Jono Wardoyo
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Rekayasa Bukaan Penghawaan Alami Pada Masjid Istiqomah Deli Serdang Rayhan Kumala Aditria Nasution; Jono Wardoyo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia sekarang ini harus berhadapan dengan salah satu isu terbesar yang harus dihadapi, yaitu pemanasan global. Indonesia merupakan negara yang mayoritas masyarakatnya menganut agama Islam, dan bangunan masjid tempat masyarakat beragama islam beribadah dapat dijumpai dimana-mana di Indonesia. Salah satu contoh masjid yang digunakan masyarakat sekitar adalah Masjid Istiqomah di Kabupaten Deli Serdang. Masjid Istiqomah pada saat ini menggunakan penghawaan buatan yaitu air conditioner, namun jika ingin menggunakan penghawaan alami, terdapat beberapa permasalahan di bangunan ini yang perlu evaluasi dan mencari rekomendasi desain. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deksriptif kuantitatif eksperimental. Rekomendasi desain yang telah didapat dengan tujuan mencapai kenyamanan termal di masjid Istiqomah dengan penghawaan alami belum terpenuhi sepenuhnya jika mengacu pada SNI 03-6572-2001 dan juga diagram psikomatrik Nugroho. Kata kunci: rekayasa, penghawaan alami, masjid, deli serdang
Pengaruh Bukaan Jendela Terhadap Kenyamanan Termal Di Gereja Mater Dei Dominicus Anindita Bagaskara Utomo; Jono Wardoyo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gereja Mater Dei merupakan sejarah salah satu bangunan di Kota Madiun yang berada di kawasan padat dan memiliki suhu yang tinggi menyebabkan para pelaku aktivitas di rumah ibadah merasa tidak nyaman, sehingga perlu dilakukan penelitian t tentang konsep bangunan yang baik dan bagaimana merancang rumah ibadah yang terletak di daerah tersebut. padat dan suhu tinggi. Pendinginan alami di Gereja perlu diterapkan secara efektif melalui kinerja jendela yang telah disesuaikan dengan kondisi iklim Kota Madiun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data primer diperoleh dari pengamatan lapangan pengukuran suhu, kecepatan angin dan pengukuran fisik bangunan yang diperoleh melalui survei langsung. Hasil identifikasi pendinginan pasif sebagai acuan untuk melakukan perubahan atau modifikasi desain pada gedung Gereja Mater Dei Madiun. Gedung Gereja Mater Dei Madiun berpotensi untuk mengubah desainnya terutama pada bukaan jendela untuk mengoptimalkan pendinginan pasif yang optimal seperti mengganti jendela dan menambah ventilasi untuk mengoptimalkan sirkulasi udara ke dalam gedung serta menambahkan vegetasi dan sun shading untuk memperbesar sinar matahari. bayangan dalam mengurangi radiasi matahari langsung.
Rekayasa Bukaan Untuk Memaksimalkan Penurunan Suhu Ruang Pada Museum Pendidikan Kota Surabaya Rahma Tiara Maharani; Jono Wardoyo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Suhu nyaman menjadi aspek utama yang harus diperhatikan dalam perencanaan bangunan karena berdampak langsung pada aktivitas di dalamnya. Untuk mencapai kenyamanan termal yang optimal, standar SNI 03-6572-2001 mengidentifikasi faktor-faktor seperti suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan sebagainya. Museum sebagai salah satu sarana publik yang populer di Indonesia juga menghadapi tantangan dalam menciptakan kenyamanan bagi pengunjung. Kota Surabaya, sebagai contoh, memiliki suhu harian yang relatif tinggi, sehingga peran ventilasi dan desain bukaan menjadi krusial dalam menghadapi kondisi tersebut. Museum Pendidikan di Surabaya merupakan salah satu contoh bangunan yang menghadapi masalah kenyamanan termal akibat desain bukaan yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting bukaan (ventilasi) pada zona-zona pameran di Museum Pendidikan Surabaya dan kinerjanya dalam mencapai kenyamanan termal, serta menyusun rekomendasi desain bukaan yang optimal dengan pendekatan rekayasa bukaan untuk mengurangi suhu pada zona-zona pameran melalui pengoptimalan strategi pendinginan alami. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif evaluatif dengan metode eksperimental. Hasil dari evaluasi objek kemudian dijadikan bahan analisis untuk menentukan rekomendasi yang tepat menggunakan software Sketchup dan Ecotect Analysis 2011 dengan merekayasa tipe bukaan. Berdasarkan hasil simulasi, bangunan museum dapat memanfaatkan sistem pendinginan alami secara optimal dengan memaksimalkan peran bukaan untuk membelokkan udara dengan bukaan tipe vertical jalousi window dikombinasikan dengan menambahkan lubang ventilasi di dinding terluar bangunan. Simulasi pada alternatif terpilih menunjukkan penurunan suhu ruang hingga 10,6%, sehingga rekomendasi desain tersebut dapat meningkatkan kenyamanan termal pengunjung dan mengoptimalkan strategi pendinginan alami pada Museum Pendidikan. Kata kunci: bukaan, museum, kenyamanan termal ABSTRACT Comfortable temperature is the main aspect that