Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

SAPHALA SANTACITTA Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar
Saraswati Jurnal Ilmiah Mahasiswa S1 FSMR
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.551

Abstract

Komposisi “Saphala Santacitta” adalah sebuah karya komposisi karawitan baru tentang keseimbangan hidup yang berpijak pada falsafah Jawa mengenai sedulur dan keblat papat lima pancer. Konsep sedulur dan keblat papat lima pancer yang dipahami dari beberapa sudut pandang, baik dari konsep kelahiran, arah mata angin, penanggalan Jawa, pasaran Jawa, maupun sifat manusia berdasarkan sufisme di Jawa, direpresentasikan ke dalam analogi musikal. Secara bentuk komposisi “Saphala Santacitta” terdiri dari lima bagian lagu inti. Tiap bagian berisi analogi musikal dari konsep sedulur dan keblat papat lima pancer.Kata Kunci: Keseimbangan, Komposisi, Lima Bagian
Pelatihan Gending Gerejawi Kepada Kelompok Sabda Laras Gereja Kristen Muria Indonesia Yogyakarta Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar; Bagas Arga Saputra
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4711

Abstract

Kelompok Karawitan Sabda Laras merupakan sekelompok jemaat Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Yogyakarta yang mengupayakan realisasi dari inkulturasi dalam lingkungan gereja. Namun, tidak adanya pelatih tetap sejak tahun 2017 berdampak pada jumlah anggota yang tidak bertambah tetapi justru berkurang, dan hingga saat ini belum ditemukan strategi atau metode untuk menyemarakkan/memajukan grup. Pelatihan bagi kelompok Karawitan Sabda Laras diperlukan untuk meningkatkan kemampuan menabuh gamelan dengan lagu gerejawi. Pelatihan dilakukan melalui program Penyuluhan Seni ISI Yogyakarta, yang diselenggarakan pada bulan Maret-Agustus 2020. Pelatihan awalnya diselenggarakan dengan tatap muka, namun karena pandemi covid-19 maka pelatihan dilanjutkan secara daring. Materi yang diberikan yaitu lagu S’mua Baik”, “Betapa Kita Tidak Bersyukur”, dan “Angkatlah Hati-Mu pada Tuhan”. Materi ini diberikan untuk menambah vocabulary lagu-lagu gerejawi. Materi diberikan melalui grup whatsapp dengan media video (link youtube) dan google site. Hasil pelatihan ini antara lain menambah kemampuan dan pengetahuan mengenai teknik tabuhan instrumen dan garap, terutama dalam hal menggubah lagu gerejawi dengan menggunakan media gamelan dan beberapa variasi tabuhan sebagai bagian dari aransemen lagu. Selain itu, peserta dapat menguasai lagu “S’mua Baik”, “Betapa Kita Tidak Bersyukur”, dan “Angkatlah Hati-Mu pada Tuhan”. The Karawitan Sabda Laras group is a group of members of the Indonesian Muria Christian Church (GKMI) Yogyakarta which strive for the realization of inculturation within the church environment. However, the absence of a permanent coach since 2017 has an impact on the number of members who have not increased but instead decreased, and until now there has been no strategy or method to enliven / advance the group. Training for the Karawitan Sabda Laras group is needed to improve the ability to beat the gamelan with ecclesiastical songs. The training was carried out through the ISI Yogyakarta Art Counseling program, which was held in March-August 2020. The training was initially held face-to-face, but due to the Covid-19 pandemic the training was continued online. The materials given were the songs S'mua Baik "," How We Are Not Grateful ", and" Raise Your Heart to God ". This material is given to add to the vocabulary of ecclesiastical songs. The material is given through the whatsapp group with video media (link youtube) and google site. The results of this training, among others, increase the ability and knowledge of the technique of instrument beats and work on, especially in terms of composing ecclesiastical songs using gamelan media and several variations of wasps as part of song arrangement. In addition, the participants were able to master the songs "S'mua Baik", "How We Are Not Grateful", and "Raise Your Heart to God".
Cendayam: Interpretasi Cengkok Ayu Kuning dalam Komposisi Karawitan Gangsar Yogi Armansyah; Anon Suneko; Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar
EKSPRESI Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.081 KB) | DOI: 10.24821/ekp.v7i1.7075

