The spread of this disease, especially in east Bandung, showed wider affected areas in the observed year. Land usage for residential purposes without good development plan might be on factors that increase the disease transmission. DISTRIBUSI SPASIAL KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE DI DAERAH URBAN KOTA BANDUNGKedekatan dalam wilayah urban memberikan kemudahan dalam pertukaran bakteri, virus, dan masalah kesehatan lainnya. Salah satu penyakit yang erat hubungannya dengan kedekatan pemukiman, lingkungan, dan interaksi manusia adalah demam berdarah dengue (DBD). Sampai saat ini DBD masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Pencegahan suatu penyakit akan lebih mudah dilakukan apabila pemahaman mengenai penyakit tersebut sudah dapat dilakukan dengan baik. Dengan pemetaan (distribusi spasial), kasus DBD akan lebih mudah dimonitor sehingga program pencegahan dapat difokuskan pada wilayah dengan angka kejadian yang tinggi. Penelitian ini bertujuan melihat distribusi spasial kasus DBD mempergunakan geografic information system (GIS) di Kota Bandung. Metode penelitian ini adalah pemetaan kasus di wilayah tertentu dengan GIS menggunakan ArcView software menggunakan data kasus DBD dan data spasial dilaksanakan pada tahun 2015 di Kota Bandung. Hasil penelitian kasus DBD di Kota Bandung menunjukkan peningkatan dengan pola tahun hiperendemik berfluktuasi terutama pada tahun 2009, 2012, dan 2013. Pola pergerakan kasus tampak berawal dari arah utara menuju timur. Kantong wilayah dengan kasus DBD yang tinggi terkumpul di daerah utara menuju timur Kota Bandung sepanjang tahun. Simpulan penelitian ini, penyebaran kasus di wilayah Bandung menunjukkan daerah sebaran yang semakin besar dari tahun ke tahun. Pemanfaatan lahan sebagai pemukiman memiliki keterkaitan terhadap kejadian DBD.
ANALISIS DISTRIBUSI PENCEMAR UDARA NO2, SO2, CO, DAN O2 DI JAKARTA DENGAN WRF-CHEM Nisrina Setyo Darmanto; Asep Sofyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2012)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2012.18.1.6

Abstract

Abstrak: Tingginya aktivitas perkotaan di DKI Jakarta meningkatkan emisi pencemar udara sumber antropogenik seperti NO2, SO2, CO, dan O3. Pada penelitian ini dilakukan simulasi numerik mengenai distribusi pencemar udara di atmosfer akibat faktor meteorologi pada musim kemarau (Agustus 2011) dan musim hujan (Januari 2011) dengan simulasi numerik WRF-Chem. Input emisi simulasi berasal dari inventarisasi emisi antropogenik tahun 2011 pada penggunaan energi di sektor industri, transportasi, dan kebutuhan domestik serta pembakaran residu pertanian di Jakarta dan sekitarnya. Inventarisasi emisi yang dilakukan menunjukkan bahwa kontribusi SO2  tertinggi dihasilkan dari sektor industri sedangkan kontribusi NO2  dan CO tertinggi dihasilkan dari transportasi. Hasil WRF-Chem menunjukkan bahwa pola meteorologi musim kemarau memiliki perbedaan yang signifikan dengan musim hujan. Pada musim kemarau, terjadi dominasi angin lokal laut/darat yang mendistribusi pencemar udara ke arah utara (Teluk Jakarta) saat terjadi angin darat dan ke arah selatan (Jakarta Selatan dan Bogor) saat terjadi angin laut. Di musim ini, kecepatan angin rendah dan terbentuk mixing layer yang signifikan. Pada musim hujan, adanya angin permukaan akibat angin sinoptik dengan kecepatan tinggi dari arah barat dan variasinya mendistribusi pencemar ke arah timur (Jakarta Timur dan Bekasi). Kecepatan angin tinggi dan mixing layer yang terbentuk lebih rendah dibanding pada musim kemarau. Verifikasi hasil pemodelan dilakukan dengan membandingkan hasil simulasi dengan hasil observasi di stasiun pemantauan pencemaran udara DKI 2 di Kelapa Gading, Jakarta.Kata kunci: distribusi pencemar udara, inventarisasi emisi, Jakarta, pencemar udara, WRF-Chem Abstract: The increase of urban activities in DKI Jakarta implies in higher air pollutants emission such as NO2, SO2, CO, and O3  which come from anthropogenic sources. In this research, the numerical simulations of meteorological aspects on air pollutants distributions during dry season (August 2011) and wet season (January 2011) are conducted by using WRF-Chem software. The anthropogenic emission input for WRF-Chem is calculated from 2011 emission inventory in Jakarta and its suburban areas from energy-utilization sectors (industrials, transportations, and domestic) and agricultural residual burning. The emission inventory shows that industrial sectors contribute the highest SO2 emission among all. Therefore, the transportation sectors contribute the highest NO2 and CO emission among all. The WRF-Chem results show that the meteorological characteristic during dry and wet season has significant differences one another. During the dry season, sea/land breeze local winds has major influences in distributing air pollutants to the north (Jakarta Bay) due to land breeze and south (South Jakarta and Bogor) due to sea breeze. In this season, the wind velocity is relatively low and the mixing layer is formed significantly. Therefore, during the wet season the synoptic westerly wind  influences the surfaces wind  results in  low domination of sea/land breeze local wind  and distributes the air pollutants to the east (East Jakarta and Bekasi). The wind velocity is high and the inversion layer is not significantly formed compared to dry season. For the simulation results verification, a comparison between simulated and observed values from air quality monitoring stations DKI 2 in Kelapa Gading is conducted.Key words: air pollutant distributions, emission inventory, Jakarta, air pollutants, WRF-Chem
PENELITIAN METODE ESTIMASI UNTUK INVENTARISASI EMISI SHORT LIVED CLIMATE FORCERS (SLCFs) PADA SEKTOR TRANSPORTASI DARAT (STUDI KASUS : KOTA SURABAYA) Nugroho Haryoputro; Asep Sofyan; Haryo Satriyo Tomo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.1.8

