Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

SENI BENJANG GULAT SEBAGAI SIMBOL IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT UJUNG BERUNG Aprilla Putri Wahyuni; Neneng Yanti Khozanatu Lahpan; Yuyun Yuningsih
Jurnal Budaya Etnika Vol 5, No 1 (2021): Hubungan Imajinasi, Kreativitas, Perubahan, dan Mitos Identitas: Mang Koko, Moti
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v5i1.1590

Abstract

ABSTRAK Artikel ini berisi hasil penelitian mengenai perkembangan Benjang dan struktur keseniannya, pemaknaan masyarakat Ujung Berung terhadap Benjang Gulat, serta analsis terhadap simbol identitas budaya masyarakat Ujung Berung yang terdapat dalam Benjang Gulat. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui pengolahan data menggunakan teknik triangulasi. Analisis yang dilakukan menekankan identitas budaya sebagai konsep utama, serta teori interpretivisme simbolik sebagai pisau bedah dalam penelitian ini. Hasil penelitian ditinjau menggunakan sudut pandang etik dan emik, menemukan bahwa masyarakat Ujung Berung memaknai Benjang Gulat sebagai sesuatu yang penting dalam kehidupan mereka dan sudah menjadi ciri khas yang melekat dalam kebudayaan masyarakatnya, Benjang Gulat identik dengan masyarakat Ujung Berung, begitupun masyarakat Ujung Berung yang identik dengan keberadaan Benjang Gulat. Oleh karena itu, Benjang Gulat dimaknai sebagai simbol identitas budaya masyarakat Ujung Berung.Kata Kunci: Benjang Gulat, Ujung Berung, Identitas Budaya ABSTRACT This article is about the development of Benjang and a structure of Benjang, the interpretation of Ujung Berung community to Benjang Gulat, and the analysis of the cultural identity symbols of Ujung Berung attached to Benjang Gulat. This study is conducted by using qualitative descriptive method with tabulation of data by using tringulasi technique. The analysis focused on cultural identity as the main concept, with the symbolic interpretivism as a theoritical framework for this study. The results are analyzed in etic and emic perspective. The results are analyzed in etic and emic perspective. The results are, Benjang Gulat is the important symbol for Ujung Berung community, that has been identified in their cultural activities, so it can be concluded that Benjang Gulat means a cultural identity symbols of Ujung Berungcommunity.Keywords: Benjang Gulat, Ujung Berung, Cultural Identity
MAKNA BUDAYA POHON AREN DALAM PENDEKATAN EKOLOGI BUDAYA DI KAMPUNG ADAT DUKUH, CIKELET, GARUT Iip Sarip Hidayana; Neneng Yanti Khozanatu Lahpan
PANGGUNG Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.141 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2298

Abstract

Bagi masyarakat adat, hubungan manusia dengan alam sangatlah penting. Ketergantungan manusia pada alam membuat perlakuan dan penghormatan kepada alam menjadi bagian dari nilai hidup yang dianut. Ketika terjadi perubahan dalam memperlakukan alam, maka terjadi pergeseran dan perubahan pada nilai yang mereka anut. Pohon aren merupakan simbol penting dalam lahirnya kampung adat Dukuh di Garut, Jawa Barat. Namun demikian, pergeseran nilai aren secara ekonomis menjadikan pengelolaan pohon itu semakin berkurang. Hal itu tentunya dapat mengancam nilai-nilai dan kebertahanan budaya masyarakat adat tersebut. Melalui penelitian kualitatif dengan menggunakan metode etnografi, penelitian ini bermaksud mengungkap aspek historis dan makna budaya pohon aren bagi masyarakat adat Dukuh melalui pendekatan ekologi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki kekayaan pengetahuan khusus dalam mengelola pohon aren yang berbasis kearifan lokal. Lebih jauh, pohon aren juga memiliki makna kultural yang penting yang menggambarkan pandangan hidup masyarakat adat Dukuh. Fungsi terpenting pohon aren bagi masyarakat dukuh adalah untuk menjaga ketahanan budaya sebagai salah satu bahan baku rumah adat, dan media pewarisan nilai-nilai budaya. Kata kunci: pohon aren, pola penanaman tradisional, makna budaya, masyarakat adat, kampung Dukuh
Producing Appropriation: Negotiating Islam-Sunda in Terebang Sejak Neneng Yanti Khozanatu Lahpan
International Journal of Nusantara Islam Vol 2, No 2 (2014): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v2i2.147

