p-Index From 2021 - 2026
1.554
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dekonstruksi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Différance dan Batas dari Wacana Metafisika Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 1 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.229 KB)

Abstract

Jacques Derrida (1930-2004) adalah seorang filsuf asal Prancis kelahiran El Biar, Aljazair, yang dipercaya telah mengubah wacana filosofis dewasa ini dengan membuatnya kembali terbuka terhadap segala kemungkinan. Secara konkret Derrida telah mengguncang segala bentuk wacana atau teks filosofis yang membicarakan “Being adalah …” untuk kembali dipertanyakan demi menghasilkan teks baru. Karena bagi Derrida setiap teks filosofis tidak dapat melampaui jarak antara teks dan realitas, sehingga teks filosofis memiliki potensi untuk mengguncangkan dirinya sendiri untuk menghasilkan wacana (teks) baru (double science). Oleh karenanya Derrida tidak melakukan penghancuran terhadap setiap wacana filosofis, tapi ia hanya menyingkapkan selubung metafisika pada teks berupa jarak antara teks dan realitas yang membuat teks secara alamiah menghancurkan dirinya sendiri sekaligus membangun teks yang-lain secara bersamaan. Gerakan alami dari teks tersebut disebut sebagai Dekonstruksi.
Dekonstruksi dan Pembicaraan tentang Tuhan Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 2 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.455 KB)

Abstract

Artikel ini berisikan sebuah topografi perihal pembahasan filosofis dewasa ini berkaitan dengan keberagamaan (religiosity). Secara khusus artikel ini akan memberikan uraian tentang bagaimana Dekonstruksi yang diusung oleh Derrida memandang keberagamaan dan memandang Tuhan di dalam keberagamaan itu sendiri. Topik ini menarik dan cukup penting untuk dijadikan sebuah refleksi kritis terhadap kehidupan keberagamaan kita secara pribadi maupun secara komunal. Selain itu topik bahasan ini juga dapat memberikan cara pandang yang sama sekali baru terhadap ateisme. Karena pada topik ini istilah “ateis” atau “ateisme” tidak dibicarakan sebagai sebuah penolakan absolut terhadap keberadaan Tuhan, melainkan sebagai sebuah penolakan terhadap “Tuhan” dalam keberagamaan atau “Tuhan” yang dibicarakan oleh agama-agama. Tentu saja artikel ini tidak memiliki maksud dan tujuan untuk menyelamatkan istilah “ateis” dan “ateisme” atau bahkan mendukungnya. Tepatnya artikel ini hendak membuka sebuah wacana baru dalam membicarakan tentang Tuhan pada dirinya sendiri di dalam perbedaannya dengan Tuhan yang dibicarakan dalam keberagamaan. Sehingga “penolakan terhadap Tuhan” (ateis) tidak begitu saja dipandang sebagai penolakan terhadap keberadaanNya secara absolut, tapi juga dapat berarti “penolakan terhadap Tuhan dalam keberagamaan.
Dekonstruksi Derrida terhadap Humanisme Barat Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 4 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.259 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v4i01.58

Abstract

Tulisan ini menyajikan sebuah uraian tentang bagaimana Jacques Derrida (1930-2004) melakukan dekonstruksi terhadap proposisi filsafat Barat tentang hakikat manusia di bawah wacana humanisme. Melalui tulisan ini, kita juga dapat menemukan bahwa dekonstruksi tidak bermakna sebuah tindakan untuk merekonstruksi/memperbaiki struktur sebuah proposisi agar mendapatkan sebuah proposisi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya, atau juga tidak bermakna sebuah tindakan untuk menghancurkan/merobohkan sebuah proposisi dengan tujuan untuk menggantikannya dengan sebuah proposisi yang baru. Faktanya, dekonstruksi sebenarnya hanya sebuah tindakan penyingkapan metafisika kehadiran di dalam sejarah filsafat Barat untuk menunjukkan bahwa filsafat Barat cenderung untuk menobatkan teks menjadi sebuah Kehadiran. Dengan demikian, dekonstruksi di dalam tulisan ini hanya akan menyingkapkan selubung metafisika kehadiran di dalam diskursus tentang manusia di bawah wacana humanisme tanpa bermaksud untuk memperbaiki atau menghancurkannya.
Sebuah Pengantar kepada Dekonstruksi Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 5 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.209 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v5i01.80

