Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Aplikasi Bahan Amelioran (Asam Humat; Lumpur IPAL Tambang Batu Bara) terhadap Pertumbuhan Tanaman Reklamasi pada Lahan Bekas Tambang Batu Bara Adhiatma, Syafrinaldi; Susanto, Trisno Budi; Nurmiyanto, Awaluddin; Hudori, Hudori
Jurnal Sains Dan Teknologi Lingkungan Vol 6, No 1 (2014): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air limbah yang dihasilkan oleh PT Baradinamika Mudasukses (BDMS) merupakan lumpur yang bersifat koloid dan susah mengendap. Pemanfaatan lumpur kembali dalam proses reklamasi bekas lahan tambang batubara sebagai alternatif untuk mengangani permasalahan lumpur tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh penambahan lumpur dan asam humat pada lahan bekas tambang batubara dengan tanaman reklamasi. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan variasi media T1S1 (100% tanah; 0% lumpur), T2S2 (50% tanah; 50% lumpur), dan T3S3 (75% tanah; 25% lumpur) dengan variasi dosis asam humat H1 (0ml), H2 (7,5ml), dan H3 (15ml) dengan menggunakan tanaman Sengon (Paraserienthes falcataria) dan Akasia (Acacia mangium). Hasil dari penelitian ini menunjukan pada perlakuan T1S1 dan T2S2 dengan dosis 7,5ml (H2) pada kadar hara N-Total dan P-Tersedia sedangkan pada kadar hara K dan Ca pada perlakuan T2S2 dengan dosis 15ml (H3). Hasil pertumbuhan tinggi pada pada perlakuan T3S3 dengan dosis 7,5ml (H2) sebesar 16,1% dengan hasil nilai uji statistik sebesar 4,0b pada tanaman sengon dan pada tanaman akasia mengalami peningkatan tinggi sebesar 18% dan nilai hasil uji statistik sebesar 3,75b. Hasil pertumbuhan daun pada tanaman sengon memiliki nilai sebesar 2,75a dan pada tanaman akasia sebesar 3,0a. Kata kunci : Air Limbah, Lumpur, Asam Humat, Reklamasi
Uji Efektivitas Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dalam Mempercepat Laju Disinfeksi Bakteri Escheria Coli pada Proses Solar Water Disinfection Saprian, Saprian; Juliany, Any; Nurmiyanto, Awaluddin
Jurnal Sains Dan Teknologi Lingkungan Vol 6, No 1 (2014): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Solar Water Disinfection (SODIS) memerlukan waktu rata-rata berkisar antara 5-6 jam untuk dapat membunuh bakteri 3-4 Log pada air berkapasitas maksimal 2 liter atau 1 jam dengan suhu di atas 50°C. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dengan mengkombinasikan SODIS dengan psoralens, zat aktif seperti yang terdapat pada jeruk Lemon (Citrus Limon) dapat menginaktivasi bakteri hingga 5,6 Log reduksi dalam rentang waktu 30 menit pada suhu 29°C. Mengingat faktor ketersediaan dan harga jeruk lemon di Indonesia maka pada penelitian ini dilakukan pengamatan dengan menggunakan jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar potensi jeruk nipis untuk dipergunakan dalam mempercepat laju disinfeksi pada proses SODIS. Adapun faktor-faktor yang akan dipelajari terkait dengan hubungan antara variasi dosis jeruk nipis, perubahan pH dan suhu air terhadap efisiensi inaktivasi bakteri yang mampu dihasilkan. Variasi jeruk nipis yang digunakan adalah 0%, 2%, 4% dan 6% dengan variasi waktu 0 menit, 30 menit, 60 menit dan 120 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan SODIS dengan menggunakan jeruk nipis mampu menginaktivasi E. coli sebesar 5.4 Log dengan waktu 1 jam pada suhu 32°C. Hal ini menunjukkan bahwa Jeruk nipis berpotensi untuk digunakan dalam mempercepat laju disinfeksi E. coli pada air minum. Kata Kunci : SODIS, E.coli, Psoralens, Jeruk Nipis
Uji Efektivitas Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dalam Mempercepat Laju Disinfeksi Bakteri Escheria Coli pada Proses Solar Water Disinfection Saprian, Saprian; Juliany, Any; Nurmiyanto, Awaluddin
Jurnal Sains Dan Teknologi Lingkungan Vol 6, No 1 (2014): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Solar Water Disinfection (SODIS) memerlukan waktu rata-rata berkisar antara 5-6 jam untuk dapat membunuh bakteri 3-4 Log pada air berkapasitas maksimal 2 liter atau 1 jam dengan suhu di atas 50°C. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dengan mengkombinasikan SODIS dengan psoralens, zat aktif seperti yang terdapat pada jeruk Lemon (Citrus Limon) dapat menginaktivasi bakteri hingga 5,6 Log reduksi dalam rentang waktu 30 menit pada suhu 29°C. Mengingat faktor ketersediaan dan harga jeruk lemon di Indonesia maka pada penelitian ini dilakukan pengamatan dengan menggunakan jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar potensi jeruk nipis untuk dipergunakan dalam mempercepat laju disinfeksi pada proses SODIS. Adapun faktor-faktor yang akan dipelajari terkait dengan hubungan antara variasi dosis jeruk nipis, perubahan pH dan suhu air terhadap efisiensi inaktivasi bakteri yang mampu dihasilkan. Variasi jeruk nipis yang digunakan adalah 0%, 2%, 4% dan 6% dengan variasi waktu 0 menit, 30 menit, 60 menit dan 120 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan SODIS dengan menggunakan jeruk nipis mampu menginaktivasi E. coli sebesar 5.4 Log dengan waktu 1 jam pada suhu 32°C. Hal ini menunjukkan bahwa Jeruk nipis berpotensi untuk digunakan dalam mempercepat laju disinfeksi E. coli pada air minum. Kata Kunci : SODIS, E.coli, Psoralens, Jeruk Nipis
SOSIALISASI BAHAYA ROKOKGUNA MENINGKATKANKESADARAN MASYRARAKAT AKANBESARNYA DAMPAK BURUK ROKOK BAGI KESEHATAN Awaluddin Nurmiyanto
Asian Journal of Innovation and Entrepreneurship Vol 2 No 03 (2013): September 2013
Publisher : UII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Smoking is an activity that is now being in gandrungi by our youth. Once upon atime smoking is simply being part of the lives of older people-people. But now thesmoke has penetrated into the lives of school children. Behind the pleasure felt by thesmoker a hazard which is deadly to himself and his future life. This is what wanted to beprevented through socialization. Because when the smoke has become a commonlypracticed by society in general, the dangers of smoking will also staking its future. Thefuture smokers will be gloomy, look at when they are addicted to consuming a cigarette,If it is fatal, then they will do everything they can to be able to enjoy a cigarette.Diseases that arise will depend on the levels of harmful substances contained, the periodof smoking habits, and how to smoke cigarettes. The younger a person starts smoking,the greater the risk that person got the disease while older.
Aplikasi Bahan Amelioran (Asam Humat; Lumpur IPAL Tambang Batu Bara) terhadap Pertumbuhan Tanaman Reklamasi pada Lahan Bekas Tambang Batu Bara Syafrinaldi Adhiatma; Trisno Budi Susanto; Awaluddin Nurmiyanto; Hudori Hudori
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 6 No. 1 (2014): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol6.iss1.art3

