Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Gambaran Kehamilan dengan Luaran Makrosomia Periode Januari – Desember 2014 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Osok, Stelaine; Wantania, John J. E.; Mewengkang, Maya E.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i1.14765

Abstract

Abstract: According to the American College of Obstetricians and Gynecologist and the World Health Organization, an infant who has a birth weight of more than 8 pounds (4.000 gram) is diagnosed as macrosomia. There are some risk factors that arise from fetal macrosomia such as diabetes, maternal obesity, and excessive weight gain during pregnancy. These risk are directly related to the birth weight of the infant and begin to increase substantially when birth weight exceeds 4.000 gram especially when it is more than 5.000 gram. This study was aimed to identify the description of pregnancy with macrosomia. This was a descriptive retrospective study. Data were obtained from patient records and survey in the Maternity Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. The results showed that the number of total pregnancies with macrosomia were 202 from 3,347 cases. The most common cases were multigravida with macrosomia (128 cases), gestational age 37-40 weeks (80 cases), maternal weight 61-80 kg (97 cases), and caesarean section as the type of labor (115 cases). Additionaly, most of the macrosomia cases were found in male infants, birth weight 4,000-4,250 grams (88 cases), and suffered from asphyxia.Keywords: the pregnancy, macrosomia Abstrak: Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists and World Health Organization, bayi dengan berat lebih dari 8 ons, 13 ons (4.000 gram) disebut makrosomia. Beberapa faktor risiko yang terkait dengan janin makrosomia seperti diabetes serta ibu dengan obesitas dan kenaikan berat badan yang berlebihan selama kehamilan. Risiko ini secara langsung berhubungan dengan berat badan lahir bayi dan mulai meningkat secara substansial ketika berat badan lahir melebihi 4.500 gram dan terutama ketika melebihi 5.000 gram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kehamilan dengan luaran makrosomia. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan catatan rekam medik pasien dan pendataan di bagian ruang bersalin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian mendapatkan jumlah kehamilan dengan luaran makrosomia sebanyak 202 dari 3.347 kasus yang tercatat dan terbanyak pada usia ibu 35-40 tahun (42 kasus). Luaran makrosomia terbanyak pada multigravida (128 kasus), usia kehamilan 37-40 minggu (80 kasus), berat badan ibu 61-80 kg (97 kasus), dan jenis persalinan seksio sesarea (115 kasus). Luaran makrosomia terbanyak pada bayi laki-laki dengan berat badan 4.000-4.250 gram (88 kasus), dan pada bayi asfiksia. Simpulan: Jumlah makrosomia sebanyak 202 kasus, terbanyak pada usia ibu 35-40 tahun, multigravida, usia kehamilan 37-40 minggu, berat badan ibu 61-80 kg, persalinan seksio sesarea, terbanyak pada bayi laki-laki dengan berat badan 4.000-4.250 gram dan bayi asfiksia.Kata kunci: gambaran kehamilan, luaran makrosomia
Perbedaan Pengetahuan dan Sikap Remaja tentang Infeksi Menular Seksual di SMA/SMK Perkotaan dan Pedesaan Lanes, Erald J.; Mongan, Suzanna P.; Wantania, John J. E.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.1.2021.31856

Abstract

Abstract: Premarital sexual behavior in adolescence is a high risk factor for sexually transmitted infections. Sexually transmitted infections (STIs) are infections that are generally transmitted through sexual contact. Differences in social, cultural, and economic factors were found to affect the incidence and prevalence of sexually transmitted infections between different groups in a population. These are likely caused by differences in the knowledge and attitudes of adolescents living in urban and rural areas. This study was aimed to obtain the differences in the level of knowledge and attitudes toward STIs of adolescents in urban and rural area schools. This was a descriptive study with a cross-sectional design conducted on 50 adolescents of urban senior high schools and 50 adolescents of rural senior high schools/vocational high schools. Questionnaires were distributed via email by using Google form. The results showed that adolescents living in urban areas had good knowledge about STIs meanwhile adolescents living in rural areas had fair knowledge. The attitudes about STIs of most adolescents living in urban areas and rural areas were good. In conclusion, adolescents living in urban areas had better knowledge about STIs than those living in rural areas, however, there was no significant difference in attitudes about STI between the two regions. Equal distribution of education in Indonesia is needed in urban as well as in rural areas.Keywords: sexually transmitted infections, adolescents, knowledge, attitudes, urban and rural Abstrak: Perilaku seksual pranikah pada usia remaja merupakan faktor risiko tinggi terhadap infeksi menular seksual (IMS). Infeksi menular seksual merupakan infeksi yang umumnya ditularkan melalui hubungan seksual. Perbedaan faktor sosial, kultural maupun ekonomi dapat memengaruhi insiden dan prevalensi IMS antara kelompok yang berbeda dalam suatu populasi. Hal tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh adanya perbedaan pengetahuan dan sikap remaja yang tinggal di wilayah perkotaan dan pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap IMS di sekolah wilayah perkotaan dan pedesaan. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang dan kuesioner didistribusikan secara daring menggunakan Google Form. Responden ialah 50 remaja di SMA wilayah perkotaan dan 50 remaja di SMA/SMK wilayah pedesaan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa pengetahuan remaja tentang IMS pada siswa SMA perkotaan sebagian besar berada dalam kategori baik sedangkan pada siswa SMA/SMK pedesaan sebagian besar berada dalam kategori cukup. Sikap remaja tentang IMS pada siswa SMA/SMK perkotaan dan pedesaan sebagian besar baik. Simpulan penelitian ini ialah remaja perkotaan memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai IMS dibandingkan remaja di pedesaan namun tidak terdapat perbedaan sikap remaja yang bermakna mengenai IMS antara kedua wilayah. Pemerataan pendidikan di Indonesia dibutuhkan di wilayah perkotaan dan pedesaan.Kata kunci: infeksi menular seksual, remaja, pengetahuan, sikap, perkotaan dan pedesaan
Hubungan Psikologis Ibu Hamil dengan Kejadian Hiperemesis Gravidarum Rorrong, Jessica F.; Wantania, John J. E.; Lumentut, Anastasi M.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32419

