This Author published in this journals
All Journal Jurnal EMPATI
Frieda NRH
Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI DENGAN RESOLUSI KONFLIK PADA KARYAWAN P.T PERTAMINA REFINERY UNIT IV CILACAP Nur Faqih Ragil Nugroho; Frieda NRH
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 (Agustus 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.821 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15397

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dengan resolusi konflik pada karyawan P.T Pertamina Unit Revinery IV Cilacap. Populasi penelitian terdiri atas 1129 karyawan P.T Pertamina Reffinery Unit IV Cilacap, dan sampel penelitian adalah 89 karyawan yang diperoleh dengan menggunakan convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua skala psikologi yaitu skala regulasi emosi dengan 26 aitem sahih (α = .844) dan skala resolusi konflik dengan 30 aitem sahih (α =.919). Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan positif antara regulasi emosi dan resolusi konflik. Analisis regresi sederhana menunjukkan koefisien korelasi 0,655 (p<0,01), artinya hubungan positif antara regulasi emosi dan resolusi konflik. Sumbangan efektif regulasi emosi pada karyawan P.T Pertamina Reffinery Unit IV Cilacap terhadap resolusi konflik 65,5% dan sisanya 34,5% dijelaskan oleh faktor lain. Peneliti selanjutnya dapat mempertimbangkan faktor-faktor lain yang memengaruhi resolusi konflik.
PERBEDAAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING REMAJA DITINJAU DARI PERSEPSI POLA ASUH ORANG TUA Siti Alfi Karimah; Frieda NRH
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 (April 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.417 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15219

Abstract

Kondisi psychological well-being remaja perlu diperhatikan karena psychological well-being berhubungan dengan kemampuan resiliensi. Kemampuan resiliensi remaja yang buruk mengakibatkan beberapa masalah remaja seperti melakukan pencurian kendaraan bermotor, prostitusi online, konsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang. Kondisi Psychological well-being dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, kematangan emosi, kondisi ekonomi, dukungan sosial dan hubungan sosial. Salah satu bentuk hubungan sosial remaja adalah interaksi dengan orang tua (pola asuh).Pola asuh dibagi menjadi empat bentuk yaitu authoritative, authoritarian, indulgent dan neglectful. Jenis pola asuh ditentukan dari kualitas pemberian kehangatan dan kontrol orang tua pada remaja. Tujuan utama penelitian ini adalah melihat perbedaan kondisi psychological well-being ditinjau dari perbedaan persepsi gaya pola asuh orang tua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan pengumpulan data menggunakan Skala Persepsi Pola Asuh (25 aitem, α = 0,894) dan Skala Psychological Well-being (38 aitem, α = 0,894). Partisipan penelitian adalah 180 siswa-siswi kelas 11 SMA Negeri 9 Semarang yang dipilih menggunakan teknik cluster sampling. Peneliti menemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan kondisi psychological well-being ditinjau berdasarkan perbedaan persepsi pola asuh orang tua (p = 0,000.) tetapi tidak terdapat perbedaan signifikan antara kondisi psychological well-being remaja yang diasuh dengan pola asuh authoritative, authoritarian dan indulgent. Perbedaan kondisi psychological well-being yang signifikan ditunjukan oleh kelompok pola asuh neglectful.
IDENTITAS DIRI WANITA BISEKSUAL: Studi Fenomenologis pada Wanita Dewasa Awal Woro Triananda Miranti; Frieda NRH
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 (Januari 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.553 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15108