Abstract

Air limbah yang dihasilkan oleh PT Baradinamika Mudasukses (BDMS) merupakan lumpur yang bersifat koloid dan susah mengendap. Pemanfaatan lumpur kembali dalam proses reklamasi bekas lahan tambang batubara sebagai alternatif untuk mengangani permasalahan lumpur tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh penambahan lumpur dan asam humat pada lahan bekas tambang batubara dengan tanaman reklamasi. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan variasi media T1S1 (100% tanah; 0% lumpur), T2S2 (50% tanah; 50% lumpur), dan T3S3 (75% tanah; 25% lumpur) dengan variasi dosis asam humat H1 (0ml), H2 (7,5ml), dan H3 (15ml) dengan menggunakan tanaman Sengon (Paraserienthes falcataria) dan Akasia (Acacia mangium). Hasil dari penelitian ini menunjukan pada perlakuan T1S1 dan T2S2 dengan dosis 7,5ml (H2) pada kadar hara N-Total dan P-Tersedia sedangkan pada kadar hara K dan Ca pada perlakuan T2S2 dengan dosis 15ml (H3). Hasil pertumbuhan tinggi pada pada perlakuan T3S3 dengan dosis 7,5ml (H2) sebesar 16,1% dengan hasil nilai uji statistik sebesar 4,0b pada tanaman sengon dan pada tanaman akasia mengalami peningkatan tinggi sebesar 18% dan nilai hasil uji statistik sebesar 3,75b. Hasil pertumbuhan daun pada tanaman sengon memiliki nilai sebesar 2,75a dan pada tanaman akasia sebesar 3,0a. Kata kunci : Air Limbah, Lumpur, Asam Humat, Reklamasi
Uji Efektivitas Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dalam Mempercepat Laju Disinfeksi Bakteri Escheria Coli pada Proses Solar Water Disinfection Saprian Saprian; Any Juliany; Awaluddin Nurmiyanto
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 6 No. 1 (2014): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol6.iss1.art2

