Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ANALISIS KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN MUARA ENIM Ilunanwati, Elok; Balliwati, Yayuk Farida; Sukdandar, Dadang
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan JURNAL ILMU PERIKANAN VOLUME 6 TH 2011
Publisher : Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKetahanan pangan merupakan urusan wajib pemerintah. Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan pembangunan untuk menjamin ketahanan pangan berkelanjutan. Salah satu sasaran yang perlu dicapai adalah jumlah ketersediaan pangan (dalam bentuk ketersediaan energy harian 2.200 kkal/kapita) serta beragam atas dasar gizi seimbang yang ditandai dengan pola makan diinginkan atau Pola Pangan Harapan (PPH) dengan skor 100. Kondisi ketahanan pangan penduduk kabupaten Muara Enim belum memadai oleh karena itu, penelitian retrospektif dengan tujuan utama untuk menganalisis kebijakan pemerintah dan pengembangan ketahanan pangan untuk mencapai kondisi keamanan pangan yang berkelanjutan dilakukan di Kabupaten Muara Enim di Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan pada bulan September sampai Oktober 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) situasi ketersedian pangan penduduk kabupaten Muara Enim 2003-2009, rata-rata telah dapat memenuhi total kebutuhan kalori ideal (2.200 kkal/kapita/hari). Namun masih didominasi oleh padi-padian (beras), sedangkan untuk kelompok pangan lain masih belum mencukupi. Mutu ketersedian pangan belum memenuhi skor PPH ketersedian yang dianjurkan dan ditargetkan akan dicapai pada 2015 sesuai dengan SPM (standar pelayanan minimal) bidang ketahanan pangan. Konsumsi pangan dengan sistuasi penduduk pada tahun 2007 dan 2009 sudah melebihi jumlah  yang dianjurkan dari 2000 kkal/kapita/hari tetapi belum seimbang. Dalam kondisi, kualitas konsumsi pangan penduduk menunjukkan perbaikan tetapi belum mencapai kondisi ideal, 2) diperlukan penajaman dalam sinkronisasi antar dokumen perencanaan dan penetapan sasaran pembangunan secara kuantitatif.
MEMBANGUN PERIKANAN PERAIRAN UMUM BERBASIS KEARIFAN LOKAL Arsyad, M. Nasyiruddin; Ilunanwati, Elok; Saefudin, Akbar
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Ilmu - ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Desember 2003
Publisher : Faculty Fisheries Departement Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1810.321 KB)

Abstract

Environment degradation and irrational fishing pushed the riverine fisheries resources in South Sumatra in critical condition. Eventhough government rules on fishing activity was established, it was not supported by law supermation in the field. On the other hand, water resources management called lelang lebak lebung has been established and practiced by the local people. This study tried up to describe and analyze the local knowledge on water resources management and suggested some alternatives to its development.Keywords : riverin fisheries, government rules, local people, local knowledge
ANALISIS KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN MUARA ENIM Ilunanwati, Elok; Balliwati, Yayuk Farida; Sukdandar, Dadang
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 6, No 1 (2011): Jurnal Ilmu - ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Desember 2011
Publisher : Faculty Fisheries Departement Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7607.646 KB)

Abstract

AbstrakKetahanan pangan merupakan urusan wajib pemerintah. Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan pembangunan untuk menjamin ketahanan pangan berkelanjutan. Salah satu sasaran yang perlu dicapai adalah jumlah ketersediaan pangan (dalam bentuk ketersediaan energy harian 2.200 kkal/kapita) serta beragam atas dasar gizi seimbang yang ditandai dengan pola makan diinginkan atau Pola Pangan Harapan (PPH) dengan skor 100. Kondisi ketahanan pangan penduduk kabupaten Muara Enim belum memadai oleh karena itu, penelitian retrospektif dengan tujuan utama untuk menganalisis kebijakan pemerintah dan pengembangan ketahanan pangan untuk mencapai kondisi keamanan pangan yang berkelanjutan dilakukan di Kabupaten Muara Enim di Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan pada bulan September sampai Oktober 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) situasi ketersedian pangan penduduk kabupaten Muara Enim 2003-2009, rata-rata telah dapat memenuhi total kebutuhan kalori ideal (2.200 kkal/kapita/hari). Namun masih didominasi oleh padi-padian (beras), sedangkan untuk kelompok pangan lain masih belum mencukupi. Mutu ketersedian pangan belum memenuhi skor PPH ketersedian yang dianjurkan dan ditargetkan akan dicapai pada 2015 sesuai dengan SPM (standar pelayanan minimal) bidang ketahanan pangan. Konsumsi pangan dengan sistuasi penduduk pada tahun 2007 dan 2009 sudah melebihi jumlah  yang dianjurkan dari 2000 kkal/kapita/hari tetapi belum seimbang. Dalam kondisi, kualitas konsumsi pangan penduduk menunjukkan perbaikan tetapi belum mencapai kondisi ideal, 2) diperlukan penajaman dalam sinkronisasi antar dokumen perencanaan dan penetapan sasaran pembangunan secara kuantitatif.
Effect of Extraction Time on Chemical, Physical and Organoleptic Characteristics of South Asian Applesnail (Pila ampullacea) Protein Concentrate Hasanah, Nurul; Nasyiruddin, Riya Liuhartana; Utpalasari, Rih Laksmi; Ilunanwati, Elok; Navicha, Willard Burton
Indonesian Journal of Health Research and Development Vol. 2 No. 3 (2024): Indonesian Journal of Health Research and Development (November)
Publisher : CV Media Inti Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58723/ijhrd.v2i3.249

