Ahmad Sofwani
Institut Pertanian Malang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Acculturation of Islam and Javanese Culture in Public Servant Ethics Sholih Mu’adi; Ahmad Sofwani
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.799 KB) | DOI: 10.18860/el.v20i2.5355

Abstract

The acculturation of Islam and Javanese culture has occurred since the golden age of Islamic kingdoms in Java. Islamic boarding school (pesantren) has been developing widely during the age of Demak and Mataram kingdoms. This development is a product of acculturation between Islamic and Hindu education systems. Islamic boarding school during the heyday of Islamic kingdoms is the institution of education designed to develop and produce royal bureaucrats or nobility officials who understand both Islam ethic and Javanese culture. In recent days, Islamic boarding school has successfully produced leaders who are not only religious as Moslem but also fostering Javanese culture. The leader is a role-model for the followers. Leader behavior is the most central issue in the eye of followers. Therefore, the leader is always required to show good attitudes and positive values, and both virtues can be evolved from the understanding of religion and culture (especially Javanese culture). In accord with Javanese philosophy, human life perfection is understood in term of a totality involving creation (cipta), sense (rasa), and wish (karsa). This totality gives a description that public servant ethics cannot escape from the effect of Islam religion and Javanese culture.Akulturasi budaya Islam dan Jawa telah terjadi sejak zaman keemasan kerajaan Islam di Jawa. Pesantren telah berkembang secara luas pada zaman kerajaan Demak dan Mataram. Perkembangan ini merupakan produk akulturasi antara sistem pendidikan Islam dan Hindu. Pondok pesantren selama masa kejayaan kerajaan Islam menjadi lembaga pendidikan yang dirancang untuk mengembangkan dan menghasilkan birokrat kerajaan atau pejabat bangsawan yang memahami etika Islam dan budaya Jawa. Kini pesantren telah berhasil menghasilkan pemimpin yang tidak hanya beragama Islam tetapi juga membina budaya Jawa. Pemimpin adalah teladan bagi para pengikut. Perilaku pemimpin termasuk hal utama di mata pengikut. Oleh karena itu, pemimpin selalu dituntut untuk menunjukkan sikap yang baik dan nilai-nilai positif, dan kedua kebajikan tersebut dapat berevolusi dari pemahaman agama dan budaya (khususnya budaya Jawa). Sesuai dengan filsafat Jawa, kesempurnaan hidup manusia dipahami dalam arti totalitas yang melibatkan penciptaan (cipta), rasa (rasa), dan harapan (karsa). Totalitas ini memberikan gambaran bahwa etika pegawai negeri tidak bisa lepas dari pengaruh agama Islam dan budaya Jawa.
Pendapatan Usahatani Bawang Daun Niniek Kusumawardani; Selestinus Daga; Ahmad Sofwani
JURNAL GREEN HOUSE Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Green House
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63296/jgh.v2i2.32

Abstract

Kota Batu mempunyai peluang besar dalam mengembangkan tanaman hortikultura, antara lain bawang daun. Salah satu kecamatan penghasil bawang daun di Kota Batu ialah Kecamatan Junrejo. Permasalahan yang dihadapi petani dalam mengelola usahatani bawang daun antara lain mahalnya biaya bibit, biaya pupuk, biaya pestisida dan biaya tenaga kerja. Tujuan penelitian untuk mengetahui: (1) Penerimaan, biaya dan pendapatan usahatani bawang daun dan (2) Faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani bawang daun di Kelompok Tani Agromulyo, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu. Penelitian dilaksanakan di Kelompok Tani Agromulyo, Desa Torongrejo, Kecamatan Bumiaji Kota Batu pada bulan Juli sampai Agustus 2022. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari responden di lokasi penelitian dengan cara observasi dan wawancara dengan menggunakan kuesioner. Data yang dikumpulkan merupakan data usahatani bawang daun selama satu musim tanam. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistika, Desa Torongrejo, jurnal dan publikasi lainnya. Responden penelitian ialah petani bawang daun yang merupakan anggota Kelompok Tani Agromulyo, ditentukan dengan metode sampling jenuh (saturation sampling) terhadap 60 orang anggota Kelompok Tani Agromulyo yang berusahatani bawang daun. Analisis data menggunakan analisis usahatani dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata penerimaan usahatani bawang daun untuk luasan satu hektar selama satu musim tanam Rp 269.384.800,00, biaya usahatani Rp. 104.584.499,60 dan pendapatan usahatani sebesar Rp 164.800.300,40. Faktor yang mempengaruhi secara signifikan terhadap pendapatan usahatani bawang daun yaitu produksi dan biaya bibit, sedangkan biaya tenaga kerja tidak berpengaruh secara signifikan.
Potensi dan Tantangan Pengembangan Sayuran Organik dalam Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan Nunuk Hariyani; Ahmad Sofwani
JURNAL GREEN HOUSE Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Green House
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63296/jgh.v3i2.45

Abstract

Sayuran organik sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan. Karena keunggulannya dalam nutrisi, pengurangan dampak lingkungan, dan kontribusinya terhadap ekosistem, menjadikannya pilihan utama untuk perubahan pola konsumsi masyarakat. Namun, masalah seperti biaya produksi tinggi, pendidikan petani yang kurang, dan kendala pasar menghalanginya untuk berkembang. Untuk mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di Indonesia, artikel ini membahas potensi, masalah, dan metode untuk mengembangkan sayuran organik. Seiring dengan peningkatan populasi dan kerusakan lingkungan, ketahanan pangan berkelanjutan menjadi masalah yang semakin mendesak di seluruh dunia. Dalam penelitian ini, para peneliti mempelajari kemungkinan dan kesulitan yang terkait dengan pengembangan sayuran organik sebagai solusi untuk mendukung ketahanan pangan berkelanjutan di Indonesia. Penelitian ini menyelidiki berbagai aspek sistem pertanian organik, termasuk produksi, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method, yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan sayuran organik memiliki potensi besar untuk meningkatkan ketahanan pangan berkelanjutan, tetapi ini memerlukan strategi yang terintegrasi untuk mengatasi berbagai masalah yang ada. Studi ini menunjukkan cara terbaik untuk mengoptimalkan pengembangan pertanian organik di Indonesia.