Abstract

Abstrak: Inventarisasi emisi merupakan bagian yang penting dalam usaha pengelolaan kualitas udara. Sayangnya, usaha inventarisasi emisi yang kontinu di negara-negara berkembang seperti Indonesia seringkali mengalami stagnasi akibat ketidaktersediaan data yang sesuai dengan metode-metode yang sudah ada. Inventarisasi yang akhirnya berjalan pun tak jarang berakhir dengan hasil yang memiliki ketidakpastian yang tinggi. Metode yang saat ini ada untuk inventarisasi emisi antara lain adalah pendekatan dengan traffic counting, dengan perhitungan VKT (vehicle kilometers travelled) serta perkiraan dengan data jumlah kendaraan yang terdaftar. Metode yang diperkenalkan dalam penelitian ini menggabungkan perhitungan data jumlah kendaraan yang terdaftar dengan data panjang jalan yang telah dipetakan dalam grid, disertai dengan validasi dengan data ATTN dan pemetaan proporsional beban emisi tiap jenis kendaraan dengan proporsi panjang jalan di suatu grid terhadap panjang jalan total. Hasil yang diperoleh berupa data inventarisasi emisi yang telah dipetakan secara spasial.
PERBEDAAN PERGERAKAN ANGIN PADA MUSIM HUJAN DAN MUSIM KEMARAU DAN PENGARUHNYA TERHADAP DISPERSI PENCEMAR UDARA DI KOTA SURABAYA Betha Januardi Budaya; Puji Lestari; Asep Sofyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.4

Abstract

Abstrak: Dinamika atmosfer merupakan faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam studi tentang pencemaran udara. Kondisi atmosfer dari suatu wilayah sangat berpengaruh terhadap distribusi pencemar udara di wilayah tersebut. Kota Surabaya memiliki topografi yang unik dimana di wilayah barat dan selatan merupakan daerah perbukitan landai sedangkan di wilayah utara dan timur merupakan daerah tepi laut. Kondisi geografis Kota Surabaya yang terletak di tepi pantai utara dari Provinsi Jawa Timur akan menyebabkan adanya pengaruh dari angin lokal seperti angin darat dan angin laut. Dengan melakukan studi terhadap pergerakan angin maka akan diketahui pola pergerakan udara di Kota Surabaya dan efeknya terhadap pencemar udara yang diemisikan dari berbagai sumber di Kota Surabaya. Salah satu cara untuk mempelajari pola pergerakan udara adalah dengan melakukan pemodelan meteorologi skala meso WRF. Output dari model WRF kemudian akan digunakan sebagai input data meteorologi dalam model Calpuff yang digunakan untuk melihat pola dispersi pencemar udara di Kota Surabaya pada musim hujan dan musim kemarau. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada musim kemarau angin bergerak dari arah timur pada siang hari hingga sore hari yang akan menyebabkan pencemar udara bergerak ke arah barat dari Kota Surabaya, sedangkan pada malam hari pencemar udara akan bergerak ke arah timur kemudian berbelok arah karena terbawa angin yang bergerak dari arah tenggara menuju ke arah utara dan barat laut dari Kota Surabaya. Pada musim hujan, angin bergerak dari arah barat laut pada siang hari hingga sore hari yang akan menyebabkan pencemar udara ke arah tenggara dari Kota Surabaya, sedangkan pada malam hari hingga pagi hari pencemar udara akan bergerak secara dominan ke arah timur dari Kota Surabaya.
PERHITUNGAN PENURUNAN BEBAN EMISI PENCEMARAN UDARA DARI PEMBANGUNAN JALUR TOL JORR W2 DI DKI JAKARTA Lailatus Siami; Asep Sofyan; Russ Bona Frazila
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.6