Abstract

AbstrakMusik karawitan Jawa mengenal istilah cengkok. Cengkok adalah abstrak yang tidak terdengar maupun terwujud sedangkan cengkok yang terwujud dinamakan wiled. Cengkok yang berasal dari nada vokal salah satunya adalah Ayu Kuning. Cengkok Ayu Kuning memiliki lagu yang menonjol seperti nada lagu tinggi kemudian ke rendah. Cengkok ini memiliki ciri khas tersendiri pada garap sindhen, gender, maupun rebab dibanding cengkok lain. Penelitian ini mengunakan metode Practice as Research through Performance (praktik sebagai penelitian melalui pertunjukan) yang terdiri dari pragarap (observasi, studi pustaka, analisis sumber terkait, wawancara, diskografi, konteks musikal), garap (instrumentasi musikal, tafsir garap, presentasi musikal), dan pascagarap. Karya ini juga menggunakan medium tradisi dan idiom baru. Penelitian ini bertujuan untuk  menafsirkan dan memaknai cengkok Ayu Kuning dalam karya komposisi karawitan. Karya komposisi “Cendayam” yang diciptakan merupakan karya komposisi karawitan yang mengambil subtansi dasar karawitan tradisi sebagai ide dasar dan konsep penciptaan karya. Karya ini menginterpretasikan dan mengembangkan cengkok Ayu Kuning sebagai tema penciptaan dan menggunakan pola garap kreasi baru dengan mengolah aspek harmoni dan unsur-unsur dalam musik seperti melodi, ritme, dan dinamika. Cengkok Ayu Kuning juga dilihat dari dua sudut pandang, yaitu dasar cengkok Ayu Kuning yang biasa digunakan dalam karawitan dan pemaknaan dari epistimologi kata Ayu Kuning. Kata kunci : cengkok, Ayu Kuning, wanita, pengembangan, pemaknaan, interpretasi AbstractJavanese karawitan music has cengkok term. Cengkok is an abstract that is neither heard nor manifested while the manifested one is called "wiled." Cengkok comes from a vocal tone, one of which is Ayu Kuning. Cengkok Ayu Kuning has a unique song with a high and then a low tune. This cengkok has its characteristics in working on sindhen, gender, and fiddle compared to other cengkok. This study uses the Practice as Research through Performance method which consists of pragarap (observation, literature study, analysis of related sources, interviews, discography, musical context), garap (musical instrumentation, interpretation of garap, musical presentation), and pascagarap. This work also uses the medium of tradition and new idioms. This study aims to interpret and interpret the cengkok Ayu Kuning in musical composition works. The compositional work "Cendayam" is a musical composition work that takes the basic substance of traditional music as the basic idea and concept of creating the work. This work interprets and develops the Ayu Kuning cengkok as the theme of creation and uses a new creation work pattern by processing aspects of harmony and elements in music such as melody, rhythm, and dynamics. Cengkok Ayu Kuning is also seen from two points of view, namely the basis of the Cengkok Ayu Kuning which is commonly used in karawitan, and the meaning of the epistemology of the word Ayu Kuning. Keywords : cengkok, Ayu Kuning, women, develompment, meaning, interpretation
Strategi dalam mencapai Kapabilitas belajar siswa melalui Smartphone pada era pembelajaran tatap muka Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar; Arya Dani Setyawan; Enggar Kartikasari; Ditya Yulia Kurnia
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8 No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v8i2.12932

