Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

POTENSI KEBERHASILAN KULIT UDANG SEBAGAI BAHAN DASAR POLIMER KITOSAN: STUDI LITERATUR Rini Setiati; Septoratno Siregar; Deana Wahyuningrum; M. Taufik Fathaddin
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v6i1.8637

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari potensi yang dimiliki oleh kulit udang sebagai bahan baku polimer kitosan.  Penelitian ini diawali dengan proses pemisalahan kulit udang kitin dan proses kitin menjadi kitosan serta menguji karakteristiknya. Kulit udang dapat diolah menjadi kitosan karena kandungan kitin yang terdapat di dalamnya.  Kitin merupakan bahan organik utama terdapat pada kelompok hewan crustacea, insekta, fungi, mollusca dan arthropoda. Cangkang kepiting, udang dan lobster juga merupakan sumber bahan dasar produksi kitin karena kandungan kitinnya cukup tinggi. Kitin merupakan biopolimer alam paling melimpah kedua setelah selulosa yang tidak beracun dan diproduksi dari limbah kulit udang. Kitosan diolah dari kulit udang melalui proses deproteinasi, demineralisasi dan deasetilasi. Reagen yang digunakan adalah NaOH dan KOH. Kemudian kitosan diuji sifat fisiknya melalui uji kadar air, kadar abu, kadar nitrogen, viskositas, derajat deasetilasi, analisis gugus fungsi dengan spektroskopi IR dan kristalinitas dengan difraksi sinar X. Sifat fisik kitosan dilihat dari bentuk fisik, analisis gugus fungsi dan kristalinitas. Potensi penerapan kitosan, sebagai turunan kitin yang terdeasetilasi, bersifat multidimensi, seperti dalam makanan dan gizi, bioteknologi, ilmu material, obat-obatan dan farmasi, pertanian dan perlindungan lingkungan. Isolasi kitin dari kulit udang dan sintesanya menjadi kitosan, menjadikan kulit udang lebih barmanfaat untuk bidang-bidang lain. Kulit udang yang diolah menjadi kitosan polimer dapat berpotensi untuk digunakan dalam bidang Enhanced Oil Recovery sebagai fluida injeksi kimiawi dalam upaya menaikkan produksi minyak.
Solusi Model Aliran Gas Dalam Pipa pada Kondisi Line Packing Menggunakan Skema Richtmyer Harry Budiharjo Sulistyarso; Suryasatriya Trihandaru; Leksono Mucharam; Septoratno Siregar; Ivanky Saputra; Sinatra Canggih
Journal of Mathematical and Fundamental Sciences Vol. 36 No. 2 (2004)
Publisher : Institute for Research and Community Services (LPPM) ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/itbj.sci.2004.36.2.5

Abstract

Line packing is a process storing gas in pipeline by increasing inlet gas flow rate while outlet gas flow rate is kept constant. This difference of gas flow rate causes the gas flow in pipeline being transient. Line packing process is intended to guarantee gas supply when trouble occurs. In this paper, a transient model with boundary condition is solved numerically using Richtmyer scheme, because stability analysis showed that Richtmyer scheme is better than other explicit schemes. In the case presented, it is shown that Richtmyer scheme sufficiently agrees with the real data in gas pipeline transmission, which is in many cases unsteady-state.
PENGARUH WETTABILITY SURFAKTAN NaLS AMPAS TEBU PADA BATUAN SANDSTONE DALAM PROSES ENHANCED OIL RECOVERY (EOR) Rini Setiati; Septoratno Siregar; Taufan Marhaendrajana; Deana Wahyuningrum
Prosiding Seminar Nasional Pakar Prosiding Seminar Nasional Pakar 2018 Buku I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pakar.v0i0.2596