must be considered in building planning because it has a direct impact on the activities in it. To achieve optimal thermal comfort, the SNI 03-6572-2001 standard identifies factors such as air temperature, humidity, wind speed, and so on. Museums as one of the popular public facilities in Indonesia also face challenges in creating comfort for visitors. The city of Surabaya, for example, has a relatively high daily temperature, so the role of ventilation and opening design is crucial in dealing with these conditions. The Education Museum in Surabaya is one example of a building that faces thermal comfort problems due to suboptimal opening design. This study aims to evaluate the existing condition of openings (ventilation) in exhibition zones at Surabaya Education Museum and their performance in achieving thermal comfort, as well as formulate recommendations for optimal opening design with an aperture engineering approach to reduce temperature in exhibition zones through optimization of natural cooling strategies. The research method used in this study is an evaluative descriptive approach with experimental methods. The results of the object evaluation are then used as analysis material to determine the right recommendations using Sketchup and Ecotect Analysis 2011 software by engineering the type of opening. Based on the simulation results, the museum building can make optimal use of the natural cooling system by maximizing the role of openings to deflect air with vertical jalousi window type openings combined with adding ventilation holes in the outermost wall of the building. Simulations on selected alternatives showed a decrease in room temperature of up to 10.6%, so the design recommendations can improve visitors' thermal comfort and optimize the natural cooling strategy of the Museum. Keywords: opening, museum, thermal comfort
Adaptation of Scandinavian Architecture at Cafe in Batu City: Adaptasi Arsitektur Skandinavian pada Cafe di Kota Batu Amalia Devy Agustin; Jono Wardoyo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Arsitektur skandinavian merupakan gaya arsitektur yang berasal dari Kawasan Norwegia, Swedia, Finlandia, Islandia, dan Denmark. Arsitektur Skandinavia memiliki karakteristik yang minimalis, fungsional, dan berfokus pada penggunaan material alami seperti kayu dan batu. Gaya arsitektur Skandinavia ini dirancang untuk menghadapi iklim yang berbeda, yaitu iklim yang cenderung dingin, dengan suhu yang rendah dan jumlah sinar matahari yang terbatas. Kontras antara gaya arsitektur Skandinavia yang didasarkan pada iklim yang dingin dan iklim tropis di Indonesia yang panas dan lembap menimbulkan dampak terhadap kenyamanan termal bagi penghuninya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk adaptasi arsitektur skandinavian di iklim tropis serta mengetahui kinerja termal arsitektur Skandinavian di iklim tropis melalui metode analisis komparatif antara teori dengan kondisi objek studi, analisis evaluatif dari hasil pengukuran lapangan dengan SNI dan analisis korelasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa café dengan gaya arsitektur Skandinavian yang diterapkan di iklim tropis dapat beradaptasi dengan cukup baik. Elemen desain arsitektur skandinavian yang sesuai dengan iklim tropis meliputi: orientasi bangunan, denah, dinding, lantai, shading device, dan pengaruh luar. Sedangkan elemen yang kurang sesuai meliputi: atap karena menggunakan atap datar dengan material yang memiliki konduktivitas tinggi dan bukaan (pintu dan jendela) serta ventilasi yang belum memenuhi secara teori, SNI maupun hasil pengukuran. Kata kunci: Arsitektur Skandinavian, Arsitektur Tropis, Kinerja Termal ABSTRACT Scandinavian architecture is an architectural style originating from Norway, Sweden, Finland, Iceland, and Denmark. Scandinavian architecture has characteristics that are minimalist, functional, and focus on the use of natural materials such as wood and stone. This Scandinavian architectural style is designed to deal with different climates, namely climates that tend to be cold, with low temperatures and limited amounts of sunlight. The contrast between the Scandinavian architectural style based on the cold climate and the tropical climate in Indonesia which is hot and humid has an impact on thermal comfort for its inhabitants. This study aims to determine the form of adaptation of Scandinavian architecture in tropical climates and determine the thermal performance of Scandinavian architecture in tropical climates through comparative analysis methods between theory and the conditions of the object of study, evaluative analysis of field measurement results with SNI and correlation analysis. The results of this study show that cafes with Scandinavian architectural style applied in tropical climates can adapt quite well. Elements of Scandinavian architectural design that are suitable for tropical climates include: building orientation, floor plans, walls, floors, shading devices, and outside influences. While elements that are not suitable include: the roof because it uses a flat roof with materials that have high conductivity and openings (doors and windows) and ventilation that have not met in theory, SNI and measurement results. Keywords: Scandinavian Architecture, Tropic Architecture, Thermal Performance
