Sri Suparwitri
Universitas Gadjah Mada

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Perawatan Ortodontik Cekat pada Pasien disertai Bruxism dengan Teknik Edgewise yang dikombinasikan dengan Trainer for Braces Siska Septania Krisnanda; Soekarsono Hardjono; Sri Suparwitri
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.199 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.11917

Abstract

Bruxism merupakan suatu kebiasaan parafungsional berupa gerakan menggertakan dan menggerus gigi. Tidak jarang pasien yang mempunyai kebiasaan bruxism memerlukan perawatan ortodontik. Perawatan bruxism dapat dilakukan bersamaan dengan perawatan ortodontik cekat. Studi kasus ini bertujuan untuk menganalisa efek Trainer for Braces (T4B) pada pasien bruxism yang memerlukan perawatan ortodontik cekat. Pasien perempuan usia 21 tahun, mengeluhkan gigi berjejal dan tidak rapi. Pemeriksaan objektif menunjukkan bidental protrusi, crowding rahang atas dan rahang bawah, deep overbite, konstriksi berat pada regio gigi premolar dan molar rahang atas dan rahang bawah, 47 linguoversi dan disertai bruxism. Maloklusi Angle Kelas I dengan hubungan skeletal Kelas I, bidental protrusi, overjet 3,7 mm, overbite 4 mm, crowding, edge to edge bite, cross bite dan bruxism. Pasien dirawat menggunakan alat ortodontik cekat teknik Edgewise dengan alat tambahan Lingual Arch Bar untuk ekspansi rahang dan koreksi 47 yang linguoversi dan Trainer for Braces (T4B) untuk bruxism. Setelah 8 bulan perawatan, crowding rahang atas dan rahang bawah terkoreksi, ekspansi rahang dapat tercapai, 47 yang linguoversi terkoreksi, overjet dan overbite berkurang menjadi 3,5 mm, perawatan pada pasien masih berlangsung hingga saat ini. Kombinasi perawatan ortodontik cekat dengan penggunaan alat tambahan seperti Trainer for Braces (T4B) efektif untuk membantu koreksi maloklusi pada pasien bruxism. ABSTRACT: Edgewise Technique Combined with Trainer for Braces for Bruxism Patient. Bruxism is a parafunctional habit of grinding and clenching the teeth. It is common for patients with fixed orthodontic treatment to experience bruxism. When dealing with these patients, clinicians could initiate the bruxism treatment in conjunction with the orthodontic treatment. This case report will analyze the effects of Trainer for Braces (T4B) in a patient with malocclusion and bruxism habit. A 21 year old female patient complained of her crowding in upper and lower anterior teeth. The objective examination shows protrusion and crowding in upper and lower teeth, deep overbite, severe maxillary and mandibulary constriction, 47 linguoversion and bruxism habit. Angle Class I with skeletal Class I malocclusion, bidental protrusion, overjet 3.7 mm, overbite 4 mm, crowding, edge to edge bite, crossbite and bruxism habit. The orthodontic treatment used fixed preadjusted Edgewise appliance with Lingual Arch Bar for expansion and lingoversion molar correction. Trainer for Braces (T4B) was also prescribed to treat her bruxism. After 8 months of treatment, the crowding in upper and lower teeth was corrected, dental arch expansion was achieved, linguoversion molar was corrected, and overjet and overbite became 3.5 mm and the treatment was still on going. The combination of fixed preadjusted Edgewise appliance with Trainer for Braces (T4B) can be considered as an effective therapy for correcting malocclusion in bruxism patient.
Reposisi Gigi Kaninus Impaksi Palatal pada Perawatan Ortodontik Cekat Teknik Begg Iwan Wirasatyawan; Soekarsono Hardjono; Sri Suparwitri
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.08 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.11975

