Pemsy M. Wowor, Pemsy M.
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

UJI EFEK ANALGESIK EKSTRAK KULIT BATANG POHON MATOA (Pometia pinnata) PADA MENCIT (Mus musculus) Lumintang, Rafly F.; Wuisan, Jane; Wowor, Pemsy M.
e-Biomedik Vol 3, No 2 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i2.8620

Abstract

Abstract: Pain is an unpleasant sensation that derives from the complex neurochemical processes in the central and peripheral nervous systems. Side effects of drugs inter alia opioids and NSAIDs can cause serious disorders, therefore, it is necessary to find and develop other effective analgesic drugs with low toxicity. In Indonesia, matoa (Pometia pinnata) is known as a typical plant in Papua especially in West Papua. In some countries, parts of matoa plants are used as traditional medicine. This study aimed to determine the analgesic effect of matoa bark extract (Pometia pinnata) on mice Mus musculus. This was an experimental study. Nine male mice weighed 30 g were divided into 3 groups, each consisted of 3 mice. Group I, the negative control group, was given aquadest; group II, the positive control group, was given aspirin solution; and group III, the treated group, was given matoa bark extract. Analgesic effect was determined by counting the mice movements (licking their back legs or jumping) during 1 minute in a beaker with a temperature of 550C. The results showed that after 30 minutes the average number of movements of the treated group decreased from 22 times to 19.3 times, and continued to decrease until 1 movement after 120 minutes. Conclusion: Matoa bark extract showed analgesic effect on mice Mus musculus.Keywords: analgesic effect, matoa bark, miceAbstrak: Nyeri adalah sensasi yang tidak menyenangkan yang berasal dari proses neurokimia kompleks di sistem saraf pusat dan perifer. Opioid dan golongan AINS dapat menimbulkan efek samping yang cukup berat; oleh karena itu, diperlukan obat analgesik yang efektif dengan toksisitas rendah. Di Indonesia, matoa (Pometia pinnata) dikenal sebagai tanaman khas Papua terutama Papua Barat. Di beberapa negara, bagian-bagian dari tanaman matoa telah digunakan sebagai obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek analgesik ekstrak kulit batang pohon matoa (Pometia pinnata) pada mencit Mus musculus. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Sembilan ekor mencit jantan dengan berat rata-rata 30 g dibagi atas 3 kelompok hewan uji yang masing-masing terdiri dari 3 ekor mencit. Kelompok I yaitu kelompok kontrol negatif diberikan akuades; kelompok II yaitu kelompok kontrol positif diberikan larutan aspirin; dan kelompok III yaitu kelompok perlakuan diberikan ekstrak kulit batang matoa. Efek analgesik berupa jumlah gerakan mencit selama 1 menit saat diletakan di dalam beker dengan suhu tetap 550C. Gerakan yang dihitung berupa gerakan menjilat kaki belakang atau meloncat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada menit ke-30 terjadi penurunan rerata jumlah respon gerakan mencit dari 22 kali menjadi 19,3 kali yang terus berkurang hingga menit ke-120 dimana hanya terdapat 1 gerakan. Simpulan: Ekstrak kulit batang pohon matoa memiliki efek analgesik pada mencit Mus musculus.Kata kunci: efek analgesik, kulit batang matoa, mencit
GAMBARAN INDEKS MASSA TUBUH PADA ANGGOTA SENAT MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN MANADO Tandean, Natasya; Mewo, Yanti; Wowor, Pemsy M.
e-Biomedik Vol 3, No 3 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i3.9628

Abstract

Abtract: Obesity has become a major problem in developed countries as well in developing countries due to its increasing prevalence in adult as well as in kids. There are two types of obesity, general obesity and abdominal obesity. Body mass index (BMI) is calculated based on the body mass weight in kilogram divided by the body height in meter square (kg/m2). This study aimed to obtain the BMIs of the student members of Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. This was a descriptive study with a cross sectional design. Samples were 20 students. The results showed that based on the Asia Pacific criteria, students with BMI <18.5 were 0%; BMI 18.5-22.9 15%; BMI 23-24.9 (overweight) 10%; BMI 25-29.9 (obese I) 65%; and BMI ≥30 (obese II) 10%.Keywords: body mass index, obesity, overweightAbstrak: Obesitas menjadi masalah di seluruh dunia baik di negara maju maupun negara berkembang karena prevalensinya yang meningkat pada orang dewasa dan anak-anak. Terdapat dua jenis obesitas, yakni obesitas umum dan obesitas abdominal/sentral. Obesitas umum dapat diukur dengan mengunakan indeks massa tubuh (IMT). Indeks massa tubuh diukur berdasarkan berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat (kg/m2). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui IMT pada anggota senat mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif dengan rancangan potong lintang. Sampel diambil dari 20 orang anggota senat mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Data indeks massa tubuh yang diperoleh dari penelitian selanjutnya diklasifikasikan sesuai dengan kriteria yang dipergunakan untuk Asia Pasifik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa IMT <18,5 sebesar 0%, IMT 18,5-22,9 sebesar 15%, IMT 23-24,9 (overweight) sebesar 10%, IMT 25-29,9 (Obesitas I) sebesar 65%, dan IMT ≥30 (Obesitas II) sebesar 10%.Kata kunci: indeks massa tubuh, obesitas, overweight
TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA PROFESI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI TERHADAP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI RSGMP UNSRAT MANADO Purnamasari, Juwita; Wowor, Pemsy M.; Tambunan, Elita
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9836

Abstract

Abstract: Antibiotics are substances produced by microbes, especially fungi that can inhibit or eradicate other microbial species. The use of antibiotics in Indonesia is very alarming. According to WHO, Indonesia was ranked 8th out of 27 countries that were resistant to antibiotics. The health workers’ knowledge, especially of dentists and professional students is needed to prevent the irrational use of antibiotics. This was a descriptive study with a cross sectional approach. Samples were as many as 71 Dentistry Study Program students in RSGMP Unsrat. The instrument used in the study was a questionnaire about knowledge of antibiotic usage. The results showed that 64.79% of students had poor knowledge level of antibiotic usage. Conclusion: In this study, most students of Dentistry Study Program in RSGMP Unsrat Manado belonged to the poor category in knowledge of antibiotic usage.Keywords: knowledge, use of antibioticsAbstrak: Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba terutama fungi yang dapat menghambat atau membasmi mikroba jenis lain. Penggunaan antibiotik di Indonesia sangat memprihatinkan. Data WHO menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-8 dari 27 negara resisten terhadap antibiotik. Tingkat pengetahuan para tenaga kesehatan khususnya dokter gigi dan mahasiswa profesi sangat dibutuhkan untuk mencegah pemakaian antibiotik yang tidak rasional yang dapat menimbulkan banyak sekali kerugian. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Sampel yang digunakan sebanyak 71 mahasiswa profesi Program Studi Pendidikan Dokter Gigi. Instrumen penelitian ialah kuesioner tentang pengetahuan antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dari 64,79% mahasiswa profesi terhadap penggunaan antibiotik di RSGMP Unsrat Manado termasuk dalam kategori kurang baik. Simpulan: Sebagian besar mahasiswa profesi Program Studi Pendidikan Dokter Gigi di RSGMP Unsrat Manado memiliki tingkat pengetahuan mengenai penggunaan antibiotik termasuk dalam kategori kurang baikKata kunci: pengetahuan, penggunaan antibiotik