Kinerja Breathing Wall sebagai Upaya Penurunan Suhu pada Bangunan (Studi Kasus: Masjid Al-Ikhlas dan Masjid Al-Fattah Sidoarjo) Damayanti, Imanda Amalia; Wardoyo, Jono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humans spend 80–90% of their time indoors, and comfort and health are strongly influenced by building characteristics. In this case, comfort is related to air temperature and the factors that influence it, one of which is building wall design. Based on BMKG, Sidoarjo Regency is generally famous for its hot air conditions, with an average maximum air temperature in 2018–2023 reaching 33.8 °C. Al-Ikhlas and Al-Fattah mosques in Sidoarjo use breathing walls to reduce ambient temperature without the use of air conditioners. The difference in breathing wall characteristics between the two mosques can provide an overview of thermal performance. This study aims to determine the performance of comfortable temperature indicators on the on the breathing wall in reducing ambient temperature. The method used is a quantitative approach with air temperature measurements and visual observations in the form of breathing wall material type, breathing wall thickness, breathing wall color, and openings at Al-Ikhlas and Al-Fattah Mosques. The results showed that the Al-Ikhlas Mosque has a better comfortable temperature balance between the inside and outside spaces compared to the Al-Fattah Mosque. The highest temperature drop in the performance of the 2nd floor breathing wall occurred at the Al-Ikhlas Mosque (3.9 °C–4.3 °C) compared to Al-Fattah (3.5 °C). The high temperature drop in Al-Ikhlas is due to using a breathing wall with high thermal capacity, thick walls, bright breathing wall colors, and optimal openings. Keywords: breathing wall, mosque, temperature reduction
Perancangan Oceanarium Sea Life Aquarium dengan Pendekatan Arsitektur Biomimicry di Malang Selatan Nugroho Putri, Ayulisa Halimah; Wardoyo, Jono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas perancangan Oceanarium Sea Life Aquarium di Malang Selatan dengan pendekatan arsitektur biomimicry. Tujuannya adalah untuk menciptakan kawasan konservasi dan edukasi kelautan yang berkelanjutan. Desain ini mengintegrasikan model, standar, dan mentor dari alam untuk menghadapi tantangan lingkungan. Proyek ini mendukung inisiatif Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam pengembangan kawasan konservasi perairan lepas pantai (MPA) sekaligus mempromosikan pelestarian lingkungan, pendidikan, dan kesadaran. Kata Kunci: arsitektur biomimicry, oceanarium, konservasi laut, edukasi, Malang Selatan
Co-housing Sebagai Hunian Vertikal Bagi Kelompok Usia Produktif dengan Konsep Eco-settlement di Kota Depok Ramadhan, Willies; Wardoyo, Jono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan kelompok usia produktif di Kota Depok membuat kebutuhan akan hunian semakin meningkat. Kelompok usia produktif sebagai sasaran memiliki kebiasaan kolaboratif yang memiliki kebutuhan fasilitas hunian yang dapat menunjang pekerjaan, kehidupan sosial, dan hobi. Sehingga Co-housing sebagai hunian kolaboratif dapat menjadi solusi atas kebutuhan hunian di Kota Depok. Kebutuhan hunian yang tinggi membuat dampak atas minimnya lahan untuk hunian. Hal tersebut membuat strategi pembangunan hunian bersifat vertikal. Namun, pembangunan yang tidak dibarengi dengan permasalahan lingkungan dapat memberikan dampak negatif bagi penghuni. Sehingga ruang terbuka untuk memenuhi kebutuhan ekologi, sosial, dan ekonomi manusia akan semakin berkurang. Maka dari itu, diperlukan Co-housing yang mensinergikan kondisi ekologi, sosial, dan ekonomi dalam sebuah hunian. Konsep Eco-settlement yang menyelaraskan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi ditawarkan dalam menanggapi hal tersebut. Dan dengan metode pragmatis akan membantu dalam mengidentifikasi masalah dan menyelesaikannya dalam perancangan Co-housing. Kata kunci: Co-housing, Hunian, Eco-settlement, Depok