Abstract

This article is an ethnographic account of my research on negotiating Islam and Sunda in Islamic Sundanese music. By taking special case of Terebang Sejak, I draw my attention on the issue based on my fieldwork in Cikeusal village, TasikMalaya, West Java. Observations and interviews are the main tools I used in gathering information. By presenting particularity of Terebang Sejak, this paper aims to present complexity and negotiations that are formed from the interaction between Islam and Sunda in the music in the village. In this context, presenting the idea of the truism of marginalizing Islam on local culture is in accordance with the idea of Indonesian modernity, which has parallelism with the mission of modernist Islam. While many scholars describe Islam in Indonesia with the idea of syncretism to depict the religion as ‘not really Islam’, in this article I provide different interpretation of localizing Islam by which people produce their own interpretation and appropriation in response to social and political changes in their environs. This interpretation will contribute to new understanding in addressing the particularity of meanings based on local knowledge, among Cikeusal people that forms what coded as ‘identity’ of being Muslim-Sunda. Here, Islamic text of Kitab Mulud in the music has played an agentive role to acknowledge the music as Islamic, thus continues to be part of ritual. 
Pemanfaatan Ruang Publik Bagi Pengembangan Wisata Berbasis Seni Budaya Lokal Neneng Yanti Khozanatu Lahpan; Bagas Dwipantara Putra; Iip Sarip Hidayana; Winna Shafanissa
PANGGUNG Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3368

Abstract

Ruang publik merupakan elemen penting dalam pengembangan pariwisata budaya, khususnya sebagai ruang bagi disajikannya atraksi seni. Dorongan pemerintah melalui UU Kepariwisataan Nomor 10 tahun 2009 dan UU Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 tahun 2017 telah mendorong sejumlah kelompok masyarakat berinisiatif dalam mengembangkan ruang publik untuk kepentingan pengembangan seni budaya lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui pariwisata budaya. Salah satunya dalah Rumah Budaya CKLT di desa Cijambe kecamatan Cikelet, Garut, yang memiliki fokus pada pendampingan dalam rekonstruksi maupun revitalisasi seni tradisi dan penyelenggaraan kegiatan budaya yang dikemas menjadi daya tarik wisata. Melalui pendekatan participatory action research (PAR), penelitian ini menekankan pentingnya aspek pemberdayaan masyarakat, dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam penelitian. Metode dalam pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan FGD. Community-based tourism merupakan konsep penting dalam melihat keterlibatan masyarakat dalam pengemasan paket wisata ini. Hasilnya adalah 1) pendeskripsikan potensi seni dan aktivitas budaya di desa yang dapat menjadi materi atau bahan dalam pengemasan paket seni, 2) ruang publik di Rumah Budaya CKLT didesain sedemikian rupa agar dapat memenuhi fungsi ruang atraksi seni budaya yang dapat manjadi tujuan dari kunjungan pariwisata, 3) pengemasan paket wisata seni dapat dikembangkan sebagai sarana untuk peningkatan ekonomi masyarakat Kata kunci: ruang publik, pariwisata budaya, pengemasan seni budaya, peningkatan ekonomi
MAKNA BUDAYA POHON AREN DALAM PENDEKATAN EKOLOGI BUDAYA DI KAMPUNG ADAT DUKUH, CIKELET, GARUT Iip Sarip Hidayana; Neneng Yanti Khozanatu Lahpan
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2298

Abstract

Bagi masyarakat adat, hubungan manusia dengan alam sangatlah penting. Ketergantungan manusia pada alam membuat perlakuan dan penghormatan kepada alam menjadi bagian dari nilai hidup yang dianut. Ketika terjadi perubahan dalam memperlakukan alam, maka terjadi pergeseran dan perubahan pada nilai yang mereka anut. Pohon aren merupakan simbol penting dalam lahirnya kampung adat Dukuh di Garut, Jawa Barat. Namun demikian, pergeseran nilai aren secara ekonomis menjadikan pengelolaan pohon itu semakin berkurang. Hal itu tentunya dapat mengancam nilai-nilai dan kebertahanan budaya masyarakat adat tersebut. Melalui penelitian kualitatif dengan menggunakan metode etnografi, penelitian ini bermaksud mengungkap aspek historis dan makna budaya pohon aren bagi masyarakat adat Dukuh melalui pendekatan ekologi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki kekayaan pengetahuan khusus dalam mengelola pohon aren yang berbasis kearifan lokal. Lebih jauh, pohon aren juga memiliki makna kultural yang penting yang menggambarkan pandangan hidup masyarakat adat Dukuh. Fungsi terpenting pohon aren bagi masyarakat dukuh adalah untuk menjaga ketahanan budaya sebagai salah satu bahan baku rumah adat, dan media pewarisan nilai-nilai budaya. Kata kunci: pohon aren, pola penanaman tradisional, makna budaya, masyarakat adat, kampung Dukuh
Pemanfaatan Ruang Publik Bagi Pengembangan Wisata Berbasis Seni Budaya Lokal Neneng Yanti Khozanatu Lahpan; Bagas Dwipantara Putra; Iip Sarip Hidayana; Winna Shafanissa
PANGGUNG Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3368