Abstract

Impaksi palatal kaninus sering mengakibatkan keluhan secara estetis. Faktor genetik merupakan faktor yang dominan serta beberapa faktor yang lain yaitu diskrepansi lengkung gigi, ukuran gigi, retensi gigi desidui, kerusakan dini, pencabutan dini , posisi yang abnormal benih gigi, agenese incisivus lateral dan kista. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk memberikan informasi tentang perawatan kasus impaksi palatal kaninus rahang atas pada maloklusi kelas I skeletal menggunakan alat cekat teknik Begg. Pasien perempuan umur 15 tahun, datang ke klinik ortodonsia RSGM Prof. Soedomo FKG UGM. Pemeriksaan subyektif, pasien terganggu dengan keadaan gigi depan yang maju dan bercelah. Pemeriksaan obyektif menunjukkan adanya rudimenter, agenese gigi incisivus lateral kanan dan kiri rahang atas, impaksi palatal kaninus kiri atas. Transposisi kaninus kanan atas ke ruang incisivus lateral kanan atas, pergeseran midline. Maloklusi angle kelas I dengan relasi skeletal kelas I dengan bimaksiler retrusif disertai protrusif incisivus maksila dan retrusif incisivus mandibula. Perawatan diawali dengan pencabutan gigi rudimenter. Tahap I menggunakan multiloop archwire untuk leveling dan unraveling gigi anterior, koreksi pergeseran midline. Tahap berikutnya adalah pemasangan button pada kaninus impaksi untuk mengaitkan kawat ligatur pada archwire yang berfungsi untuk menarik kaninus impaksi palatal pada lengkung gigi. Perawatan ortodontik pada kasus dengan impaksi palatal kaninus rahang atas pada maloklusi kelas I skeletal menggunakan alat cekat teknik Begg dapat dilakukan dengan hasil perawatan yang baik. ABSTRACT: Repositioning of Palatally Impacted Canine in Orthodontic Treatment Using Begg Fixed Appliance. Palatally impacted canine often leads to esthetic complaints. Genetic factor is dominant followed by such other factors as dental arch discrepancy, tooth size, retention of deciduous teeth, early decay, premature extraction, abnormal position of tooth germ, lateral incisor agenesis, and cysts. This article provides information about the treatment of palatally impacted maxillary canine case in a skeletal class I malocclusion using Begg fixed appliance technique. A 15-year-old female patient came to the orthodontia clinic of RSGM Prof. Soedomo FKG UGM. The subjective examination found that the patient was disturbed by her protrusive, gapped front teeth. Then, the objective examination indicated the presence of rudimentary, lateral incisor agenesis of right and left upper jaw, and upper left palatally impacted canine. In addition, there was a transposition of upper right canine to lateral incisor area as well as a midline shift. Angle class I malocclusion with class I skeletal relationship and bimaxillary retrusion along with maxillary incisor protrusion and mandibular incisor retrusion also occurred. The treatment began with rudimentary tooth extractions. The first stage used a multiloop archwire for leveling and unraveling of anterior teeth as well as correction of midline shift. The button attached to the impacted canine could tie the ligature wire to the archwire that served to attract the palatally impacted canine in the dental arch. The orthodontic treatment in cases of palatally impacted maxillary canine with skeletal class I malocclusion using Begg fixed appliance technique can be applied with a good treatment result.
Perawatan Kamuflase Maloklusi Klas III Dentoskeletal menggunakan Teknik Begg pada Pasien Dewasa Dwi Agustina; Soekarsono Hardjono; Sri Suparwitri
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.239 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.11979

