Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pengembangan Ekowisata Bahari Dan Budidaya Rumput Laut Di Kawasan Konservasi Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Masyarakat Dedi Syafikri; Siti Nurwahidah; Neri Kautsari
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 1 (2018): Prosiding PKM-CSR Konferensi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Corporate Socia
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1220.03 KB)

Abstract

Permasalahan utama yang terjadi di Desa Labuhan Bajo yang wilayah perairannya masuk ke dalam kawasan konservasi perairan (KKP) gugusan Pulau Kramat, Bedil dan Temudong ialah tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap kegiatan penangkapan ikan. Pelarangan penangkapan ikan di sebagian zona konservasi menyebabkan berkurangnya luasan daerah tangkapan sehingga berdampak pada penurunan pendapatan masyarakat. Keadaan tersebut menyebabkan sebagian masyarakat memiliki persepsi yang kurang baik terhadap kegiatan konservasi perairan. Salah satu potensi perairan yang berada di dalam kawasan konservasi dan belum termanfaatkan yaitu potensi zona perikanan berkelanjutan. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melatih dan mendampingi masyarakat dalam mengintegrasikan usaha budidaya rumput laut dengan ekowisata bahari di zona perikanan berkelanjutan sehingga dapat menjadi mata pencaharian alternatif bagi masyarakat sekitar. Target yang ingin dicapai dalam kegiatan ini ialah : tersedianya mata pencaharian alternatif bagi masyarakat di kawasan konservasi berbasis integrasi budidaya rumput laut dan ekowisata bahari; peningkatan pendapatan masyarakat dan terbangunnya persepsi yang baik terhadap kegiatan konservasi. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini ialah penyuluhan, pelatihan dan pendampingan. tentang pengembangan ekowisata bahari dan budidaya rumput laut di zona perikanan berlanjutan. Hasil dari kegiatan ini adalah berkembangnya ekowisata bahari di kawasan konservasi perairan Kramat, Bedil dan Temudong yang dibuktikan dengan peningkatan jumlah pengunjung (wisatawan), tersedianya mata pencaharian alternatif masyarakat melalui penyewaan perahu dan peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam budidaya dan pengolahan rumput laut.
PENINGKATAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DESA LABUHAN BAJO TENTANG STUNTING DAN GARAM BERYODIUM Dedi Syafikri; Dwi Mardhia; Fahmi Yahya; Nining Andriyani
Jurnal Pengembangan Masyarakat Lokal Vol. 2 No. 1 (2019): Jurnal Pengembangan Masyarakat Lokal
Publisher : LPPM Universitas Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58406/jpml.v2i1.69

Abstract

Kecamatan Utan termasuk di zona merah (masalah berat) kasus stunting yaitu sebanyak 37,09 % lebih tinggi dari rata-rata nasional 29,6 %.. Salah satu desa di kecamatan tersebut yang memiliki angka kejadian stunting yang cukup tinggi adalah desa Labuhan Bajo. Stunting dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya asupan garam beryodium. Masyarakat di desa Labuhan Bajo masih banyak yang belum mengkonsumsi garam beryodium dikarenakan pengetahuan dan kesadaran mereka yang masih rendah sehingga perlu adanya peningkatan pengetahuan tentang pentingnya mengkonsumsi garam beryodium. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang stunting dan garam beryodium, pembagian garam beryodium serta pelatihan pengecekan kadar garam beryodium. Metode kegiatan yaitu penyuluhan dan pelatihan. Evaluasi terhadap keberhasilan program penyuluhan dan pelatihan dilakukan melalui pre test dan post test untuk menilai pemahaman masyrakat terhadap materi yang diberikan. Hasil penyuluhan dan pelatihan menunjukkan Adanya peningkatan pemahaman masyarakat dari 54 % menjadi 96 %. Berdasarkan hasil ini diharapkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi garam beryodium semakin tinggi dan berdampak pada pencegahan dan menurunnya angka kejadian stunting di desa labuhan Bajo.
DAYA TETAS TELUR DAN METAMOFOSIS LARVA TERIPANG PASIR (Holothuria scabra) PADA KONDISI LINGKUNGAN YANG BERBEDA Dira Anggrayni; Dedi Syafikri; Dwi Mardhia
Jurnal Riset Kajian Teknologi dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Riset Kajian Teknologi dan Lingkungan
Publisher : LPPM Universitas Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58406/jrktl.v2i2.79

