Articles
Pengaruh Work Study Conflict terhadap Academic Burnout pada Mahasiswa yang Bekerja di Kota Jambi
Analysia Kinanti Kastaman;
Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (142.5 KB)
|
DOI: 10.29313/bcsps.v2i1.809
Abstract. Conflicts and role burdens experienced by working students coupled with unfavorable conditions can trigger burnout. One of the impacts that occur if students experience burnout is a decrease in student academic achievement. Based on the results of prasurvey conducted on students who work in Jambi City obtained the results that 60% stated that they felt exhausted in going to college while working, 30% admitted to ignoring and staying away from lectures and preferring to finish their work, and 10% admitted that the task given felt heavy so unable to complete it. This study aims to find out how the effect of work study conflict on academic burnout in students working in Jambi City. There were 80 students working in Jambi City participating in the study. To obtain a representative sample, purposive sampling techniques are used. The study used two Work Study Conflict measuring tools from Markel and Frone and the Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) developed by Schaufeli et al. The results found 45% of respondents experienced work study conflict and 66.26% experienced academic burnout at moderate levels. The results of a simple regression test showed that work study conflict had an influence on academic burnout with an influence of 48.2% with a positive direction of influence. Abstrak. Konflik dan beban peran yang dialami oleh mahasiswa yang bekerja ditambah dengan kondisi yang tidak kondusif dapat memicu terjadinya burnout. Salah satu dampak yang terjadi jika mahasiswa mengalami burnout adalah menurunnya prestasi akademik mahasiswa. Berdasarkan hasil prasurvey yang dilakukan pada mahasiswa yang bekerja di Kota Jambi didapatkan hasil bahwa 60% menyatakan bahwa merasa kelelahan dalam menjalani kuliah sambil bekerja, 30% mengaku pernah mengabaikan dan menjauh dari perkuliahan yang dijalani dan lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya, dan 10% mengaku bahwa tugas yang diberikan terasa berat sehingga tidak mampu untuk menyelesaikannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh work study conflict terhadap academic burnout pada mahasiswa yang bekerja di Kota Jambi. Terdapat 80 mahasiswa yang bekerja di Kota Jambi berpartisipasi dalam penelitian ini. Untuk mendapatkan sampel yang representatif digunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan dua alat ukur Work Study Conflict dari Markel dan Frone dan Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS) yang dikembangkan oleh Schaufeli dkk. Hasil penelitian ditemukan 45% responden mengalami work study conflict dan 66,26% mengalami academic burnout pada tingkat sedang. Hasil uji regresi sederhana menunjukkan bahwa work study conflict memiliki pengaruh terhadap academic burnout dengan pengaruh sebesar 48,2% dengan arah pengaruh yang positif.
Pengaruh Persepsi Mengenai Family Environment dan Self-Esteem terhadap Kekerasan dalam Pacaran
Falda Muthia Khairunisa;
Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (243.359 KB)
|
DOI: 10.29313/bcsps.v2i1.986
Abstract. Dating violence is defined as an intentional act of injuring by coercion physically, verbally and emotionally, even sexually by a partner. At 2020, cases of dating violence in Indonesia reached 1,573 cases of dating violence reported at Komnas Perempuan. This study aims to explain how the influence of family environment perception and self-esteem on dating violence among students who are victims of dating violence in the city of Bandung. This research is a causality study with a quantitative approach involving 12 men and 38 women as respondents. This study uses three measuring instruments, namely the Family Environment Scale (FES), Self-Inventory for Adults, and The Revised Conflict Tactics Scales 2. The analysis used is multiple linear regression. The results obtained are that there is no influence of perceptions about family environment and self-esteem on dating violence among students who are victims of dating violence in Bandung. While the types of violence that are most widely accepted are verbal and emotional in the form of overprotective and possessive attitudes. Abtrak. Kekerasan dalam pacaran didefinisikan sebagai tindakan yang disengaja dengan bentuk melukai dan paksaan secara fisik, verbal dan emosional, bahkan seksual yang dilakukan oleh pasangan. Tahun 2020, kasus kekerasan dalam pacaran di Indonesia mencapai angka 1.573 kasus kekerasan dalam pacaran yang terlapor di Komnas Perempuan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menjelaskan bagaiamana pengaruh persepsi family environment dan self-esteem terhadap kekerasan dalam pacaran pada mahasiswa korban kekerasan dalam pacaran di kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian kausalitas dengan pendekatan kuantitatif yang melibatkan 12 orang laki-laki dan 38 orang perempuan sebagai responden. Penelitian ini menggunakan tiga alat ukur yaitu Family Environment Scale (FES), Self-Inventory for Adults, dan The Revised Conflict Tactics Scales 2. Analisis yang diguanakan adalah regresi linier ganda. Hasil yang didapatkan adalah tidak terdapat pengaruh persepsi mengenai family environment dan self-esteem terhadap kekerasan dalam pacaran pada mahasiswa korban kekerasan dalam pacaran di kota Bandung. Sedangkan jenis kekerasan yang paling banyak diterima adalah verbal dan emosional dengan bentuk sikap overprotective dan posesif.
