Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Keanekaragaman Tanaman Pangan Kehutanan Pada Lahan Agroforestri Di Desa Haurkuning Kecamatan Nusaherang Kabupaten Kuningan Dian Rudiansah; Ai Nurlaila; Ika Karyaningsih
Wanaraksa Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v12i2.4571

Abstract

Kebutuhan pangan terus meningkat dari tahun ke tahun dan salah satu upaya dalam meningkatkan produksi pangan adalah dengan mengolah lahan hutan yang berpotensi tanaman pangan dengan sistem agroforestri yang terdapat di Desa Haurkuning. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret hingga Juni 2018 dan bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tanaman pangan kehutanan pada lahan agroforestri dan status budidayanya. Penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara kepada setiap petani agroforestri yang memiliki luas 0,25 ha dengan cara random sampling. Menurut Peraturan Menteri Kehutanan: 35 / Kementerian Kehutanan-II / 2007 di Desa Haurkuning terdapat 19 jenis tanaman pangan yang terdiri dari 5 jenis tanaman sebagai sumber karbohidrat, 13 jenis tanaman penghasil buah dan 2 penghasil minyak lemak. 60% dari tanaman pangan ini dibudidayakan oleh masyarakat, yang meliputi penyiapan benih, penanaman, pemeliharaan, dan panen. Kata Kunci: Agroforestri; Status Budidaya; Keanekaragaman; Desa Haurkuning
Identifikasi Jenis Dan Pemanfaatan Bambu Di Hutan Gunung Tilu Blok Banjaran Kabupaten Kuningan Nurkholis Nurkholis; Nina Herlina; Ai Nurlaila
Wanaraksa Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v11i2.4411

Abstract

Abstrak. Masyarakat di Desa Jabranti Blok Banjaran hanya memanfaatkan bambu sebagai bahan dasar kerajinan keranjang dan tepas. Bambu dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, bahan berkhasiat obat, bahan konsumsi, bahan kerajinan, bahan alat musik. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Hutan Gunung Tilu blok Banjaran Kecamatan Karangkancana Kabupaten Kuningan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis bambu dan morfologi jenis bambu dan mengetahui manfaat dari setiap bambu yg ditemukan. Metode yang digunakan adalah metode jelajah yaitu dengan cara menjelajahi objek penelitian. Ketika ditemukan rumpun bambu, maka dibuat petak ukur, kemudian dicatat, jenis bambu dan pohon yang terdapat di sekelilingnya. Jenis bambu yang ditemukan di Hutan Gunung Tilu Blok Banjaran sebanyak 5 genus, yaitu  4 bambu Gigantochloa, 3 bambu Bambusa, dua bambu Schizostachyum dan satu bambu Dendrocalamus. Manfaat dari beberapa jenis bambu tersebut adalah untuk bahan banguan,kerajinan tangan, obat, bahan konsumsi, alat musik,  dan bahan bangunan.Kata Kunci: Identifikasi jenis bambu, pemanfaatan bambu.
PENGARUH PEMBERIAN ZAT PENGATUR TUMBUH SERTA LAMA PERENDAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN STEK KENANGA (Cananga odorata (Lam.) Hook.f & Thomson) Egy Silvani Pratama Putri; Ai Nurlaila; Ika Karyaningsih
Wanaraksa Vol 13, No 01 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/wanaraksa.v13i01.4648

