Ari Natalia Probandari
Universitas Sebelas Maret Surakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

JUS PEPAYA (CARICA PAPAYA L) DAPAT MENURUNKAN KADAR LDL DAN KOLESTEROL TOTAL PADA USIA 40-70 TAHUN Junendri Ardian; Ari Natalia Probandari; K Kusnandar
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 9 No. 2, Juli 2018
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.862 KB) | DOI: 10.34035/jk.v9i2.274

Abstract

Hiperkolesterolemia merupakan suatu kondisi dimana kolesterol dalam darah meningkat melebihi ambang normal yang ditandai dengan meningkatnya kadar kolesterol total terutama Low Density Lipoprotein (LDL) dan diikuti dengan penurunan kadar High Density Lipoprotein (HDL) darah, Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh pemberian asupan jus pepaya terhadap kadar LDL dan kolesterol total pada ibu rumah tangga usia 40-70 tahun yang menderita hiperkolesterolemia. Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian true eksperimental dengan desain penelitian pre and post test with control group. Total subjek sebanyak 20 orang yang dibagi kedalam dua kelompok, yaitu Intervensi Jus pepaya dan kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar kolesterol total pada kelompok jus pepaya mengalami penurunan yang bermakna (p<0,05). Sedangkan pada kelompok kontrol tidak bermakna (p>0,05). Kadar LDL pada kelompok jus pepaya mengalami penurunan yang bermakna (p<0,05). Sedangkan pada kelompok kontrol tidak bermakna (p>0,05). Kesimpulan jus pepaya (carica papaya l) dapat menurunkan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) dan kolesterol total. Hypercholesterolemia is a conditions where cholesterol in the bloods increased beyond the normal standard, its showed with cholesterol total level’s was increased especially Low Density Lipoprotein (LDL) and followed by the decreasing of High Density Lipoprotein (HDL) in blood, The purpose of this research is analyzing the influence’s of papaya juice intake for LDL’s levels and cholestrol’s total at the age of 40 – 70 years old for housewives with hypercholesterolemia. The method this research is true experimental researchs with pre and post test control group designs. The subject in this research are 20 people and separated into two groups, the first group is papaya juice’s intervention group, and the second is control group. The result of this research show that papaya juice’s has significant result for decreasing cholesterol’s total with p value’s < 0,05 , while the control group has no significant result because its p value’s >0,05. The result for LDL’s levels show that papaya juice’s has significant result too for decreasing LDL’s levels with p value’s < 0,05, while the control group has no significant result because its p value’s >0,05. The conclusion in this research is papaya juice (carica papaya l) can decreased ldl’s levels and cholesterol’s total.
HUBUNGAN TINGGI BADAN ORANG TUA DAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN PANJANG BADAN LAHIR BAYI DI KABUPATEN SLEMAN Maria Dolorosa P. Sogen; Budiyanti Wiboworini; Ari Natalia Probandari
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 9 No. 2, Juli 2018
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.816 KB) | DOI: 10.34035/jk.v9i2.276