Abstract

This research aims to investigate the effect of protein extraction time using 90% ethanol on the protein concentrate product's physical, chemical, and organoleptic characteristics. The findings of this study could promote the use of protein concentrate developed from SAA. The study was conducted from April to June 2024, utilizing SAA collected from rice fields in the PALI (Penukal Abab Lematang Ilir) Regency, South Sumatra Province, Indonesia. A completely randomized design was employed, using different extraction times of proteins from SAA with 90% ethanol. Four extraction time levels were tested: 0 hours (P0 or control), 24 hours (P1), 28 hours (P2), and 32 hours (P3), each with three repetitions. Data were analyzed using ANOVA, followed by a post-hoc test employing Duncan's multiple range test, utilizing SPSS version 20.0. Results have shown that the optimal protein extraction time was P2 (28 hours), yielding a protein concentration of 51.6% on a dry basis. Additionally, protein profile analysis conducted via SDS-PAGE revealed the presence of histone proteins and an antibacterial protein derived from snail mucus in SAA. Treatment P2 exhibited five distinct protein bands with molecular weights of 17 kDa, 20 kDa, 25 kDa, 35 kDa, and over 48 kDa respectively. On the other hand, treatments P1 and P3 displayed only three protein bands that are 20 kDa, 35 kDa, and over 48 kDa. Results from the organoleptic analysis indicated that protein isolates with suitable attributes in terms of color and aroma were obtained from treatment P1 (24-hour extraction). This study has potential applications in the food industry.
Fish Allergy: Recent Advances in Diagnostics and Innovative Processing Technologies for Allergen Management Nasyiruddin, Riya Liuhartana; Raza, Husnain; Navicha, Willard Burton; Sulieman, Abdellatief A.; Ilunanwati, Elok
International Journal of Food Sciences and Nutrition Innovations Vol. 1 No. 1 (2025): International Journal of Food Sciences and Nutrition Innovations (June)
Publisher : CV. Media Inti Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58723/ijfsni.v1i1.10

Abstract

Background: Fish allergy is a major immunological concern that affects sensitive individuals worldwide, primarily due to stable fish proteins such as parvalbumin. The allergenic potential differs across species and is influenced by environmental exposure and food processing. Aims and Scope: This review explores current diagnostic approaches, allergenic protein characterization, and recent innovations in fish processing technologies aimed at reducing allergenic risks. Methods: A critical evaluation of recent studies was conducted to assess immunological properties of fish allergens, diagnostic tools (e.g., IgE-based assays, species-specific PCR), and the impact of physical, enzymatic, and non-thermal processing on allergenicity. Results: Major allergens like Gad c 1 exhibit high heat stability, while those in tuna or salmon show reduced allergenicity after cooking. Diagnostic tools, including molecular assays, provide accurate identification of allergens and fish species, essential for risk management. Processing methods such as high pressure treatment, thermal glycation, enzymatic hydrolysis, and washing can modify proteistructures and reduce IgE-binding capacity. Additionally, poor-quality raw fish and impropefermentation may elevate histamine and biogenic amine levels, increasing allergic risk. Conclusion: Fish allergy management requires a combined understanding of allergen structure, reliable diagnostics, and processing interventions. Emerging technologies hold promises for developing hypoallergenic fish products and ensuring consumer safety through improved allergen detection and control strategies.