Abstract

Abstract: Nausea and vomiting are common problems in early pregnancy. Symptoms of nausea and vomiting in pregnant women that persist and get worse are called hyperemesis gravidarum. The causes of hyperemesis gravidarum are not exactly known, but it is supposed that they could be caused inter alia by psychological factors. This study was aimed to determine the relationship between the psychological state of pregnant women and the incidence of hyperemesis gravidarum. This was a literature review study by using three databases, namely Google Scholar, ClinicalKey, and Pubmed. The keywords used were psychological AND hyperemesis gravidarum. The result showed that the psychological conditions assessed in most literatures were anxiety disorders, depression, and stress. Pregnant women who suffered from anxiety and stress could trigger or worsen the depression. The higher level of anxiety would increase the chance of suffering from hyperemesis gravidarum. Therefore, pregnant women need additional psychological support during treatment and as a follow-up for pregnant women with hyperemesis gravidarum. In conclusion, the psychological state of pregnant women is related to the incidence of hyperemesis gravidarum.Keywords: psychological, hyperemesis gravidarum, nausea and vomiting Abstrak: Mual dan muntah merupakan masalah yang biasa terjadi pada awal kehamilan. Gejala mual dan muntah pada ibu hamil yang menetap dan bahkan bertambah berat disebut hiperemesis gravidarum. Faktor pemicu terjadinya hiperemesis gravidarum pada ibu hamil belum diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan antara lain oleh faktor psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keadaan psikologis ibu hamil dengan kejadian hiperemesis gravidarum. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Google Scholar, ClinicalKey, dan Pubmed. Kata kunci yang digunakan yaitu psikologis /psychological AND hiperemesis gravidarum/hyperemesis gravidarum. Hasil penelitian mendapatkan bahwa kondisi psikologis yang dinilai pada sebagian besar literatur yang dikaji ialah mengenai gangguan kecemasan, depresi, dan stres. Ibu hamil yang mengalami cemas dan stres dapat memicu atau memperburuk terjadinya depresi. Tingkat kecemasan yang semakin tinggi akan meningkatkan peluang untuk mengalami hiperemesis gravidarum sehingga diperlukan dukungan psikologis tambahan selama perawatan dan sebagai tindak lanjut ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum. Simpulan penelitian ini ialah keadaan psikologis ibu hamil berhubungan dengan kejadian hiperemesis gravidarum. Kata kunci: psikologis, hiperemesis gravidarum, mual dan muntah
Hubungan antara Faktor Risiko dengan Kejadian Preeklampsia Berat Rumampuk, Tivan Z. S.; Tendean, Hermie M. M.; Wantania, John J. E.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60184

Abstract

Abstract: Severe preeclampsia is a complication that occurs in pregnancy as well as childbirth, and is an advanced condition of preeclampsia that is not treated appropriately. Preeclampsia usually occurs after 20 weeks of pregnancy and is characterized by increased blood pressure and proteinuria. This study aimed to determine the relationship between risk factors including age, parity, education, number of antenatal care (ANC), history of preeclampsia, and history of hypertension with the incidence of severe preeclampsia. This was an analytical and observational with a cross sectional design. Samples were all maternity mothers who were treated and had complete medical record data at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during years 2021-2022. The results showed that there were 910 laboring mothers including 214 laboring mothers with severe preeclampsia. The chi-square test obtained p-values of<0.05 for the relationships between risk factors namely age, history of preeclampsia, and history of hypertension with the incidence of severe preeclampsia, meanwhile, p-values of>0.05 for the relationships between risk factors namely parity, education, and number of ANC with the incidence of severe preeclampsia. In conclusion, there was a significant relationship between risk factors namely age, history of preeclampsia, history of hypertension with the incidence of severe preeclampsia, however, there was no significant relationship between risk factors namely parity, education, number of antenatal care with the incidence of severe preeclampsia at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado period 2021-2022. Keywords: severe preeclampsia; risk factors    Abstrak: Preeklampsia berat adalah komplikasi yang terjadi pada kehamilan serta persalinan dan merupakan kondisi lanjutan dari preeklampsia yang tidak ditangani dengan tepat. Preeklampsia biasanya terjadi setelah 20 minggu kehamilan ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko meliputi usia, paritas, pendidikan, jumlah antenatal care (ANC), riwayat preeklampsia, riwayat hipertensi dengan kejadian preeklampsia berat. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah seluruh ibu bersalin yang dirawat dan memiliki data rekam medis lengkap di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 2021-2022.  Hasil penelitian mendapatkan 910 ibu bersalin, diantaranya 214 ibu bersalin dengan preeklampsia berat. Hasil uji chi- square menunjukan nilai p<0,05 untuk hubungan antara faktor risiko usia, riwayat preeklampsia, dan riwayat hipertensi dengan kejadian preeklampsia berat, dan nilai p>0,05 untuk hubungan antara faktor risiko paritas, pendidikan, jumlah ANC dengan kejadian preeklampsia berat. Simpulan penelitian ini ialah  terdapat hubungan bermakna antara faktor risiko usia, riwayat preeklampsia, dan riwayat hipertensi dengan kejadian preeklampsia berat namun tidak terdapat hubungan bermakna antara faktor risiko paritas, pendidikan, jumlah antenatal care dengan kejadian preeklampsia berat di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado periode 2021–2022. Kata kunci: preeklampsia berat; faktor risiko