Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Wana Raksa

Keanekaragaman Ficus Spp. di Gunung Tilu RPH Karangkancana BKPH Luragung KPH Kuningan Perum Perhutani Divre Jabar-Banten Rani Mardiani Hardinah; Yayan Hendrayana; Deni Deni
Wanaraksa Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v11i2.4413

Abstract

Abstrak: Ficus adalah pohon yang memulai hidupnya sebagai epifit ketika bijinya bersemai dicelah atau retakan pohon induknya (atau struktur seperti bangunan dan jembatan). Keberadaan Ficus pada kawasan hutan Gunung Tilu dapat dijadikan sebagai indikator proses terjadinya suksesi hutan karena peran dari satwa liar yang memakan bijinya dan kemudian memicu terjadinya komunitas lanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengehetahui keanekaragaman ficus spp. dan pola sebaran jenis ficus spp. yang terdapat di kawasan Hutan Gunung Tilu RPH Karangkancana dengan metode kombinasi. Data dianalisis dengan intensitas sampling, indeks Keragaman dan indeks Morisita. Hasil penelitian ditemukan 11 jenis ficus spp. jenis Beunying (Ficus fistulosa) 39 individu , Bunut (Ficus glabella BL.) 23 individu,  Calodas (Ficus Callophylla Blume.) 20 individu, Caringin (Ficus benjamina L) 58 individu, Ki Darangdang (Ficus cusvidata) 37 individu ,  Ki Hampelas (Ficus ampelas Burm.F.) 6 individu, Kiara Beas (Ficus Sundaica Blume) 12 individu,  Kiara Karasak (Ficus kurzii king.) 32 individu,  Kondang (Ficus variagata Bl.) 45 individu, Leles (Ficus glandulifera (wall.Exmiq)King) 56 individu, Renghas (Ficus alba) ditemukan 63 individu. Kawasan hutan lindung Gunung Tilu jenis ficus spp. merupakan habitat yang baik berdasarkan kerapatannya, frekuensi,dan dominasi vegetasinya, dilihat dari jumlah individu dan keragaman jenis di setiap plot yang ditemukan dengan persebaran yang mengelompok.Kata Kunci : Hutan Lindung; Gunung Tilu; keanekaragaman; ficus spp.; satwaliar
PERDAGANGAN SATWA LIAR JENIS KUKANG (Nycticebus sp) DI PASAR HEWAN PLERED KECAMATAN WERU KABUPATEN CIREBON Erni Nuraeni; Toto Supartono; Deni Deni
Wanaraksa Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v12i1.4541

Abstract

Perdagangan satwa liar ilegal merupakan ancaman serius terhadap pelestarian satwa liar di Indonesia. Kukang adalah salah satu primata yang paling banyak diperdagangkan baik di pasar tradisional dan pasar online (cyber market). Masuknya kukang di Appendix I dari Konvensi Perdagangan yang Terancam Punah (CITES), menurut IUCN kukang dikategorikan sebagai Terancam Kritis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data menggunakan observasi, investigasi, literatur, wawancara berbagai pihak terkait perdagangan satwa liar. Analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan ada aktivitas perdagangan spesies kukang liar yang terjadi di pasar hewan Plered. Motif pedagang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, fasilitas dan infrastruktur yang memadai, dan promosi oleh komunitas pecinta hewan melalui media sosial. Pola perdagangan satwa liar yang dilindungi melalui pemburu, pengepul, pedagang dan pembeli. Penegakan hukum di Indonesia tentang perdagangan satwa liar tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 7/1999 tentang Pelestarian Spesies Tanaman dan Satwa dan Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Upaya yang perlu dilakukan oleh pemerintah yaitu pendekatan dan pengawasan pemerintah untuk mengendalikan pembelian hewan. Memperkuat pelaksanaan pengamanan peraturan dan penegakan hukum yang konsisten terhadap pelanggaran. Kata kunci: perdagangan satwa liar; kukang; hewan yang dilindungi; terancam punah
Keanekaragaman Jenis Mamalia Besar di Kawasan Bukit Sarongge RPH Ciniru BKPH Garawangi KPH Kuningan Peni Apriyani; Iing Nasihin; Deni Deni
Wanaraksa Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v11i2.4414