Abstract

This study aims to determine the strategies used by teachers in achieving student learning capabilities through smartphones in the face-to-face learning era at SD N Tanjungtirto 2. This study uses a qualitative approach. While the data sources are school principals, teachers in grades I – VI, and students in upper grades IV, V, VI. The methods used in data collection are interviews, observation, and documentation. The data analysis technique uses, data collection, data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of this study indicate the strategies that are carried out by the teacher in achieving student learning capabilities through smartphone media by making planning concepts that can make it easier for students to understand the material and maximize the use of smartphone media to make students more interested in learning. The supporting factors are using the WA Group application, Google Classroom, Google Meet, Zoom, Quiz, Canva, PPT, Flipping Book, and learning videos via Youtube as a means of supporting student learning media. Obstacles faced by teachers are in the form of limited time in delivering material, quotas, signals, and rainy weather so the process of delivering material is not optimal. As well as how to overcome obstacles if you experience signal problems, the teacher can send material in the form of pdf, photos, and youtube links through the WA group or can provide compensation in the form of free quotas for students and move to a place where the internet network is more stable.
Perancangan E-Modul Interaktif Berbasis Flipbook Pada Mata Kuliah Kajian Instrumen Kendang Tri Suhatmini Rokhayatun; Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar; Ipuk Widyastuti; Farid Azzani Prasanaya
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v8i1.19316