Abstract

Abstrak: Sebagai pusat urbanisasi, mobilitas barang dan manusia di Kota Jakarta memiliki rutinitas transportasi yang padat setiap hari. Hal ini ditandai dengan adanya orientasi mobilitas manusia dari perumahan di sekeliling Jakarta (Jabodetabek) menuju tempat kerja di Kota Jakarta. Dengan pertumbuhan jumlah kendaraan sebesar ±8% per tahun, sektor transportasi memiliki dampak berupa kemacetan dan pencemaran udara. Dari penelitian sebelumnya (Darmanto, 2012) sektor dominan dalam penyumbang emisi CO dan PM10  adalah sektor transportasi sebesar 78,85% dan 99,94%. Sehingga, diperlukan penanganan khusus pada sektor transportasi. Pendekatan pada jaringan jalan yang kompleks di Jakarta dilakukan dengan menggunakan model jaringan jalan. Sehingga didapatkan volume kendaraan tiap ruas jalan untuk dihitung beban emisinya. Berdasarkan hasil representasi dari model jaringan jalan, ruas jalan dengan volume tertinggi berada di jalan tol Cawang dan jalan utama pada jalan Ciputat Raya. Hasil dari inventarisasi emisi pada ruas jalan berbeda "“ beda pada tiap jenis polutan. Hal ini dipengaruhi oleh proporsi jenis kendaraan yang ikut menentukan faktor emisi. 70,68% beban emisi didominasi oleh polutan CO sebesar 973.734,26 ton/tahun. Sistem transportasi di Jakarta disusun dalam pola transportasi makro (PTM). Dan pada RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah),   terdapat beberapa rencana prioritas untuk pembangunan transportasi. Salah satunya adalah pembangunan tol dalam kota maupun tol luar kota. Pada studi ini, skenario yang dipilih adalah pembangunan jalur tol JORR W2 (Jakarta Outer Ring Road West 2). Jalur tol ini Di daerah Kebon Jeruk "“ Ulujami yang juga dijadikan akses bus. Dari skenario ini, didapatkan penurunan beban emisi sebesar  2% untuk polutan NOx; 1,6% untuk polutan NO2; 0,4% untuk polutan CO; 0,8% untuk polutan PM10 dan 0,1% untuk polutan VOC.  Kata kunci: Sektor transportasi, model jaringan jalan, RPJMD, JORR W2, penurunan emisi Abstract : As the center of urbanitation for goods and human, Jakarta surely have a dense of mass transportation everyday. It is showed by the mobile of human from the surround (Jabodetabek) to workplace in Jakarta. By the 2011, the rate of vehicle number is ±8% each year. It is a common that transportation sector has a traffic congestion and traffic air pollution impact. Previous study (Darmanto, 2012) showed the dominant sector of highest emission of CO and PM10 from transportation sector as 78,8 % and 99,4%. So it will be necessary to take particular handling from transportation sector. The approach of complex road networking uses road networking model. So that, flow of vehicle in every road derived to be calculated in emission inventory. Based on emission inventory of road segmentation, Cawang road highway has the highest number for number of vehicle. And so does Ciputat Raya road. The result of emission inventory for each road is different for each parameter. Due to the proportion of vehicle which determine the factor emission. 70,68% CO as the highest emission is 973.734,26 ton/year. Transportation system in Jakarta conduct in Jakarta's macro transportation (JMT) master plan. And in RPJMD (Mid-term action), there are some specific priority of transportation action. It is highway road development inner and outside of Jakarta. In this study, scenario will be do in development of Jakarta Outer Ring Road West 2(JORR W2). And the suitable scenario highway development in Kebun Jeruk "“ Ulujami for bus ccesable. Based on the scenario, reduction of NOx emission is 2%; 1,6% for NO2 emission; 0,4% for CO emission; 0,8% for PM10 emission and 0,1% for VOC emission.  Key  words:  Transportation sector,  traffic  networking model,  Mid-term action,  JORR  W2,  emission reduction
SISTEM DINAMIK OPTIMALISASI PENGGUNAAN ENERGI SEKTOR DOMESTIK DI DUA DESA KABUPATEN BANDUNG BARAT Diva Oktavariani; Asep Sofyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 1 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.1.8

