Bram Setyadji, Bram
Progam Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HASIL TANGKAPAN IKAN MADIDIHANG (Thunnus albacares) DI SAMUDERA HINDIA BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN BENOA, BALI Anggarini, Krisliyana Mia; Saputra, Suradi Wijaya; Ghofar, Abdul; Setyadji, Bram
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.751 KB)

Abstract

ABSTRAK Produksi ikan Madidihang yang cenderung menurun yang disebabkan oleh penangkapan yang berlebih dikhawatirkan dapat mengganggu kelestarian sumberdaya ikan Madidihang. Oleh sebab itu perlu adanya penelitian tentang hasil tangkapan ikan Madidihang. Hasil yang didapatkan dari penelitian diharapkan dapat memberi gambaran tentang kondisi ikan Madidihang di Samudera Hindia. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2016 di Pelabuhan Benoa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ikan madidihang melalui telaah panjang-bobot, faktor kondisi, ukuran pertama kali tertangkap, panjang asimtotik (L∞) ikan Madidihang di Samudera Hindia berdasarkan hasil tangkapan yang didaratkan di Pelabuhan Benoa, Bali. Metode yang digunakan yaitu metode survei. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak microsoft excel. Hasil penelitian menunjukkan ukuran ikan Madidihang bulan April-Mei 2016 berkisar 70 – 178 dengan modus 112 cmFL. Persamaan hubungan panjang-bobot didapatkan W = 0,00002*FL2,966 dengan pola pertumbuhan isometrik. Faktor kondisi yang didapatkan antara 1,64 – 2,44, dan ukuran ikan pertama kali tertangkap 133 cmFL. Panjang asimtotik (L∞) = 190,05 cmFL. Berdasarkan ukuran ikan yang tertangkap dimana Lc > ½ L∞ dapat dinyatakan bahwa ukuran yang tertangkap telah layak tangkap. Kata Kunci : Ikan madidihang; hubungan panjang-bobot, faktor kondisi, ukuran pertama kali tertangkap ABSTRACT Yellowfin tuna production tends to decrease due to excess catching that is feared could interfere with the preservation of resources yellowfin tuna. Hence, it is necessary to do this research Catch Product of Yellowfin Tuna. Results obtained from the study are expected to give an idea of yellowfin condition in the Indian Ocean. This research was conducted in April-May 2016 at the Benoa Port. The aimed of this research was to determine condition of yellowfin tuna through the study of the length-weight relationship,condition factor, length at first capture, and asymptotic length (L∞) of yellowfin tuna in the Indian Ocean based on catches landed at the port of Benoa, Bali. This research used survey method. Data processing used the software of Microsoft Excel and FISAT II. The results have shown the size of the yellowfin tuna from April-May 2016 ranging from 70 – 178 with 112 cmFL. The equation of length weights correlation was obtained W = 0.00002*FL2,966 with isometric growth pattern. The condition factor obtained was between 1.64 to 2.44, and the size of the first caught fish is 133 cmFL. Asymptotic length (L∞) = 190.05 cmFL. Based on the size of fish caught where Lc > ½ L∞ can be stated that the size of which was caught had a decent catch.  Keywords: Yellowfin Tuna; length-weight relationship; condition factor, length at first capture
TINGKAT EKSPLOITASI IKAN TUNA SIRIP BIRU SELATAN (Thunnus maccoyii) DI SAMUDERA HINDIA BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN BENOA, BALI Kurniawan, Damar Nusawicaksono; Ghofar, Abdul; Saputra, Suradi Wijaya; Setyadji, Bram
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.297 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengkajian dan pendugaan status sumberdaya perikanan di suatu wilayah perairan dapat dilakukan dengan mengetahui laju eksploitasinya. Data frekuensi panjang merupakan salah satu data yang dapat digunakan untuk melakukan pendugaan tingkat eksploitasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai mortalitas, laju pertumbuhan, ukuran pertama kali tertangkap dan tingkat eksploitasi. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2016 di Loka Penelitian Perikanan Tuna Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali. Metode yang digunakan adalah metode survei. Sementara data panjang ikan tuna sirip biru selatan tahun 2013-2014 kemudian diolah dengan perangkat lunak FISAT II. Hasil penelitian menunjukkan struktur ukuran ikan tuna sirip biru selatan 145 - 210 cmFL dengan modus di ukuran 170-174 cmFL, ukuran pertama kali tertangkap (Lc) 171 cmFL, hubungan panjang berat mendapat nilai W= 0,00006*FL2,792, faktor kondisi berada pada angka 1,86-2,00, laju pertumbuhan yang didapat yaitu Lt=220,50(1 - e 0,2(t+0,488)), dimana nilai dari L∞ yaitu 220,50 cmFL dan nilai t0 -0,49, laju mortalitas total (Z) sebesar 1,14/tahun, laju mortalitas alami (M) sebesar 0,36/tahun, dan laju mortalitas akibat penangkapan (F) sebesar 0,78/tahun, dan tingkat eksploitasi (E) 0,68/tahun, Hal ini menunjukan penangkapan  ikan tuna sirip biru selatan oleh kapal rawai tuna di Samudera Hindia dalam keadaan berlebih (overfishing) karena nilai tingkat eksploitasi yang didapat melebihi tingkat pemanfaatan optimum atau Eopt = 0,5/tahun (0,68 > 0,5). Kata Kunci : Ikan Tuna Sirip Biru Selatan, Tingkat Eksploitasi, Mortalitas, Pertumbuhan  ABSTRACT Stock assessment and prediction status of fisheries resources in the waters can be made by knowing the rate of exploitation. Length-frequency data is one can be used to suspect rate of exploitation . The aimed of this research was to suspect value of mortality, the growth rate, size at first capture and the level of exploitation. This research was conducted on April-May 2016 at the Loka Fishery Tuna's Research Benoa Port, Denpasar, Bali. This research used survey method.While data length of the southern bluefin tuna 2013-2014 was processed with FISAT II. The results showed size structure of southern bluefin tuna 145-210 cmFL with mode in sizes 170-174 cmFL, size at first capture (Lc) 171 cmFL, value of lenght and weight relationship W = 0,00006 *,792 FL2, condition factors 1,86-2.00, the growth rate Lt = 220,50 (1-e of 0.2 (t + 0,488)), where the value of L ∞ was 220.50 cmFL and value t0 -0.49 total mortality rate (Z) of 1.14/year, rate of natural mortality (M) of 0.36/year, and  rate of mortality due to the arrest of (F) amounted to 0.78/year, and the rate of exploitation (E) 0,68/year, it shows the fishing of southern bluefin tuna by the longline in the Indian Ocean was overfishing because level of exploitation value was over the optimum effort or Eopt = 0,5/year (0.68 > 0.5). Keyword: Southern Bluefin Tuna, exploitation rate, Mortality, growth,
ASPEK BIOLOGI DAN KELIMPAHAN HIU MAKO SIRIP PENDEK (Isurus oxyrinchus) DI SAMUDRA HINDIA BAGIAN TIMUR BERDASARKAN PROGRAM OBSERVER ILMIAH 2015-2019 Wujdi, Arief; Simeon, Benaya M.; Setyadji, Bram; Sulistyaningsih, Ririk Kartika
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.1.2021.%p