Abstract

Surfaktan merupakan salah satu fluida injeksi dalam proses EOR untukmenaikkan produksi minyak yang masih tertinggal di reservoir. Salah satujenis surfaktan yang digunakan adalah surfaktan lignosulfonat berbahandasar lignin yang dapat diperoleh dengan proses hidrolisis dan sulfonasi dariampas tebu menjadi produk Surfaktan Natrium Lignosulfonat (NaLS) AmpasTebu. Surfaktan NaLS telah dilakukan uji injeksi pada core sintetis batuansandstone. Hasil penelitian laboratorium menghasilkan perolehan minyaktertinggi terjadi pada injeksi surfaktan pada salinitas 80.000 ppm dengankonsentrasi surfaktan 1,5%. Perolehan terendah terjadi pada injeksi surfaktandengan konsentrasi 4,5% pada salinitas 20.000 ppm. Hasil uji wettability yangtelah dilakukan menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi surfaktanmenghasilkan sistem water wet, berarti pemberian surfaktan NaLS ampastebu mampu membuat sifat permukaan menjadi water wet, sehinggasurfaktan NaLS tersebut memenuhi syarat untuk digunakan sebagai fluidainjeksi. Berdasarkan analisa sudut kontak, sudut kontak yang lebih kecilsurfaktan NaLS ampas tebu 4.5% - 20.000 ppm yaitu 28.14o, perolehan minyakhanya mencapai 1.05%. Sedangkan surfaktan NaLS ampas tebu 1,5% -salinitas 80.000 ppm dengan sudut kontak 50,55o , perolehan minyak jauhlebih besar yaitu mencapai 10,71%. Dengan demikian dapat disimpulkanbahwa konsentrasi surfaktan lebih sedikit menghasilkan sudut kontak yanglebih besar dan memberikan kinerja surfaktan yang lebih baik.
Hasil Studi Laboratorium Penentuan Karakteristik Alamiah Surfaktan Natrium Lignosulfonat Dari Ampas Tebu Sebagai Fluida Injeksi Di Reservoir Minyak Rini Setiati; Septoratno Siregar; Taufan Marhaendrajana; Deana Wahyuningrum
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.039 KB) | DOI: 10.25105/pdk.v3i1.2483

Abstract

Surfaktan Natrium Lignosulfonat (NaLS) dari ampas tebu merupakan salah satu pengembangan surfaktan lignosulfonat yang dibuat dari limbah nabati, yaitu adalah ampas tebu. Pada studi ini telah diperoleh hasil sintesa ampas tebu menjadi surfaktan lignosulfonat yang jika dikembangkan akan dapat menjadi alternatif surfaktan sebagai fluida injesi di reservoir minyak. Dari hasil penelitian dan pengujian yang telah dilakukan, surfaktan NaLS ampas tebu ini mempunyai kesamaan komponen dengan surfaktan lignosulfonat standar yaitu terdiri dari gugus ulur alkena, gugus ulur sulfonat, gugus tekuk karboksilat dan gugus tekuk ester. Berdasarkan analisis spektrum NMR, molekul monomer lignosulfonat tersebut mempunyai atom C, O, H dan S di dalam dengan jumlah atom C = 11, O = 8, H = 16, dan S = 1, sehingga rumus empiris monomer lignosulfonat adalah (C11H16O8S)n, dengan massa molekul relatif 308,06. Berdasarkan struktur monomer lignosulfonat ampas tebu, maka gugus-gugus fungsi dalam strukturnya dapat dikelompokkan sebagai gugus hidrofil atau gugus hidrofob dan dapat dihitung nilai HLB (Hidrofil-lipofilik Balance) yang dimiliki oleh surfaktan NaLS ampas tebu tersebut yaitu sebesar 11,62. Dengan nilai HLB ini maka surfaktan NaLS ampas tebu ini sesuai penggunaannya sebagai sistem tipe emulsi O/W (oil in water), yang berarti surfaktan tersebut larut dalam air dan dapat digunakan sebagai fluida injeksi.
POTENSI KEBERHASILAN KULIT UDANG SEBAGAI BAHAN DASAR POLIMER KITOSAN: STUDI LITERATUR Rini Setiati; Septoratno Siregar; Deana Wahyuningrum; M. Taufik Fathaddin
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 6 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1227.178 KB) | DOI: 10.25105/pdk.v6i1.8637