Abstract

Maloklusi kelas III dapat didefinisikan sebagai kelainan wajah skeletal dengan karakteristik posisi mandibula lebih maju terhadap dasar cranium dan atau terhadap maksila. Ada tiga pilihan perawatan untuk maloklusi kelas III dentoskeletal yaitu; modifikasi pertumbuhan, kamuflase dan bedah orthognatik. Artikel ini mempresentasikan kasus seorang pasien dewasa dengan maloklusi kelas III dentoskeletal yang dirawat dengan ortodontik kamuflase menggunakan teknik Begg. Seorang pasien laki-laki, berusia 16 tahun, didiagnosa maloklusi kelas III Angle dengan hubungan skeletal kelas III dan gigi depan maksila dan mandibula berjejal. Perawatan menggunakan alat cekat teknik Begg dengan pencabutan premolar kedua maksila dan premolar pertama mandibula serta elastis intermaxillar kelas III. Kesimpulan hasil perawatan selama 10 bulan menunjukkan bahwa kamuflase ortodontik dapat dianggap sebagai terapi yang efektif untuk koreksi maloklusi kelas III dentoskeletal.   ABSTRACT: A Camouflage Treatment Of Dentoskeletal Class III Malocclusion In Adult Using Begg Technique B. Class III malocclusion can be defined as a skeletal facial deformity characterized by a forward mandibular position with respect  to the cranial base and or the maxilla. There are three main treatment options for dentoskeletal class III malocclusion: growth modification, orthodontic camouflage and orthognatic surgery. The article presented a case of an adult patient with dentoskeletal class III malocclusion treated with orthodontic camouflage treatment with Begg technique. A male patient, 16 years old, diagnosis malocclusion Angle class III, skeletal class III with crowding anterior teeth maxilla and mandibular. Using the fixed appliance, Begg technique, with the extraction of second premolars maxilla and first premolars mandibular. The appliance is completed with intermaxillary class III elastics. The results for 10 months of this treatment indicated that orthodontic camouflage can be considered an effective therapy for corection of dentoskeletal class III malocclusion.
Perawatan Cross Bite Posterior Unilateral Menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Aditya Gungga K; Sri Suparwitri; Soekarsono Hardjono
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.134 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.11980

Abstract

Cross bite merupakan kondisi dimana satu gigi atau lebih mengalami malposisi ke arah bukal atau lingual atau labial terhadap gigi antagonisnya. Cross bite dapat terjadi pada gigi anterior maupun posterior. Cross bite posterior dapat terjadi sebagai akibat kurangnya koordinasi dimensi lateral antara lengkung gigi rahang atas dan rahang bawah. Cross bite posterior dapat terjadi secara bilateral atau 2 sisi maupun unilateral atau 1 sisi. Berbagai penyebab cross bite posterior unilateral diantaranya adanya malposisi gigi ke lingual pada gigi rahang atas, adanya kebiasaan buruk seperti bertopang dagu satu sisi dan adanya pengaruh deviasi mandibula ketika menutup mulut. Tujuan artikel ini adalah menyajikan perawatan ortodontik cross bite posterior unilateral dengan teknik Begg. Pasien perempuan umur 19 tahun mengeluhkan gigi-gigi depan serta belakang atas dan bawah berjejal dan tidak nyaman untuk mengunyah. Diagnosis kasus adalah maloklusi Angle klas I, hubungan skeletal klas I dengan protrusif bimaksilar, protrusif bidental, crowding gigi anterior atas dan bawah, crowding gigi posterior atas kiri, edge to edge bite pada beberapa gigi anterior, cross bite antara gigi 22 dan 32, cross bite posterior unilateral pada sisi kanan, pergeseran rahang bawah kearah kiri, serta pergeseran midline gigi rahang bawah dan rahang atas kearah kiri.  Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg. Koreksi cross bite dilakukan dengan ekspansi 1 sisi pada rahang atas kanan serta dengan pemasangan cross elastic untuk menarik gigi posterior bawah yang berada di luar lengkung. Setelah perawatan selama 11 bulan, cross bite posterior pada sisi kanan terkoreksi.   ABSTRACT: Unilateral posterior cross bite treatment using fixed orthodontic Begg appliance technique. Cross bite is a condition where one or more teeth may be abnormally malposed buccally or lingually or labially with reference to the opposing tooth or teeth. Cross bite can be classified based on location as anterior and posterior cross bite. Posterior cross bite occurs as result of lack of coordination in the lateral dimension between the upper and the lower arches. Posterior Cross bite can be unilateral involving one side of arch or bilateral which involves both sides. Posterior cross bite can be occur as result of a number of causes such us lingual positioning of upper tooth, presence of one side chin propped habit and presence of occlusal interferences can result in deviation of the mandible during jaw closure. The purpose of this articles to present unilateral posterior cross bite correction using Begg technique A 19 years old female patient complained of upper, lower front and back teeth crowded and uncomfortable for mastication. Diagnosis are malocclusion Angle Class I, Class I skeletal relationship with bimaksilar protrusive, upper and lower incisor retrusive, upper and lower anterior teeth crowding, upper left posterior teeth crowding, anterior edge to edge bite on several anterior tooth, anterior cross bite on 22 and 32, unilateral posterior cross bite on right side, shift to the left of mandible, shift to the left of the median line maxilla and mandible, The patien treated with fixed appliance Begg technique. One side expansion of maxilla on right side and posterior cross elastic are used to correct posterior cross bite. After 11 months of treatment, unilateral posterior cross bite on right side corrected.
Penatalaksanaan Kasus Impaksi Premolar, Ektopik Caninus dan Asimetri Rahang dengan Teknik Edgewise Novitria Zahrotul Malikha; Sri Suparwitri; Soekarsono Hardjono
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.746 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.11983

