Robert M.Z. Lawang
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Alienated Social Class And Social Poverty: Case From Rural Hamlet Karang Tengah, West Java, Indonesia Terserah Luahambowo; Robert M.Z. Lawang; Iwan Setiawan
INSANI Vol 8 No 2 (2021): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.394 KB)

Abstract

This article deals with fundamental question of how to develop village is based on sufficient knowledge. In order to answer this question, Research Cluster on Rural Issues has conducted digital baseline survey on village resources, potential for rural development in the hamlet of Karang Tengah. One of the findings is the fact that 88.3% of the land has been alienated to outsiders. The finding is explored through extensive discussions on social class theories related to social capital and social poverty as well. Alienated social class is a concept developed from the highly imbalance of outsiders’ domination to the insiders. As the result, community has been lack of its fundamental essence namely land. Main conclusions are related to the need of real knowledge through the use of digital survey for a quick answer.
Social Poverty in Two Extreme Cases in Manggarai-East Nusa Tenggara Province Robert M.Z. Lawang
INSANI Vol 8 No 1 (2021): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.323 KB)

Abstract

The aim of this article is to examine the concept of social poverty at local context of two extreme geographically rural and urban areas. The logic of the article is structured as follows. Firstly is the identification social class at urban and rural contexts, in which social poverty is taking place. Then, it is followed by describing shortly the government programs on poverty alleviation, i.e. PNPM, Dana Desa, KAT and Health Insurance, in which trust in government could be built. Theoretical analysis are mainly referring to Weber, Bourdieu, and Putnam. Social capital formation is hindered mostly by closed system of social class in urban context, and by long unresolved isolation in rural context. The implementation of the government programs could be increasing trust in government. But on the other hand, social capital at rural context had declined in its capacity to solve their own problems. The bottom-up and top-down approach in the programs coordinated by the related ministries, gave more space to the poor for participation.
Perspektif Sosiologi Pengetahuan Baru Tentang Covid-19 Untuk Ilmu Pekerjaan Sosial: Pemikiran Awal Robert M.Z. Lawang
INSANI Vol 9 No 1 (2022): INSANI
Publisher : STISIP Widuri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam analisis sosiologi pengetahuan, bertahannya keluarga-keluarga miskin selama masa Covid-19 (2 tahun) merupakan produk dari proses konstruksi sosial yang dilakukan setiap orang dengan caranya sendiri. Konstruksi sosial itu berpusat pada Covid-19 sebagai suatu realitas baru yang ada di tengah-tengah kita. Setiap orang dihadapkan dengan suatu pilihan menerima pengetahuan baru tentang Covid-19 dan bertindak sesuai dengan itu. Pengetahuan baru itu bersifat formal (protokol kesehatan, PPKM). Selain itu ada juga pengetahuan informal yang tidak terkai langsung dengan penanganan Covid-19, tetapi penting seperti antara lain ramuan tradisional yang memperkuat daya tahan tubuh. Kalau dalam sosiologi pengetahuan yang konvensional, kebudayaan tidak masuk dalam perhitungan, dalam sosiologi pengetahuan baru ilmu pengetahuan itu sendiri (pengetahuan formal) dan pengetahuan yang fungsional dalam kehidupan sehari juga merupakan kebudayaan. Refleksi teoretik dan praktek pekerjaan sosial yang dapat ditarik dari pengetahuan yang berkembang akhir akhir ini adalah perlunya revisi metode intervensi sosial dengan memanfaatkan pengetahuan sehari-hari. Pengetahuan lokal sudah sering digunakan orang dalam pengembangan dan implementasi program.
POTENSI FWA (FIXED WIRELESS ACCESS)-CDMA MENDUKUNG PROGRAM PEMERINTAH INDONESIA DALAM WILAYAH USO (UNIVERSAL SERVICE OBLIGATION) Yuliarman Saragih; Robert M.Z. Lawang; Iwan Setyawan; Eko Sediyono
JREC (Journal of Electrical and Electronics) Vol. 4 No. 2 (2016): JREC (Journal of Electrical and Electronics)
Publisher : Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Islam 45 Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

USO (Universal Service Obligation) merupakan bagian dari kewajiban Pemerintah dalam memberikan pelayanan universal di bidang telekomunikasi dan informatika kepada publik.Kewajiban pelayanan tersebut dilakukan untuk mengurangi kesenjangan komunikasi akses dan digital di daerah khususnya daerah pedesaan, tertinggal, dan terluar serta terdepan, yang secara ekonomi sulit dilakukan oleh penyelenggara telekomunikasi komersial. Program Layanan USO selama ini diawali dengan layanan dasar (voice) hingga layanan data (internet).Hingga saat ini, berdasarkan hasil monitoring evaluasi perkembangan layanan USO, dari sisi anggaran, realisasi rata-rata per tahun sampai dengan 2014 adalah 41%. Hal tersebut menunjukkan belum efektifnya pelayanan USO. Esensi utama rancang ulang adalah tetap melanjutkan program eksisting namun merubah mekanismenya, yaitu tidak lagi bersifat “top down” dari pusat ke daerah tetapi dari daerah ke pusat yang juga disesuaikan dengan kebutuhan daerah, Pemerintah menyiapkan rancangan utama (Grand Design) Program USO dengan asumsi bahwa UU No.36 Tahun 1999 diganti dengan UU Telekomunikasi yang baru atau UU Konvergensi. Potensi yang mungkin dilakukan lewat perangkat PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang mampu menjadi motor pengerak melanjutkan USO dengan mengembangkan kembali FWA-CDMA yang pernah jaya hingga tahun 2015. FWA-CDMA mampu menjawab kebutuhan USO di daerah tertinggal, terluar dan terdepan Negara Indonesia ini karena PT Telkom memiliki infrastruktur telekomunikasi di setiap kecamatan di daerah-daerah tertinggal dan terluar serta terdepan itu. FWA-CDMA dapat di hubungkan langsung ke stasiun sentral telepon terdekat dan base station atau radio pemancarnya dapat dipasang di daerah tersebut dengan memakai pembatasan kode area telepon setempat tapi dapat bergerak dilingkungan daerah itu. Kata Kunci : USO, FWA