Abstract

Abstrak: Energi memainkan peranan yang sangat penting dalam semua sektor kehidupan (industry, transportasi, rumah tangga, komersil, dan lain-lain), sementara memasak adalah kegiatan utama yang rutin dilakukan di rumah tangga. Bahan bakar yang dominan digunakan adalah gas elpiji dan kayu bakar. Meningkatnya jumlah penduduk akan diiringi oleh meningkatnya kebutuhan akan bahan bakar, yang akan berdampak pada peningkatan konsumsi energi dan peningkatan emisi CO2 (gas rumah kaca) ke atmosfer. Penggunaan kayu bakar yang masih cukup banyak di Kabupaten Bandung Barat sehingga perlu dilakukannya suatu kajian konversi bahan bakar dalam upaya penurunan jumlah pengguna kayu bakar, konsumsi energi dan emisi CO2 yang dihasilkan. Penelitian ini menyajikan analisis terhadap upaya optimalisasi penggunaan energi di sektor domestik (bahan bakar untuk memasak) dengan menggunakan bantuan perangkat lunak STELLA®. Penentuan pola konsumsi bahan bakar di Kabupaten Bandung Barat, Identifikasi terhadap komponen yang mempengaruhi pola konsumsi bahan bakar di rumah tangga, hingga membangun pemodelan sistem dinamik, merupakan tahapan metodologi dalam penelitian ini. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa 85% KK di Desa Lembang menggunakan elpiji sebagai bahan bakar utama untuk memasak, sisanya menggunakan kayu bakar. Sementara di Desa Tenjolaut 63% KK menggunakan kayu bakar dan sisanya menggunakan elpiji. Adapun komponen utama yang mempengaruhi penggunaan jenis bahan bakar untuk memasak adalah pendapatan keluarga dan kedekatan lokasi dengan perkebunan/ hutan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa pola konsumsi energi dari kedua desa memiliki kecenderungan untuk terus naik setiap tahunnya. Akan tetapi, jika diberikan skenario intervensi berupa pengurangan jumlah pengguna kayu bakar maka pola konsumsi energinya akan mengalami penurunan begitupun halnya dengan emisi CO2 yang dihasilkan. Di Desa Lembang, pada tahun 2025 diperkirakan nilai konsumsi energinya sebesar 437 TJ, setelah diberikan intervensi yang intensif maka dihasilkan penurunan konsumsi energi hingga menjadi 201 TJ. Di Desa Tenjolaut, konsumsi energi di tahun 2025 diperkirakan sebesar 391 TJ dan kemudian turun menjadi 278 TJ setelah diberikan intervensi. Emisi CO2 di Desa Lembang pada tahun 2020 diperkirakan akan berkurang sebesar 8.536 ton CO2, sementara Desa Tenjolaut diperkirakan total emisi CO2 nya akan berkurang sebesar 11.400 ton CO2 di tahun 2025. Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa Desa Lembang lebih cepat untuk mencapai program penurunan penggunaan kayu bakar. Kata kunci: konsumsi energi, sektor domestik, sistem dinamik, dan emisi CO2 Abstract: Energy plays a very important role in all sectors of life (industry, transportation, household, and commercial), while cooking is a primary activity done by the household. Cooking fuel that usually used by the households are LPG and firewood. Increase in population and the needs of fuel, will effect on the enhancement of the energy consumption and CO2 emission (green house gases) to the atmosphere. The use of firewood in Bandung Barat regency is much enough, so then we need to have a research in order to find the solution in decreasing the number of people who used a firewood, decreasing the energy consumption and CO2 emission. This research presents an analysis on the optimizing the used of energy in domestic sector, especially the use of cooking fuel, by using software STELLA®. The methodology in this research start with the determination the pattern of fuel consumption in Bandung Barat Regency, identification the components that affect the pattern of fuel consumption in household, and last,  built a system dynamics. The questionnaire shows that 85% of household in Lembang village is using LPG and the rest is using firewood. Meanwhile, in Tenjolaut village, 63% of household using firewood and the rest is using LPG. Main components that influence the household in choosing the cooking fuel are income and distance to the plantation or forest. The results of model simulation shows that pattern of energy consumption in both villages have the same trend, which is increasing. However, if we give an intervention by reducing the number of firewood user, the pattern of energy consumption and CO2 emissions is tend to fall. In Lembang village, the energy consumption in 2025 is predicted to be 437 TJ, it will decrease to 201 TJ after some intensive intervention. In Tenjolaut village, the energy consumption in 2025 is predicted to be 391 TJ and after some intervention, it will become 278 TJ. Emission of CO2 in Lembang village will decrease as much as 8.536 ton CO2 in 2020, while in Tenjolaut village, it will decrease at amount of 11.400 ton CO2 in 2025. From the above explanation, it is conclude that Lembang village will able to first reach the program for reducing the used of firewood compared to Tenjolaut village. Keywords: energy, domestic sector, system dynamics, and optimization
KAJIAN BEBAN PENCEMARAN HARIAN DI SUNGAI CITARUM MENGGUNAKAN PEMODELAN QUAL2K STUDI KASUS: SUNGAI CITARUM SEGMEN KOTA KARAWANG Adi Mustika; Asep Sofyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.2.1