Pengaruh Ketiga Prediktor dalam Theory of Planned Behavior terhadap Intensi Berhenti Merokok pada Perokok Dewasa
Zildi Mochamad Syaputra;
Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (164.848 KB)
|
DOI: 10.29313/bcsps.v2i1.1092
Abstract. Smoking behavior is one of the causes of health problems in the world. There are many interventions by the government to reduce the number of smokers. However, there are still many smokers who find it difficult to quit smoking. Theory of planned behavior, is one of the theoretical model that can predicted the emergence of a behavior, is thought to be applied in health behavior. The purpose of this study was to examine how much influence the three predictors of intention had on the intention to quit smoking in adult smokers in the city of Bandung. This study uses a causal-comparative method with the participation of 270 smokers aged between 18-67 years who live in the city of Bandung using purposive sampling technique. The measurement in this study used intention to quit smoking which was compiled based on the Theory of Planned Behavior. The three predictors of intention were tested using multiple linear regression analysis. The results showed that the three predictors of intention simultaneously had a positive and significant effect of 69.1% on the intention to quit smoking. Therefore, the use of the theory of planned behavior model can be applied to the success of smoking cessation behavior. Abstrak. Perilaku merokok merupakan salah satu penyebab masalah kesehatan di dunia. Sudah sangat banyak intervensi yang dilakukan pemerintah untuk menekan jumlah perokok. Namun, masih banyak perokok yang merasa kesulitan untuk berhenti merokok. Salah satu model teori yang dapat mengkaji munculnya sebuah perilaku yaitu theory of planned behavior dinilai dapat digunakan dalam perilaku kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji seberapa besar pengaruh dari ketiga prediktor intensi terhadap intensi berhenti merokok pada perokok dewasa di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode causal-comparative dengan partisipasi 270 perokok yang berusia antara 18-67 tahun yang berdomisili di Kota Bandung menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan alat ukur Intensi Berhenti Merokok yang disusun berdasarkan Theory of Planned Behavior. Ketiga prediktor intensi diuji menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan ketiga prediktor intensi secara simultan berpengaruh positif dan signifikan sebesar 69.1% terhadap intensi berhenti merokok. Dengan begitu, penggunaan model theory of planned behavior dapat digunakan untuk keberhasilan perilaku berhenti merokok.
