Yohanis Tomastola
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Manado

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KURANG ENERGI KRONIK PADA IBU HAMIL, PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF, DAN PENYAKIT INFEKSI (DIARE) TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BALITA 24-60 BULAN DI PUSKESMAS GOGAGOMAN Nonce Nova Legi; Muksin Pasambuna; Rivolta GM Walalangi; Yohanis Tomastola; Daniel Robert; Rudolf Boyke Purba; Elfrida Batewa
Jurnal GIZIDO Vol 14 No 1 Mei (2022): Jurnal GIZIDO edisi Mei 2022
Publisher : POLTEKKES KEMENKES MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47718/gizi.v14i1 Mei.1611

Abstract

ABSTRACT Stunting is a condition of failure to thrive in children under five (babies under five years old) as a result of chronic malnutrition so that the child is too short for his age. Malnutrition occurs since the baby is in the womb and in the early period after the baby is born however, the condition of stunting only appears after the baby is 2 years old. The purpose of this study was to determine the relationship of chronic energy deficiency in pregnant women, exclusive breastfeeding, and infectious diseases (diarrhea) with the incidence of stunting in infants 24-60 months in the Gogagoman Health Center. This type of research is an observational analytic study using a restropective cohort design. This study describes the relationship of chronic energy deficiency in pregnant women, exclusive breastfeeding, and infectious diseases (diarrhea) to the incidence of stunting in infants 24-60 months in the Gogagoman Health Center. This research was conducted in the working area of Gogagoman Health Center, Kotamobagu Barat, Kotamobagu City on January 23 - February 8, The sampling method was consecutive sampling with a total sample of 40 people. The results of the study using the Fisher's Exact Test showed that, there was no relationship of chronic energy deficiency (CED) in pregnant women with the incidence of stunting in infants 24-60 months in the Gogagoman Health Center obtained p value = 0.523. For exclusive breastfeeding, there is no relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting in infants 24-60 months in the Gogagoman Health Center, p = 0.454. For infectious diseases (diarrhea) that there is no relationship between infectious diseases (diarrhea) with the incidence of stunting in infants 24-60 months in Gogagoman Health Center with p = 0.477. The conclusion is that there is no correlation between chronic lack of energy in pregnant women, exclusive breastfeeding, and infectious diseases (diarrhea) with the incidence of stunting in children 24-60 months in the Gogagoman Health Center. Keywords: Chronic Energy Less, Pregnant Women, Exclusive Breastfeeding, Infectious Diseases (Diarrhea), Stunting. ABSTRAK Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan kurang energi kronik pada ibu hamil, pemberian ASI Ekslusif, dan penyakit infeksi (diare) dengan kejadian stunting pada balita 24-60 bulan di Puskesmas Gogagoman. Jenis penelitian adalah penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain kohort restropektif. Penelitian ini mendekripsikan hubungan kurang energi kronik pada ibu hamil, pemberian ASI Ekslusif, dan penyakit infeksi (diare) terhadap kejadian stunting pada balita 24-60 bulan di Puskesmas Gogagoman. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Gogagoman, Kotamobagu Barat, Kota Kotamobagu tanggal 23 Januari – 08 Februari 2019. Metode pengambilan sampel yaitu consecutive sampling yang dengan jumlah sampel yaitu 40 orang. Hasil penelitian menggunakan uji Fisher’s Exact Test menunjukkan bahwa, tidak ada hubungan kurang energi kronik (KEK) pada ibu hamil dengan kejadian stunting pada balita 24-60 bulan di Puskesmas Gogagoman diperoleh nilai p=0.523. Untuk pemberian ASI Eksklusif, tidak ada hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita 24-60 bulan di Puskesmas Gogagoman nilai p=0.454. Untuk penyakit infeksi (diare) bahwa tidak ada hubungan antara penyakit infeksi (diare) dengan kejadian stunting pada balita 24-60 bulan di Puskesmas Gogagoman dengan p=0.477. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan kurang energi kronik pada ibu hamil, pemberian ASI Ekslusif, dan penyakit infeksi (diare) dengan kejadian stunting pada balita 24-60 bulan di Puskesmas Gogagoman. Kata Kunci : Kurang Energi Kronik, Ibu hamil, Pemberian ASI Eksklusif, Penyakit Infeksi (Diare), Stunting.
Media sosial memengaruhi body image dan gangguan makan pada remaja Nancy Swanida Henriette Malonda; Maureen Irinne Punuh; Alpinia Shinta Pondagitan; Yohanis Tomastola; Solideo Anastasya; Christa Bidara; Putri Taroreh
Hik Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1892

Abstract

Background: Social media can negatively impact body image and increase the risk of eating disorders in adolescents, yet these platforms are widely used. Adolescents tend to worry about their appearance in response to social media content. Negative body image is a risk factor for eating disorders, which can impact adolescents' nutritional status, leading to undernutrition or overnutrition. Purpose: To determine the influence of social media on body image and eating disorders in adolescents. Method:  The study design used a descriptive analytical approach with a cross-sectional approach. The sample consisted of 211 eleventh-grade students from Senior High School in Tondano, Minahasa Regency, taken using a total sampling technique. Body image was measured using the MBSRQ-AS, eating disorders were measured using the EAT-26 questionnaire, and social media was measured using the ASMC Scale questionnaire. Results: The majority of respondents had a positive body image (85.8%), were not at risk for eating disorders (54%), and reported a high influence from social media (78.7%). Statistical analysis using the Spearman rank sum test showed a positive correlation between digital media and body image (p=0.000; 0.261) and eating disorders (p=0.045; 0.138). The influence of social media can lead to body image dissatisfaction and eating disorders. Therefore, interventions such as improving social media literacy are recommended to prevent negative impacts on adolescents' mindsets and attitudes. Conclusion: Social media exposure is significantly associated with body image disturbance and eating disorders in adolescents.   Keywords: Body Image; Eating Disorders; Social Media.   Pendahuluan: Media sosial memiliki dampak negatif terhadap body image dan gangguan makan remaja, namun remaja cenderung selalu menggunakan platform ini. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi strategi yang dapat mengurangi dampak buruk media sosial terhadap kesehatan mental remaja. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh media sosial terhadap body image dan gangguan makan pada remaja.    Metode: Rancangan penelitian menggunakan deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 211 remaja kelas XI SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 3 di Tondano kabupaten Minahasa yang diambil dengan menggunakan teknik total sampling. Body image diukur menggunakan MBSRQ-AS, gangguan perilaku makan diukur menggunakan kuesioner EAT-26 dan pengaruh media sosial menggunakan kuesioner ASMC scale. Hasil: Mayoritas responden memiliki body image positif (85.8 %), tidak berisiko mengalami gangguan perilaku makan (54 %), dan memiliki pengaruh tinggi (78.7%) dari media sosial. Hasil analisis statistik menggunakan uji Spearman rank, diketahui bahwa terdapat korelasi positif antara media digital terhadap body image (p=0.000; 0.261) dan gangguan makan (p=0.045; 0.138). Pengaruh media sosial dapat menyebabkan ketidakpuasan akan body image dan gangguan perilaku makan, sehingga direkomendasikan untuk dilakukan intervensi berupa peningkatan literasi penggunaan media sosial agar tidak menimbulkan efek negatif terhadap pola pikir dan sikap remaja. Simpulan: Paparan media sosial secara signifikan berhubungan dengan gangguan body image dan gangguan makan pada remaja.               Kata Kunci: Body Image; Gangguan Makan; Media Sosial.