Yoyon Suryono
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

STRATEGI PENGEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN KEJURUAN (LPK)DI MASYARAKAT Yoyon Suryono
Jurnal Cakrawala Pendidikan Vol 2, No 2 (2007): Cakrawala Pendidikan, Juni 2007, Th. XXVI, No. 2
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v2i2.8586

Abstract

Secondary school graduates need vocational training institutionsbecauseof the socioeconomic benefits they will get after graduatingfrom the institutions. They will get more benefits from theinstitutionsif the management of the institutions is decentralisticallyimproved. The aimof a research this article is about was identifyingthe need to improve the vocational training institutions which aredecentralistically managed. The resultof the research can be used todetermine a strategy to develop and to certify vocational traininginstitutions. The resultofthe research shows that vocational traininginstitutions, even with the decreasing numbersof their students, arestill needed by society. These institutions also give benefits as unitsof non-formal education offering various training programs.Although generally their organization is small in scale, theirautonomy is great. The efficiency and effectivenessof their use ofthe infrastructure is good. Some of the institutions are tied to thenational curriculum, their license to operate, the nationalexamination, graduation standards, and certifications.To developthe institutions, wider authority is needed to manage the institutionsdecentralistically, particularly in relation to aspectsof programdevelopment, the curriculum, their license, the national examination,graduate standards, and their authority to issue certificates based onthe accreditationof the institutions. In order to implement suchdevelopment, a strategyof development and certification as a formof infrastructure investment and program development is needed.They cango through their development and certification well byproviding representative buildings, educational programs which are 'sold OUt', and professional management employing qualitymanagemen
PEMBELAJARAN KJU!:ATIF-KJUTIS BERMUATAN HARD-SKILL DAN SOFT-SKILL MATA KULIAH ILMU PENDIDIKAN Yoyon Suryono
MAJALAH ILMIAH PEMBELAJARAN No 1 (2007): Jurnal Majalah Ilmiah Pembelajaran Edisi Mei 2007
Publisher : MAJALAH ILMIAH PEMBELAJARAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of the teaching through critical-creative learningmodel grant for educational science subject is to improve student 'sawareness of hard skill and .~·oft skill as two significant elemrnts ofcompetencies that non formal education students must have. Tl.egrant results, which is a learning model to gain hard skill and softskill a11d a critical-creative learning model, is appiicable for othersubjects and even other study programs. Critical-creative learningmodel is able to develop student 's mastery in hard skill and softskill. The implementation of critical-creative learning model can beref er to woup di.\cu:;sion approach, concept understandir.gassignments, and problem solving assignments either individually orin groups. Howevu, further elaboration of hard skill and soft skillcompetency and critical-creative learning model must always bedone through other subject using different model, strategy, method·and approach.
Pengembangan Model Konseptual Evaluasi Diagnoti Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Yoyon Suryono
Dinamika Pendidikan Vol 11, No 2 (2004): Dinamika Pendidikan No. 2/TH. XI/November 2004
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3205.78 KB)

Abstract

Pengembangan Model Konseptual Evaluasi Diagnoti Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
Teknik Motivasi dan Komunikasi untuk Meningkatkan Keberhasilan Proses Belajar Mengajar pada Program Paket B Penyetaraan Yoyon Suryono
Dinamika Pendidikan Vol 5, No 1 (1998): Dinamika Pendidikan No. 1/TH. V/Juli 1998
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1016.906 KB)

Abstract

Teknik Motivasi dan Komunikasi untuk Meningkatkan Keberhasilan Proses Belajar Mengajar pada Program Paket B Penyetaraan
Pengembangan Diklat Menghadapi Tantangan Masa Depan Yoyon Suryono
Dinamika Pendidikan Vol 4, No 1 (1997): Dinamika Pendidikan No. 01/Th. IV Mei 1997
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.058 KB)

Abstract

Pengembangan Diklat Menghadapi Tantangan Masa Depan
Pendidikan Multi Keaksaraan: Urgensi dan Substansi Yoyon Suryono
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i1.85