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari potensi yang dimiliki oleh kulit udang sebagai bahan baku polimer kitosan.  Penelitian ini diawali dengan proses pemisalahan kulit udang kitin dan proses kitin menjadi kitosan serta menguji karakteristiknya. Kulit udang dapat diolah menjadi kitosan karena kandungan kitin yang terdapat di dalamnya.  Kitin merupakan bahan organik utama terdapat pada kelompok hewan crustacea, insekta, fungi, mollusca dan arthropoda. Cangkang kepiting, udang dan lobster juga merupakan sumber bahan dasar produksi kitin karena kandungan kitinnya cukup tinggi. Kitin merupakan biopolimer alam paling melimpah kedua setelah selulosa yang tidak beracun dan diproduksi dari limbah kulit udang. Kitosan diolah dari kulit udang melalui proses deproteinasi, demineralisasi dan deasetilasi. Reagen yang digunakan adalah NaOH dan KOH. Kemudian kitosan diuji sifat fisiknya melalui uji kadar air, kadar abu, kadar nitrogen, viskositas, derajat deasetilasi, analisis gugus fungsi dengan spektroskopi IR dan kristalinitas dengan difraksi sinar X. Sifat fisik kitosan dilihat dari bentuk fisik, analisis gugus fungsi dan kristalinitas. Potensi penerapan kitosan, sebagai turunan kitin yang terdeasetilasi, bersifat multidimensi, seperti dalam makanan dan gizi, bioteknologi, ilmu material, obat-obatan dan farmasi, pertanian dan perlindungan lingkungan. Isolasi kitin dari kulit udang dan sintesanya menjadi kitosan, menjadikan kulit udang lebih barmanfaat untuk bidang-bidang lain. Kulit udang yang diolah menjadi kitosan polimer dapat berpotensi untuk digunakan dalam bidang Enhanced Oil Recovery sebagai fluida injeksi kimiawi dalam upaya menaikkan produksi minyak.
Capacitance Resistance Clustered Model for Mature Peripheral Waterflood Performance Prediction & Optimization Billal Aslam; Hasto Nugroho; Fahriza Mahendra; Rani Kurnia; Taufan Marhaendrajana; Septoratno Siregar
Journal of Earth Energy Engineering Vol. 11 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Islam Riau (UIR) Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jeee.2022.10633

Abstract

Optimizing water injection rate distribution in waterflooding operations is a vital reservoir management aspect since water injection capacities may be constrained due to geographic location and facility limitations. Traditionally, numerical grid-based reservoir simulation is used for waterflood performance evaluation and prediction. However, the reservoir simulation approach can be time-consuming and expensive with the vast amount of wells data in mature fields. Capacitance Resistance Model (CRM) has been widely used recently as a data-driven physics-based model for rapid evaluation in waterflood projects. Even though CRM has a smaller computation load than numerical reservoir simulation, large mature fields containing hundreds of wells still pose a challenge for model calibration and optimization. In this study, we propose an alternative solution to improve CRM application in large-scale waterfloods that is particularly suitable for peripheral injection configuration. Our approach attempts to reduce CRM problem size by employing a clustering algorithm to automatically group producer wells with an irregular peripheral pattern. The selection of well groups considers well position and high throughput well (key well). We validate our solution through an application in a mature peripheral waterflood field case in South Sumatra. Based on the case study, we obtained up to 18.2 times increase in computation speed due to parameter reduction, with excellent history match accuracy.
POTENSI KEBERHASILAN KULIT UDANG SEBAGAI BAHAN DASAR POLIMER KITOSAN: STUDI LITERATUR Setiati, Rini; Siregar, Septoratno; Wahyuningrum, Deana; Fathaddin, M. Taufik
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Volume 6, Nomor 1, Januari 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v6i1.8637