Abstract

Pencabutan dini pada gigi desidui seringkali menyebabkan perpendekan lengkung sehingga ruang yang dibutuhkan untuk erupsi gigi permanen kurang. Kaninus ektopik, impaksi premolar dan asimetri rahang adalah kasus yang sering terjadi akibat kurangnya ruang untuk erupsi gigi. Pasien perempuan usia 20 tahun, mengeluhkan gigi gingsul dan tidak rapi. Pemeriksaan objektif menunjukkan crowding rahang atas dan rahang bawah, kaninus maksila kanan atas ektopik, premolar mandibula kanan impaksi, disertai pergeseran midline. Maloklusi Angle kelas I dengan hubungan skeletal kelas I, overbite 1 mm, overjet  1,3 mm, crowding mandibula dan maksila, ektopik kaninus unilateral, impaksi premolar unilateral, asimetri rahang dan pergeseran midline. Pencabutan dilakukan pada 2 gigi premolar pertama rahang atas dan 2 gigi molar pertama rahang bawah yang mengalami nekrosis. Perawatan menggunakan alat cekat teknik Edgewise dengan multiloop. L loop digunakan untuk ekstrusi gigi kaninus ektopik dan menarik impaksi premolar. Asimetri rahang dikoreksi dengan ekspansi lengkung gigi menggunakan mainarchwire. Setelah 7 bulan perawatan, gigi kaninus yang ektopik, impaksi premolar dan crowding terkoreksi. Overjet dan overbite menjadi 2,5 mm. Perawatan masih berlangsung hingga saat ini. Penggunaan multiloop pada teknik Edgewise efektif untuk mengoreksi crowding gigi dan L loop efektif untuk mengekstrusi gigi kaninus ektopik dan impaksi premolar. ABSTRACT: Management of Impacted Premolar, Ectopic Canine and Jaw Asymmetry Case Using Edgewise Technique. The premature loss of primary teeth may reduce the arch length required for permanent teeth eruption. Ectopic canine, premolar impaction and jaw asymmetry are often encountered due to the lack of space for permanent teeth eruption. A twenty-year-old female patient complained an ectopic canine and crowding of upper and lower teeth. The objective examination found maxilla and mandibula crowding, ectopic right maxilla canine, mandibular premolar impaction, and midline shift of maxilla and mandibula. Angle class I malocclusion, overbite 1 mm, overjet 1.3 mm, maxilla and mandibula crowding, unilateral ectopic canine, unilateral premolar impaction, jaw asymmetry and midline shift occurred. Extraction of 2 maxillary first premolars and 2 necrose mandibular first molars was conducted followed by a treatment using fixed orthodontic appliance Edgewise technique with multiloop. The ectopic canine and premolar impaction were extruded using L loop. Jaw asymmetry was corrected by expanding the dental arch using the expanded main archwire. Ectopic canine, premolar impaction, maxilla and mandibula crowding were corrected after 7 months of treatment. The overjet and overbite reached 2.5 mm. The treatment is still ongoing. The multiloop edgewise archwire technique is found effective to overcome dental crowding, and L loop is effective to extrude the ectopic canine and premolar impaction.
Perawatan ortodontik interseptif pada maloklusi kelas III Ratna Suryani; Sri Suparwitri; Soekarsono Hardjono Soekarsono Hardjono
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.28 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.32003

