Uswatun Hasanah
Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dekonstruksi dan Rekonstruksi Tafsir-Hadis Kontemporer: Analisis Konseptual atas Kritik Sanad-Matan, Hermeneutika Hadis, dan Dekolonisasi Studi Islam Ifrohan; Uswatun Hasanah
Tanwiruna: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 2 No. 2 (2026): Tanwiruna: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : CV. Jalan Cendikia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65793/j.tanwiruna.2026.52

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis dekonstruksi dan rekonstruksi tafsir-hadis kontemporer melalui empat medan kajian utama, yaitu kritik sanad dan matan modern, hermeneutika hadis, dekolonisasi studi Islam, dan rekonstruksi metodologi pemahaman teks. Kajian ini berangkat dari asumsi bahwa pendekatan klasik yang selama ini dominan dalam studi tafsir dan hadis perlu dibaca ulang secara kritis agar tetap relevan dengan dinamika intelektual kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis deskriptif-kritis terhadap literatur klasik dan kontemporer yang berkaitan dengan epistemologi tafsir dan hadis. Hasil kajian menunjukkan bahwa kritik sanad dan matan modern telah memperluas horizon verifikasi teks, hermeneutika hadis mendorong pergeseran dari pembacaan literal ke pembacaan kontekstual, sementara dekolonisasi studi Islam membuka ruang kritik terhadap dominasi epistemologi Barat maupun otoritas tunggal dalam tradisi Islam itu sendiri. Dalam konteks ini, rekonstruksi metodologi pemahaman teks menjadi penting untuk menghadirkan pembacaan tafsir dan hadis yang lebih dialogis, historis, inklusif, dan responsif terhadap problem sosial-keagamaan kontemporer. Artikel ini menegaskan bahwa dekonstruksi bukanlah upaya meniadakan otoritas teks, melainkan langkah epistemologis untuk menata ulang cara memahami teks suci dan tradisi keilmuan Islam secara lebih reflektif dan relevan.
Reconstructing Muslim Feminist Hermeneutics: Patriarchal Exegesis, Maqaṣidi Reading, and Substantive Gender Justice in Contemporary Islamic Thought Amrullah; Uswatun Hasanah; Nyimas Umi Kalsum
Tanwiruna: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 2 No. 3 (2026): Tanwiruna: Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : CV. Jalan Cendikia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65793/j.tanwiruna.2026.110

Abstract

Gender bias in contemporary Islamic thought intensifies when historical exegesis and fiqh are treated as final theological rulings that restrict women’s experiences. This study formulates a reconstruction of Muslim feminist hermeneutics grounded in maqāṣid al-sharī‘ah and substantive justice. It applies library research by examining academic literature on Islam, gender, Muslim feminism, patriarchal exegesis, and Islamic family law. The findings show that patriarchal exegesis is shaped by androcentrism in knowledge production, atomistic readings of gender-related verses, and the absolutization of fiqh as divine will. A rereading of qiwāmah, polygamy, inheritance, and testimony affirms the need for holistic, contextual, and maqāṣid-oriented interpretation. Muslim feminist hermeneutics offers an interpretive framework grounded in Qur’anic authority while advancing reciprocity, public welfare, and substantive justice.
Implementing Hadith Values in Addressing the Hustle Culture Phenomenon in Society Suadi wijaya guna; Uswatun Hasanah; Sofia Hayati
Al-Bukhari : Jurnal Ilmu Hadis Vol. 8 No. 2 (2025): Al-Bukhari: Jurnal Ilmu Hadis
Publisher : Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/al-bukhari.v8i2.12594

Abstract

Abstrak Maraknya hustle culture yang terdapat di Indonesia memicu peluang negatif yang bisa memberikan dampak terhadap masyarakat ataupun individu. Tekanan bekerja yang tinggi dapat menimbulkan menurunnya kualitas relasi spiritual dan sosial, hilangnya keseimbangan hidup, serta kelelahan mental. Melalui tinjauan muncul sebuah pertanyaan terkait pentingnya kerja keras apakah selalu bernilai positif. Apakah agama, khususnya Islam, memandang kerja keras dalam konteks yang sama dengan hustle culture modern. Menganalisis fenomena hustel culture dalam perspektif hadist. Metode penelitian yang mengadopsi metode penelitian kualitatif. Hadist Shahih Al Bukhari No. 5699 memiliki makna sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Hadist Shahih Muslim No. 4832 memaparkan hal yang perlu digaris bawahi ialah pentingnya menjaga keseimbangan antara tanggung jawab pribadi dengan pekerjaan dari tiap individu. Sebab, sesuatu hal yang melampaui batas atau berlebih-lebihan dapat menimbulkan efek negatif. Konsep tawazun saat diimpelementasikan pada HR Al Hakim memiliki makna dalam menyeimbangkan pengaturan waktu serta perlu memperhatikan aspek-aspek dalam hidup. Salah satu hal yang perlu diperharikan terkait dengan manajemen waktu, dimana individu dapat membagi waktu untuk beribadah, rekreasional, keluarga, dan bekerja. Hustle culture alih alih dalam meningkatkan produktivitas. Akan tetapi bisa menciptakan permasalahan dalam kesehatan mental ataupun individu.