Aludin Al Ayubi
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Studi Penangkapan Tuna Oleh Nelayan di Desa Balauring, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata Aludin Al Ayubi; Franchy Ch. Liufeto; Kumala Sari; Yahyah Yahyah; Priyo Santoso
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 3, No 2 (2022): April 2023
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v3i2.5375

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas penangkapan ikan tuna oleh nelayan di Desa Balauring, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata yang meliputi kapal dan alat penangkapan, daerah penangkapan, musim penangkapan, jumlah dan produksi hasil tangkapan dan nilai CPUE hasil tangkapan. Teknik pengambilan data dalam penelitian terdiri dari teknik observasi dan wawancara dan kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa alat penangkapan tuna  oleh nelayan setempat adalah hand line dengan kapal penangkapan berupa kapal motor mesin dalam berukuran 0,5-1, GT. Daerah penangkapan tuna oleh nelayan setempat terdapat pada beberapa lokasi dengan koordinat FG 1 (S =  8°11'23.03" dan E = 123°38'7.17"),  FG II ( S =  8°10'15.91" dan E = 123°39'14.39"), FG III (S =  8°10'16.05" dan E = 123°41'4.45"), FG IV (S =  8°10'17.05" dan E = 123°42'4.45"), FG V ( S =  8°10'53.99" dan E = 123°41'19.90"), FG IV  (S =  8°8'35.34"dan E = 123°39'51.91"), FG VII (S =  8°7'55.20" dan E = 123°40'52.64"), FG VIII (S =  8°8'45.35" dan E = 123°40'58.68"), FG IX (S =  8°8'15.19" dan E = 123°42'39.77") dan FG X  (S =  8°9'4.40" dan E = 123°42'19.54"). Selain itu, musim penangkapannya berada pada musim peralihan 1 (bulan Maret-April), musim timur (bulan Mei-Agustus) dan musim peralihan 2 (bulan September-Oktober). Jumlah hasil tangkapan per unit armada penangkapan berkisar antara 33-48 ekor dengan nilai produksi berkisar antara 1263,60-2337,00 kg/bulan. Sedangkan nilai CPUEnya berkisar antara 101,48-123,00 kg/trip.Kata Kunci : Penangkapan, Tuna, Balauring, Lembata
SEBARAN JENIS SAMPAH LAUT PADA TEMPAT BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI DESA TUNGANAMO, KECAMATAN PANTAI BARU, KABUPATEN ROTE NDAO Astri Sukur; Yahyah Yahyah; Aludin Al Ayubi
Jurnal Bahari Papadak Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak- Sampah laut merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang banyak ditemukan di wilayah pesisir dan perairan laut. Keberadaan sampah laut di sekitar lokasi budidaya rumput laut dapat memengaruhi kualitas lingkungan perairan serta berpotensi mengganggu kegiatan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis dan kepadatan sampah laut yang terdapat di sekitar lokasi budidaya rumput laut di Desa Tunganamo, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2025 dengan menggunakan metode line transect dan plot pengamatan pada tiga stasiun penelitian dengan total 12 plot pengamatan berukuran 10 × 10 m². Parameter yang dianalisis meliputi komposisi jenis sampah laut dan kepadatan sampah laut yang ditemukan pada area budidaya rumput laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah laut yang ditemukan didominasi oleh jenis sampah plastik, dengan total 11 jenis sampah, yaitu kantong plastik, botol plastik <2 liter, tutupan botol, tali rafia, sedotan plastik, tali nilon atau tali jaring, gelas plastik sekali pakai, kemasan minuman sachet, kemasan deterjen, kemasan makanan ringan, dan styrofoam. Komposisi sampah plastik tertinggi ditemukan pada kemasan makanan ringan sebesar 20,699%, diikuti oleh tali nilon sebesar 16,233% dan tutupan botol sebesar 16,104%. Nilai kepadatan total sampah laut di lokasi penelitian sebesar 0,520 potongan/m², dengan kepadatan tertinggi pada kemasan makanan ringan sebesar 0,118 potongan/m², diikuti oleh tutupan botol dan tali nilon masing-masing sebesar 0,082 potongan/m². Tingginya keberadaan sampah plastik di sekitar lokasi penelitian diduga dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat pesisir, kegiatan perikanan, serta aktivitas budidaya rumput laut di sekitar wilayah penelitian. Kata Kunci: Sampah Laut, Komposisi Jenis, Kepadatan Sampah, Budidaya Rumput Laut. Abstract- Marine debris is one of the environmental problems commonly found in coastal and marine areas. The presence of marine debris around seaweed cultivation areas can affect the quality of aquatic environments and potentially interfere with seaweed farming activities. This study aims to analyze the types and density of marine debris found around seaweed cultivation areas in Tunganamo Village, Pantai Baru District, Rote Ndao Regency. The research was conducted in July 2025 using the line transect and observation plot method at three research stations with a total of 12 observation plots measuring 10 × 10 m². The parameters analyzed included the composition of marine debris types and the density of marine debris found in the seaweed cultivation area. The results showed that the marine debris found was dominated by plastic waste, with a total of 11 types, namely plastic bags, plastic bottles <2 liters, bottle caps, raffia ropes, plastic straws, nylon ropes or net ropes, plastic cups, sachet drink packaging, detergent packaging, snack packaging, and styrofoam. The highest composition of plastic debris was found in snack packaging at 20.699%, followed by nylon rope at 16.233% and bottle caps at 16.104%. The total density of marine debris at the study site was 0.520 pieces/m², with the highest density found in snack packaging at 0.118 pieces/m², followed by bottle caps and nylon ropes at 0.082 pieces/m² each. The high presence of plastic debris in the study area is suspected to be influenced by coastal community activities, fishing activities, and seaweed farming activities around the research area. Keywords: Marine Debris, Composition of Debris Types, Debris Density, Seaweed Cultivation.