Abstract

ABSTRAK. Kenanga merupakan jenis pohon penghasil bunga yang memiliki keharuman yang khas. Bunga kenanga banyak digunakan sebagai bahan pembuatan minyak atsiri karena baunya yang harum. Di Kuningan, pohon kenanga sudah dikenal banyak orang. Karena kurangnya minat masyarakat untuk membudidayakannya, lama-kelamaan tanaman kenanga semakin jarang ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh, interaksi, dan perlakuan terbaik pemberian zat pengatur tumbuh dan lama perendaman terhadap pertumbuhan stek kenanga. Penelitian eksperimental ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 2 faktor perlakuan yaitu ZPT dan lama perendaman dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Data akan dianalisis menggunakan Analisis Variansi (ANOVA) dan jika terdapat pengaruh yang signifikan dari hasil analisis variasi, maka selanjutnya dilakukan uji beda nyata dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil ragam menunjukkan bahwa perlakuan ZPT dan waktu perendaman secara mandiri tidak berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah tunas dan tinggi tunas. Sedangkan interaksi antara ZPT dan waktu perendaman berpengaruh nyata terhadap jumlah parameter tunas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan Z2P3 (Rootone-F 200 ppm dengan lama perendaman 3 jam) menunjukkan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan stek kenanga.Kata Kunci: Kenanga; Zat Pengatur Tumbuh; Rootone-F; Ekstrak Bawang Merah; Lama Perendaman
Asosiasi Vegetasi Terhadap Komunitas Burung di Kampus I Universitas Kuningan Nurdin Nurdin; Ai Nurlaila; Dede Kosasih; Nina Herlina
Quagga : Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 12, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v12i2.2672

Abstract

Interaksi ekologis antara vegetasi dan burung di Kampus I Universitas Kuningan merupakan sifat naluriah alami yang membentuk suatu asosiasi saling menguntungkan. Pembangunan dikhawatirkan berdampak terhadap penurunan tingkat keanekaragaman jenis burung sebagai bioindikator kualitas lingklungan. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kekayaan, keanekaragaman, dominansi jenis pohon dan burung, serta menganalisis asosiasi pohon terhadap komunitas burung di Kampus I UNIKU.  Hasil analisis data terdapat 42 jenis  dan 378 pohon, tingkat kekayaan(DMg=6,9) dan keanekaragaman jenis (H’=2,9)termasuk sedang didominasi oleh Polyalthia longifolia 86 batang.  Burung tercatat 19 jenis dan 1485 ekor, tingkat kekayaan (DMg=2,47) dan keanekaragaman jenis (H’=1,67) katagori rendah didominasi oleh Passer montanus 652 ekor. Asosiasi vegetasi pohon dan burung berdasarkan Key Performance Indeks (KPI) pada penilaian terhadap fungsi ekologis pohon menunjukan bahwa persentase jumlah tertinggi dengan katagori sangat baik (SB) adalah fungsi modifikasi sebagai  pohon penaung 22 jenis. Sedangkan pada fungsi sebagai kontrol kelembaban udara dan menghadirkan burung dengan katagori baik (BA) terdapat 13 jenis. Katagori buruk (BU) terdapat 2 jenis yaitu pada fungsi sebagai kontrol kelembaban udara dan menghadirkan burung. Kesimpulan penelitian ini bahwa asosiasi vegetasi pohon dan burung berdasarkan KPI  pada  penilaian  terhadap fungsi ekologis pohon untuk memodifikasi suhu sebagai penanung, pengontrol kelembaban udara, dan  fungsi menghadirkan burung katagori baik. Semakin tinggi nilai keanekeragaman jenis tumbuhan dan burung di Kampus I UNIKU, maka semakin tinggi pula kekayaan jenisnya. 
PEMANFAATAN SAMPAH ORGANIK SEBAGAI BIOHANDSANITIZER DAN BIODESINFEKTAN BERBASIS ECO-COMMUNITY UNTUK MENCEGAH PENYEBARAN VIRUS CORONA Nurdin Nurdin; Iing Nasihin; Nina Herlina; Toto Supartono; Dede Kosasih; Ai Nurlaila
Jurnal Berdaya Mandiri Vol. 3 No. 2 (2021): Jurnal Berdaya Mandiri (JBM: EDISI KERJASAMA STIE EKUITAS BANDUNG)
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.551 KB) | DOI: 10.31316/jbm.v3i2.1780