Pengaruh Illness Perception terhadap Suicidal Behavior pada Orang dengan Gangguan Bipolar (ODB) di Komunitas Rumah Kita
Nadya Rahma Andjani Putri;
Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 3 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (337.061 KB)
|
DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3005
Abstract. Bipolar disorder is a chronic mood disorder characterized by the alternation of manic or hypomanic episodes with depression. Bipolar disorder is one of the mental disorders with the highest risk of suicide, around 4-19% of people with bipolar disorder (ODB) eventually end their life by suicide, while 20-60% had committed suicidal behavior at least once in their life. The high number of suicidal behavior is the result of un-adaptive coping pattern. One of the factors related to coping patterns is the ODB's perception of the disorder. The purpose of this study is to obtain empirical data on how the influence of illness perception on suicidal behavior on ODB in Komunitas Rumah Kita. The measuring instrument used are The Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) and The Suicidal Behaviors Questionnaire-Revised (SBQ-R) that have been adapted. The method used in this research is simple linear regression. The research subjects are 69 ODB who are the active members in Komunitas Rumah Kita. The results showed that illness perception had a significant negative effect on suicidal behavior. Abstrak. Bipolar disorder merupakan gangguan mood kronis yang ditandai dengan episode manik atau hipomanik yang berselang-seling atau bercampur dengan episode depresi. Bipolar disorder menjadi salah satu gangguan mental dengan resiko bunuh diri tertingi dibandingkan gangguan mental lainnya, sekitar 4-19% dari Orang Dengan Gangguan Bipolar (ODB) akhirnya mengakhiri hidup dengan bunuh diri, sementara 20-60% pernah melakukan suicidal behavior setidaknya sekali dalam hidupnya. Tingginya angka suicidal behavior ini merupakan akibat dari pola koping ODB yang tidak adaptif. Salah satu faktor yang berkaitan dengan pola koping adalah persepsi ODB terhadap gangguannya. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh data empiris mengenai bagaimana pengaruh illness perception terhadap suicidal behavior pada ODB di Komunitas Rumah Kita. Pengumpulan data dilakukan menggunakan adaptasi dari alat ukur The Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) dan The Suicidal Behaviors Questionnaire-Revised (SBQ-R). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear sederhana. Subjek penelitian adalah ODB yang menjadi anggota aktif di Komunitas Rumah Kita yang berjumlah 69 orang. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh hasil illness perception berpengaruh terhadap suicidal behavior dengan arah pengaruh negatif.
Hubungan antara Self Disclosure dan Loneliness pada Mahasiswa Pengguna Instagram di Kota Palembang
Pradana Ayif Ramadhan;
Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (305.249 KB)
|
DOI: 10.29313/bcsps.v2i3.3129
Abstract. Self disclosure and loneliness arise in emotional and cognitive reactions, where individuals feel dissatisfied with social life because of unfulfilled expectations and lack of social relationships available to them. Based on the results of previous studies, it was found that self-disclosure and loneliness do not show a positive relationship between students who use Instagram. This study aims to obtain empirical data and determine the strength of the relationship between self-disclosure and loneliness on Instagram users in Palembang City. This research uses a quantitative approach with a correlational research design. In this study, a sample of 97 students using Instagram in Palembang City used purposive sampling technique. The measuring instrument used in this research is the self-disclosure scale which refers to the dimensions of the revised self-disclosure scale (RSDS) by Wheeless and the loneliness scale used by the UCLA loneliness scale version 3 which was adapted into Indonesian by Alifiananda. Pearson's product moment correlation results show that Signifikansi. Of = .004 < a = .005. This shows that there is a relationship between self-disclosure and loneliness for Instagram users in Palembang City. Thus, the hypothesis of this research can be accepted. Abstrak. Self disclosure dan loneliness muncul dalam reaksi emosional dan kognitif di mana individu merasa tidak puas dengan kehidupan sosial karena harapan yang tidak terpenuhi dan kurangnya hubungan sosial yang tersedia bagi mereka. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa self disclosure dan loneliness tidak menunjukkan hubungan yang positif antara mahasiswa yang menggunakan instagram. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data empiris dan mengetahui kekuatan hubungan antara self disclosure dengan loneliness pada pengguna instagram di Kota Palembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Dalam penelitian ini sampel sebanyak 97 mahasiswa pengguna instagram di Kota Palembang menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala self disclosure yang mengacu pada dimensi revised self disclosure scale (RSDS) oleh Wheeless dan skala loneliness yang digunakan oleh UCLA loneliness scale version 3 yang diadaptasi kedalam bahasa Indonesia oleh Alifiananda. Hasil korelasi product moment pearson menunjukkan bahwa Signifikansi. sebesar = .004 < α = .005. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara self disclosure dan loneliness pada pengguna instagram di Kota Palembang. Dengan demikian bahwa hipotesis penelitian ini dapat diterima.