Abstract

Maloklusi Klas III merupakan kasus ortodontik yang sulit untuk dirawat. Maloklusi ini mempunyai karakteristik profil wajah pasien cekung, prognasi mandibula, retrognasi maksila maupun kombinasi keduanya dan cross bite gigi anterior. Perawatan ortodontik interseptif pada kasus ini sangat dianjurkan untuk mencegah maloklusi berkembang lebih lanjut, memacu dan mengarahkan petumbuhan yang benar, serta mencegah tindakan pembedahan dikemudian hari. Bionator adalah alat ortodontik lepasan untuk merawat maloklusi kelas III dan penyederhanaan dari aktivator. Bionator dikombinasikan dengan chin cap untuk meningkatkan keberhasilan perawatan. Tujuan studi kasus ini adalah menganalisis efektifitas perawatan ortodontik interseptif pada maloklusi kelas III dengan penggunaan kombinasi alat ortodontik lepasan bionator dan chin cap. Pasien perempuan berusia 10 tahun, mengeluhkan dagunya panjang serta gigi depan rahang bawah maju. Pemeriksaan objektik: over jet -1 mm, overbite 1 mm, cross bite gigi 11 21 22 dengan 32 31 41 dan prognasi mandibula. Maloklusi Angle Klas III dentoskeletal, tipe skeletal kelas III, overjet: -1 mm, overbite: 1 mm, disertai prognasi mandibula, bidental protrusif, crossbite anterior: 11, 21, 22 terhadap 32 31, 41 dan malpoisisi gigi individual. Setelah 12 bulan pemakaian alat, edge to edge bite 11, 21, terhadap 32, 31, 41, terkoreksi, tetapi crossbite 22 terhadap 32 belum terkoreksi. Pemakaian bionator dilanjutkan dan dikombinasikan dengan chin cap. Perawatan masih berlangsung hingga saat ini (12 bulan). Penggunaan kombinasi alat ortodontik lepasan bionator kelas III dan chin cap sangat efektif digunakan dalam perawatan ortodontik interseptif pada pasien maloklusi kelas III.ABSTRACT: Class III malocclusion an orthodontic cases are difficult to treat. This malocclusion has characteristics: concave facial profile, prognathism mandible, maxilla retrognati or a combination of both and anterior cross bite. Interseptif orthodontic treatment in this case is highly recommended to prevent further developing malocclusion, stimulating and directing the growth of correct, and prevent future surgery. Bionator is a removable appliance, a simplification of the activator to treat Class III malocclusions. Combination bionator with the chin cup to improve the success of treatment. Objectives analyze the effectiveness of orthodontic interseptif treatment on Class III malocclusion using a combination of a removable orthodontic appliance bionator class III and chin cap. A female patient, aged 10 years old, complained about the long chin and the front teeth of the lower jaw forward. Objective examination: over jet -1 mm, overbite 1 mm, crossbite 11 21 22 with 32 31 41 and prognatism mandible. Diagnosis: dentoskeletal Angle Class III malocclusion, skeletal Class III, overjet: -1 mm, overbite: 1 mm, accompanied prognatism mandible, bidental protrusive, crossbite anterior: 11, 21, 22 to 32 31, 41 and malposition individual teeth. After 12 months, edge to edge bite 11, 21 to 32, 31, 41 corrected, but the cross bite 22 to 32 have not been corrected. Usage continued bionator combined with the chin cup. Up to now, the treatment is still continued. Bionator class III combined with chin cap is effectively used in orthodontic interseptif treatment in patients with class III malocclusion
Retraksi kaninus segmental pada kasus gigi anterior maksila yang berjejal berat Katlya Anggraini; Soekarsono Hardjono; Sri Suparwitri
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65719

