Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Transformasi Budaya lslam di Kerajaan Bone pada Abad ke XVII Rahmawati Rahmawati; Mohd. Azizuddin Mohd. Sani
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 16 No 1 (2016): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/JAd.v17i116i1a3

Abstract

The purpose of this study is to analyze and also describe about the transformation of local culture towards Islamic culture at Bone Kingdom on 17th century. In cultural study, one of the most interesting objects to be known is to explore the form of culture when the integration process has been done. The study will be focused on Islamic culture, when Islam emerged at South Celebes on 13th until 17th century by our ulemas (Datu ri Bandang, Datu Patimang, and Datu ri Tiro), particularly at Bone region. On 17th century, Bone’s ruler gave some penetration to tackle Islam, spreading to their region (Bone still as an independent Kingdom). After musu assellenggeng or Islamic war, Bone’s ruler had accepted Islam as their religion.
Dunia Islam di Era Modern pada Masa Tunisia Rahmawati Rahmawati
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 12 No 2 (2012): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The islamization in Tunisia applied Maliki School, a sect that has existed in 8 century. Anyhow, most of ulama also adhered Asy’ariyah theology and eternalize religious tradition such Maulid ceremony, reciting sufistic rite. However, the Islamic progress in this country decreased following the political waves happening in Tunisia, notebly in Franch colony. Along the Franch protectoral, there had been two religious movement namely, traditional and modern.
Islam di Asia Tenggara Rahmawati Rahmawati
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 2 No 01 (2014): OKTOBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v2i01.1350

Abstract

Islam came and berkembangan in Southeast Asia has a process with a wide range of channels in its spread, such as through trade channels, channel marriage, Sufism channels, educational channels, line art and political channels, but Islam is a religion that inspired the Alqurani so easy diterimah by community local. Overall the history of Muslims in Southeast Asia has led to struggle once articulation and assimilation with the local culture, so as to produce a new culture that is dynamic and unique, a liberal civilization of Southeast Asia. With the acceptance of Islam in peace then, as well as the development of Islamic civilization in its various aspects Therefore, Southeast Asia is a struggle field, as well as acculturation and assimilation of local culture, as well as among local cultural sesame. Therefore in Asia Tenggaralah live and develop various religious systems.
Perspektif Baru dalam Proses Penyebaran Islam di Kerajaan Bone Sulawesi Selatan Indonesia pada Abad ke 17 Rahmawati Rahmawati
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 3 No 01 (2015): OKTOBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v3i01.1375

Abstract

The purpose of this research is to observe the new perspective in spreading Islam in Bone Kingdom on 17th century. There are a lot of discourses in historian’s arguments about when Islam firstly appeared in Nusantara, especially in South Celebes. Based on a fact, Islam was brought by clerics from Minangkabau i.e. Datu ri Bandang, Datu Patimang dan Datu Itiro. In spite of the fact was talking about islamization process in South Celebes which was brought by clerics, we will found that Bone Kingdom had a different condition. Bone in fact, had accepted Islam after joined in a war, named Musu Asselleng (The war of Islamization). The result of that war, Bone had accepted Islam after defeated by Gowa Kingdom in 1611.
ISLAM DALAM PEMERINTAHAN KERAJAAN BONE PADA ABAD XVII Rahmawati Rahmawati
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 5 No 1 (2017): Rihlah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3180

Abstract

Islam dalam pemerinahan kerajaan Bone pada abad ke-17. Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahawa reaksi masyarakat Bone dalam pemerintahan ketika Islam diperkenalkan oleh raja bisa dikatakan sangat cepat dan tidak mendapat halangan dari masyarakat maupun dari raja yang turut memberikan impak untuk menghindari konflik antara adat dan sara. Sementara itu bagi masyarakat Bone, realitas keislaman sebenarnya jauh lebih kompleks dari gambaran tersebut. Disatu sisi, agama Islam memang telah menjadi sebahagian dan hadir dalam berbagai macam aspek dalam kehidupan sosial masyarakat Bone. Hal ini dapat dilihat pada praktik peribadatan mereka, nama-nama Muslim yang mereka sandang, kewujudan berbagai macam kegiatan sosial lslam dengan adanya lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan sebagainya.
Corak Pemikiran Tokoh-Tokoh Intelektual Islam Di Abad Kontemporer hasriyoda hasriyoda; Yasser Mulla Shadra; Syamsan Syukur; Rahmawati Rahmawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2317

