Syamruddin Nasution
UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DHIFDA’ DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN MANFAAT SERTA MUDHARATNYA PERSPEKTIF ILMU KESEHATAN Syamruddin Nasution; Muhammad Askolani; Fatmah Taufik Hidayat; Laila Sari Masyhur
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol 3 No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/rsd.v3i1.479

Abstract

Penelitian ini membahas tentang dhifda’ (katak) dalam perspektif Al-Qur`an dan kesehatan. Kajian tentang dhifda’ disebutkan di dalam Al-Qur’an yang terdapat pada surah al-A’raf ayat 133. Di dalam ayat tersebut dhifda’ digambarkan sebagai salah satu perumpamaan azab yang diturunkan kepada Fir’aun dan kaumnya ketika mereka ingkar kepada Nabi Musa AS dan akan di hubungkan dengan kesehatan. Penelitian ini akan membahas mengenai, pandangan Islam serta penafsiran terhadap ayat tentang dhifda dan bagaimana manfaat dhifda’ ditinjau dari ilmu kesehatan. Penelitian ini berupa library research atau kepustakaan oleh karena itu data yang digunakan adalah data kualitatif dengan pendekatan tafsir ilmi. Adapun hasil dari penelitian ini adalah, Pertama, mufasir menafsirkan surah Al-A`raf ayat 133 ini merupakan salah satu perumpamaan azab yang diturunkan kepada Fir’aun dan kaumnya ketika mereka ingkar kepada Nabi Musa AS. Kedua, manfaat dhifda’ dalam ilmu kesehatan yaitu berdasarkan kandungan gizinya yang bermanfaat pada kesehatan manusia dalam sistem peredaran darah sistes integumen (kulit, rambut, kuku), reproduksi dan bayi, saraf dan otak, tulang (sistem rangka), sistem ekskresi dan urinaria, kelenjar, hormon, enzim, mulut dan gigi, kekebalan tubuh, sistem otot, sistem pencernaan, sistem pernafasan.
Kesultanan Aceh Darussalam: Politik, Keilmuan Dan Jaringan Islam Global Ikhlash Hidayatullah; Syamruddin Nasution
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i1.8228

Abstract

Kesultanan Aceh Darussalam merupakan salah satu pusat peradaban Islam terpenting di Asia Tenggara pada abad ke-16 hingga ke-17 yang memainkan peran strategis dalam bidang politik, ekonomi, dan intelektual. Letak geografisnya yang berada di jalur perdagangan internasional menjadikan Aceh sebagai simpul interaksi antara dunia Timur Tengah, India, dan Nusantara, sekaligus sebagai pusat penyebaran Islam dan pengembangan keilmuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif dinamika sejarah Kesultanan Aceh Darussalam dengan menitikberatkan pada aspek politik, perkembangan keilmuan Islam, serta keterhubungannya dalam jaringan Islam global. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah (historical research) yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap sumber-sumber primer dan sekunder, termasuk karya Anthony Reid, Denys Lombard, dan Azyumardi Azra, serta literatur pendukung lainnya yang relevan dengan kajian sejarah Islam Nusantara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636), yang ditandai dengan ekspansi wilayah, penguatan sistem pemerintahan berbasis Islam, serta dominasi dalam perdagangan internasional. Dalam bidang keilmuan, Aceh berkembang sebagai pusat intelektual dengan hadirnya ulama-ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf as-Singkili, yang berkontribusi dalam pembentukan tradisi keislaman di Nusantara. Selain itu, Aceh terintegrasi dalam jaringan ulama global yang menghubungkan kawasan Nusantara dengan pusat-pusat keilmuan di Timur Tengah. Namun demikian, kemunduran Aceh dipengaruhi oleh konflik internal, lemahnya stabilitas politik pasca Iskandar Muda, serta tekanan eksternal dari kekuatan kolonial Eropa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kesultanan Aceh Darussalam tidak hanya berperan sebagai kekuatan politik regional, tetapi juga sebagai pusat transmisi ilmu dan simpul jaringan Islam global yang berkontribusi besar dalam pembentukan identitas keislaman di Nusantara. Oleh karena itu, kajian terhadap Aceh memiliki relevansi penting dalam memahami dinamika sejarah Islam serta sebagai landasan reflektif dalam merespons tantangan keislaman kontemporer di Indonesia.