Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Health Care Media

PERBANDINGAN PENGGUNAAN AIR DENGAN SUHU 7OC DAN SUHU 32OC PADA LARUTAN MEDIA KONTRAS BARIUM SULFATE TERHADAP HASIL RADIOGRAF COLON IN LOOP Sri Martono; Nine Dessy HospitaWatie; Yeni Cahyati
Health Care Media Vol 3 No 2 (2017): JURNAL HEALTH CARE MEDIA
Publisher : ITKM WIDYA CIPTA HUSADA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70633/2721-6993.18

Abstract

Pemeriksaan colon in loop adalah suatu teknik pemeriksaan secara radiologis dari colon dengan menggunakan media kontras yang dimasukkan secara retrograde. Dalam pemeriksaan colon in loop menggunakan media kontras positif yaitu barium sulfate. Dalam penggunaannya, barium sulfate seharusnya dicampur dengan air yang bersuhu 32oC namun di lapangan menggunakan air dengan suhu 7oC. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kualitas gambaran radiograf antara penggunaan air dengan suhu 7oC dan suhu 32oC pada larutan media kontras colon in loop. Desain penelitian ini menggunakan eksperimen. Variabel bebas pada penelitian ini adalah pemberian air dengan suhu 7oC dan 32oC saat dicampur dengan media kontras yang diberikan kepada empat orang sampel. Sedangkan variabel terikat adalah kualitas gambaran radiograf. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar kuisioner yang diberikan kepada tiga orang dokter spesialis radiologi dan tiga orang radiografer. Hasil dari penelitian ini adalah pada pemeriksaan colon in loop sebaiknya menggunakan air dengan suhu 32oC sebagai campuran media kontras. Karena dengan menggunakan suhu 32oC hasil gambaran radiograf dapat sangat jelas terlihat sehingga diagnosa dokter radiologi dapat lebih akurat.
ANALISA TINGKAT PAPARAN RADIASI PESAWAT SINAR- X KONVENSIONAL TERHADAP BESAR DOSIS YANG DITERIMA PEKERJA DI LABORATORIUM DAN KLINIK RADIOLOGI ( STIKes Widya Cipta Husada Malang ) Yeni Cahyati; Roni Prisyanto
Health Care Media Vol 3 No 1 (2017): JURNAL HEALTH CARE MEDIA
Publisher : ITKM WIDYA CIPTA HUSADA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70633/2721-6993.23

Abstract

Sinar-X yang ditemukan Wilhelm Rontgen pada tahun 1895, merupakan foton-foton berenergi tinggi (1-100 keV) dengan panjang gelombang dalam orde 1Ao. Sinar-X dapat diproduksi dengan cara menembaki target logam dengan elektron cepat dalam suatu tabung vakum sinar katoda. Sinar-X selain memiliki manfaat yang luar biasa dalam dunia medis juga memiliki efek negatif. Efek negatif tersebut disebabkan karena sifat radiasi sinar-X yang dapat merusak sel-sel hidup [1]. Proses dalam meminimalisir efek radiasi biasa disebut dengan proteksi radiasi. Terdapat tiga prinsip proteksi radiasi yang harus dilaksanakan yaitu, justifikasi, limitasi dan optimasi [2]. Penelitian ini dilakukan di lingkungan STIKes Widya Cipta Husada Malang. Cara ukur dalam penelitian ini dilakukan dengan mengukur besar dosis di Laboratorium dan Klinik Radilogi dan lingkungan STIKes berdasar tiga prinsip proteksi radiasi. Adapun titik pengukuran sebanyak 16 titik baik di dalam maupun diluar klinik. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa tingkat proteksi radiasi di Laboratorium dan Klinik Radiologi sudah cukup baik, hal tersebut terlihat dari penggunaan timbale pada dinding serta besar dosis yang masih jauh di bawah batas yang telah ditetapkan oleh BAPETEN. Besar dosis yang diterima pekerja di Laboratorium dan Klinik Radiologi sebesar 0.009 mSv/tahun dan masih berada pada batas aman dan sesuai dengan ketetapan BAPETEN.
Pembuatan Saklar Otomatis Lampu Peringatan Pintu Ruang Foto Rongten Dalam Peningkatan Quality Control Laboratorium Radiologi Yeni Cahyati; Agus Wahyojatmiko; Ahmad Baha Udin
Health Care Media Vol 3 No 4 (2018): JURNAL HEALTH CARE MEDIA
Publisher : ITKM WIDYA CIPTA HUSADA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70633/2721-6993.83

Abstract

Sinar-X memiliki manfaat besar juga dapat menimbulkan bahaya bagi pekerja radiasi maupun masyarakat umum.Peraturan BAPETEN menyebutkan bahwa instalasi radiologi harus memiliki lampu peringatan yang berfungsi sebagai indikator bagi orang lain selain petugas agar tidak memasuki ruangan. Saklar adalah alat penyambung atau pemutus aliran listrik, dan berfungsi sebagai alat untuk menghidupkan dan mematikan lampu merah. Umumnya petugas saat melakukan tindakan di Instalasi Radiologi lupa menyalakan lampu peringatan, dan ha tersebut cukup berbahaya jika ada masyarakat umum tiba-tiba memasuki ruangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kontruksi saklar otomatis lampu peringatan pada pintu ruang foto roentgen dalam peningkatan quality control Laboratorium Radiologi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Peneliti membuat saklar otomatis dan melakukan pengujian dengan cara observasi selama 1 bulan.Hasil pada penelitian ini yaitu saklar otomatis sudah layak digunakan karena dari uji ketahanan selama 1 bulan menunjukkan hasil yang baik tanpa adanya eror, dan responden menilai dengan adanya saklar otomatis dapat meningkatkan quality control karena indikator peringatan memberi informasi secara tepat dan akurat sehigga efek akibat paparan radiasi dapat terminimalisir.
PENGARUH WAKTU TUNGGU PASIEN RAWAT JALAN FOTO THORAX DALAM PENINGKATAN MUTU PELAYANAN INSTALASI RADIOLOGI Yeni Cahyati; Sri Sugiarti; Dewi Mahfudhoh
Health Care Media Vol 3 No 6 (2019): JURNAL HEALTH CARE MEDIA
Publisher : ITKM WIDYA CIPTA HUSADA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70633/2721-6993.113

Abstract

Waktu tunggu dalam pelayanan foto thorax adalah waktu yang dibutuhkan mulai pasien difoto sampai dengan menerima hasil bacaan radiograf. Foto thorax digunakan untuk mendiagnosis banyak kondisi yang melibatkan dinding thorax, tulang thorax dan struktur yang berada di dalam kavitas thorax. Mutu pelayanan di Instalasi Radiologi harus senantiasa di evaluasi demi meningkatnya kualitas dari pelayanan radiologi. Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam peningkatan mutu adalah waktu tunggu yang diperlukan oleh pasien rawat jalan, sehingga pada penelitian ini akan di cari pengaruh waktu tunggu foto thorax pasien rawat jalan dalam peningkatan mutu pelayanan di Instalasi Radiologi. Desain penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif. Terdapat 2 variabel dalam penelitian ini yaitu variabel dependen waktu tunggu dan variabel independen mutu pelayanan di Instalasi Radiologi. Dari hasil penelitian rata-rata waktu tunggu foto thorax rawat jalan yaitu 50,15 menit dan sudah sesuai dengan standar Kepmenkes No. 129 tahun 2008, sehingga mutu pelayanan di Instalasi Radiologi termasuk dalam kategori baik dan bermutu.