Abstract

Artikel ini adalah sebuah pengantar kepada dekonstruksi. Harus diakui bahwa kita tidak dapat memahami apa itu dekonstruksi secara utuh. Tepatnya, kita hanya dapat menggambarkannya melalui kata atau teks yang-lain. Itulah mengapa artikel ini hanyalah sebuah pengantar atau hanya sebuah cara yang-lain untuk mengatakannya. “Dekonstruksi” itu sendiri adalah sebuah penyingkapan tentang realitas dari teks. Teks, sebagaimana dikatakan oleh tradisi filsafat Barat, adalah sebuah representasi dari dunia. Sebab itu, kita dapat memahami dunia secara utuh melalui teks. Jacques Derrida (1930-2004) pencetus dekonstruksi tidak setuju dengan gagasan itu. Baginya, kata atau teks tidak dapat menjelaskan dunia secara utuh. Teks perlu untuk didekonstruksi dalam usahanya untuk menjelaskan dunia. Dalam kerangka inilah, Derrida hendak menunjukkan kepada kita bahwa “dekonstruksi” itu sendiri tidak dapat dijelaskan menggunakan kata atau teks.
Jejak dalam Kategori Aristotelian Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 6 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.249 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v6i01.96

Abstract

Artikel berjudul “Jejak dalam Kategori Aristotelian” merupakan sebuah pengantar pada Kategori di dalam wacana dekonstruksi. Jejak (dengan italic) merujuk pada “jejak” di dalam kerangka dekonstruksi. Singkat kata, artikel ini akan membicarakan “substansi” sebagai jejak bukan sebagai kehadiran layaknya materi atau halnya.
Filsafat Pasca Dekonstruksi Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 8 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi Volume 8
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v8i01.121

Abstract

Artikel ini hendak memberikan sebuah gambaran tentang masa depan filsafat pasca Dekonstruksi menurut pemikiran Derrida. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: “Bagaimana berfilsafat dalam pandangan Dekonstruksi?” dan, “Mengapa filsafat masih relevan pasca Dekonstruksi?”. Artikel ini akan memulai sketsanya dengan menunjukkan gambar dari wajah filsafat itu sendiri, sebelum menunjukkan sketsa wajah Dekonstruksi yang akan diakhiri dengan sebuah sintesis tentang filsafat di masa depan.
Bahasa sebagai Suplemen dalam Pandangan Dekonstruksi Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 9 No. 02 (2023): Jurnal Dekonstruksi Volume 9.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i02.140

Abstract

Artikel ini akan mengulas tentang “apa itu bahasa?” dari perspektif Dekonstruksi yang dituliskan oleh Derrida pada Of Grammatology (1967). Bahasa, terang Derrida, adalah suplemen dari realitas. Suplemen merupakan prinsip dasar untuk memahami tentang bahasa yang ditawarkan oleh Derrida untuk menggantikan prinsip representasional. Suplemen menunjukkan bahwa bahasa tidak merepresentasikan realitas, tapi menambahkan dan menggantikannya. Artinya, bahasa hanyalah sekadar produk-sambilan atau fatamorgana dari realitas. Itulah mengapa tidak dapat ditemukan kehadiran atau esensi realitas di dalam bahasa. Paling banter, bahasa hanya mampu untuk menunjukkan jejak dari realitas.
Persahabatan dalam pandangan Dekonstruksi Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 9 No. 03 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i03.165

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang bagaimana dekonstruksi menyingkapkan ke-tidak-simetris-an pandangan Aristoteles tentang persahabatan. Ke-tidak-simetris-an itu dijelaskan oleh Derrida melalui frasa: “Wahai sahabat-sahabatku, tidak ada sahabat.” Derrida juga menunjukkannya melalui pandangan Heidegger, Schmitt, dan Kant yang terlebih dahulu telah mengkaji persahabatan Aristotelian. Pada akhirnya, sebagai sebuah kesimpulan, Derrida menyatakan ke-tidak-simetris-an ini menunjukkan bahwa persahabatan Aristotelian tidak lebih dari sekadar sebuah idea tentang hubungan manusia, dan tidak pernah muncul dalam realitas konkret.
Keadilan dalam Pandangan Dekonstruksi Chris Ruhupatty
Dekonstruksi Vol. 9 No. 04 (2023): Jurnal Dekonstruksi Vol 9.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v9i04.199

Abstract

Artikel ini akan menunjukkan cara memahami keadilan dari sudut pandang dekonstruksi. Sumber utamanya adalah makalah Derrida berjudul Force of Law: The “Mystical Foundation of Authority” (1989). Pada makalah itu, Derrida tidak menjelaskan tentang ketiadaan dari keadilan atau ketidakadilan hukum, tapi menunjukkan perbedaan antara keadilan dan hukum. Oleh karenanya, keadilan merupakan sebuah kemustahilan untuk dikalkulasi dalam cara apapun, tapi di satu sisi keadilan bisa menjadi sebuah kemungkinan di dalam hukum. Untuk itu, artikel ini ditulis bukan hanya untuk mereka yang mempelajari filsafat secara formal maupun informal, tapi juga untuk pembelajar maupun praktisi di bidang hukum.