Abstract

Covid-19 telah menyebar secara luas keseluruh dunia melaluli perantara manusia ke manusia. Upaya memutus mata rantai penyebaran virus tersebut salah satunya dengan menjalankan perilaku hidup sehat dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Upaya tersebut dimulai dari tingkatan rumah tangga melalui suatu komunitas peduli lingkungan Bale Riung yang kemudian dikenal dengan  “Bale Riung Eco Community (BREC). Kegiatan diawali dengan fermentasi sampah organik buah dan sayuran untuk menghasilkan eco enzyme. Setelah itu eco enzyme dibuat biohandsanitizer dan biodesinfektan. Pengurangan sampah organik mulai terlihat sebagai dampak positif  pengolahan sampah organik tersebut. Masyarakat sudah mulai menggunakan biodesinfektan untuk mengepel lantai, mencuci bak mandi dan membersihkan kaca. Tidak ditemukan indikasi adanya iritasi kulit setelah penggunaan biohandsanitizer.  Lingkungan rumah menjadi lebih bersih dan segar serta terbebas dari gangguan serangga yang membahayakan kesehatan. Kandungan asam asetat (H3COOH) dalam eco enzyme dapat membunuh kuman, virus dan bakteri. Sedangkan kandungan enzyme lipase, tripsin, amilase  mampu membunuh /mencegah bakteri patogen. Kata Kunci: Covid-19, sampah, eco enzyme, biohandsanitizer, biodesimfektan.
Identification of Diversity of Medicinal Plants in Bukit Mayana Forest Area, Kuningan Regency Agus Yadi Ismail; Sukron Aminudin; Ilham Adhya; Ai Nurlaila; Nurdin
Quagga: Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 15 No 2 (2023): QUAGGA : Jurnal Pendidikan dan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v15i2.47

Abstract

Bukit Mayana Forest Area is a forest area in Kuningan Regency with an area of ±43 ha with a diversity of medicinal plant species that have not been fully identified. The purpose of this study was to identify the diversity of medicinal plants in the Bukit Mayana Forest Area, Kuningan Regency. The method used is a single-plot method that is placed by purposive sampling with a size of 100 x 80 meters which is divided into sub-plots with a total of 20 plots. The data obtained are then analyzed using the important value index (INP), species diversity index (H'), species richness index (R'). The results showed that medicinal plants were found in 34 types from 23 families.  The highest important value index (INP) at the tree, pole, and stake levels is Ficus fistulosa with index values of 38.16%, 91.13%, and 64.68% and seedling levels are Coffea with an index value of 15.26%.  The species diversity index (H') is medium with values of 1 < H' > 3 and the species wealth index is low with R' < 3.5.
ETNOBOTANI TUMBUHAN BERGUNA PADA MASYARAKAT DESA LEGOKHERANG KECAMATAN CILEBAK KABUPATEN KUNINGAN Khairunisa Amalia; Ai Nurlaila; Yayan Hendrayana
Journal of Forestry And Environment Vol 6, No 1 (2023): Journal of Forestry and Environment
Publisher : Faculty of Forestry and Environment, Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jfe.v6i1.9069

Abstract

Legokherang Village is an agrarian village so that agriculture, livestock and plantations develop well. Besides that, there are still traditional cultures such as Sidekah Bumi and Pesta Dadung that take advantage of agricultural products and plants  from  their  environment. It  is  important  to  document  the  ethnobotany knowledge of the Legokherang Village community to determine the use of plants, the parts of plants used and how to process them so that the community's knowledge in the use of plants is not lost. Research on ethnobotany of useful plants in Legokherang Village was carried out by survey methods and semi- structured interviews or questionnaires with the determination of respondents based on the snow ball sampling technique.. The results showed that the number of   species   obtained   from   ethnobotany   were   125   species   and   53   plant families. Food-producing plants and medicinal plants were mostly used, namely 39 species and 31 species. The most useful part of the plant is the leaves, for plant processing it is done in several ways, namely burning, boiling, pounding, slicing and using it directly without processing.Keywords: ethnobotany, useful plants
UPAYA REVEGETASI LAHAN BEKAS TAMBANG PASIR DI DESA CIPANCUR KECAMATAN KALIMANGGIS KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT Nunu Ristanu; Ika Karyaningsih; Ai Nurlaila
Journal of Forestry And Environment Vol 5, No 1 (2022): Journal of Forestry and Environment
Publisher : Faculty of Forestry and Environment, Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jfe.v5i1.9046