Abstract

  Kajian ini membahas tentang pola pikir tokoh intelektual Islam kontemporer, dengan fokus pada Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abu Zayd, Sayyid Qutb, dan Seyyed Hossein Nasr. Setiap tokoh mewakili pendekatan berbeda dalam menanggapi tantangan modernitas dan dinamika perubahan sosial di kalangan umat Islam. Melalui metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan historis dan tekstual, penelitian ini mengungkap bahwa al-Afghani dan Abduh mengusung gaya reformis-modernis; Fazlur Rahman menawarkan pendekatan rasional dan kontekstual terhadap Al-Qur'an; Abu Zayd mengembangkan hermeneutika kritis terhadap teks-teks keagamaan; Sayyid Qutb menekankan ideologi Islam sebagai sistem kehidupan yang komprehensif; dan Seyyed Hossein Nasr menghadirkan spiritualitas Islam tradisional sebagai solusi atas krisis peradaban modern. Temuan-temuan ini menunjukkan adanya keberagaman perspektif produktif dalam wacana pemikiran Islam kontemporer, sekaligus pentingnya penggalian terus-menerus warisan intelektual Islam guna membangun respons Islam yang kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman.
Latar Belakang Muncul dan Berkembangnya Pembaharuan Dalam Islam Maria Ulfah Ashar; Anis Abdurrahman; Andi Hasriani Hasfar; Makrifa Makrifa; Rahmawati Rahmawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5826

Abstract

Munculnya pembaharuan dalam Islam (tajdīd) merupakan respons historis terhadap kemunduran peradaban Islam serta meningkatnya tantangan modernitas. Setelah melemahnya dinamika intelektual pasca kejatuhan pusat-pusat keilmuan klasik, umat Islam menghadapi stagnasi epistemologis yang ditandai dengan menguatnya praktik taklid dan merosotnya etos ijtihad. Sejak abad ke-18, berbagai pemikir dan reformis Muslim berupaya melakukan reinterpretasi ajaran Islam agar selaras dengan tuntutan rasionalitas, perkembangan ilmu pengetahuan, dan kompleksitas sosial. Tokoh seperti Ibnu Taimiyah dan Muhammad ibn Abd al-Wahhāb menekankan purifikasi akidah dan pemurnian praktik keberagamaan, sementara Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh memperkenalkan pendekatan modernisme Islam yang mengintegrasikan wahyu, rasionalitas, dan kemajuan sains. Dalam konteks abad ke-20, Fazlur Rahman memperluas gagasan pembaharuan dengan menawarkan rekonstruksi metodologis berbasis hermeneutika dan maqāṣid al-sharīʿah untuk menjawab persoalan sosial kontemporer. Tujuan penelitian. Untuk untuk mengkaji latar belakang teologis, sosial, dan epistemologis munculnya pembaharuan Islam yang melatarbelakangi munculnya gerakan pembaharuan Islam dari periode klasik hingga era modern. Metode. Kualitatif-deskriptif dengan pendekatan historis melalui analisis sumber primer dan sekunder terkait perkembangan pemikiran pembaharuan. Hasil Penelitian. Menunjukkan bahwa pembaharuan Islam lahir dari tiga faktor utama, yaitu kemunduran peradaban Islam dan melemahnya Lembaga keilmuan, pengaruh rasionalisme Barat yang mendorong refleksi ulang terhadap metodologi berpikir Islam, dan kebutuhan mendesak untuk mengontekstualisasikan ajaran Islam dalam menghadapi dinamika sosial, politik, dan ilmu pengetahuan modern. Kesimpulan. Pembaharuan Islam merupakan bentuk revitalisasi epistemologi Islam agar tetap relevan dan adaptif dalam menghadapi perubahan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip fundamental syariat.