Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PESAN DAKWAH DALAM LAGU “BILA TIBA” Sujatmiko, Bagus; el Ishaq, Ropingi
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.75 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i2.848

Abstract

Music is one of the media to deliver a message. Music can contain norms of life, one of which is message of da’wah. Music containing da’wah messages is commonly called Religious Music. In Indonesia, such music started in a the 70s by the legendary band Sam Bimbo with the song Sajadah Panjang, and Nasyida Ria Nasyid group with the song Perdamaian. Many of their songs contain da’wah messages that could attract many listeners. At present, there is also a top Indonesian pop band, named Ungu, that always succeeded in making religious songs. Religious songs from Ungu contain many Da’wah messages with touching lyrics, combined with appropriate music. One of Ungu’s latest songs is “Bila Tiba”. This song has a blend of ballad tones and poetic lyrics, as efforts to deliver da’wah messages contained therein. The song that became the soundtrack of the movie “Sang Kyai” is much in demand as a soft tone and the lyrics are evocative. For that reason, this study intends to analyze da’wah message contained in a fusion of tones and lyrics of the song. To analyze the song Bila Tiba, the researcher used Charles Sanders Peirce’s Theory of Semiotics. His classification of signs can be used to peel the tones and lyrics to understand da’wah messages of the song in a complex and profound way. Classifications of signs used in this research were Qualisign, dicent Sinsign, Rhematical Indexical Legisign, dicent Symbol, and Argument. Result of this research is that this song reminds the listener to remember the events of death. Meanwhile, the emphasis of da’wah message contains in the main rhyme of this song, which explains that when death comes, man cannot run away from it. The message of this song is delivered with the poetic lyrics and soft tones and this makes this song a means of contemplation for the listeners. Furthermore, this song also invites the listeners to correct their deed during life, to prepare for the coming death, and to pray for a good death (khusnul khotimah). Musik merupakan salah satu media penyampai pesan. Dalam musik dapat disematkan norma-norma yang terkandung dalam kehidupan salah satunya Pesan Dakwah. Musik yang mengandung Pesan Dakwah biasa disebut Musik Religi. Musik Religi di Indonesia dimulai pada tahun 70-an oleh band legendaris Bimbo dengan lagu Sajadah Panjang, dan grup Nasyid Nasida Ria dengan lagu Perdamaian. Banyak dari lagu-lagu mereka berisikan pesan dakwah yang banyak diminati pendengar. Dan saat ini, terdapat juga band papan atas Indonesia yang selalu berhasil dalam membuat lagu religi dari aliran pop, yaitu Band Ungu. Lagu-lagu religi dari Band Ungu banyak berisikan pesan dakwah dengan lirik yang menyentuh, diiringi dengan musik yang sesuai. Dan salah lagu religinya yang terbaru yang berjudul “Bila Tiba”. Lagu ini memiliki perpaduan antara nada Ballad dan lirik yang puitis, sebagai upaya maksimal untuk menyampaikan pesan dakwah yang terkandung di dalamnya. Lagu yang menjadi soundtrack film “Sang Kyai” ini banyak diminati karena nadanya lembut dan liriknya yang menggugah. Untuk itu penelitian ini bermaksud untuk menganalisis Pesan Dakwah yang terkandung dalam perpaduan nada dan lirik lagu tersebut. Untuk menganalisis lagu “Bila Tiba”, peneliti menggunakan Teori Semiotika Charles Sanders Peirce. Klasifikasi tanda dari Charles Sanders Peirce dapat digunakan untuk mengupas simbol nada dan lirik lagu, untuk kemudian dapat diketahui pesan dakwah lagu secara kompleks dan mendalam. Klasifikasi tanda yang digunakan antara lain Qualisign, Dicent Sinsign, Rhematical Indexical Legisign, Dicent Symbol, dan Argument. Dari hasil analisis terungkap bahwa pesan dakwah dalam lagu ini menyampaikan kepada pendengarnya untuk mengingat peristiwa kematian. Sementara penekanan dari isi pesan lagu terdapat pada bait utama, yang menerangkan ketika ajal datang, manusia tidak bisa lari darinya. Pesan lagu disampaikan dengan lirik yang puitis dan nada yang lembut, menjadikan lagu ini sebagai sarana perenungan bagi pendengarnya. Lagu ini juga mengajak pendengarnya untuk memperbaiki amal perbuatannya selama hidup, untuk mempersiapkan diri ketika kematian datang menghampirinya. dan senantiasa berdo’a agar mati dalam keadaan khusnul khatimah.
Dakwah di Tengah Industrialisasi Media el Ishaq, Ropingi
Jurnal Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 (2013): June
Publisher : Departement of Islami Comuunication and Broadcasting, Faculty of Da'wah and Communication, State Islamic University of Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.131 KB) | DOI: 10.15642/jki.2013.3.1.137-151

