Lucas Partanda Koestoro
Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MASA DEPAN ARKEOLOGI BAWAH AIR DI INDONESIA Harry Widianto; Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol 5 No 1 (1984)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6623.732 KB) | DOI: 10.30883/jba.v5i1.264

Abstract

Perkembangan arkeologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari kehidupanmasa silam berdasarkan benda-benda yang ditinggalkan, telah mengalamikemajuan pesat sejak abad 19. Bermula dari minat yang menimbulkanpengkoleksian benda-benda arkeologis, yang berakhir dengan usahauntuk mengungkap beberapa aspek yang mellputi benda tadi, antara lainjenis, fungsi, periode dan sebagainya. Langkah seperti ini mulai terlihatjelas pacrd tahun 1836, ketika J .C Thomsen~ kurator dari Museum Nasional Copenhagen, memperkenalkan Sistem Tiga. iaman (Three Ages ·system) bagi benda-benda hasil koleksinya. Klasifikasi tersebut didasarkan pada bahan dasar, yaitu batu, perunggu dan. besi (Soejono, 1976: 4). Kemudian disusul dengan langkah berikutnya yang lebih terarah, sehingga dalam waktu singkat, Ilmu Arkeologi telah mengalami proses pematangan. Konsekwensi logis dari proses tadi adalah tuntutan metode kerja yang sistematis bagi ilmu ini, seperti yang dinyatakan oleh Fagan sebagai berikut: ''We have talked of Archaeology as a discipline,_a label diliberately chosen because it fits well. The methods of archaeological research imply disicipline--accurate recording. precise excavation, using scientific methode, and detail analysis in the laboratory (Fagan, 1975:7)
Akulturasi Di Kraton Kasepuhan Dan Mesjid Panjunan, Cirebon Lucas Partanda Koestoro
Berkala Arkeologi Vol 2 No 1 (1981)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2528.206 KB) | DOI: 10.30883/jba.v2i1.285

Abstract

Pendukung kebudayaan adalah manusia. Sejak kelahirannya dan dalam proses sosialisasi, manusia mendapatkan berbagai pengetahuan. Pengetahuan yang didapat dan dipelajari dari lingkungan keluarga pada lingkup kecil dan masyarakat pada lingkup besar, mendasari dan mendorong tingkah lakunya dalam mempertahankan hidup. Sebab manusia tidak bertindak hanya karena adanya dorongan untuk hidup saja, tetapi juga karena suatu desakan baru yang berasal dari budi manusia dan menjadi dasar keseluruhan hidupnya yang dinamakan kebudayaan. Sehingga suatu masyarakat ketika berhadapan dan berinteraksi dengan masyarakat lain dengan kebudayaan yang berlainan, kebudayaan baru tadi tidak langsung diterima apa adanya. Tetapi dinilai dan diseleksi mana yang sesuai dengan kebudayaannya sendiri. Budi manusia yang menilai benda dan kejadian yang beraneka ragam di sekitarhya kemudian memllihnya untuk dijadikan tujuan maupun isi kelakuan budayanya (Sutan Takdir Alisyahbana, tanpa angka tahun: 4 dan 7).