Pengaruh Illness Perception dan Stigma terhadap Perilaku Help-Seeking Caregiver pada Penderita Psychosis
Iqlima Faradila;
Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5123
Abstract. The stigma that develops in people with psychosis causes caregivers to be reluctant to seek professional help. On the other hand, each individual has a representation in interpreting a disease and what is being done to overcome it. This study aims to determine the effect of the perception of illness and stigma on the behavior of seeking help in people with psychosis. This research is a quantitative research with causality method. This research uses purposive sampling. The subjects of this study were family caregivers for people with psychosis with the characteristics of people with psychosis having been diagnosed by professionals and domiciled in Bandung Raya, which collected 25 people. The data analysis method used multiple linear regression. Data was collected using the The Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) from Broadbent adapted by Rias, The Internalized Stigma of Mental Illness Inventory (ISMI-9) from Hammer & Toland adapted by Nurcahyati, and Attitudes Toward Seeking Professional Psychological Help Short Form (ATSPPH-SF) from Picco adapted by Nurdiyanto. The results of the study were 88% of caregivers had a positive perception of illness, 76% of caregivers were found to have negative stigma, and 64% of caregivers had high help-seeking behavior. The results of the T test show that only the perception of the disease affects the behavior of seeking help. The results of the F test showed that the perception of disease and stigma simultaneously contributed 37.6% to the behavior of seeking help for caregivers in people with psychosis. Abstrak. Stigma yang berkembang pada penderita psychosis mengakibatkan caregivernya enggan mencari pertolongan professional. Disisi lain, setiap individu memiliki gambaran dalam memaknai suatu penyakit dan apa yang dilakukan untuk mengatasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara illness perception dan stigma terhadap perilaku help-seeking pada penderita psychosis. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode kausalitas. Penelitian ini menggunakan purposive sampling. Subjek dari penelitian ini adalah family caregiver pada penderita psychosis dengan karakteristik penderita psychosis sudah didiagnosa oleh professional dan berdomisili di Bandung Raya yang berjumlah 25 orang. Metode analisis data menggunakan regresi linear berganda. Pengumpulan data dilakukan menggunakan alat ukur The Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) dari Broadbent yang diadaptasi oleh Rias, The Internalized Stigma of Mental Illness Inventory (ISMI-9) dari Hammer & Toland yang diadaptasi oleh Nurcahyati, dan Attitudes Toward Seeking Professional Psychological Help Short Form (ATSPPH-SF) dari Picco yang diadaptasi oleh Nurdiyanto. Hasil penelitian ditemukan 88% caregiver memiliki illness perception yang positif, 76% caregiver memiliki stigma yang negatif, dan 64% caregiver memiliki perilaku help-seeking yang tinggi. Hasil uji T menunjukkan hanya illness perception yang berpengaruh terhadap perilaku help-seeking. Hasil uji F menunjukkan illness perception dan stigma secara simultan memberikan kontribusi sebesar 37.6% terhadap perilaku help-seeking caregiver pada penderita psychosis.
Gambaran Ide Bunuh Diri pada Mahasiswa di Kota Bandung
Aleyda Atqiya;
Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5184
Abstract. College students are one of the populations that have a risk of suicide. As a first step towards suicide attempts and actual suicide, suicidal ideation is considered a significant predictor of suicide attempts and suicide. College students experience higher levels of suicidal ideation than those experienced by young adults of the same age in the community. Burdens and problems that arise during college can affect mental health associated with an increased risk of suicide. This study aims to obtain empirical data regarding the description of suicidal ideation among students in the city of Bandung. Data was collected using the Scale for Suicide Ideation (SSI) measuring instrument. The subjects of this study were active university students in the city of Bandung who had 89 suicide ideas. The results of this study indicate that students in the city of Bandung have low suicide ideation (68.5%). Female students had a higher score of suicidal ideation (mean = 13.57) compared to male students (mean = 11.84). The fourth year of study had the highest suicide ideation score (mean=13.20). Problems in the family are the majority of the triggers for suicidal ideation among students in the city of Bandung. Abstrak. Mahasiswa merupakan salah satu populasi yang memiliki resiko bunuh diri. Sebagai langkah pertama menuju upaya bunuh diri dan tindakan bunuh diri sebenarnya, ide bunuh diri dianggap sebagai prediktor signifikan dari upaya bunuh diri dan tindakan bunuh diri. Tingkat keinginan bunuh diri yang dialami mahasiswa lebih tinggi daripada yang dialami oleh orang dewasa muda seusianya di masyarakat. Beban dan permasalahan yang muncul pada masa perkuliahan dapat mempengaruhi kesehatan mental terkait dengan peningkatan resiko bunuh diri. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh data empiris mengenai gambaran ide bunuh diri pada Mahasiswa di Kota Bandung. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur Scale for Suicide Ideation (SSI). Subjek penelitian ini adalah mahasiswa aktif perguruan tinggi di Kota Bandung yang memiliki ide bunuh diri sebanyak 89 orang. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa mahasiswa di Kota Bandung memiliki ide bunuh diri yang rendah (68.5). Mahasiswa perempuan memiliki skor ide bunuh diri yang lebih tinggi (mean= 13.57) dibandingkan dengan mahasiswa laki laki (mean= 11.84). Tahun studi keempat memiliki skor ide bunuh diri yang paling tinggi (mean= 13.20). Permasalahan dalam keluarga merupakan mayoritas pemicu ide bunuh diri pada mahasiswa di Kota Bandung.
