Soebijantoro Soebijantoro, Soebijantoro
IKIP PGRI Madiun

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

UPACARA ADAT RUWATAN BUMI DI KELURAHAN WINONGO KECAMATAN MANGUHARJO KOTA MADIUN ( LATAR SEJARAH, NILAI-NILAI FILOSOFIS, DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL) Abadi, Ilham; Soebijantoro, Soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : IKIP PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan latar belakang sejarah upacara adat ruwatan bumi, nilai-nilai filosofis, dan potensinya sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal, lokasi penelitian ini berada di Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi/arsip. Sedangkan validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran data menggunakan trianggulasi sumber penelitian. Analisis data menggunakan model interaktif Milles dan Huberman.Dari penelitian yang telah dilaksanakan menunjukkan hasil bahwa upacara adat ruwatan bumi di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun sudah ada sejak jaman kerajaan Mataram, karena Madiun merupakan daerah kekuasaan kerajaan tersebut. Tradisi tersebut kemudian selalu diperingati setiap satu tahun sekali berkenaan dengan pelestarian kebudayaan nenek moyang dan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaan upacara adat ruwatan bumi tersebut memiliki nilai-nilai filosofis ditinjau dari prosesi dan perlengkapan yang digunakannya, diantaranya semangat bekerja keras, hemat, rasa syukur atas nikmat Tuhan Yang Maha Esa, pelestarian kebudayaan nenek moyang. Upacara adat ruwatan bumi di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun memiliki sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal, dikarenakan pengetahuan yang dapat diambil dari kegiatan tersebut, ditinjau dari beberapa aspek dapat disesuaikan dengan materi pembelajaran sejarah yang ada dalam dunia pendidikan.
DAMPAK KUNJUNGAN WISATAWAN TERHADAP PELESTARIAN MUSEUM TRINIL TAHUN 2010-2013 Astutik, Yuli; Soebijantoro, Soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : IKIP PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak kunjungan wisatawan terhadap pelestarian Museum Trinil tahun 2010-2013. Lokasi penelitian ini berada di Musuem Trini dan sekitarnya Dukuh Pilang Desa Kawu Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi.Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan induktif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber datar primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran dan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Sedangkan analisis data menggunakan analisi model interaktif miles dan hubbermain.Hasil penelitian yang diperoleh yaitu semakin banyak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Museum Trinil yang terjadi pada tahun 2010 hingga 2013 menyebabkan Museum Trinil semakin tidak lestari. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya dampak negatif kuat daripada dampak positif. Berdasarkan hasil wawancara dan hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa keinginan dari sebagian besar wisatawan asing untuk memiliki benda-benda cagar budaya yang asli bukan replika buatan manusia sebagai sebuah souvenir. Sehingga hal ini menyebabkan sebagian besar koleksi-koleksi yang ada di Museum Trinil hanya sebuah replika atau tiruan dari fosil yang sebenarnya yang dapat mengurangi keaslian bukti peninggalan sejarah yang ada Kabupaten Ngawi khususnya di Museum Trinil itu sendiri. Sedangkan wisatawan lokal sering meninggalkan sampah disekitar Museum Trinil khususnya di taman belakang yang lokasinya jauh dari pengawasan pengelola museum. Selain itu, banyaknya coretan-coretan menggunakan aerosol semprot benda-benda yang ada di sekitar Museum Trinil. Terbukti dari banyaknya coretan pada replika hewan-hewan purba yang ada di taman belakang gedung serta pada tugu peresmian berdirinya Museum Trinil. Meskipun peningkatan jumlah wisatawan yang terjadi mulai tahun 2010 hingga 2013 membawa dampak positif dengan perenovasian gedung Museum Trinil yang dilakaukan oleh Pemerintah Pusat, dampak negatif akan tetap ada dan kemungkinan juga akan merusak hasil perenovasian tersebut apabila tidak diimbangi dengan peraturan-peratuan yang jelas untuk para wisatawan baik asing maupun lokal.
Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Sejarah Monumen Kresek Terintegrasi Agrowisata Berbasis Community-Based Tourism (CBT) di Kabupaten Madiun Soebijantoro, Soebijantoro; Hartono, Yudi; Huda, Khoirul
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 8 No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v8i1.24125

Abstract

This research aims to reveal the development of the Kresek Monument historical tourism area for agrotourism based on Community Based Tourism. Qualitative descriptive research method. Data collection through observation, interviews, focus group discussions, and document study. Data validity through source triangulation. Analyze data with interactive analysis. The results of the research show that the Kresek Monument historical tourist area needs to be developed with a new perspective that the landscape of the Kresek Monument historical tourist area has the potential to become a beautiful natural tourist destination. For a long time, the community has been actively involved in developing the Kresek Monument historical tourist area through the "Mekar" Tourism Awareness Group. The community took the initiative and tried to integrate it with agrotourism around the monument area. Since the COVID-19 pandemic, the management of the Kresek Monument historical tourist area has been completely taken over by the Madiun Regency Tourism, Youth and Sports Department, while day-to-day management is carried out by the Madiun Regency Environmental Service. The Kresek Village Government is also involved in management through the Kresek Village Village-Owned Enterprise. Residents are involved based on assignments from these parties, such as tour guides. There is no policy synergy between stakeholders, which is a challenge in developing the Kresek Monument historical tourism area which is integrated with the community's agro-tourism area. The community is also faced with technical obstacles in the field in the form of road infrastructure connecting the Kresek Monument historical tourist area with unsupported agro-tourism areas.