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Teluk Santong, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis kondisi lingkungan (Suhu, Salinitas, pH) yang optimal dalam mendukung daya tetas telur dan metamorfosis larva teripang pasir (Holothuria scabra). Parameter lingkungan yang diuji pada penelitian ini terdiri dari tiga parameter lingkungan meliputi suhu yaitu 25, 27, 29 0C, salinitas yaitu 24, 30, 34 ppt dan pH yaitu pH 7, 7.5, 8, 8.5. Metode penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) menggunakan 12 unit percobaan dengan tiga kali pengulangan pada masing-masing perlakuan. Analisis data menggunakan analisis statistika untuk melihat pengaruh lingkungan (suhu, salinitas dan pH) terhadap larva teripang pasir (Holothuria scabra) pada daya tetas telur dan metamorfosis larva. Hasil analisis statistik menunjukan ada pengaruh signifikan pemberian kondisi lingkungan (suhu, pH, salinitas) terhadap daya tetas telur teripang pasir (Holothuria scabra). Sedangkan metamorfsis tidak ada pengaruh signifikan pemberian kondisi lingkungan (suhu, pH, salinitas) terhadap metamorfosis larva teripang pasir (Holothuria scabra). Pemberian kondisi lingkungan suhu pada proses daya tetas telur dan metamorfosis larva teripang pasir (Holothuria scabra) yang optimal terdapat pada suhu 27°C, pH 8,5 dan salinitas 34 ppt.
Pengaruh Jenis Plankton yang Berbeda Terhadap Kelulushidupan dan Laju Pertumbuhan Larva Teripang Pasir (Holothuria Scabra) pada Fase Planktonik Yunita Safitri; Dwi Mardhia; Dedi Syafikri; Neri Kautsari
Indonesian Journal of Applied Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2020): Edisi Maret 2020
Publisher : Indonesian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sea cucumbers are phytoplankton and zooplankton (natural food) eating organisms. Availability or concentration of feed plays an important role in the growth and survival of larvae. Three types of plankton used in this study are diatom species, namely Nanocloropsys sp, Isochrysis sp and pavlopa sp which have high nutritional content and are commonly cultivated. This research was conducted to find the right and optimal type of feed in increasing the production of survival rate and growth rate of larvae of sea cucumbers (Holothuria scabra) so that the cultivation of sea cucumbers can succeed. This research was conducted in the village of Teluk Santong, Plampang District, Sumbawa Regency. The experimental design used in this study was a Completely Randomized Design (CRD) with 3 replications and 4 treatments placed at random. The results showed that the highest growth rate and survival rate of sea cucumber larvae was obtained from the treatment of Isochrysis sp. The value of the growth rate of sea cucumber larvae was 62.7 µm and the survival value was 93.33%, while the lowest growth and survival rate was in the control treatment with a growth rate value of 49.4 µm and a survival rate of 9.33%,
Analisis Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla sp.) di Kawasan Hutan Mangrove Kecamatan Alas Barat Kabupaten Sumbawa Muhammad Zulfiqri; Dwi Mardhia; Dedi Syafikri; Syamsul Bachri
Indonesian Journal of Applied Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2020): Edisi Maret 2020
Publisher : Indonesian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coastal District of Alas Barat has mangrove forest resources that have been degraded to environmental pressures due to human activities that is the conversion of land into pond areas. Mangrove ecosystems is an important role for marine and coastal ecology, which is the habitat of mangrove crabs (Scylla sp). Mangrove crab is a high commercial value fishery commodity. This study aims to determine the abundance of mangrove crabs (Scylla sp) in the mangrove forest area of ??Alas Barat District. The method used in this research is descriptive method with survey techniques. The research area is divided into 3 stations. The mangrove crab found was a type of Scylla serrata and Scylla paramamosain. The highest abundance of mangrove crabs was found at Station 1 (Gontar Baru) at 54.55%, followed by Station 2 (Karang Padak) at 23.23% and the lowest at Station 3 (Labuh Mapin) at 22.22%. The highest abundance at Station 1 type Scylla serrata is 11.66 ind / 100m² and the lowest at station 3 is 1.66 ind / 100m² while for Scylla paramamosain type, the highest abundance is at station 1 at 6.33 ind / 100m² and the lowest at station 2 as much as 5 ind / 100m².