Perancangan Mountain Resort Di Kabupaten Kuningan Dengan Pemanfaatan Material Alam Lokal Menggunakan Pendekatan Arsitektur Ekologis: Fadilla, Cahya Afrilia; Wardoyo, Jono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Mahasiswa Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk kota di Indonesia, peningkatan kebutuhan rohani yang terbentuk dari gaya hidup penduduk kota yang dinamis beiringan terbentuk, yang mana hal ini berdampak pada kenaikan tingkat kebutuhan pariwisata di Indonesia Hal tersebut membuat sektor pariwisata di Indonesia menjadi peluang bisnis menjanjikan untuk dikembangkan lebih baik. Salah satu daerah di Indonesia yang mempunyai lokasi strategis yang mendukung dan menjanjikan untuk dijadikan sektor pariwisata yaitu di daerah Kabupaten Kuningan dengan pertimbangan banyaknya potensi alam dan kurangnya fasilitas penginapan. Perancangan mountain resort dengan pendekatan ekologis menggunakan penerapan 5 acuan prinsip desain ekologis berdasarkan buku Dasar - Dasar Eko Arsitektur (Frick, 1998) dan Arsitektur Ekologis (Frick, 2006) dengan menggunakan motode studi preseden menjadi salah satu solusi atas kurangnya destinasi penginapan berkualitas sekaligus wisata rekreatif yang memperhatikan konteks lingkungan dan potensi kawasan di Kabupaten Kuningan serta solusi dari kurangnya penggunaan material alam bambu lokal yang ramah lingkungan dan kurangnya perkembangan pariwisata di Kabupaten Kuningan. Kata kunci: penginapan, wisata, ekologi ABSTRACT Along with the increase in the number of urban residents in Indonesia, an increase in spiritual needs formed from the dynamic lifestyle of city dwellers is formed, which has an impact on increasing the level of tourism needs in Indonesia. This makes the tourism sector in Indonesia a promising business opportunity to be developed better. One of the areas in Indonesia that has a strategic location that supports and promises to be used as a tourism sector is in the Kuningan Regency area with consideration of the large amount of natural potential and lack of lodging facilities. Keywords: resort, tourism, ecology
Analyzing surface temperature on street median parks in Malang’s hot-humid climate Iyati, Wasiska; Hilmy, Ayu Nur Izzati; Fitriani, Rika Nur; Fidelista, Alya Nafisa; Wardoyo, Jono
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 9 No 3 (2024): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | September 2024 ~ Desember 2024
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v9i3.3298

Abstract

In hot humid cities, the local microclimate can be moderated by the green open spaces. Differences in the characteristics of its hardscape and softscape elements can result in different thermal environmental conditions. As one of the green open spaces, the street median park can provide vegetation to reduce the air temperature of the region's microclimate. This paper analyzes the thermal characteristics of three street median parks in Malang, which are represent the green street medians in hot humid country of Indonesia. A thermal imaging camera was used to compare the hardscape and softscape surface temperature difference of the three parks. The thermal image results show that stone and paving materials have the highest surface temperatures. Stone as the higher surface temperature is shown in three green streets median. Coral stone has the highest surface temperature at 43.6 °C in Ijen and 42.03 °C in Veteran. Paving also has the highest surface temperature at 43.17 °C in Kunang-kunang. Grass or earth with trees has the lowest surface temperature at 28.53°C in Ijen, 27.93 °C in Kunang-kunang, and 29.17°C in Veteran Street median park. The difference in daytime surface temperature between hardscape and softscape reaches 12.86 °C in Veteran, 15.07 °C in Ijen, 15.24 °C in Kunang-kunang.
Konservasi dan Efisiensi Energi Pada Gedung Wisma PT SIER Berdasarkan Indikator Greenship GBVI Versi 1.1 Dewi, Listania Nurrohmah; Wardoyo, Jono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gedung perkantoran merupakan salah satu penyumbang konsumsi energi terbesar di sektor bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi konservasi dan efisiensi energi pada Gedung Wisma PT SIER Surabaya berdasarkan indikator Energy Efficiency and Conservation (EEC) dalam sistem Greenship Existing Building versi 1.1 dari Green Building Council Indonesia (GBCI). Metode yang digunakan adalah deskriptif evaluatif dengan pendekatan campuran, melalui analisis data teknis, observasi lapangan, dan wawancara mendalam. Variabel penelitian mencakup EEC P2, EEC 1, EEC 3, dan EEC 6, serta dua parameter teknis tambahan yaitu Window-to-Wall Ratio (WWR) dan Overall Thermal Transfer Value (OTTV). Hasil menunjukkan bahwa nilai Intensitas Konsumsi Energi (IKE) gedung adalah 152,87 kWh/m²/tahun, yang memenuhi batas efisiensi energi minimum. Kontribusi PLTS 100 kW dan strategi efisiensi sederhana mendukung penurunan konsumsi energi, namun beberapa aspek teknis seperti pencahayaan buatan, kontrol HVAC, nilai OTTV, dan WWR masih perlu ditingkatkan. Penelitian ini merekomendasikan dengan pendekatan arsitektural, mekanikal elektrikal dan integrasi teknologi untuk mendekati standar bangunan hijau berkelanjutan.