Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kajian Akulturasi Pada Aspek Intramusikal Dalam Komposisi Musik Program “Watu Pinawetengan” Yudi Novrian Komalig
SELONDING Vol 13, No 13 (2018): Maret 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.472 KB) | DOI: 10.24821/selonding.v13i13.2918

Abstract

Music as part of culture is always changing. These changes can occur due to several things, one of them through acculturation. Acculturation is the intercultural contact of culturally intercultural groups that leads to cultural change for the group.Acculturation can be seen in a musical genre that combines two cultural idioms. One of them is the musical composition of Watu Pinawetengan program which will be described in this article. The composition of Watu Pinawetengan music program is a music program with string quartet format and instrument of tambur (percussion instrument of Minahasa). This musical composition consists of three movements, where each movement is inspired from Minahasa folklore about the origin of the division of agricultural areas. The first movement tells the story of the daily life of the Minahasan people. The second move tells the story of the conflict that occurred in the fight over agricultural land. While the third movement tells about negotiations to resolve conflicts in the division of agricultural areas.The musical composition of the program combines the ethical idioms of Minahasa music and western music. These idioms are manifested in the intramusic aspect, whether they are realized as melodies or harmonies. The merging of these two idioms will result in an acculturation. This acculturation process will be described in this article. What intramusical aspects are acculturated, the extent to which acculturation causes change, and which culture is stronger in its influence on other cultures. Keywords: Music, Composition.
Deteritorialisasi Musik Klonthong : Analisis Eksperimental Instrumen Pada Komposisi “Angon” karya Nanang Karbito Nanang Karbito; Eki Satria; Yudi Novrian Komalig
Psalmoz : A Journal of Creative and Study of Church Music Vol. 2 No. 2 (2021): Psalmoz : Juli 2021
Publisher : Program Studi Musik Gereja, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, IAKN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni musik telah banyak mengalami perkembangan seperti dalam hal yang bersifat teknis, maupun yang terlebih khusus pada perkembangan objek ide/gagasan, pola-pola penggarapan, tempo serta irama. Usaha-usaha pengembangan tersebut berangkat dari subjek kemudian dikomunikasikan dengan subjek-subjek yang lain. Kemudian akhirnya menghasilkan suatu kegiatan yang bersifat atau mempunyai tujuan penciptaan karya seni musik yang berorientasi pada bentuk klasik, komposisi musik, arransemen maupun ciptaan baru, bahkan ada yang bergerak keluar dari teritori penggarapan komposisi musik pada umumnya. Sama halnya seperti yang dikemukakan oleh Deluze bahwa adanya suatu deteritorialsasi. Deleuze mendefenisikan deteritorialisasi sebagai pergerakan untuk meninggalkan teritori. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk membahas lebih kepada analisis eksperimentasi instrumen pada komposisi karya Angon yang dibuat oleh Nanang Karbito. Metode yang digunakan dalam penelitian mengenai deteritorialisasi musik klonthong ini yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan pendekatan studi komparatif atau studi perbandingan. Proses mengamati, eksplorasi, improvisasi, komposisi dalam penciptaan musik klonthong menemukan kesimpulan yaitu yang pertama, penuangan berdasarkan pengalaman empiris, pengetahuan, dan wawasan yang didapatkan penulis dapat diaplikasikan ke suatu karya yang berdasarkan dari pola-pola yang ada dalam seni karawitan dan musik lain. Memahami suatu objek dengan mengeksplorasi objek tersebut menimbulkan suatu keinginan atau stimulus untuk membuat karya disertai dengan kreativitas.
A MUSICAL ANALYSIS OF "WATU PINAWETENGAN" BY YUDI NOVRIAN KOMALIG: PROGRAM MUSIC BASED ON MINAHASANESE FOLKLORE FOR STRING QUARTET AND TAMBOUR YUDI NOVRIAN KOMALIG
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 22, No 1 (2020): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1735.365 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v22i1.1036

Abstract

Watu Pinawetengan is a program music that attempts to render an extra-musical narrative musically which material comes from the Minahasa folklore about the Watu Pinawetengan mandate. The story is about negotiations in dividing agricultural territories to reduce conflicts due to land grabs. The existence of the values of deliberation, tolerance, and the spirit of unity are the reasons this story was appointed as a musical composition. So it is necessary to find relevant musical ideas to realize this composition. The process of creation begins by assigning extramusical material. This is done by gathering information and developing ideas about the plot. After that the musical elements are arranged based on the existing extramusical material. Minahasa ethnic music idioms such as scales, ornaments, and intervals are used to present the Minahasa ethnic atmosphere. Whereas Western diatonic music idioms help to create supporting atmosphere such as conflict, tension, concern, joy, and the spirit of unity.
“Musik Daerah dan Bahasa Inggris: Sebuah kolaborasi siswa SD Kristen Satya Wacana Salatiga” Darta, Deta Maria Sri; Widiningrum, Rindang; Suryaningsih, Ervin; Hastuti, Gita; Komalig, Yudi Novrian
Jurnal Dedikasi untuk Negeri Vol 2, No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UML

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/jdn.v2i2.2256

Abstract

Abstrak SD Kristen Satya Wacana (SD Lab) merupakan sekolah yang menjadi laboratorium dan berada di lingkungan kampus Indonesia mini, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Sekolah Lab dikenal dengan kualitas siswanya yang baik, khususnya dalam bidang bahasa Inggris. Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) yang menaungi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Sastra Inggris, dan Seni Musik mengkolaborasikan musik daerah, dalam hal ini kolintang dan angklung dengan Choral Reading dalam bahasa Inggris. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah karya baru yang merupakan sinergi di antara 2 bidang yang berbeda. Dosen dan mahasiswa dari ketiga prodi tersebut bekerja sama dengan guru dan siswa SD Lab (kelas 3 - 6) untuk menghasilkan pertunjukan penampilan bersama dalam acara di UKSW sehingga sekaligus merupakan bentuk promosi dari SD Lab kepada khalayak. Bukan promosi SD Lab saja namun juga promosi FBS karena penampilan tersebut ditayangkan secara online. Kegiatan ini merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Pkm) yang didanai dengan pendanaan internal UKSW. Dari hasil luaran dari kegiatan ini diharapkan siswa SD Lab dapat lebih termotivasi untuk belajar dan menampilkan yang terbaik, khususnya dalam bidang seni daerah dan bahasa Inggris. Kegiatan ini diharapkan juga dapat menginspirasi kegiatan penelitian dan PkM yang merupakan kolaborasi dari beberapa bidang ilmu yang berbeda sehingga menghasilkan sebuah karya baru yang segar dan inovatif.Â