Abstract

Solar Water Disinfection (SODIS) memerlukan waktu rata-rata berkisar antara 5-6 jam untuk dapat membunuh bakteri 3-4 Log pada air berkapasitas maksimal 2 liter atau 1 jam dengan suhu di atas 50°C. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dengan mengkombinasikan SODIS dengan psoralens, zat aktif seperti yang terdapat pada jeruk Lemon (Citrus Limon) dapat menginaktivasi bakteri hingga 5,6 Log reduksi dalam rentang waktu 30 menit pada suhu 29°C. Mengingat faktor ketersediaan dan harga jeruk lemon di Indonesia maka pada penelitian ini dilakukan pengamatan dengan menggunakan jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar potensi jeruk nipis untuk dipergunakan dalam mempercepat laju disinfeksi pada proses SODIS. Adapun faktor-faktor yang akan dipelajari terkait dengan hubungan antara variasi dosis jeruk nipis, perubahan pH dan suhu air terhadap efisiensi inaktivasi bakteri yang mampu dihasilkan. Variasi jeruk nipis yang digunakan adalah 0%, 2%, 4% dan 6% dengan variasi waktu 0 menit, 30 menit, 60 menit dan 120 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan SODIS dengan menggunakan jeruk nipis mampu menginaktivasi E. coli sebesar 5.4 Log dengan waktu 1 jam pada suhu 32°C. Hal ini menunjukkan bahwa Jeruk nipis berpotensi untuk digunakan dalam mempercepat laju disinfeksi E. coli pada air minum. Kata Kunci : SODIS, E.coli, Psoralens, Jeruk Nipis
Investigation of Locally Made Ceramic Filter for Household Water Treatment Awaluddin Nurmiyanto; Agus Prasetya
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 4 No. 2 (2012): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol4.iss2.art3

Abstract

This research have objective to develop and evaluate the performance of ceramic filter in using locally available material at Yogyakarta. Ceramic filter are made by pressing a mixture of clay, discarded pottery (grog) and combustible material (coconut fiber) into the molder. Curving processes are then applied to form tubular shape before firing it using kiln (1005°C). Filtration test were performed gravitationally by flowing well water into ceramic filter. Filtered water quality was complying with Indonesia drinking water quality standard (E.Coli and turbidity) although it has low filtration rate (0,461 L/Hr). The most optimum ceramic filter in turbidity and bacterial removal was composition number 10 {clay+coconut fiber 4,5%(w/w)+grog 5%(w/w)} that have average turbidity removal 88,2%, and average E. Coli removal 100%. N2 adsorption-desorption result on ceramic filter number 10 showed 0,04μm pore size, and 4,32m2/g pore surface area. The result from the XRD (X-ray diffractometer) indicates crystal structure of calcite and quartz on ceramic filter surface. Energy Dispersive X-ray (EDX) analysis showed Carbon compound as the most material constituent within the filter. Whereas micro’s photo using SEM (scanning electron microscopic) and TEM (transmitted electron microscopic) showed filter surface consists of stacked aggregates, separated by more randomly oriented particles.
PERENCANAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) PADA INDUSTRI ELEKTROPLATING (STUDI KASUS KEGIATAN ELEKTROPLATING X) DI YOGYAKARTA Anisah Hasna Jauharoh; Awaluddin Nurmiyanto; Andik Yulianto
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 12 No. 1 (2020): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol12.iss1.art3

Abstract

Industri elektroplating skala kecil dan menengah di Kecamatan Banguntapan, Bantul, Daerah Istimeya Yogyakarta (DIY) belum melakukan pengelolaan air limbah. Hal ini disebabkan karena tidak ada instalasi untuk mengolah air limbah sehingga air limbah dibuang langsung ke tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alternatif teknologi pengolahan menggunakan metode skoring dari 3 alternatif teknologi dan merencanakan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) industri elektroplating. Teknologi terpilih adalah elektrokoagulasi yang diikuti dengan pengolahan sedimentasi dan filtrasi. Berdasarkan debit air limbah sebesar 638 L/hari, direncanakan IPAL dengan total luasan adalah 3,67 m x 1,9 m. Elektroda yang digunakan adalah anoda Fe dan katoda Al berukuran 40x20x0,3 cm3, berjumlah masing-masing 5 plat dan berjarak 3 cm. Besarnya arus dan tegangan dipilih sebesar 2,5 A dan 12 Volt dengan arus searah (DC). Waktu detensi sedimentasi adalah 6 jam dan media filter yang digunakan adalah pasir silika, karbon aktif dan mangan zeolit. Efluen air yang diolah dapat dikategorikan sebagai air kelas 2 menurut Peraturan Gubernur (Pergub) DIY 20/2008. Biaya yang diperlukan untuk membangun IPAL adalah Rp 8.613.750,00 dan biaya operasional adalah Rp 136.187,60 per 638 L air limbah. Penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam perencanaan pengelolaan air limbah industri elektroplating.
Penurunan Kandungan Hidrokarbon Menggunakan Constructed Wetland Reactor Dalam Mengolah Limbah Minyak: Removal of Hidrocarbon Compounds Using Constructed Wetland Reactor to Treat Oily Wastewater Joni Aldilla Fajri; Dewi Wulandari; Awaluddin Nurmiyanto; Aster Rahayu
Open Science and Technology Vol. 1 No. 2 (2021): Open Science and Technology
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ost.vol1no2.2021.36