Pengaruh Pet Attachment terhadap Tingkat Stres pada Pemilik Hewan Peliharaan Kucing di Kota Bandung
Citra Lalitya Optiarni;
Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.5340
Abstract. Stress can be experienced by anyone and occurs in everyday life, stress emphasizes experiences that occur when individuals perceive or evaluate the experience as a threat or potential danger and the resources they have are inadequate to overcome it. Individuals will look for ways or use the resources they have in an effort to reduce stress, one of which is keeping a pet or bonding with pets. Pet attachment or the attachment that pet owners have with their pets is how someone has an emotional connection with their pets based on the interactions they make, and pet owners get a sense of comfort and even psychological support. The purpose of this study was to see whether there was an effect of pet attachment on the stress level of cat pet owners in the city of Bandung. Respondents in this study amounted to 243 respondents and the data analysis used was simple linear regression analysis. The pet attachment variable was measured using the Lexington Attachment to Pets Scale (LAPS) and stress levels were measured using the Perceived Stress Scale (PSS). The results of this study are found that pet attachment contributes to stress levels, when the pet attachment is strong, the stress level can decrease. The contribution of the pet attachment variable to the stress level is 6.4% and the regression coefficient value is -0.145. Abstrak. Stres dapat dialami oleh siapapun dan terjadi dalam kehidupan sehari-hari, stres menekankan pada pengalaman yang terjadi ketika individu mempersepsikan atau mengevaluasi pengalaman tersebut sebagai suatu ancaman atau potensi bahaya dan sumber daya yang dimiliki tidak memadai untuk mengatasinya. Individu akan mencari cara atau menggunakan sumber daya yang dimiliki sebagai upaya untuk mengurangi stres, salah satu upaya nya yaitu memelihara hewan peliharaan atau keterikatan dengan hewan peliharaan. Pet attachment atau keterikatan yang dimiliki pemilik hewan peliharaan dengan hewan peliharaannya yaitu bagaimana seseorang memiliki hubungan emosional dengan hewan peliharaannya berdasarkan interaksi yang dilakukan, serta pemilik hewan peliharaan mendapatkan rasa kenyamanan dan bahkan dukungan psikologis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah terdapat pengaruh pet attachment terhadap tingkat stres yang dimiliki pemilik hewan peliharaan kucing di kota Bandung. Responden pada penelitian ini berjumlah 243 responden dan analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear sederhana. Variabel pet attachment diukur dengan menggunakan alat ukur Lexington Attachment to Pets Scale (LAPS) dan tingkat stres diukur dengan menggunakan alat ukur Perceived Stress Scale (PSS). Hasil dari penelitian ini yaitu ditemukan bahwa pet attachment memberikan kontribusi terhadap tingkat stres, ketika pet attachment kuat maka tingkat stres yang dimiliki dapat menurun. Besarnya kontribusi variabel pet attachment terhadap tingkat stres adalah sebesar 6,4% dan nilai koefisien regresi sebesar -0,145.