Abstract

Secara kodrati manusia diciptakan berpasang-pasangan dengan lawan jenisnya, namun pada kenyataannya terdapat sejumlah minoritas manusia yang bisa berpasangan dan melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis, maupun dengan keduanya sekaligus atau yang lebih sering disebut biseksual. Keberadaan kaum biseksual tidak terlalu nampak seperti halnya kaum homoseksual, karena orang-orang dengan status biseksual cenderung menyembunyikan dari lingkungan. Biseksual terbentuk dari beberapa faktor seperti proses pengkombinasian pengalaman, kepercayaan, pemahaman yang dimiliki individu sepanjang hidup dimulai dari masa kanak-kanak hingga saat ini. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti pembentukan identitas diri pada wanita biseksual yang berada dalam kategori usia dewasa muda. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana identitas terbentuk dalam diri wanita biseksual sebagai bentuk kesadaran individu mengenai siapa dirinya, apa yang menjadi pilihannya, dan apa yang dipertahankannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis yang menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara (depth interview) dengan informan yang berjumlah 3 orang. Hasil menunjukan bahwa ketiga informan mengaku mengalami kelainan orientasi seksual yaitu biseksual. Terdapat perbedaan pencapaian status identitas yag dialami ketiga informan. Hanya satu informan yang telah mencapai identity achivement ketika mencapai usia dewasa awal, sedangkan dua informan lainnya masih menyelesaikan tahap identity moratorium ketika mencapai usia dewasa awal.
HUBUNGAN ANTARA SIBLING RIVALRY DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 12 SEMARANG Rada Gusti Pertiwi; Frieda NRH
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 (Oktober 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.382 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.23437

Abstract

Psychological well-being adalah sikap positif individu pada dirinya dan orang lain, otonomi/mandiri, menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang bermanfaat, memiliki tujuan dalam hidup dan membuat hidup lebih bermakna, serta berusaha mengembangkan potensi yang dimiliki. Sibling rivalry adalah persaingan, kecemburuan dan kebencian antara saudara kandung yang muncul setelah kelahiran anggota baru dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sibling rivalry dan psychological well-being pada siswa SMP Negeri 12 Semarang. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 12 Semarang yang memiliki saudara kandung. Populasi berjumlah 251 siswa dengan sampel penelitian berjumlah 153 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Alat ukur menggunakan skala psychological well-being (36 aitem, α= 0,902) dan skala sibling rivalry (31 aitem, α=0,905). Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara sibling rivalry dengan psychological well-being, dengan koefisien korelasi rxy= -0,522 dengan p 0,000 (p < 0,05). Artinya, semakin tinggi sibling rivalry maka semakin rendah psychological well-being siswa, begitu juga sebaliknya, semakin rendah sibling rivalry maka semakin tinggi psychological well-being siswa. Sibling rivalry memberikan sumbangan efektif sebesar 27,3% terhadap psychological well-being. Sedangkan sebesar 73,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. 
SELF ESTEEM DAN OPTIMISME RAIH KESUKSESAN KARIR PADA FRESH GRADUATE FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO Andi Rahmalia Putri; Frieda NRH
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 (Oktober 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.278 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.13398

Abstract

Saat ini fresh graduate yang belum bekerja dihadapkan pada fenomena sulitnya persaingan dalam mencari pekerjaan, sehingga fenomena tersebut dapat mempengaruhi cara berpikirnya terhadap kesuksesan karir di masa depan. Cara berpikir individu yang bersifat positif mengenai harapannya yang terjadi di masa mendatang disebut optimisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self esteem dengan optimisme meraih kesuksesan karir pada fresh graduate Fakultas Teknik Universitas Diponegoro serta mengetahui besarnya sumbangan efektif yang didapatkan. Hipotesis penelitian ini adalah ada hubungan positif antara self esteem dengan optimisme meraih kesuksesan karir pada fresh graduate Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Sampel penelitian ini adalah wisudawan periode 138 Fakultas Teknik Fakultas di Universitas Diponegoro yang berjumlah 193 orang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik insidental sampling. Pengumpulan data menggunakan dua buah skala psikologi, yaitu Skala Optimisme Meraih Kesuksesan Karir (35 aitem; α = 0,798) dan Skala Self Esteem (41 aitem; α = 0,819). Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara self esteem dengan optimisme meraih kesuksesan karir pada fresh graduate (rxy = 0,586; p < 0,001). Semakin tinggi self esteem maka optimisme meraih kesuksesan karir pada fresh gradute semakin tinggi, dan sebaliknya. Sumbangan efektif variabel self esteem pada penelitian ini sebesar 34%, sedangkan 66% dipengaruhi faktor-faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini.
HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS TERHADAP TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU KONSUMTIF DALAM MEMBELI PAKAIAN DI ONLINE SHOP PADA REMAJA SMA KESATRIAN 1 SEMARANG Della Roselina Pertiwi; Frieda NRH; Endah Mujiasih
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 (Agustus 2013)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.742 KB) | DOI: 10.14710/empati.2013.7356

