Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

STUDY PERILAKU RESPON STRUKTUR SDOF AKIBAT BEBAN INPUT GETAR HARMONIK HORISONTAL REMIGILDUS CORNELIS; ANDI HIDAYAT RIZAL; WILHELMUS BUNGANAEN; ELSY HANGGE
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 21, No 2 (2020): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v21i2.366

Abstract

 AbstrakPenggunaan sistim struktur bangunan gedung berlantai banyak (highrise building) dan langsing menyebakan sistem struktur berperilaku lebih fleksibel walaupun redaman internalnya relatif kecil. Potensi kegagalan dapat terjadi ketika goncangan besar disebabkan oleh gempa atau angin. Untuk itu diperlukan pemahaman perilaku getar struktur baik sistem SDOF atau MDOF. Penelitian ini bertujuan menganalisa secara numerik respon struktur SDOF terhadap input getaran horizontal harmonik. Informasi perilaku respon struktur ini selanjutnya sebagai informasi awal perancangan sistem peredam pada bangunan.Dalam penelitian ini, model struktur SDOF memiliki dimensi real yaitu ukuran balok 30 x 40, ukuran kolom 20 x 30, Modulus Elastisitas adalah 2,2 x 105 cm4, tinggi struktur adalah 3 m, rasio redaman yaitu 5% dan beban merata adalah 2,5 t/m. Beban input dinamik harmonik berupa beban sinusoidal bekerja pada pondasi. Untuk mengetahui respon struktur maka dilakukan variasi terhadap kekakuan yaitu (1) kekakuan struktur SDOF dikalikan 0.5 kekakuan acuan, (2) kekakuan struktur SDOF  dua kali kekakuan acuan, variasi terhadap  massa yaitu (3) massa struktur SDOF dikalikan 0.5 kekakuan acuan, (4) massa struktur SDOF  dua kali massa acuan. Parameter yang dikaji adalah respons struktur yaitu defleksi, kecepatan dan percepatan lantai.Hasil penelitian menunjukkan bahwa defleksi lantai semakin besar ketika massa struktur semakin besar berbanding terbalik dengan peningkatan kekakuan struktur. Defleksi yang terjadi ketika kekakuan struktur semakin kecil (langsing) atau massa struktur diperbesar menunjukkan pola bergelombang pada puncak defleksi menyebabkan trend peningkatan defleksi mengikuti pola eksponensial atau tidak linier.  Hal ini karena efek inersia dari massa struktur yang semakin besar menambah defkleksi pada struktur. Respon kecepatan dan percepatan juga menunjukan pola yang sama dan memiliki nilai negatif atau berlawanan dengan arah datangnya beban getar.  Luaran dari penelitian ini dapat menjadi acuan bagi para perancangan struktur tahan gempa terutama didaerah NTT.Kata Kunci: Respon dinamik, SDOF, Getaran Horisontal
PKM Penggunaan Limbah Plastik Untuk Akuaponik Pada Yayasan Tabor Mulia Kelurahan Lasiana Wilhelmus Bunganaen; Remigildus Cornelis; Denik Sri Krisnayanti; Partogi H. Simatupang; Jusuf J.S Pah; Elsy E. Hangge
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Undana Vol 19 No 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jpkmlppm.v19i1.18857

Abstract

Kupang merupakan ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Timur, yang memiliki kondisi iklim kering, karena musim hujan berlangsung hanya kurang lebih empat bulan dan delapan bulan musim kemarau. Ketersediaan air yang tidak cukup, menyebabkan pengolahan tanah dan tanaman sayur untuk skala rumah tangga terbatas. Begitupula untuk pemeliharaan ikan (kolam ikan) skala rumah tangga mengalami kesulitan. Sehingga diperlukan inovasi untuk pemenuhan kebutuhan, dengan cara pembudidayaan sayur mayur dan ikan air tawar melalui pembuatan akuaponik. Budidaya sayuran dan ikan air tawar melalui teknologi akuaponik dapat dilakukan dengan pemanfaatan limbah plastik. metode yang digunakan dalam pengabdian yakni Metode Diskusi atau Metode Ceramah, Metode Demonstrasi dan Metode Pendampingan. Pada pengabdian ini, sasaran kegiatan yakni para kaum difable di Yayasan Tabor Mulia (YTM) yang terletak di RT. 26 RW 07, Bimoku Kelurahan Lasiana Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur. Hasil dari pelatihan dan demonstrasi yang dilakukan oleh Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM), dalam mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai pemahaman pada kaum difable Yayasan Tabor Mulia (YTM) terkait materi yang diberikan, melalui demonstrasi. Kata kunci: teknologi akuaponik, limbah plastik, kolam ikan, tanaman sayur.
ANALISIS LUAS GENANGAN BANJIR MENGGUNAKAN HEC-RAS PADA DAERAH BENA AKIBAT LUAPAN SUNGAI NOELMINA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN Yakob A Basen; Wilhelmus Bunganaen; John H Frans
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 26, No 2 (2025): Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v26i2.716

