p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dekonstruksi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dekonstruksi Hoaks dalam Era Pasca-Kebenaran Melalui Semiotika Umberto Eco Abdul Rahman
Dekonstruksi Vol. 1 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.538 KB)

Abstract

Artikel ini memperlihatkan bahwa unit kultural dalam semiotika Umberto Eco telah memberikan kita sebuah petunjuk bagaimana seseorang bisa membongkar proposisi kebohongan atau hoaks di dalam Era Pasca-Kebenaran. Uniknya, meskipun di dalam pembacaan tanda kita tidak akan pernah tahu apakah sebuah pernyataan itu hoaks atau bukan, kita tetap bisa memahami bahwa pernyataan tersebut mengandung kebohongan atau makna yang dipelintir melalui unit kultural atau pengetahuan yang kita punya. Dengan kata lain, di dalam pembacaan tanda kita bisa melihat makna dari wahana-tanda yang berada di dalam atau luar kaidah yang berlaku di masyarakat.
Membongkar Novel Cantik itu Luka Melalui Pandangan Surealisme dan Feminisme Puji F. Susanti; Abdul Rahman; Hendrik Boli Tobi; Nova Lumempouw
Dekonstruksi Vol. 1 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.266 KB)

Abstract

Novel Cantik itu Luka merupakan karya sastra Indonesia yang luar biasa dari Eka Kurniawan karena alur ceritanya penuh dengan imajinasi, hasrat, dan kekuasaan sehingga karya tersebut dapat kami bongkar (dekonstruksi) secara filosofis melalui dua sudut pandang, yakni teori Surealisme yang berakar dari psikoanalisa Freud dan teori Feminisme. Melalui surealisme kami bisa melihat bahwa tindakan sadar dari beberapa tokoh di dalam cerita berasal dari hasrat liar yang sangat jauh dari nilai-nilai masyarakat yang berlaku, sedangkan melalui feminisme kami bisa melihat bahwa phallus atau penis tetap menjadi simbol kekuasaan di dalam masyarakat sehingga masyarakat masih berada dalam kebudayaan patriarki.