Abstract

Ruang publik merupakan elemen penting dalam pengembangan pariwisata budaya, khususnya sebagai ruang bagi disajikannya atraksi seni. Dorongan pemerintah melalui UU Kepariwisataan Nomor 10 tahun 2009 dan UU Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 tahun 2017 telah mendorong sejumlah kelompok masyarakat berinisiatif dalam mengembangkan ruang publik untuk kepentingan pengembangan seni budaya lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui pariwisata budaya. Salah satunya dalah Rumah Budaya CKLT di desa Cijambe kecamatan Cikelet, Garut, yang memiliki fokus pada pendampingan dalam rekonstruksi maupun revitalisasi seni tradisi dan penyelenggaraan kegiatan budaya yang dikemas menjadi daya tarik wisata. Melalui pendekatan participatory action research (PAR), penelitian ini menekankan pentingnya aspek pemberdayaan masyarakat, dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam penelitian. Metode dalam pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan FGD. Community-based tourism merupakan konsep penting dalam melihat keterlibatan masyarakat dalam pengemasan paket wisata ini. Hasilnya adalah 1) pendeskripsikan potensi seni dan aktivitas budaya di desa yang dapat menjadi materi atau bahan dalam pengemasan paket seni, 2) ruang publik di Rumah Budaya CKLT didesain sedemikian rupa agar dapat memenuhi fungsi ruang atraksi seni budaya yang dapat manjadi tujuan dari kunjungan pariwisata, 3) pengemasan paket wisata seni dapat dikembangkan sebagai sarana untuk peningkatan ekonomi masyarakat Kata kunci: ruang publik, pariwisata budaya, pengemasan seni budaya, peningkatan ekonomi
PLURALITAS MAKNA DALAM “BEN GO TUN” KARYA SAINI K. M. MELALUI SEMIOTIKA BARTHESIAN Lahpan, Neneng Yanti Khozanatu
Adabiyyāt: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajbs.2022.06205

Abstract

This article discusses one of Saini K.M’s drama plays entitled Ben Go Tun (1977), which was published in a book titled Five Witnesses (1999, 2000). The play is regarded as one of the best texts written by this senior playwright, which emphasizes on social problems and inequality in the setting of the New Order Era. Through literature studies and Barthesian's semiotic approach, this paper intends to explore various meanings in the text, in which a literary work is seen as a plural sign system. In its analysis processes, this approach follows a number of steps or procedures that include: 1) the division of the text into units of analysis (lexia), 2) the interpretation of lexias, and 3) a list of codes and their interpretations. Through hermeneutic, semic, symbolic, proairetic, and cultural codes, a number of interpretations are obtained, which illustrate that in the Ben Go Tun manuscript, there are some voices and perspectives in seeing the problems that arise in the story. The drama script is very dynamic in presenting the characters. It also presents various social criticisms with symbols that appear in diverse characters.
E-SPORTS DAN INTERAKSI SUBKULTUR GAMER DI INDONESIA Widhiawan, Ilham Dwipa; K. Lahpan, Neneng Yanti; Hidayana, Iip Sarip
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 1 (2025): NASIONALISME GLOBALISASI E-SPORT GAMERS: RESIPROSITAS JEJARING KESENIAN DAN KEP
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i1.2042