Abstract

Panjang badan lahir menggambarkan laju pertumbuhan janin selama dalam kandungan. Faktor genetik yakni tinggi badan orang tua juga berperan dalam menentukan panjang badan bayi lahir. Jika tinggi badan orang tua pendek karena faktor genetik maka akan diwariskan kepada anak, akan tetapi jika tinggi badan orang tua pendek karena nutrisi, maka tidak diwariskan kepada anak. Berat badan lahir bayi merupakan faktor penting yang berhubungan dengan panjang badan lahir. Bayi dengan berat badan lahir rendah beririko memiliki panjang badan yang kurang. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan tinggi badan orang tua dan berat badan lahir bayi dengan panjang badan lahir bayi di Kabupaten Sleman. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cohort retrospektif. Subjek penelitian sebanyak 76 ibu hamil trisemester III. Data tinggi badan orang tua diukur menggunakan microtoice dengan ketelitian 0,1 cm data berat badan lahir bayi diukur menggunakan baby scale dengan ketelitian 0,1 gram, dan data panjang badan lahir diukur menggunakan length board dengan ketelitian 0.1 cm. Analisis data menggunakan korelasi spearman dan regresi linier ganda dengan nilai p<0,05. Hasil analisis rank spearman hubungan tinggi badan ayah dengan panjang badan lahir p= 0,019 dan hubungan tinggi badan ibu dengan panjang badan lahir p=0,219, berat badan lahir dengan panjang badan lahir p=0,005. Analisis regresi linier ganda menunjukan pengaruh tinggi badan ayah (B=0,054, p=0,132) berat badan lahir (B= 1,083, P=0,201), dengan panjang badan lahir. Kesimpulan secara bersama-sama ada hubungan antara tinggi badan orang tua dan berat badan lahir bayi dengan panjang badan lahir bayi. The length of the birth body is the growth rate of the fetus in the womb. Maternal weight gain during pregnancy is one of the factors that grows fetus in the womb. The genetic factor height of the parents also play a role in determining the length of the baby's body was born. If the height of the parent body is short due to genetic factors it will be inherited to the child, will if the height of the parent body short because of nutrition, it is not inherited to the child. The purpose of this study was to analyze the relationship of height parent and baby,s birth weight with baby's long-term birth in Sleman District. The method is was analytic observational with retrospective cohort design. Subjek of this study was 76 pregnant women, trismester III. The height of the parents is measured using microtoice with a precision of 0.1 cm, infant birth weight measured using baby scale with a precision 0,1 gram. Body length data was measured using length board with a precision 0.1 cm. Data analysis used spearman correlation and multiple linear regression with p<0,05. Results: . Result of rank spearman analysis correlation of father’s height with length of the baby’s birth p= 0,019, correlation of mother’s height with length of the baby’s birth p= 0,219, correlation of baby’s birth weight with length of the baby’s birth p=0,005. Result of multiple regression linier analysis showed that the effect of the effect of father’s height (B=0,054, p=0,132), birth weight (B= 1,083, P=0,201) with length of the baby’s birth. Conclusion:: father's height and baby’s birth weght had correlation with length of the baby's birth.
KEBIASAAN MAKAN, AKTIVITAS FISIK DAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) MAHASISWA S-1 UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Aisyah Nurkhopipah; Ari Natalia Probandari; Sapja Anantanyu
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 9 No. 1, Januari 2018
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.783 KB) | DOI: 10.34035/jk.v9i1.342

Abstract

Bagian penting dari mahasiswa adalah mereka mengalami masa transisi kuat dengan perubahan lingkungan yang ditandai dengan pola makan yang tidak sehat dan kurang aktivitas fisik yang menempatkan mahasiswa pada risiko yang lebih besar dari kenaikan berat badan. Kelebihan berat badan dan obesitas terjadi pada mahasiswa, menurut Centers for Disease Control (CDC), prevalensi obesitas pada mahasiswa laki-laki adalah 29,5% dan pada mahasiswa perempuan sebesar 32,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kebiasaan makan dan aktivitas fisik dengan Indeks Massa Tubuh mahasiswa S-1 UNS. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Subjek penelitian ini adalah seluruh mahasiswa program studi S-1 UNS pada tahun 2016 yaitu sejumlah 24.826 orang. Data dianalisis dengan chi square dan regresi logistic multinomial. Hasil uji korelasi chi square, menunjukkan bahwa kebiasaan makan tidak berhubungan secara signifikan dengan IMT Normal-Kurus ataupun IMT Normal-Gemuk (p = 0,193 & p = 0,446), sedangkan aktivitas fisik mempunyai hubungan yang signifikan dengan IMT Normal-Gemuk (p = 0,029),tetapi tidak berhubungan dengan IMT normal-kurus (p=0,655). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan makan dengan IMT normalkurus ataupun IMT normal-gemuk. Tidak ada hubungan antara aktifitas fisik dengan IMT normal-kurus namun terdapat hubungan yang signifikan antara variable aktivitas fisik dengan IMT normal-gemuk. The important part of the students is that they experience a strong transition period with environmental changes characterized by an unhealthy diet and lack of physical activity that puts students at greater risk of weight gain. Overweight and obesity occurs in college students, according to the Centers for Disease Control (CDC), the prevalence of obesity in male students is 29.5% and in female students 32.6%. The purpose of this study was to analyze the relationship between eating habits and physical activity with the body mass index of S-1 UNS students. Type of observational analytic research with Cross Sectional approach. The subjects of this study are all S-1 students of UNS program in 2016 that is 24,826 people. Data were analyzed by chi square and multinomial logistic regression. The result of chi square correlation test showed that Eating Habits did not correlate significantly with Normal BMI - Thin or Normal BMI - Overweight (p = 0,193 & p = 0,446), whereas Physical Activity had significant relation with Normal BMI – Overweight (p = 0,029 ), But not related to normal BMI-thin (p = 0.655). Conclusion of the research is there was no significant association between eating habits with normal BMI-thin or normal-fat BMI. There was no relationship between physical activity and normal BMI-but there was a significant relationship between physical activity variables and normal-fat BMI.