Abstract

Kemampuan membaca, menulis, berhitung calistung) diperlukan bagi warga masyarakat yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung. ada awalnya kemampuan calistung merupakan bagian penting dari pendidikan keaksaraan dasar yang maknanya sekarang diperluas tidak sekedar pada kemampuan calistung tersebut. Konsep pendidikan keaksaraan dasar telah mengalami perkembangan yang diikuti kemudian oleh perkembangan konsep pendidikan keaksaraan itu sendiri yang ditandai munculnya gerakan konsep pendidikan keaksaraan dalam bentuk multi keaksaraan. Di Indonesia gerakan pendidikan keaksaraan mengalami perubahan penting dimulai dengan pendidikan keaksaraan dasar, pendidikan keaksaraan lanjut, dan pendidikan keaksaraan mandiri sejalan dengan apa yang dikembangkan oleh UNESCO. Konsep dasar pendidikan keaksaraan yang sedang dikembangkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat secara lebih lengkap berupa: (1) Pendidikan keaksaraan dasar yang berupa calistung dan diakhiri dengan peroleh surat tanda melek aksara (dikenal dengan istilah SUKMA); (2) Pendidikan keaksaraan lanjut yang berupa gerakan aksara agar berdaya (AKRAB) dan berkembang pada tahap berikutnya dalam bentuk gerakan aksara kewirausahaan atau keaksaraan usaha mandiri (KUM) sebagai dasar bagi peserta didik dapat mengikuti program Paket A. (3) Pendidikan keaksaraan mandiri yang berupa multi keaksaraan seperti keaksaraan digital, keaksaraan bencana, dan lain-lain yang pada fase berikutnya dapat mengikuti program Paket A, Paket B, dan Paket C sesuai persyaratan yang ditetapkan. Dalam konsep yang sedang dikembangkan itu, salah satu bentuk pendidikan keaksaraan yang diperlukan pada saat ini berupa multikeaksaraan. Mengapa diperlukan multikeaksaraan dan bagaimana bentuknya? Tulisan singkat ini akan membahas kedua hal itu secara konseptual dan faktual dalam batas-batas tertentu sepanjang tersedia data yang mendukungnya.
Pembelajaran Pendidikan Keaksaraan di Perguruan Tinggi Yoyon Suryono
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i2.92

Abstract

Salah satu mata kuliah yang dikembangkan di program studi S1 pendidikan luar sekolah (mulai tahun akademik 2014/2015 berubah menjadi program studi pendidikan nonformal) adalah mata kuliah pendidikan keaksaraan sebagai salah satu bidang penting dari delapan bidang pendidikan nonformal seperti tertuang pada Pasal 26 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Secara lengkap Pasal 26 ayat (3) menjelaskan bahwa pendidikan nonformal mencakup pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Pembelajaran Kewirausahaan Masyarakat Yoyon Suryono
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.236

Abstract

ABSTRAK Pendidikan kewirausahaan masyarakat melalui program aksara kewirausahaan yang memiliki tiga kegiatan utama pelatihan, rintisan inkubator bisnis, dan rintisan sentra wirausaha dirancang untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan masyarakat yang membuka peluang munculnya para wirausahawan yang mampu mengembangkan keberaksaran masyarakat pada berbagai bidang. Pada tahun: 2010 dan 2011 telah diujicoba di berbagai provinsi melalui PKBM dan LPK, yang mengajukan bantuan dana untuik menyelenggarakan program aksara kewirausahaan. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa program aksara kewirausahaan telah dilaksanakan dengan tingkat ketercapaian tujuan yang masih beragam. Beberapa kendala yang di hadapi antara lain belum optimalnya pemanfaatan faktor masukan dan proses pembelajamn sehingga ketercapaian tujuan belum maksimal yang pada akhirnya juga keterwujudan manfaat dan dampak dari program ini belum nampak kelihatan. Memerlukan upaya penguatan ke depan dengan menata dan !ebih memberdayakan faktor masukan dan proses pembelajaran sehingga keluaran, manfaat, dan dampak dari program ini akan semakin terlihat dalam kehidupan masyarakat.