Abstract

Abstrak Bena merupakan salah satu desa di Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terdampak beberapa kali banjir sejak tahun 2021 sampai 2024 akibat luapan sungai Noelmina. Penelitian ini menganalisis luas genangan banjir yang terjadi menggunakan aplikasi HEC-RAS. Analisis luas genangan banjir yaitu mengetahui berapa luas genangan banjir yang terjadi disetiap kala ulang. Analisis curah hujan yang digunakan dalam penulisan ini yaitu distribusi normal, distribusi log normal, distribusi gumbel, dan distribusi log person type III, uji keco-cokan distribusi menggunakan chi-kuadrat dan Smirnov Kolmogorov untuk debit banjir yang menggunakan HSS Nakayasu dengan kala ulang 2, 5, 10, 25, 50, 100, 200, 300, 500 tahun. Luasan banjir dianalisis dengan aplikasi HEC-RAS kemudian di overlay dengan batas administrasi desa Bena di aplikasi Arc-Gis untuk mendapatkan berapa besar luasan banjir di desa Bena. Hasil luas banjir kala ulang 2, 5, 10, 25, 50, 100, 200, 300, 500 di dapat sebesar 20.59 km2, 25.64 km2, 30.52 km2, 37.11 km2, 41.56 km2, 44.66 km2, 46.93 km2, 47.56 km2, 49.03 km2. Kata kunci: Analisis Luapan Banjir, HEC-RAS Abstract Bena is a village in the South Amanuban District, South Central Timor Regency, East Nusa Tenggara Province, which was affected by several floods from 2021 to 2024 due to the overflow of the Noelmina River. This study analyzed the extent of flood inundation that occurred using the HEC-RAS application. The analysis of the extent of flood inundation is to find out how much flood inundation occurs at each re-turn period. The rainfall analysis used in this paper is the normal distribution, log normal distribution, gumbel distribution, and log person type III distribution, the distribution goodness of fit test uses chi-square and Smirnov Kolmogorov for flood discharge using HSS Nakayasu with return periods of 2, 5, 10, 25, 50, 100, 200, 300, 500 years. The flood area was analyzed using the HEC-RAS application and then overlaid with the administrative boundaries of Bena village in the Arc-Gis application to obtain the extent of flooding in Bena village. The results of the flood area for return periods of 2, 5, 10, 25, 50, 100, 200, 300, 500 were 20.59 km2, 25.64 km2, 30.52 km2, 37.11 km2, 41.56 km2, 44.66 km2, 46.93 km2, 47.56 km2, 49.03 km2. Keywords: Flood Overflow Analysis, HEC-RAS
ANALISIS JARINGAN PERPIPAAN DISTRIBUSI AIR BERSIH MENGGUNAKAN SOFTWARE EPANET 2.2 (STUDI KASUS PADA KECAMATAN LARANTUKA KABUPATEN FLORES TIMUR) Wilhelmus Bunganaen; Hermanus Louis Diaz; Yunita Messah
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 27, No 1 (2026): Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v27i1.772

Abstract

Abstrak Pemenuhan kebutuhan air bersih di Kecamatan Larantuka dikelola oleh PERUMDA Ina Gelekat Kabupaten Flores Timur. Permasalahan yang dihadapi adalah permasalahan fluktuasi ketersediaan air dan kompleksitas jaringan. Tujuan penelitian untuk mengetahui besar kebutuhan air serta kondisi sistem jaringan dalam memenuhi kebutuhan air 20 tahun mendatang menggunakan software EPANET 2.2. Metode proyeksi penduduk adalah metode aritmatik, geometrik dan eksponensial. Hasil proyeksi jumlah penduduk Kecamatan Larantuka tahun 2041 yaitu 55.214 jiwa dengan kebutuhan air harian maksimum sebesar 71,873 l/dt. Simulasi EPANET 2.2 pada jam 00.00 menunjukkan tekanan terendah pada J780 yaitu 10,04 m dan tertinggi pada J2102 yaitu 189 m, kecepatan terendah pada PT28 yaitu 0,06 m/dt dan tertinggi pada PT17 serta PT18 yaitu 2,15 m/dt. Pada jam 06.00 (jam puncak daerah pelayanan 1) diperoleh tekanan terendah pada J842 yaitu 10,38 m dan tertinggi pada J2633 yaitu 206,24 m, kecepatan terendah pada PT211 serta 43 pipa lainnya yaitu 0,01 m/dt dan tertinggi pada PT60 yaitu 2,65 m/dt. Sedangkan pada jam 18.00 (jam puncak daerah pelayanan 2) diperoleh tekanan terendah pada J2518 dan J2519 yaitu 10,09 m dan tertinggi pada J2633 yaitu 174,52 m, kecepatan terendah pada PT9 serta 77 pipa lainnya yaitu 0,01 m/dt dan tertinggi pada PT60 yaitu 1,79 m/dt. Kata kunci: Jaringan pipa, EPANET 2.2, Tekanan, Kecepatan. Abstract The clean water supply in Larantuka District is managed by PERUMDA Ina Gelekat, Flores Timur Regency. Challenges include water availability fluctuations and network complexity. This study aims to determine water demand and assess the network for the next 20 years using EPANET 2.2 software. Population projections used arithmetic, geometric, and exponential methods. The 2041 projection estimates a population of 55,214 and a maximum daily water demand of 71,873 l/s. EPANET 2.2 simulations at 00:00 show the lowest pressure at J780 as 10.04 m and the highest at J2102 as 189 m. The lowest velocity at PT28 with 0.06 m/s and the highest at PT17 and PT18 with 2.15 m/s. At 06:00 (peak hour for service area 1), the lowest pressure at J842 is 10.38 m and the highest at J2633 is 206.24 m. The lowest velocity at PT211 and 43 other pipes with 0.01 m/s, and the highest at PT60 with 2.65 m/s. At 18:00 (peak hour for service area 2), the lowest pressure at J2518 and J2519 is 10.09 m and the highest at J2633 is 174.52 m, with the lowest velocity at PT9 and 77 other pipes at 0.01 m/s, and the highest at PT60 with 1.79 m/s. Keywords: Pipeline network, EPANET 2.2, Pressure, Velocity.