Abstract

Abstrak: Penelitian ini menyorot pada bagaimana e-sports sebagai suatu budaya massa yang mempengaruhi pola interaksi subkultur gamer di Indonesia, baik interaksi sesama gamer atau gamer dengan masyarakat luas. Penelitian ini juga menjelaskan jenis-jenis interaksi pada gamer dan berbagai macam klasifikasi gamer. Dalam hal ini, pengaruh perkembangan e-sports pada pola interaksi yang terbentuk dikaji melalui konsep medium is the message (teori dari Marshall McLuhan). Penelitian ini dilakukan dengan deskriptif kualitatif melalui pengumpulan data menggunakan metode teknik etnografi virtual Metode ini dipilih karena penelitian ini memiliki batasan data yaitu komunikasi dan interaksi yang hanya diambil dari media virtual, dalam hal ini; video platform Youtube Gaming; 4 video game yang bersifat kompetitif yaitu Valorant, Mobile Legends, PUBG Mobile, dan Free Fire. Hasil penelitian mengemukakan 1) Perkembangan e-sports sebagai ‘medium’ dan 2) Perubahan pola interaksi gamer Indonesia sebagai ‘the message’. Kata kunci: Interaksi, Permainan video, E-sports, Youtube.   Abstrak: This study focuses on how e-sports as a mass culture influences the interaction patterns of gamer subcultures in Indonesia, both among gamers or gamers with the wider community. This study also describes the types of interactions among gamers and various classifications of gamers. In this case, the influence of the development of e-sports on the interaction patterns formed is studied through the concept of the medium is the message (the theory of Marshall McLuhan). This research was conducted with a qualitative descriptive method through data collection using virtual ethnographic techniques. This method was chosen because this research has data limitations, namely communication and interaction which are only taken from virtual media, in this case; Youtube Gaming video platform; 4 competitive video games, specifically Valorant, Mobile Legends, PUBG Mobile, and Free Fire. The results of the research suggest 1) The development of e-sports as a 'medium' and 2) Changes in the interaction pattern of Indonesian gamers as 'the message'. Keywords: Interaction, Video games, E-sports, Youtube.
ANALISIS LIMINALITAS PADA RITUAL BUBUKA SENI REAK DI KAMPUNG RANCABANGO RANCAEKEK BANDUNG Novianti, Galih Suci; K. Lahpan, Neneng Yanti; Yuningsih, Yuyun
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 1 (2025): NASIONALISME GLOBALISASI E-SPORT GAMERS: RESIPROSITAS JEJARING KESENIAN DAN KEP
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i1.2044

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mempunyai fokus kajian terkait permasalahan bagaimana sebuah ritual bubuka dapat mendatangkan perasaan aman dan merasa dilindungi bagi rombongan grup seni Reak grup Cuta Muda menggunakan teori Liminalitas Victor Turner. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan tekhnik pengumpulan data berupa observasi ke lapangan, wawancara terstruktur, studi pustaka dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat ruang liminalitas pada saat ritual bubuka yang dapat menghilangkan ke khawatiran rombongan grup seni Reak Cuta Muda yang dialami langsung oleh pemimpin ritual. Hal tersebut ditandai dengan adanya persembahan melalui sesajen sebagai bentuk negosiasi kepada makhluk adikodrati. Melalui ritual bubuka, rombongan grup merasa aman dan merasa dilindungi saat kesenian Reak berlangsung. Kata kunci: Kesenian Reak, ritual bubuka, liminalitas.   Abstract: This research focuses on studies that communicated the problem of how a powder ritual can bring the excitement of safety and insurance to the Reak group, and the Cuta Muda group, utilizing Liminality Victor Turner. This research utilizes qualitative research methods, with data assortment techniques in the aspect of observations, structured conferences, literature studies, and documentation. The outcomes revealed that there was an expanse of liminality during the ritual which could eradicate the concerns of the Reak Cuta Muda art group that were encountered promptly by the ritual leader. This is captioned by the existence of contributions through contributions as an aspect of negotiation with supernatural beings. Through the ritual, the group felt safe and conserved during Reak's performing arts. Keywords: Reak art, bubuka ritual, liminality.  
MAKNA BUDAYA POHON AREN DALAM PENDEKATAN EKOLOGI BUDAYA DI KAMPUNG ADAT DUKUH, CIKELET, GARUT Hidayana, Iip Sarip; Lahpan, Neneng Yanti Khozanatu
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2298

Abstract

Bagi masyarakat adat, hubungan manusia dengan alam sangatlah penting. Ketergantungan manusia pada alam membuat perlakuan dan penghormatan kepada alam menjadi bagian dari nilai hidup yang dianut. Ketika terjadi perubahan dalam memperlakukan alam, maka terjadi pergeseran dan perubahan pada nilai yang mereka anut. Pohon aren merupakan simbol penting dalam lahirnya kampung adat Dukuh di Garut, Jawa Barat. Namun demikian, pergeseran nilai aren secara ekonomis menjadikan pengelolaan pohon itu semakin berkurang. Hal itu tentunya dapat mengancam nilai-nilai dan kebertahanan budaya masyarakat adat tersebut. Melalui penelitian kualitatif dengan menggunakan metode etnografi, penelitian ini bermaksud mengungkap aspek historis dan makna budaya pohon aren bagi masyarakat adat Dukuh melalui pendekatan ekologi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki kekayaan pengetahuan khusus dalam mengelola pohon aren yang berbasis kearifan lokal. Lebih jauh, pohon aren juga memiliki makna kultural yang penting yang menggambarkan pandangan hidup masyarakat adat Dukuh. Fungsi terpenting pohon aren bagi masyarakat dukuh adalah untuk menjaga ketahanan budaya sebagai salah satu bahan baku rumah adat, dan media pewarisan nilai-nilai budaya. Kata kunci: pohon aren, pola penanaman tradisional, makna budaya, masyarakat adat, kampung Dukuh