JENIS-JENIS MIKROPLASTIK PADA KOLOM PERMUKAAN PERAIRAN SUNGAI DI KOTA KUPANG Wilhelmina Terik Klau; Lumban Nauli Lumban Toruan; Aludin Al Ayubi; Suprabadevi Ayumayasari Saraswati
Jurnal Bahari Papadak Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sampah di perairan sudah menjadi masalah yang sangat serius, hal ini juga terjadi di Kota Kupang khususnya perairan sungai. Sampah yang dominan mencemari sungai adalah sampah plastik dengan dengan beragam ukuran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji jenis – jenis mikroplastik yang terdapat pada dua sungai di Kota Kupang. Penelitian ini difokuskan pada mikroplastik yang berada pada permukaan air di Sungai Jembatan Selam dan Sungai Pohon Duri. Penelitian ini menggunakan metode random sampling. Setiap lokasi diambil sebanyak 58 liter air di kolom permukaan, kemudian sampel disaring menggunakan kertas saring, setelah itu diidentifikasi menggunakan mikroskop. Terdapat lima jenis mikroplastik, yaitu Fiber, Film, Fragmen, Granule, dan Pellet di Sungai Jembatan Selam, sedangkan di Sungai pohon Duri terdapat empat jenis mikroplastik , yaitu Fiber, Film, Fragmen, dan Pellet. Kata kunci: Mikroplastik, Permukaan air, Sungai Jembatan Selam, Sungai Pohon Duri Abstract Waste in water has become a serious problem, including in Kupang City, especially in river waters. The dominant waste polluting the rivers a plastic waste of various sizes. This study aims to examine the types of microplastics found in two rivers in Kupang City. This study focuses on microplastic found on the surface of the water in the Jembatan Selam River and Pohon Duri River. This study uses a random sampling method. At each location, 58 liters of water is taken from the surface column, then the sample is filtered using filter paper-, and then identified using a microscope. There are five types of microplastics, namely Fiber, Film, Fragmen, Granule and Pellet in Jembatan Selam River, while in PohonDuri River there are four types of microplastics, namely Fiber, Film, Fragment, and Pellet. Keywords: Microplastics, Water Surface, Jembatan Selam River, Pohon duri River
KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN POLA PEMASARAN GURITA (OCTOPUS SP.) HASIL TANGKAPAN NELAYAN DI DESA HADAKAMALI, KABUPATEN SUMBA TIMUR, NUSA TENGGARA TIMUR Ronaldo Turu Maramba Ndima; Alexander Leonidas Kangkan; Nikanor Hersal Armos; Aludin Al Ayubi
Jurnal Bahari Papadak Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Kondisi sosial ekonomi nelayan memengaruhi kesejahteraan masyarakat pesisir di Kabupaten Sumba Timur. Penangkapan gurita (Octopus sp.) menjadi mata pencaharian utama masyarakat Desa Hadakamali, namun keterbatasan akses pasar dan ketergantungan pada pengepul masih memengaruhi pendapatan nelayan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi sosial ekonomi nelayan dan pola pemasaran gurita di Desa Hadakamali. Penelitian dilakukan pada Desember 2025–Januari 2026 menggunakan metode kuantitatif dengan analisis deskriptif kualitatif terhadap 36 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi nelayan masih tergolong rendah dengan rata-rata pendapatan Rp 2.450.000 per bulan. Pola pemasaran gurita didominasi pemasaran tidak langsung melalui pengepul sehingga posisi tawar nelayan relatif lemah. Kata kunci: Kondisi Sosial Ekonomi, Nelayan Gurita, Pola Pemasaran, Octopus Sp., Sumba Timur. Abstract - The socio-economic conditions of fishermen affect the welfare of coastal communities in East Sumba Regency. Octopus (Octopus sp.) fishing is the main livelihood of the people in Hadakamali Village; however, limited market access and dependence on collectors still influence fishermen’s income. This study aimed to analyze the socio-economic conditions of fishermen and the marketing patterns of octopus in Hadakamali Village. The research was conducted from December 2025 to January 2026 using a quantitative method with descriptive qualitative analysis involving 36 respondents. The results showed that the socio-economic conditions of fishermen were still relatively low, with an average income of IDR 2,450,000 per month. The octopus marketing pattern was dominated by indirect marketing through collectors, resulting in a relatively weak bargaining position for fishermen. Keywords: Socio-Economic Conditions, Octopus Fishermen, Marketing Patterns, Octopus sp., East Sumba.