Abstract

Abstrak: Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat.  Potensi pemanfaatan Sungai Citarum cukup besar meliputi antara lain: sumber air baku air PDAM, air baku industri, pertanian, perikanan, PLTA, dan sarana rekreasi. Hasil pemantauan kualitas air menunjukkan bahwa sampai saat ini kondisi kualitas air Sungai Citarum belum dapat memenuhi baku mutu air yang telah ditetapkan di sepanjang tahun, terutama pada musim kemarau (SK. Gubernur Jabar No. 39/2000). Berdasarkan hasil penelitian Pusat Litbang Sumber Daya Air (PUSAIR) dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Prov. Jawa Barat Th. 2011, terjadinya penurunan kualitas air tersebut disebabkan oleh peningkatan beban pencemaran dari berbagai sumber pencemar yang berasal dari populasi penduduk, perkembangan industri, ekstensifikasi dan intensifikasi lahan pertanian, pengembangan perikanan, dan populasi ternak. Studi ini dilakukan untuk mengetahui kualitas air serta menghitung beban pencemar di Sungai Citarum Segmen Kota Karawang. Sebanyak 6 sampel dikumpulkan dari 6 titik pengamatan, yang selanjutnya dianalisis di Laboratorium Perum Jasa Tirta II. Metode pendekatan yang digunakan adalah dengan simulasi pemodelan QUAL2K serta perhitungan beban pencemaran harian maksimum. Berdasar hasil studi, diketahui bahwa kandungan pencemar BOD melebihi Baku Mutu Air Kelas II PP No.82/2001. Dari hasil pemodelan QUAL2K dapat diketahui sebaran pencemar di setiap ruas. Hasil perhitungan beban pencemaran harian maksimum pencemar BOD pada kondisi eksisting adalah 4416,6 kg/hari, pada kondisi debit minimum adalah 545,3 kg/hari, dan pada kondisi debit maksimum adalah 3867,7 kg/hari. Kata kunci: beban pencemaran, BOD,  kualitas air, model Qual2K, pengelolaan sungai. Abstract : Citarum River is the longest and largest river in West Java. The potential use of Citarum river large enough, including the following: raw water source of PDAM, raw water industry, agriculture, fisheries, hydropower, and recreation facilities. The results of water quality monitoring to the current condition of Citarum River showed that the water quality can not meet the water quality standard that has been set in throughout the year, especially during the dry season (SK, West Java Governor No. 39/2000). Based on the research and Development Centre for Water Resources (Pusair) and the Environmental Management Agency (BPLHD) Province of West Java (2011), the decline in water quality caused by increasing of pollution load from various sources of pollution that comes from the population, industrial, agriculture, fisheries and livestock. This study was conducted to determine the water quality and load capacity pollutant in the Citarum River Segment Karawang. A total of 6 (six) samples were collected from 6 (six) observation point, which is then analyzed in the laboratory of PJT II. The method used in this study is QUAL2K modeling simulation and calculation of the maximum daily load. Based on the study results, it is known that the pollutant (BOD) exceeds the Quality Standard (PP No.82 / 2001, Class II). Based on QUAL2K modeling, it can be seen that the pollutant sources were not evenly distributed in every segment from the 1st until the 5th segment. The maximum daily load of pollutants BOD on the existing condition was 4416.6 kg / day, on the minimum discharge conditions was 545.3 kg / day, and on the maximum discharge conditions was 3867.7 kg / day. Key words:  BOD, load capacity of pollutant, model Qual2K, river management, water quality.