Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : WIDYAKALA JOURNAL

Alat Pengolahan Air Baku Sederhana Dengan Sistem Filtrasi Ajeng Ari Nainggolan; Rizka Arbaningrum; Aulia Nadesya; Dara Janti Harliyanti; Mohammad Ammar Syaddad
WIDYAKALA: JOURNAL OF PEMBANGUNAN JAYA UNIVERSITY Vol 6 (2019): Special Issue : Green Building
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UPJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.306 KB) | DOI: 10.36262/widyakala.v6i0.187

Abstract

Abstrak : Air bersih merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Sejak tahun 2004, Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur tentang Sumber Daya Air, yaitu Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004. Tetapi di berbagai wilayah di Indonesia masih ditemukan daerah yang mengalami kekurangan persediaan air bersih. Pembuatan alat pengolahan air baku sederhana menggunakan sistem filtrasi diharapkan dapat membantu masyarakat untuk mengolah air kotor menjadi air baku dalam skala kebutuhan rumah tangga. Alat tersebut mudah dioperasikan, dengan bahan yang murah dan mudah didapatkan, serta dapat dipindahkan karena memiliki dimensi yang tidak terlalu besar.Kata Kunci : Sistem Filtrasi, Air Baku, Alat Pengolahan Air
Analisis Ekonomi Teknik Desain Polder di Wilayah Semarang Timur Rizka Arbaningrum
WIDYAKALA: JOURNAL OF PEMBANGUNAN JAYA UNIVERSITY Vol 6, No 1 (2019): Urban Development & Urban Lifestyle
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UPJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.072 KB) | DOI: 10.36262/widyakala.v6i1.116

Abstract

Permasalahan banjir dan rob sering terjadi di wilayah Semarang Timur, hal ini mengakibatkan kerugian ekonomi, sosial dan lingkungan. Guna memperbaiki kondisi tersebut maka diperlukan penanganan secara permanen yaitu dengan pembuatan sistem polder untuk Wilayah Semarang Timur. Sistem polder terdiri dari tanggul laut, kolam retensi dan rumah pompa. Kombinasi antara besaran luas kolam retensi dan kapasitas pompa sangat dibutuhkan untuk menghasilkan desain dengan biaya total ekonomis. Tahapan awal di mulai dari perhitungan debit banjir, pemodelan kolam retensi dan pompa menggunakan software HEC-HMS 4.0. Tahap selanjutnya menghitung estimasi biaya konstruksi, pengadaan pompa, pembebasan lahan serta biaya operasional dan pemeliharaan pompa. Tahapan akhir yaitu melakukan simulasi pembiayan setiap desain yang telah di modelkan dan memperhitungakan beberapa parameter ekonomi. Dari hasil penelitian di dapat  debit banjir rencana 25 tahunan untuk kolam retensi adalah 138 m³/s. Desain kolam retensi terpilih yaitu seluas 210 hektar dengan kapasitas pompa sebesar 15 m³/s. Jumlah pompa terdiri dari 2 buah kapasitas 2,5 m³/s dan 2 buah kapasitas 5 m³/s. Kedalaman kolam retensi sebesar 3,7 m. Estimasi biaya operasional dan pemeliharaan pompa dalam setahun yaitu Rp 8.012.756.880,00. Estimasi biaya pembebasan lahan yaitu Rp 750.000.000,00/hektar. Estimasi biaya konstruksi Rp 574.168.000.000,00. Estimasi biaya pengadaan pompa Rp 18.000.000.000,00. Didapat parameter ekonomi NPV sebesar Rp 327.660.000.000,00 dan NBC sebsar 1,39. Sehingga dapat disimpulakn bahwa desain terpilih merupakan desain dengan biaya yang ekonomis serta pembangunan sistem polder Wilayah Semarang Timur layak secara ekonomi.
Kajian Bangunan Penangkap Kabut dan Penampung Air Hujan untuk Daerah Sentul sebagai Ganti Air Bersih Rizka Arbaningrum
WIDYAKALA: JOURNAL OF PEMBANGUNAN JAYA UNIVERSITY Vol 6 (2019): Special Issue : Green Building
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UPJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.351 KB) | DOI: 10.36262/widyakala.v6i0.167

Abstract

Kekeringan merugikan petani karena mempengaruhi hasil panen. Terdapat dua cara untuk mengatasi masalah kekeringan yaitu dengan cara membuat bangunan penangkap kabut atau juga bisa dengan membuat bangunan penampung air hujan. Namun, dari kedua bangunan itu manakah yang lebih unggul untuk digunakan dilihat dari faktor ekonomi dan durabilitas. Ditinjau dari harga, penangkap kabut tidak membutuhkan biaya yang tinggi bila dibandingkan dengan penampung air hujan. Pembuatan penangkap kabut membutuhkan biaya Rp 685,000, sedangkan penampung air hujan membutuhkan biaya Rp 1,431,466. Apabila dibandingkan dengan bangunan penangkap kabut, penampung air hujan membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Untuk durabilitas bangunan, penangkap kabut cenderung lebih perlu perawatan khusus dikarenakan bahan dan alat yang digunakan sangat sederhana. Sedangkan, bangunan penampung air hujan, durabilitas cenderung bertahan lama meskipun tetap membutuhkan perawatan untuk bak penampung dan pompa air.Kata Kunci : Kekeringan, penampung air hujan, penangkap kabut, biaya
Analisis Reduksi Debit Banjir Kali Grogol Terhadap Pembangunan Waduk Lebak Bulus Apriyanti, Okta; Arbaningrum, Rizka
WIDYAKALA JOURNAL : JOURNAL OF PEMBANGUNAN JAYA UNIVERSITY Vol 11, No 1 (2024): Urban Lifestyle and Urban Development
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UPJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36262/widyakala.v11i1.600

Abstract

Banjir merupakan sebuah fenomena yang tidak dapat dihindari namun dapat dikendalikan. Salah satu fenomena banjir yang terjadi yaitu pada kawasan permukiman warga Kampung Duku di belakang Mall Gandararia City setinggi satu meter. Banjir tersebut disebabkan oleh luapan sungai Kali Grogol. Terkait dengan hal tersebut, Pemprov DKI Jakarta membuat program pembangunan waduk Lebak Bulus dalam rangka pengendalian banjir di wilayah DKI Jakarta, khususnya di Sistem Kali Grogol. Waduk ini nantinya akan digunakan sebagai penampungan dari debit air yang meluap di Kali Grogol ketika curah hujan meningkat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis mengenai seberapa besar reduksi yang dihasilkan oleh pembangunan Waduk Lebak Bulus dalam mengurangi debit banjir akibat luapan aliran sungai Kali Grogol dengan permodelan aplikasi SWMM 5.2. Dalam tahapannya didapati analisis hidrologi untuk mencari besarnya curah hujan maksimum rencana tahun sebesar 266.4684 mm dengan kala ulang 100 tahun untuk medapati diagram hyeptograph sebagai data curah hujan dalam aplikasi SWMM 5.2. Dalam permodelan SWMM 5.2 didapati flooding atau hidrograf tanpa waduk sebesar 2863.22 cfs pada menit ke 45. Sedangkan flooding atau hidrograf dengan waduk sebesar 2253.09 cfs pada menit ke 45. Sehingga dari data tersebut didapatkan hasil reduksi debit banjir sebesar 21.3%. Hasil persentase dari reduksi debit banjir ini dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya, terutama untuk bangunan pengendali banjir lainnya. Kata kunci: Banjir, Reduksi Debit banjir, Waduk Lebak Bulus, SWMM 5.2, Sungai Kali Grogol.