Abstract

Retraksi kaninus merupakan salah satu tahapan dari perawatan ortodonti pada kasus pencabutan, yang umumnya dilakukan setelah tahap levelling selesai dilakukan. Namun pada kasus gigi anterior yang berjejal berat, retraksi kaninus segmental seringkali diperlukan untuk menyediakan ruang demi tercapainya kesejajaran gigi-gigi anterior. Laporan kasus ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas retraksi kaninus segmental pada penanganan kasus gigi anterior maksila yang berjejal berat. Seorang pasien perempuan usia 13 tahun datang dengan keluhan gigi-geligi rahang atas dan bawah yang berjejal dan terdapat gigi depan kiri atas yang tumbuh lebih ke depan. Pemeriksaan objektif menunjukkan bidental protrusi, crowding rahang atas dan rahang bawah, open bite, cross bite, dan scissor bite. Pasien memiliki Maloklusi Angle Kelas II divisi 1 dengan relasi skeletal kelas II, bidental protrusi, open bite pada gigi 13 terhadap 43, dan 24 terhadap 34, cross bite pada gigi 15 terhadap 45, scissor bite pada gigi 25 terhadap 35, dan malposisi gigi individual. Pasien dirawat menggunakan alat ortodontik cekat teknik Edgewise dengan retraksi kaninus yang dilakukan secara segmental. Setelah 17 bulan perawatan, crowding rahang atas dan rahang bawah terkoreksi, malposisi gigi individual terkoreksi, cross bite terkoreksi, scissor bite terkoreksi namun open bite belum terkoreksi dan perawatan pada pasien masih berlangsung hingga saat ini. Retraksi kaninus segmental efektif untuk penanganan kasus gigi anterior maksila yang berjejal berat.
Perawatan Maloklusi Klas III Skeletal disertai Open Bite dengan Teknik Begg Putu Ika Anggaraeni; Sri Suparwitri; Soekarsono H; Pinandi SP
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.021 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.7974

Abstract

Overjet negatif pada maloklusi klas III dapat terjadi karena penyimpangan hubungan incisivus atas dan bawah, adanya malrelasi antara maksila dan mandibula, atau kombinasi keduanya. Maloklusi klas III dapat disertai dengan crowding, deep bite, maupun open bite. Tujuan perawatan adalah untuk mengoreksi cross bite dan open bite, memperoleh overjet dan overbite normal serta hubungan oklusal yang stabil. Pasien laki-laki usia 15 tahun dengan maloklusi Angle klas III dan relasi skeletal klas III, mandibula protrusif, cross bite anterior (overjet -3 mm), open bite 12-22 terhadap 43-34, cross bite posterior bilateral, dan pergeseran garis tengah inter incisivus rahang bawah kekanan 0,7 mm. Perawatan ortodontik dilakukan dengan alat cekat teknik Begg, diawali dengan pencabutan gigi 34 dan 44 serta grinding gigi anterior rahang atas. Elastik intermaksiler klas III, elastik cross posterior, dan elastik vertikal digunakan untuk koreksi cross bite anterior dan posterior serta open bite. Kesimpulan dari hasil perawatan dengan teknik Begg, cross bite anterior dan posterior serta open bite terkoreksi (overjet 2 mm dan overbite 2 mm). Garis tengah inter incisivus rahang bawah dan rahang atas sejajar dengan garis tengah wajah. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 192-198.
Perawatan Maloklusi Angle Kelas II Divisi 2 dengan Impaksi Kaninus Mandibula menggunakan Alat Cekat Begg Ruliyanto Ruliyanto; Sri Suparwitri; Soekarsono H
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.968 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.7976

