Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS INSTRUMEN TES SOAL PILIHAN GANDA UJIAN SEKOLAH (US) MATA PELAJARAN AL ISLAM KELAS XII SMA MUHAMMADIYAH SE-KOTA PALEMBANG Amrullah Amrullah
Ad-Man-Pend : Jurnal Administrasi Manajemen Pendidikan Vol 1, No 1 (2018): Ad-Man-Pend: Jurnal Administrasi Manajemen Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/amp.v1i1.956

Abstract

Proses pendidikan diselenggarakan dengan berbagai bentuk seperti pendidikan formal dan pendidikan non formal, dalam setiap tahapannya pendidikan akan mengadakan evaluasi untuk mengetahui hasil yang telah dicapai peserta didiknya, karena evaluasi tersebut memberikan dampak terhadap proses pembelajaran yang telah di laksanakan, baik bagi peserta didik itu maupun bagi tenaga pendidik Evaluasi merupakan bagian yang penting dalam pembelajaran, karena sebagai alat pengukur keberhasilan dari proses pembelajaran yang dilakukan. Selain itu, evaluasi juga bertujuan untuk mencari dan menemukan berbagai faktor yang menyebabkan keberhasilan dan ketidak berhasilan peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan, dengan demikian akan ditemukan titik terang sebagai jalan keluar untuk perbaikan dalam pelaksanaan pendidikan diwaktu mendatang. Dalam hal ini guru dituntut harus mampu merencanakan, memproses, dan mengevaluasi pembelajaran, seperti membuat soal-soal untuk evaluasi, semakin baik para guru membuat soal-soal evaluasi, maka semakin baik pula kualitas pembelajaran dari mata pelajaran yang diampunya. Maka dari itu perlu diadakan analisis mengenai instrument pembuatan butir soal yang telah dibuat oleh para guru dalam mengevaluasi peserta didiknya. Analisis soal tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi soal-soal yang baik, kurang baik, dan soal soal yang tidak layak.diberikan kepada peserta didik. Dengan menganalisis soal-soal tersebut dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan petunjuk untuk mengadakan perbaikan, guru akan mendapatkan umpan balik dari apa yang telah disampaikannya kepada para peserta didik, guru harus benar-benar teliti dalam pembuatan instrumen evaluasi, bila tidak demikian alat ukur atau pemberian nilai dari guru kepada peserta didik akan menjadi kurang baik, dengan tidak langsung mutu pendidikan dapat terlihat dari para guru dalam membuat soal-soal evaluasi tersebut.
Reconstructing Muslim Feminist Hermeneutics: Patriarchal Exegesis, Maqaṣidi Reading, and Substantive Gender Justice in Contemporary Islamic Thought Amrullah; Uswatun Hasanah; Nyimas Umi Kalsum
Tanwiruna: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 2 No. 3 (2026): Tanwiruna: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : CV. Jalan Cendikia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65793/j.tanwiruna.2026.110

Abstract

Gender bias in contemporary Islamic thought intensifies when historical exegesis and fiqh are treated as final theological rulings that restrict women’s experiences. This study formulates a reconstruction of Muslim feminist hermeneutics grounded in maqāṣid al-sharī‘ah and substantive justice. It applies library research by examining academic literature on Islam, gender, Muslim feminism, patriarchal exegesis, and Islamic family law. The findings show that patriarchal exegesis is shaped by androcentrism in knowledge production, atomistic readings of gender-related verses, and the absolutization of fiqh as divine will. A rereading of qiwāmah, polygamy, inheritance, and testimony affirms the need for holistic, contextual, and maqāṣid-oriented interpretation. Muslim feminist hermeneutics offers an interpretive framework grounded in Qur’anic authority while advancing reciprocity, public welfare, and substantive justice.
Habitus Moral Peserta Didik dalam Ekologi Sosial Pendidikan Islam di Era Digital Amrullah; Abullah Idi; Karoma; Yulia Trisamiha
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1360

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis pembentukan habitus moral peserta didik dalam ekologi sosial pendidikan Islam di era digital. Kajian dilakukan melalui pendekatan studi literatur dengan sintesis tematik terhadap berbagai penelitian mengenai pendidikan moral, budaya sekolah, keteladanan guru, keterlibatan keluarga, relasi teman sebaya, dan budaya digital. Hasil kajian menghasilkan lima arena utama pembentukan habitus moral. Pertama, budaya sekolah membentuk kebiasaan moral melalui aturan, pembiasaan, simbol, dan kegiatan religius. Kedua, guru memperkuat internalisasi nilai melalui keteladanan, relasi edukatif, kepemimpinan nilai, dan otoritas moral. Ketiga, keluarga menjaga kesinambungan nilai melalui pengasuhan, religiositas, komunikasi, dan pengawasan terhadap aktivitas digital. Keempat, teman sebaya memengaruhi penerimaan norma melalui pengakuan sosial, budaya kelompok, dan perilaku prososial. Kelima, budaya digital menjadi arena negosiasi akhlak yang menuntut kemampuan tabayyun, amanah, adab, rahmah, dan pengendalian diri. Temuan menunjukkan bahwa pembentukan moral tidak berlangsung secara instruksional dan satu arah, tetapi melalui interaksi berulang antara nilai agama, praktik keseharian, relasi sosial, dan pengalaman digital. Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu dikembangkan melalui pendekatan ekologis-transformatif yang mengintegrasikan pembelajaran, budaya sekolah, keteladanan pendidik, kemitraan keluarga, penguatan kelompok sebaya, dan literasi digital berbasis akhlak. Pendekatan tersebut menempatkan peserta didik sebagai subjek moral yang mampu memahami, menegosiasikan, dan menerapkan nilai Islam secara konsisten dalam kehidupan nyata maupun ruang digital.