Abstract

Abstrak: Bukit Sarongge merupakan kawasan hutan lindung yang secara administrasi terletak di Desa Pinara, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan, yang juga merupakan hutan yang dikelola oleh Perhutani Kuningan, BKPH Garawangi, RPH Ciniru. Penelitian ini difokuskan pada mamalia besar yang memiliki berat badan lebih dari 5 kilogram. Keberadaan mamalia sangat berperan penting dalam keseimbangan ekosistem alam, karena mamalia memiliki peranan ekologis sebagai indikator kerusakan habitat dan pencemaran udara. Tumbuhan juga berperan bagi keberlangsungan hidup mamalia sebagai sumber makanan, bahkan hewan karnivora sesungguhnya sangat bergantung pada tumbuhan karena makanannya merupakan hewan herbivora. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis mamalia besar dan struktur vegetasi sebagai penyedia pakan. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai Desember 2016 dikawasan bukit Sarongge dengan menggunakan metode transek garis dan analisis vegetasi. Jenis mamalia besar yang ditemukan terdapat 5 jenis yaitu babi hutan (Sus scrofa), kijang (Muntiacus muntjak), lutung jawa (Trachypithecus auratus), macan tutul (Panthera pardus), surili (Presbytis comata). keanekaragaman jenis yaitu H’= 1,13 menunjukan bahwa tingkat keanekaraman jenis mamalia besar termasuk kriteria sedang. Sedangkan nilai kemerataan jenis yaitu J’= 0,70 yang menunjukan bahwa tingkat komunitas dalam keadaan yang cukup merata. Dan untuk jenis tumbuhan yang paling mendominasi pada tingkat semai, pancang, tiang, pohon yaitu jenis mahoni (Swittenia mahagoni). Kata kunci : Bukit Sarongge, vegetasi, indikator; keanekaragaman jenis; mamalia besar.
KEAWETAN ALAMI JENIS KAYU JATI (Tectona grandis, linn. F.), MAHONI (Swietenia macrophylla King) DAN SENGON (Paraserianthes falcataria, L) PADA UMUR 5 TAHUN Chandra Candiana; Sulistyono Sulistyono; Deni Deni
Wanaraksa Vol 13, No 01 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v13i1.4647

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dipandang perlu dilakukan mengingat banyak jenis kayu dari hutan rakyat khususnya jenis jati, mahoni dan sengon yang sering digunakan oleh masyarakat Kuningan sebagai bahan bangunan ataupun bahan furniture yang belum diketahui keawetannya di ruangan terbuka dan tertutup. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan keawetan alami jenis kayu jati, mahoni dan sengon di ruangan terbuka dan tertutup.Metode pengujian kualitas alami jenis kayu jati, mahoni, dan sengon di ruangan ruangan terbuka menggunakan metode Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-7207-2006. Sedangkan pengujian kualitas alami jenis kayu jati, mahoni, dan sengon di ruangan terbuka menggunakan metode uji lapangan (grave yard test) America Society for Testing Materials (ASTM) D 17558-02. Berdasarkan hasil pengujian keawetan alami kayu umur 5 tahun pada ruangan tertutup, Kayu Jati (Kelas Awet II) dan kayu Mahoni (Kelas Awet II) Sedangkan kayu Sengon memiliki nilai keawetan yang lebih rendah (Kelas Awet III). Berdasarkan hasil pengujian keawetan alami kayu umur 5 tahun pada ruangan terbuka, Kayu Jati dan kayu Sengon memiliki  (Nilai Keawetan 7) Sedangkan kayu Mahoni (Nilai Keawetan 6).Kata Kunci: Keawetan Alami; Jati; Mahoni; Sengon; ruangan terbuka; ruangan tertutupABSTRACT. This research is deemed necessary considering that there are many types of wood from community forests, especially teak, mahogany and sengon which are often used by the Kuningan community as building materials or furniture materials whose durability is unknown in open and closed spaces. The purpose of this study was to determine the natural durability of teak, mahogany and sengon species in open and closed spaces. The method of testing the natural quality of teak, mahogany, and sengon wood in open spaces uses the Indonesian National Standard (SNI) 01-7207-2006 method. . Meanwhile, testing the natural quality of teak, mahogany, and sengon wood in open spaces uses the American Society for Testing Materials (ASTM) D 17558-02 field test method. Based on the results of natural durability testing for wood aged 5 years in a closed room, teak wood (Durability Class II) and Mahogany wood (Durability Class II), while Sengon wood has a lower durability value (Durability Class III). Based on the test results of natural durability of wood aged 5 years in open spaces, teak wood and Sengon wood have (Durability Value 7) while Mahogany wood (Durability Value 6).Keywords: Natural Durability; Teak; Mahogany; Sengon; open room; closed room.