Abstract

Gigi kaninus sangat penting untuk estetika dan fungsi mastikasi seseorang.  Impaksi gigi adalah gagalnya gigi untuk muncul ke dalam lengkung gigi yang dapat disebabkan karena kekurangan ruang, adanya sesuatu yang menghalangi jalur erupsi gigi atau karena faktor keturunan. Prevalensi impaks gigi kaninus maksila adalah 0,9-2,2%, sedangkan impaksi gigi kaninus mandibula lebih jarang terjadi. Alternatif perawatan gigi impaksi kaninus mandibula adalah operasi exposure dan diikuti dengan kekuatan erupsi alat cekat ortodontik. Tujuan dari perawatan adalah untuk koreksi malrelasi dan malposisi gigi geligi, khususnya koreksi gigi kaninus impaksi menggunakan teknik Begg. Pasien perempuan, 17 tahun, gigi sangat berjejal, gigi kaninus kanan rahang bawah impaksi, kelas II divisi 2 Angle, deep overbite, pergeseran midline gigi  rahang atas dan bawah ke arah kanan, overjet 2,49 mm dan overbite 5,45 mm. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat Begg dengan pencabutan keempat gigi premolar pertama. Operasi exposure dilakukan untuk membuka gigi kaninus kanan bawah yang impaksi yang diikuti perekatan braket ortodontik. Kawat busur multiloop, anchorage bend dan elastik intermaksiler klas II digunakan pada tahap leveling dan unraveling. General alignment dicapai dalam waktu 13 bulan, pergeseran midline terkoreksi, gigi kaninus kanan rahang bawah erupsi sempurna, relasi kaninus kelas I Angle, overjet 2,00 mm, overbite 2,68 mm. Saat ini perawatan masih berlangsung pada tahap koreksi kesejajaran akar gigi. Kesimpulan perawatan maloklusi angle klas II divisi 2 dengan berjejal parah dan impaksi kaninus mandibula dalam kasus ini membutuhkan operasi exposure gigi kaninus impaksi diikuti alat cekat teknik Begg. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 199-207.
Perawatan Maloklusi Klas II Divisi 1 Disertai Crowding dan Openbite menggunakan Teknik Begg Heri Susilo Winarti; Pinandi Sri Pudyani; Soekarsono Hardjono; Sri Suparwitri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.716 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8163

Abstract

Maloklusi Angle Klas II divisi I dapat disertai dengan crowding, open bite dan deep bite. Tujuan perawatan adalah untuk mengoreksi crowding, open bite anterior, diastemata rahang bawah, memperoleh overjet dan overbite normal, serta hubungan oklusal yang stabil. Pasien laki-laki berumur 19 tahun, dengan keluhan gigi-gigi rahang atas berjejal dan maju sehingga sulit menutup mulut, serta gigi-gigi rahang bawah renggang. Pasien didiagnosis Maloklusi Angle klas II divisi I dengan hubungan skeletal klas II disetai open bite, crowding dan protrusif gigi-gigi anterior rahang atas,  diastemata gigi-gigi rahang bawah, molar pertama bawah kanan dan kiri telah dicabut, dan impaksi gigi kaninus kanan bawah. Perawatan menggunakan teknik Begg yang diawali dengan pencabutan kedua gigi premolar pertama rahang atas. Tahap pertama perawatan menggunakan multiloop arch wire 0,014” dan elastik intermaksiler klas II. Kesimpulan dari hasil perawatan setelah 16 bulan, crowding dan open bite anterior terkoreksi, diastemata menutup, dan pasien sudah tidak kesulitan dalam menutup mulut. Pasien masih dalam tahap  penyelesaian perawatan.