Abstract

Hiu mako sirip pendek (Isurus oxyrinchus) termasuk kedalam Famili Lamnidae dan banyak dieksploitasi sehingga telah dimasukkan ke dalam daftar merah IUCN serta Apendiks II CITES sejak 2019. Penangkapan dan perdagangannya perlu dipantau secara global untuk menghindari kepunahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji laju tangkap, kelimpahan, dan estimasi ukuran hiu mako yang tertangkap perikanan rawai tuna. Pengumpulan data dilakukan dengan menempatkan tenaga observer ilmiah diatas kapal penangkap ikan yang berbasis di empat pelabuhan utama rawai tuna pada rentang waktu tahun 2015 hingga 2019. Bobot tubuh ikan diestimasi dari ukuran panjang cagaknya berdasarkan persamaan hubungan panjang dan bobot dari penelitian-penelitian sebelumnya. Hasil penelitian mengungkap bahwa terjadi peningkatan upaya rawai tuna seiring dengan peningkatan cakupan sampling. Laju tangkap mencapai puncaknya pada tahun 2017 (0,2 ekor/1000 pancing), kemudian mengalami penurunan seiring dengan peningkatan upaya penangkapan. Secara spasial, hiu mako tersebar di wilayah perairan tropis dan subtropis, khususnya kurang dari 10o Lintang Selatan. Pertumbuhan hiu mako bersifat isometrik dengan ukuran panjang cagak berkisar antara 50-211 cm. Rata-rata ukuran hiu yang tertangkap cenderung semakin besar dari tahun ke tahun sehingga dimungkinkan memiliki implikasi pada upaya pengelolaan dan konservasinya jenis yang terancam punah ini.Shortfin mako shark (Isurus oxyrinchus) belongs to the Family Lamnidae and is widely exploited so it has been included in the IUCN red list as well as Appendix II CITES since 2019. Hence, its capture and trade need to be monitored globally to avoid extinction. This study aimed to investigate the catch rate, abundance, and size estimation of the shortfin mako shark caught by tuna longline. Data collection was conducted through the on-board scientific observer program on the fishing vessel at four main tuna longline ports during the period of 2015 to 2019. The whole-body weight was estimated by its length and weight relationship revealed from previous studies. The results showed that there was an increase in fishing efforts along with an increased sampling coverage. The catch rates peaked in 2017 (0.2 fish/1000 hooks), then, it decreased due to increased fishing efforts. Shortfin mako sharks were distributed spatially in both tropic and subtropic waters, mostly caught in area below than 10-degree South. An isometric growth was identified with the length size ranged between 50-211 cm. The average size of harvested fish tends to rise every year that may have implications to the establishment of management and conservation strategies for the endangered species.