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mengetahui hubungan antara konformitas terhadap perilaku konsumtif dalam membeli pakaian online shop pada remaja. Subjek penelitian berjumlah 123 orang siswa kelas X (sepuluh) dan XI (sebelas) SMA Kesatrian 1 Semarang. Penentuan sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode skala. Perilaku konsumtif diukur dengan menggunakan Skala Perilaku konsumtif yang terdiri dari 37 aitem valid (α= 0, 903). Konformitas diukur dengan menggunakan Skala Konformitas yang terdiri dari 22 aitem valid (α= 0, 829).Hasil analisis data dengan metode analisis regresi sederhana menghasilkan koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,360 dengan p = 0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan arah hubungan positif yang signifikan antara konformitas dengan perilaku konsumtif pada siswa kelas X (sepuluh) dan XI (sebelas) SMA Kesatrian 1 Semarang. Konformitas memberikan sumbangan efektif sebesar 13% pada perilaku konsumtif  siswa kelas X (sepuluh) dan XI (sebelas) SMA Kesatrian 1 Semarang.
KECANDUAN SMARTPHONE DITINJAU DARI KONTROL DIRI DAN JENIS KELAMIN PADA SISWA SMA MARDISISWA SEMARANG Tri Mulyati; Frieda NRH
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 (Oktober 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.34 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.23438

Abstract

Kecanduan smartphone secara garis besar adalah ketergantungan atau kecenderungan seseorang dalam menggunakan smartphone secara terus menerus tanpa menghiraukan dampak negatifnya. Penggunaan tersebut dapat memberikan rasa sangat menyenangkan, menimbulkan kecemasan dan stres ketika kebutuhan smartphone tidak terpenuhi. Kontrol diri adalah kemampuan individu dalam mengendalikan tingkah laku dan menahan keinginan yang muncul dari dalam diri sehingga mampu mengambil suatu tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan kecanduan smartphone, serta melihat perbedaan kecanduan smartphone berdasarkan jenis kelamin pada siswa kelas X dan XI SMA Mardisiswa Semarang. Populasi berjumlah 224 siswa dengan sampel 152 siswa berdasarkan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan skala kontrol diri (29 aitem α = 0,900), skala kecanduan smartphone (32 aitem α = 0.911) dan data mengenai jenis kelamin diperoleh melalui lembar skala pada kolom identitas. Hasil analisis regresi sederhana diperoleh nilai (rxy = -0,410 dengan p = 0,000 (p < 0,05), artinya terdapat hubungan negatif yang signifikan antara variabel kontrol diri dengan kecanduan smartphone. Semakin tinggi kontrol diri individu maka kecanduan smartphone semakin rendah, sebaliknya, semakin rendah kontrol diri individu maka kecanduan smartphone semakin tinggi. Kontrol diri memberikan sumbangan efektif sebesar 16,8% terhadap variabel kecanduan smartphone. Hasil analisis independent sample t-test diperoleh koefisien t sebesar -2.240 dengan p = 0,027 (p < 0,05). Berarti bahwa terdapat perbedaan kecanduan smartphone yang signifikan berdasarkan jenis kelamin. Perempuan memiliki nilai rata-rata kecanduan smartphone lebih tinggi yaitu sebesar 82.25 dibandingkan dengan laki-laki yaitu sebesar 77,92.
IDENTITAS MORAL DITINJAU DARI SCHOOL ATTACHMENT DAN PERBEDAAN JENIS SEKOLAH PADA SISWA SEKOLAH DASAR Amalia Fauziah; Frieda NRH
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 (Januari 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.077 KB) | DOI: 10.14710/empati.2014.7436

