Kejadian stunting atau yang biasa disebut balita kerdil atau pendek, sampai saat ini masihmenjadi permasalahan utama kesehatan gizi di Provinsi Jawa Timur. Hasil Pemantauan Status Gizi(PSG) 2017, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, dan Studi Status Gizi Balita Indonesia(SSGBI) 2019 menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Timur terbilang masih cukup jauh dari standaryang ditetapkan WHO yaitu <20%. Menyikapi problematika permasalahan stunting ini, perlukiranya untuk dilakukan penanganan yang serius. Pencegahan dan penanggulangan kasus stuntingdapat diupayakan salah satunya dengan menganalisis faktor-faktor risiko yang didugamempengaruhi stunting. Untuk menganalisa faktor risiko stunting pada penelitian ini digunakanpendekatan model Geographically Weighted Regression (GWR), yang mana dari hasil pemodelankemudian divisualisasikan dalam bentuk pemetaan wilayah menggunakan Sistem InformasiGeografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel bayi baru lahir mendapatInisisasi Menyusui Dini (IMD) dan rumah tangga memiliki akses sanitasi layakberpengaruh secara signifikan terhadap prevalensi Balita stunting di seluruhkabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur. Dan pada beberapa kabupaten/kota tertentu jugadipengaruhi oleh variabel anak usia 0-23 bulan (Baduta) diberi ASI, Balita mendapatimunisasi lengkap, dan rumah tangga dengan sumber air minum layak.