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari potensi yang dimiliki oleh kulit udang sebagai bahan baku polimer kitosan.  Penelitian ini diawali dengan proses pemisalahan kulit udang kitin dan proses kitin menjadi kitosan serta menguji karakteristiknya. Kulit udang dapat diolah menjadi kitosan karena kandungan kitin yang terdapat di dalamnya.  Kitin merupakan bahan organik utama terdapat pada kelompok hewan crustacea, insekta, fungi, mollusca dan arthropoda. Cangkang kepiting, udang dan lobster juga merupakan sumber bahan dasar produksi kitin karena kandungan kitinnya cukup tinggi. Kitin merupakan biopolimer alam paling melimpah kedua setelah selulosa yang tidak beracun dan diproduksi dari limbah kulit udang. Kitosan diolah dari kulit udang melalui proses deproteinasi, demineralisasi dan deasetilasi. Reagen yang digunakan adalah NaOH dan KOH. Kemudian kitosan diuji sifat fisiknya melalui uji kadar air, kadar abu, kadar nitrogen, viskositas, derajat deasetilasi, analisis gugus fungsi dengan spektroskopi IR dan kristalinitas dengan difraksi sinar X. Sifat fisik kitosan dilihat dari bentuk fisik, analisis gugus fungsi dan kristalinitas. Potensi penerapan kitosan, sebagai turunan kitin yang terdeasetilasi, bersifat multidimensi, seperti dalam makanan dan gizi, bioteknologi, ilmu material, obat-obatan dan farmasi, pertanian dan perlindungan lingkungan. Isolasi kitin dari kulit udang dan sintesanya menjadi kitosan, menjadikan kulit udang lebih barmanfaat untuk bidang-bidang lain. Kulit udang yang diolah menjadi kitosan polimer dapat berpotensi untuk digunakan dalam bidang Enhanced Oil Recovery sebagai fluida injeksi kimiawi dalam upaya menaikkan produksi minyak.
A LABORATORY STUDY OF CLAY SWELLING PROBLEM IN CO2 EOR BY CARBONIC ACID INJECTION IN CLAY SANDSTONE sugeng riyono; Aditya Pramada Wicaksono; Lutfi Andhika; Iqbal Fauzi; Billal Maydika Aslam; Rafael Purba; Handita Reksi; Hasian P. Septoratno Siregar
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 40 No 3 (2017)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.40.3.52

Abstract

Signifi cant portion of CO2 is dissolved in reservoir brine during CO2-Enhanced Oil Recovery. Dissolved CO2 forms an acidic environment which could modify rock-fluid interaction. One of the phenomena that could happen due to this interaction is clay swelling which may affect enhanced oil recovery performance. Several experiments were conducted in a number of sandstone core samples, i.e. Imbibition test, Core flood test, Conductivity test, and pH measurement. Imbibition test was conducted to evaluate CO2-saturated brine (approached with carbonic acid) performance toward oil recovery during five days measurement compared with brine imbibition performance. Moreover, core flood experiment was run to determine the effect of dissolved CO2 in brine on injection in sandstone. This is simulated by injecting brine (base case) followed by carbonic acid under 68.3OC. Thus, conductivity and pH of the imbibed fluids (before & after running imbibition test) were measured to justify occurrence of cation exchange. Interpretation of imbibition test indicated that imbibing carbonic acid, at pH value of about four, resulted in loss of oil recovery about 15% compared with brine due to formation damage, caused by clay swelling as sandstone contains clay. The existence of this phenomenon was confirmed by flow resistance at low pH in core sample which was higher than that in brine. This apparent plugging was expected due to severe clay swelling. Meanwhile, the existence of such phenomenon was also clarified with conductivity and pH measurement as there was a great amount of cation exchange. It can be inferred from this study that the rock-fluid interaction from CO2-saturated brine can result in adverse effect, such as injectivity problem and loss of recovery. This finding must be considered in planning CO2 EOR operations, especially when facing condition of watered out oil zone.