Abstract

This article discusses the position of proselytizing in the middle of the media industry and how this prose–lytizing should be undertaken. This paper argues that the religious contents of publication and broadcast by the mass media tend to be commodified in order to meet the needs of the society, while people use the media for entertainment purposes only. As a result, the content of religion in the media cannot be separated from the element of entertainment. Religion in the media tends to become merely the point entertainment, so that the element of proselytizing and motivation to raise religious awareness tends to be neglected. The purpose of the media as a medium of information, education, edu–tainment, and a tool of social cohesion have not been rea–lized in the current era.Keywords: proselytizing, media industry, media content, the structuration of religion.------------------------------------------------------------------------Artikel ini membahas bagaimana posisi dakwah di tengah industri media dan bagaimana dakwah harus dila–kukan. Tulisan ini berpendapat bahwa konten agama yang dimuat dan ditayangkan oleh media massa cenderung sebagai komoditi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara masyarakat memanfaatkan media sebagai alat untuk memperoleh hiburan belaka. Alhasil, konten agama dalam media tidak dapat dilepaskan dari unsur hiburan. Agama di media menjadi materi hiburan belaka, sehingga unsur dakwah dan motivasi untuk memunculkan kesadaran beragama menjadi terabaikan. Tujuan media sebagai media informasi, edukasi, hiburan yang mendidik, dan sebagai alat perekat sosial menjadi gagasan yang melangit dan belum terwujud di era demokratisasi media saat ini.Kata Kunci: dakwah, industri media, konten media, strukturasi agama.
Kerukunan dan Komunikasi Umat Beragama Masyarakat Kota Kediri Propinsi Jawa Timur Tahun 2024 el Ishaq, Ropingi; Mujib, Abdul; Munif, Achmad; Alamin, Taufik; Winarto, Agus Edy
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 23 No. 2 (2025): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/realita.v23i2.428

Abstract

Kerukunan dan Komunikasi umat beragama di Kota Kediri terbilang cukup baik. Kota Kediri yang dihuni oleh berbagai pemeluk agama dan juga etnis mempu menciptakan kehidupan yang harmonis. Konflik antar umat beragama relative nihil. Bahkan Kota Kediri secara berturut-turut sejak tahun 2020 masuk dalam 10 kota toleran di Indonesia versi Setara Institut. Tentu ini menjadi hal menarik untuk dikaji lebih mendalam. Bagaimana indeks kerukunan beragama Masyarakat Kota Kediri pada tahun 2024 ini. Bagaimana dinamika komunikasi antar umat beragama di Kota Kediri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Tingkat kerukunan umat beragama secara kuantitatif, dan mendeskripsikan dinamika komunikasi umat beragama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama di kota Kediri terbilang sangat tinggi, yakni mencapai angka 91,24 dari skala 10-100. Adapun dinamika komunikasi yang memberikan sumbangsih terhadap tingkat kerukunan umat beragama di Kota Kediri adalah pertama, adanya ruang-ruang terbuka yang memungkinkan terjadinya interaksi social masyarakat secara setara. Kedua, Forum Kerukunan Umat Beragama di Kota Kediri yang aktif melakukan sosialiasi tentang pentingnya kerukunan memiliki peran yang dominan. Ketiga, adanya regulasi yang menjadi payung hukum kehidupan keberagamaan. Keempat, gerakan moderasi beragama yang massif didorong oleh kementerian agama dan diterima masyarakat, turut menciptakan keharmonisan umat beragama.
Kerukunan dan Komunikasi Umat Beragama Masyarakat Kota Kediri Propinsi Jawa Timur Tahun 2024 el Ishaq, Ropingi; Mujib, Abdul; Munif, Achmad; Alamin, Taufik; Winarto, Agus Edy
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 23 No. 2 (2025): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/realita.v23i2.428

Abstract

Kerukunan dan Komunikasi umat beragama di Kota Kediri terbilang cukup baik. Kota Kediri yang dihuni oleh berbagai pemeluk agama dan juga etnis mempu menciptakan kehidupan yang harmonis. Konflik antar umat beragama relative nihil. Bahkan Kota Kediri secara berturut-turut sejak tahun 2020 masuk dalam 10 kota toleran di Indonesia versi Setara Institut. Tentu ini menjadi hal menarik untuk dikaji lebih mendalam. Bagaimana indeks kerukunan beragama Masyarakat Kota Kediri pada tahun 2024 ini. Bagaimana dinamika komunikasi antar umat beragama di Kota Kediri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Tingkat kerukunan umat beragama secara kuantitatif, dan mendeskripsikan dinamika komunikasi umat beragama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama di kota Kediri terbilang sangat tinggi, yakni mencapai angka 91,24 dari skala 10-100. Adapun dinamika komunikasi yang memberikan sumbangsih terhadap tingkat kerukunan umat beragama di Kota Kediri adalah pertama, adanya ruang-ruang terbuka yang memungkinkan terjadinya interaksi social masyarakat secara setara. Kedua, Forum Kerukunan Umat Beragama di Kota Kediri yang aktif melakukan sosialiasi tentang pentingnya kerukunan memiliki peran yang dominan. Ketiga, adanya regulasi yang menjadi payung hukum kehidupan keberagamaan. Keempat, gerakan moderasi beragama yang massif didorong oleh kementerian agama dan diterima masyarakat, turut menciptakan keharmonisan umat beragama.