Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementation of Responsible Character Education at SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo during the Covid 19 Pandemic Beta Ayu Widianti
Proceedings of The ICECRS Vol 10 (2021): Psychology and Education Conference Facing The Era of Merdeka Belajar
Publisher : International Consortium of Education and Culture Research Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.496 KB) | DOI: 10.21070/icecrs20211165

Abstract

Based on the goals of national education, education in schools must be balanced with character education for students, because it is not only about academic learning. Character education is an effort to make students become the next generation of the nation who has the ability to lead a better life. Character education does not only teach about science, but also plays an important role in shaping the nation's character. The function of character education is to develop the potential to become a person who has a good heart, behaves well, thinks well, and improves the nation's civilization to become a competitive person in world relations. teach. Learning activities in the classroom are replaced with online activities. Thus, teachers get new challenges on how to teach character education to students during this pandemic. This research is descriptive qualitative to find out how the implementation of responsible character education during the covid 19 pandemic is through online learning at SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo.
Implementasi Kurikulum Karakter Berbasis Nilai Ketuhanan melalui Program TPQ dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila Beta Ayu Widianti
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kurikulum karakter berbasis nilai ketuhanan melalui program Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di SDN Sidokepung 1 serta relevansinya terhadap pembentukan Profil Pelajar Pancasila. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus melalui observasi partisipatif, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penempatan TPQ pada Jam Ke-0 sebelum pembelajaran intrakurikuler berkontribusi pada pembentukan kesiapan mental dan spiritual peserta didik. Internalisasi nilai dilakukan melalui keteladanan guru, refleksi, dan tutor sebaya, yang mendorong terwujudnya perilaku integritas, kejujuran, dan tanggung jawab. Program TPQ mendukung dimensi Profil Pelajar Pancasila, khususnya beriman, bertakwa, berakhlak mulia, mandiri, dan gotong royong. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi TPQ dalam kurikulum karakter formal berpotensi menjadi model efektif penguatan karakter religius di sekolah dasar.
Proses Pengajuan Masalah Tipe Post Solution pada Pengukuran Luas Beta Ayu Widianti; Mohammad Faizal Amir
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM) Vol 9 No 1 (2023): Jurnal Pendidikan Matematika (JPM)
Publisher : Department of Mathematics Education, Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jpm.v9i1.19870

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses pengajuan masalah tipe post solution yang digunakan siswa pada materi pengukuran luas. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian yang digunakan adalah 25 siswa kelas lima sekolah dasar. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria yang berhasil menyelesaikan tugas. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan wawancara. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Dalam penelitian ini menggunakan tahapan pengajuan masalah yaitu analisis situasi, variasi, generasi, penyelesaian masalah, dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan siswa yang mampu mengajukan masalah dan memberikan jawaban benar memiliki proses yang lebih tepat dari tahapan analisis situasi sampai evaluasi. Namun siswa yang sekedar mampu mengajukan masalah, namun tidak dapat menyelesaikan masalahnya mengalami kegagalan pada tahapan variasi, penyelesaian masalah, dan evaluasi. Hasil penelitian ini menyarankan agar siswa belajar untuk memahami dan mengubah informasi yang diberikan untuk melakukan pengajuan dan penyelesaian masalah. Hal ini berimplikasi pada para pendidik agar memberikan kesempatan kepada siswa dalam melakukan pengajuan masalah untuk mengeksplorasi cara berpikir dan memahami pengukuran luas yang lebih beragam.