Abstract

Idealnya, orang yang berpendidikan yang tinggi memiliki moralitas yang baik. Akan tetapi, fakta mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan moralitas. Moralitas hanya nilai normatif yang tidak berkaitan dengan pendidikan dan perilaku. Kesenjangan tersebut dijawab oleh identitas moral yang berusaha memahami moral action dilakukan seperti apa yang dipikirkan dan dirasakan orang.Pendidikan atau sekolah adalah satu lingkungan pembentuk moralitas. Dengan teori model pembentukan identitas moral dari Matsuba et al (2011), school attachment menjadi faktor utama pembentukan identitas moral pada anak usia praremaja (earlyadolescence).Penelitian ini berusaha untuk mengetahui korelasi antara identitas moral dengan school attachment dan mengetahui perbedaan antara SDN dengan SDI. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala likert pada 559 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage cluster sampling dengan mengambil 10% SD dari total 168 SD berakreditasi A di Kota Semarang.Sebagian besar siswa menunjukkan identitas moral dan school attachment yang baik meskipun menujukkan skor yang sedikit pada dua aspek yang berkaitan dengan guru. Pada populasi SDN, 35,8% identitas moral dipengaruhi oleh school attachment sedangkan pada SDI menunjukkan 30,9%. Penelitian ini menunjukkan bahwa role model dari guru dan kegiatan bermuatan sosial menjadi aspek yang penting untuk membangun identitas moral siswa.
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DENGAN KOMPETENSI INTERPERSONAL SISWA YANG MENJADI PENGURUS OSIS DI SMA NEGERI WILAYAH KAB.BOYOLALI Nurulitasari Nurulitasari; Frieda NRH
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 (Oktober 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.487 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.23433

Abstract

Kematangan emosi mengarah kepada kondisi seseorang yang telah mencapai tingkat kedewasaan secara emosional. Kematangan emosi ditandai oleh pengendalian emosi yang lebih baik sehingga tidak lagi meledakkan emosi di depan orang lain melainkan menunggu waktu dan tempat yang tepat untuk merespons emosi secara stabil. Kematangan emosi secara teoritis diasumsikan dapat memengaruhi kompetensi interpersonal individu. Kompetensi interpersonal adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam menjalin komunikasi dan interaksi secara efektif agar tercipta hubungan antarpribadi yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi dengan kompetensi interpersonal siswa yang menjadi pengurus OSIS di SMA Negeri Wilayah Kab.Boyolali. Populasi dalam penelitian ini adalah pengurus OSIS yang bersekolah di SMA Negeri wilayah Kab.Boyolali. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 171siswa dengan teknikcluster random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan skala yaitu Skala Kompetensi Interpersonal (26 aitem α = 0,877) dan Skala Kematangan Emosi (29 aitem α =  8,90). Berdasarkan teknik analisis regresi sederhana menunjukkan hasil koefisien korelasi rxy = 0,513 dengan p = .000 (p<0,05). Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kematangan emosi dengan kompetensi interpersonal, dengan sumbangan efektif sebesar 26,3%.
HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARSISWA DENGAN PENYESUAIAN DIRI TERHADAP SISTEM PEMBELAJARAN FULL DAY SCHOOL PADA SISWA TAHUN PERTAMA SMA NEGERI 4 KOTA PEKALONGAN Chusnul Chotimah; Frieda NRH
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 (Oktober 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.476 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.23428

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi interpersonal antarsiswa dengan penyesuaian diri terhadap sistem pembelajaran full day school pada siswa tahun pertama SMA Negeri 4 Kota Pekalongan. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 238 siswa tahun pertama SMA Negeri 4 Kota Pekalongan. Sampel penelitian ini berjumlah 146 siswa yang dipilih mengunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data mengunakan dua skala psikologi, yaitu skala penyesuaian diri terhadap sistem pembelajaran full day school (25 aitem, α = 0,863) dan skala komunikasi interpersonal antarsiswa (21 aitem, α = 0,854). Hasil penelitian menunjukkan koefisiensi korelasi (rxy) = 0,334 dengan nilai p= 0,000 (p < 0,001). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara komunikasi interpersonal antarsiswa dengan penyesuaian diri terhadap sistem pembelajaran full day school. Semakin baik komunikasi interpersonal antarsiswa maka semakin baik pula penyesuaian diri terhadap sistem pembelajaran full day school yang dimiliki. Berlaku sebaliknya, semakin buruk komunikasi interpersonal antarsiswa maka semakin buruk pula penyesuaian diri terhadap sistem pembelajaran full day school yang dimiliki. Komunikasi interpersonal antarsiswa memberikan sumbangan efektif sebesar 11,1% pada penyesuaian diri terhadap sistem pembelajaran full day school.