Studi Deskriptif Illness Perception pada Caregiver Penderita Psikosis di Bandung
Melanie Khairunnisa;
Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v3i1.6766
Abstract. Psychosis is one indicator of a healthy family in Indonesia. According to Riskesdas data in 2018, the prevalence of psychosis in Indonesia reached 6.7 per household. Treatment should be taken to prevent recurrence of psychotic symptoms. The lack of family role as caregiver is one of the causes for stopping treatment. The purpose of this study was to determine the description of illness perception on caregivers with psychosis in Bandung Raya. In this study, the theory of illness perception was used which was developed by Leventhal et. al. This study uses descriptive study methods and data collection techniques using questionnaires. The data analysis technique was done using compared means to see the description of the caregiver's illness perception. This study involved as many as 25 caregivers of people with psychosis in Bandung Raya. The measuring instrument used in this research is The Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) which was developed by Broadbent (2006). The results of the study found that male caregivers, caregivers with an age range of 44-63 years, and caregivers who accompanied people with psychosis more than 9 years had a more positive illness perception. Abstrak. Psikosis merupakan salah satu indikator keluarga sehat indonesia. Menurut data Riskesdas tahun 2018, prevalensi psikosis di Indonesia mencapai 6,7 per rumah tangga. Pengobatan harus dilakukan untuk mencegah terulangnya gejala psikosis. Kurangnya peran keluarga sebagai caregiver menjadi salah satu penyebab terhentinyapengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran illness perception pada caregiver penderita psikosis di Bandung Raya. Pada penelitian ini menggunakan teori illness perception yang dikembangkan oleh Leventhal et. al. Penelitian ini menggunakan metode studi deskriptif dan teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner.Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan compared means untuk melihat gambaran dari illness perceptioncaregiver. Penelitian ini melibatkan sebanyak 25 orang caregiver dari penderita psikosis di Bandung Raya. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah The Brief Illness perception Questionnaire (B-IPQ) yang dikembangkan oleh Broadbent (2006). Hasil penelitian menemukan bahwa pada caregiver laki-laki, caregiver dengan rentang usia 44-63 tahun, dan caregiver yang mendampingi penderita psikosis lebih dari >9 tahun memiliki illness perception yang lebih positif.
Studi Mengenai Literasi Kesehatan Mental pada Family Caregiver Skizofrenia di Kota Bandung
Syifa Aulia Setiawati;
Farida Coralia
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10033
Abstract. According to Riskesdas data in 2018, there was a significant increase in mental health disorders, especially schizophrenia. Treatment must be done to prevent relapse in people with schizophrenia. In addition, everyone has an understanding of an illness, making it more likely to recognize appropriate sources of care. The purpose of this study was to determine the mental health literacy of family caregiver who are accompanying family members with schizophrenia in Bandung City. The research design used a descriptive design. This study used the purposive sampling technique. The subjects of this study were the main family caregiver who were accompanying family members with schizophrenia disorders and domiciled in Bandung City, totaling 42 people. The mental health literacy measuring instrument was designed by the researcher with reference to Jorm's theory. The data were processed using descriptive analysis and logistic regression. The results showed that family caregiver generally have high mental health literacy. This means that family caregiver in Bandung City have appropriate understanding and beliefs about schizophrenia disorder. Then the factors of age, gender, latest education, and duration of disorder do not significantly affect the mental health literacy of family caregiver in Bandung City. Abstrak. Menurut data Riskesdas tahun 2018, terjadi peningkatan yang signifikan pada gangguan kesehatan mental khususnya skizofrenia. Pengobatan harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kekambuhan pada orang dengan gangguan skizofrenia. Disamping itu, setiap orang memiliki pemahaman tentang suatu penyakit, sehingga lebih mungkin untuk mengenali sumber perawatan yang sesuai. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui literasi kesehatan mental pada family caregiver yang sedang mendampingi anggota keluarga dengan gangguan skizofrenia di Kota Bandung. Desain penelitian menggunakan desain deskriptif. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Subjek dari penelitian ini adalah family caregiver utama yang sedang mendampingi anggota keluarga dengan gangguan skizofrenia dan berdomisili di Kota Bandung berjumlah 42 orang. Alat ukur literasi kesehatan mental dirancang oleh peneliti dengan merujuk pada teori Jorm. Data diolah menggunakan analisis deskriptif dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya family caregiver memiliki literasi kesehatan mental yang tinggi. Artinya, family caregiver di Kota Bandung memiliki pemahaman dan keyakinan yang sesuai terhadap gangguan skizofrenia. Kemudian faktor usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir serta lamanya gangguan tidak berpengaruh signifikan terhadap literasi kesehatan mental family caregiver di Kota Bandung.