Karakteristik Habitat Peneluran Penyu di Calon Kawasan Konservasi Perairan Taman Pesisir Lunyuk dan Tatar Sepang Lalu Ilham Syaputra; Dwi Mardhia; Dedi Syafikri
Indonesian Journal of Applied Science and Technology Vol. 1 No. 2 (2020): Edisi Juni 2020
Publisher : Indonesian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The sandy beach where turtles lay their eggs is a natural incubator and has a suitable environment for the development of turtle embryos. Microclimate suitable for incubation of turtle eggs arises from interactions between physical characters, beach compilers, the local environment and eggs in the nest. One of the locations where sea turtles land and lay eggs in West Nusa Tenggara Province is on the beach of Lunyuk, Sumbawa Regency. Receiving sea turtles is a protected endangered species, it is necessary to carry out conservation activities to protect and save sea turtles. To support efforts to support, it is necessary to support locations where turtles lay their eggs. Like discussing research on landing sites and turtle nesting sites. The purpose of this study was to analyze the level of suitability of habitat characteristics for turtle nesting in the Lunyuk beach area. The research method uses the survey method. Survey activities include field observations and collecting primary data. Data analysis was performed using the weighting and scoring method. Based on observations it can be seen, the slope of the beach which is the location of spawning is 6.54 - 11.1%, substrate temperature 27 ° C - 32 ° C, humidity substrate 25% - 40%. While the percentage of vegetation is 40% - 57.1%. From the station visit, stations 1 and 2 are quite suitable, while stations 3, 4 and 5 are categorized according to the location of turtle nesting.
Analisis Kualitas Perairan untuk Budidaya Ikan Air Tawar di Bendungan Batu Bulan Yuni Intan Lestari; Dwi Mardhia; Dedi Syafikri; Neri Kautsari; Yudi Ahdiansyah
Indonesian Journal of Applied Science and Technology Vol. 1 No. 4 (2020): Edisi Desember 2020
Publisher : Indonesian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the water parameters that support fresh fish cultivation in the Batu Bulan dam, Maman Village, Moyo Hulu District. The study used a survey method at three observation locations, inlet, center, and outlet of the dam on water quality, including temperature, brightness, substrate, pH, dissolved oxygen (DO), turbidity, salinity, ammonia, Phosphate, and depth. The results showed that the inlet temperature ranges from 29,32oC, in the middle ranges from 29,91oC, and the outlet is 29.11oC. The average brightness at the inlet is 41.04 cm, the middle is 48.20 cm, and the outlet is 34.16 cm. The substrate at the inlet and in the middle is muddy while the outlet is sandy. The pH average in inlet is 6,33, in the middle is 6,58, and outlet 6,53.  Dissolved oxygen (DO) in the inlet range is 5.34 mg/l, in the middle is 5.51 mg/l, and in an outlet, it is 5.85 mg/l. Turbidity in the inlet range is 2,44 NTU, in the middle 2,67 NTU, and an outlet is 3,26 NTU. Salinity in all locations is 0 ppt. Ammonia in the inlet range is 1,01 mg/l, in the middle 0,69 mg/l and outlet is 1,1 mg/l. The average Phosphate at the inlet is one mg/l, in the middle and outlet is 0 mg/l. The status of the water eligibility for aquaculture is that the inlet and middle of the dam are suitable for cultivation, while those at the outlet are less feasible.