Abstract

Limbah minyak dari kegiatan perbengkalan otomotif umumnya dibuang langsung ke drainase sebelum masuk ke dalam badan air terdekat. Limbah minyak mengandung senyawa aromatik, hidrokarbon, logam dan lainnya yang sangat berpotensi merusak lingkungan. Low cost wastewater treatment seperti wetland memiliki efektifitas yang cukup baik untuk mengolah air limbah domestik dan air limbah spesifik. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kinerja reaktor kontinu wetland kombinasi dengan indigen bakteria dalam mereduksi zat pencemar limbah minyak. Konsorsium indigen bakteri ditambahkan ke dalam reaktor wetland (105 cm x 30 cm x 30 cm) yang terdiri dari kompartement Vertical floating wetland dan constructed wetland dan dioperasikan kontinu selama 30 hari dengan waktu tinggal total 15 hari. Hasilnya menunjukkan bahwa reaktor ini mampu menurunkan konsentrasi minyak-lemak 73-98%, Total Petroleum Hidorkarbon  77-99%, kandungan minyak 67-94%, dan juga minyak dan lemak 49 – 98%. Sehingga dapat disimpulkan, reactor continuous vertical flow wetlands kombinasi dengan indigen bakteri dan tanaman Vetiveria z mampu menurunkan kadar minyak-lemak, dan TPH. Oil and grease wastewater produced by the automotive workshop mainly introduces to the drainage without any prior treatment. Oily wastewater consists of aromatic compound, hydrocarbon, metal, and other contaminates that had major impairments into the environment. Low cost wastewater treatment e.q: wetland has satisfied performance to treat domestic wastewater and industrial wastewater. Therefore, the purpose of this study is to analyze the performance of continue wetland reactor combined with consortium indigenous bacteria to treat oily wastewater. Consortium indigenous bacteria were added to the three compartments in the reactor (105 cm x 30 cm x 30 cm); vertical floating wetland and constructed wetland, and it was operated for 30 days with the hydraulic residence time (HRT) for 15 days. As results, this reactor could reduce the concentration of oil-grease, total petroleum hydrocarbon (TPH), oil content, and oil grease (OG) at the level of 73-98%, 77-99%, and 49 – 98%, respectively. This result indicates that combination of consortium indigenous bacteria enhances the effectivity of reactor continuous vertical flow wetlands in degrading the oil-grease contaminants.
Analisis Sebaran Dampak Pemanfaatan Air Limbah Rumah Sakit ke Formasi Tertentu: Pendekatan Spasial dan Hidrogeologis terhadap Kualitas Airtanah: indonesia Faisal, Andi Muhammad; Nurmiyanto, Awaluddin; Anggit, Maura
Asian Journal of Innovation and Entrepreneurship Volume 09, Issue 01, January 2025
Publisher : UII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/ajie.vol9.iss1.art5

Abstract

This study aims to analyze the impact of hospital wastewater utilization on groundwater quality using secondary data and Modflow visual modeling. This model is used to visualize the spread of contaminants from the effluent of the Wastewater Treatment Plant (IPAL) of Hospital X into the soil, as well as to measure the concentration of wastewater parameters such as TSS, COD, oils and fats, BOD, ammonia, residual chlorine, and fecal coliform at various distances from the source point. The modeling results show that all wastewater parameters meet the established quality standards, with a significant reduction in concentration along the spread distance. The TSS concentration almost reaches 0 (0.01 mg/L) at a distance of 115 meters from the source, while the concentrations of COD, oils and fats, and BOD decrease to 0.25 mg/L, 0.01 mg/L, and 0.02 mg/L at the same distance, respectively. Additionally, ammonia and residual chlorine concentrations are almost undetectable at 115 meters, while fecal coliform also decreases to 0 MPN/100 mL. Based on these results, the utilization of hospital wastewater with the new IPAL system is expected not to have a negative impact on groundwater quality within a certain radius, as the concentration of wastewater parameters continues to decrease with increasing distance from the source.