Abstract

This research is a study of several pioneer plant growth on former sand mining species with fast growing plant species which also have beneficial value for society such as sengon (Paraserianthes falcataria), acacia (Acacia mangium), mango (Mangifera indica) and salam (Eugenia). folyantha). Planting was carried out directly at the former sand mining site with the input of organic materials in the form of compost, manure and charcoal in various doses as treatment. Next, the percentage of plant life was also calculated to determine the growth response to the actual biotic and abiotic conditions of ex-mining land. The results of the research show that the quality of the soil on the former sand mining land in Cipancur village is very poor in nutrients even though the soil pH is relatively normal and tends to be alkaline, namely 7.42. All plants are able to grow and adapt to the land with various levels of adaptation. Each type of plant responds differently to the organic fertilizer treatment given. The sengon type gave the best growth response in all treatments. Adding organic material and applying compost gave the best effect on all plants.Penelitian ini merupakan penelitian tentang pertumbuhan beberapa tanaman pionir di lahan bekas tambang pasir dengan jenis tanaman fast growing spesies yang juga memiliki nilai manfaat untuk masyarakat seperti jenis sengon (Paraserianthes falcataria), akasia (Acacia mangium), mangga (Mangifera indica) dan salam (Eugenia pholyantha).  Penanaman dilakukan di lokasi bekas tambang pasir secara langsung dengan input bahan organic berupa kompos, pupuk kandang dan arang dengan berbagai takaran sebagai perlakuan. Selanjutnya dihitung pula persentase hidup tanaman untuk mengetahui respon pertumbuhan pada kondisi biotik dan abiotik lahan bekas tambang sebenarnya. Hasil penelitian menunjukkan kualitas tanah pada lahan bekas tambang pasir di desa Cipancur sangat miskin hara walaupun pH tanah nya sudah relative normal cenderung basa yaitu sebesar 7.42.  Seluruh tanaman mampu tumbuh dan beradaptasi di lahan tersebut dengan berbagai tingkat adaptasi. Tiap-tiap jenis tanaman memberikan respon yang berbeda terhadap perlakuan pupuk organic yang diberikan. Jenis sengon memberikan respon pertumbuhan terbaik pada seluruh perlakuan penambahan bahan organic dan pemberian pupuk kompos memberikan pengaruh terbaik pada seluruh tanaman
ANALISIS POTENSI DAN PEMANFAATAN TANAMAN AREN (Arenga pinnata Merr.) OLEH MASYARAKAT DI DESA TUNDAGAN KECAMATAN HANTARA KABUPATEN KUNINGAN Sylvana Sylvana; Ai Nurlaila; Deni Deni
Journal of Forestry And Environment Vol 5, No 2 (2022): Journal of Forestry and Environment
Publisher : Faculty of Forestry and Environment, Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jfe.v5i2.9043

Abstract

Tundagan Village is an area known as a producer of productive and high-quality brown sugar or palm sugar. Palm sugar is increasingly popular and in demand by the public along with public awareness to consume low-calorie foods. That is, palm sugar is actually in demand because of changing consumption patterns and awareness of natural ingredients that are better for the body. The high demand for palm sugar like this has made the people of Tundagan Village able to increase their economy through non-timber forest products (HHBK) the aren plant type. The problem with the potential and utilization of sugar palm (Arenga pinnata Merr.) is the lack of information about the production of sugar palm and the limitations of the types of production from the sugar palm plant. The purpose of this study was to determine the potential and utilization of sugar palm (Arenga pinnata Merr.) in Tundagan Village, Hantara District, Kuningan Regency. The method used in this study is research with observation, interviews, and questionnaires. The results of the identification of potential sugar palm plants in Tundagan Village showed that 34.1% of the unproductive plants, 17.5% were almost productive, 29.5% productive plants and 18.8% were not productive. The use of sugar palm plants by the people of Tundagan Village is still limited to sap, kolang kaling and palm fiber water. The community uses the sap water for the manufacture of printed sugar which will be commercialized later. Meanwhile, by-products such as kolang kaling and palm fiber are generally used by the community themselves, but are sometimes sold at certain times or seasons to support the economy.Desa Tundagan merupakan suatu daerah yang dikenal sebagai penghasil gula merah atau gula aren yang produktif serta memiliki kualitas tinggi. Gula aren semakin popular dan diminati masyarakat seiring dengan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi makanan rendah kalori, Artinya, gula aren justru diminati karena pola konsumsi yang berubah dan kesadaran akan bahan-bahan alami yang lebih baik bagi tubuh. Tingginya permintaan gula aren seperti ini membuat masyarakat Desa Tundagan bisa meningkatkan perekonomiannya melalui Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) jenis tanaman aren. Permasalahan potensi dan pemanfaatan tanaman aren (Arenga pinnata Merr.) adalah minimnya informasi mengenai hasil produksi tanaman aren serta keterbatasan jenis produksi dari tanaman aren tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi serta pemanfaatan tanaman aren (Arenga pinnata Merr.) di Desa Tundagan Kecamatan Hantara Kabupaten Kuningan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dengan metode observasi, wawancara, dan kuesioner. Hasil identifikasi potensi tanaman aren di Desa Tundagan menunjukan bahwa tanaman yang belum produktif sejumlah 34,1%, hampir produktif 17,5%, tanaman yang produktif 29,5% dan yang tidak produktif itu di angka 18,8%. Pemanfaatan tanaman aren oleh masyarakat Desa Tundagan masih sebatas air nira, kolang kaling dan ijuk. Masyarakat memanfaatkan air nira untuk pembuatan gula cetak yang nantinya dikomersilkan. Sedangkan hasil ikutan seperti kolang kaling dan ijuk secara umum dimanfaatkan sendiri oleh masyarakat, namun terkadang dijual pada waktu atau musim tertentu untuk menunjang perekonomian
Tumbuh Bersama Alam: Demplot Tanaman Semusim dengan Pupuk Organik Cair Berbasis Mikroorganisme untuk Kesejahteraan Lingkungan Ilham Adhya; Toto Supartono; Yayan Hendrayana; Nina Herlina; Ai Nurlaila; Fahrul Shobarudin Syahban; Naufal Althaf
Journal of Innovation and Sustainable Empowerment Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jise.v4i3.93

Abstract

Penggunaan pupuk organik cair berbahan mikroorganisme lokal telah menjadi topik penting dalam konteks pertanian berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki manfaat penggunaan pupuk organik cair tersebut dalam meningkatkan produktivitas tanaman dan kesejahteraan ekonomi petani. Metode penelitian melibatkan penerapan pupuk organik cair berbahan mikroorganisme lokal pada demplot tanaman semusim di lab rumah kaca Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Universitas Kuningan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik cair berbahan mikroorganisme lokal menghasilkan tanaman yang lebih sehat, meningkatkan kesuburan tanah, dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit. Selain itu, penggunaan pupuk organik cair juga mengurangi biaya produksi dan meningkatkan kemandirian ekonomi petani. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik cair berbahan mikroorganisme lokal memiliki potensi besar dalam mendukung pertanian berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.