Abstract

ABSTRAKPembatasan kapasitas belajar pada pembelajaran luring pasca pandemi Covid-19 atau era new normal berdampak pada perubahan metode pembelajaran mata kuliah praktek menjadi blended learning, termasuk pada mata kuliah Kajian Instrumen Kendang. Belum tersedianya materi dan media pembelajaran blended learning yang variatif bagi mata kuliah praktek di Jurusan Karawitan ISI Yogyakarta menjadi faktor pendukung pentingnya penelitian ini dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah merancang e-modul interaktif berbasis flipbook pada mata kuliah Kajian Intrumen Kendang. Penelitian ini menggunakan teori sistem simbol, e-learning, dan klasifikasi media pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (R&D) karena model yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan prinsip ADDIE, yaitu Analysis (Analisis), Design (Desain), Development or Production (Pengembangan), Implementation or Delivery (Implementasi), dan Evaluate (Evaluasi). Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan diskografi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan pendekatan kuantitatif dan penyajiannya dideskripsikan melalui pendekatan kualitatif.  Hasil dari penelitian ini berupa laporan, jurnal, dan e-modul interaktif berbasis flipbook. Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) penelitian ini diharapkan mampu mencapai level 6 dengan produk e-modul interaktif mata kuliah Kajian Instrumen Kendang.Kata kunci:E-modul, flipbook, media pembelajaran.
“MOONG MILIH” MONGGANG SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KOMPOSISI KARAWITAN Reinardus Banyu Tegar; Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar; Marsudi Marsudi
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Monggang merupakan salah satu gending pakurmatan yang disajikan dalam upacara atau ritual tertentu. Salah satu kegunaan pada sajian gending monggang digunakan untuk penobatan raja, kematian raja, kedatangan tamu penting dan masih banyak lainya. Pada penyajiannya, gending monggang disajikan dengan irama lancar dan irama dadi. Nada yang dimiliki gamelan monggang berjumlah tida dengan laras slendro kagok.Konsep penciptaan karya komposisi karawitan MOONG MILIH  terinspirasi dari salah satu gending pakurmatan yaitu gending monggang. Gending monggang memiliki ciri khas atau keunikan yaitu hanya menggunakan tiga nada dalam sajian komposisinya. Karakter yang keras dan monoton pada gending monggang menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis untuk mengembangkan dan mengeksplor pada proses penciptaan karya komposisi monggang. Karakter musikal gamelan monggang yang sora atau keras kemudian dipresentasikan ke dalam sebuah komposisi karawitan.Penciptaan terdiri dari tiga tahapan, yaitu pra garap yang terdiri dari studi pustaka, wawancara, dan diskografi. Tahap kedua yaitu garap yang terdiri dari rangsangan awal, pemunculan ide, tafsir garap, instrumensasi, eksplorasi, dan presentasi musikal. Tahapan yang ketiga yaitu pasca garap. Hasil dari penciptaan ini  yaitu mewujudkan komposisi karawitan yang terinspirasi dari unsur musikal monggang khususnya pada upacara kematian. “MOONG MILIH” MONGGANG AS A COMPOSITION CREATING IDEAS KARAWITANMonggang is one of the pekarmatan pieces which is presented in certain ceremonies or rituals. One of the uses of the gending monggang dish is used for the coronation of kings, the death of kings, the arrival of important guests and many others. At the presentation, gending monggang is presented with smooth rhythms and dadi rhythms. The tone of the gamelan monggang is different from the slendro cagok tunings.The concept of creating the MOONG MILIH karawitan composition was inspired by one of the Pakurmatan pieces, namely the Monggang piece. Gending monggang has a characteristic or uniqueness, namely that it only uses three tones in its composition. The harsh and monotonous character of the Monggang gending is the main attraction for the writer to develop and explore the process of creating monggang compositions. The musical character of the loud or sora monggang gamelan is then presented in a karawitan composition.Creation consists of three stages, namely pre-work which consists of literature study, interviews, and discography. The second stage is working on which consists of initial stimulation, idea generation, interpretation of work on, instrumentation, exploration, and musical presentation. The third stage is post-cultivation. The result of this creation is to create karawitan compositions that are inspired by the musical elements of monggang, especially at funerals.
BANDAKALA: TRANSFORMASI KARAKTER PEMBAYUN DALAM KOMPOSISI KARAWITAN Dedi Ahmad Fahrudin; Asep Saepudin; Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mentransformasikan karakter Pembayun ke dalam karya komposisi karawitan yang berjudul Bandakala. Komposisi ini menggunakan konsep pathet dan teori “Rasa In Javanese Musical Aesthetics” Marc Benamou. Karya ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi naratif. Tahapan perwujudan karya dilakukan melalui pra garap, garap, dan pasca garap. Adapun struktur dramatik yang digunakan dalam karya komposisi ini antara lain, eksposisi, komplikasi, konflik, dan reversal. Penelitian ini berangkat dari ketertarikkan penulis terhadap sosok Pembayun dalam naskah kethoprak. Pembayun merupakan anak dari seorang Raja Mataram yaitu Panembahan Senopati. Pembayun dalam cerita kethoprak yang populer di kalangan masyarakat adalah penari ledhek yang terkenal dengan kecantikannya. Karakter Pembayun yang umum diperlihatkan adalah karakter yang licik karena ia menyamar sebagai penari ledhek untuk memikat hati Ki Ageng Mangir IV yang merupakan musuh dari Panembahan Senopati yaitu Raja Mataram. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan empat karakter dalam tokoh Pembayun, yaitu pemberani, lembut, labil, dan bijaksana. Karakter tersebut diperoleh melalui wawancara, bedah naskah, serta melihat pertunjukan kethoprak yang berkaitan dengan Pembayun. Hasil kesimpulan menujukkan bahwa karakter Pembayun dapat ditransformasikan melalui pendekatan konsep pathet dan struktur dramatik. Konsep pathet yang digunakan dalam komposisi ini antara lain pathet slendro sanga dan pathet pelog barang serta srtuktur dramatik yang bertujuan untuk memberikan alur dramatik agar keempat karakter tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh.Bandakala: Transformation of the Character of Pembayun in Karawitan CompositionThe aim of this research is to transform Pembayun's character into a karawitan composition entitled Bandakala. This composition uses the concept pathetic and the theory of “Rasa In Javanese Musical Aesthetics” by Marc Benamou. This work uses qualitative research methods with a narrative study approach. The stages of embodiment of the work are carried out through pre-work, work on and post-work. The dramatic structures used in this composition include exposition, complication, conflict, and reversal. This research departs from the author's interest in the figure of Pembayun in the manuscript ketoprak Pembayun is the son of a Mataram king, Panembahan Senopati. Pebayun in the story ketoprak popular among the people are dancersled who is famous for her beauty. The Pembayun character that is commonly shown is a cunning character because he disguises himself as a dancerledto captivate Ki Ageng Mangir IV who was an enemy of Panembahan Senopati, the King of Mataram. Therefore, the writer concludes that there are four characters in Pembayun, namely brave, gentle, unstable, and wise. These characters are obtained through interviews, reviewing scripts, and watching performancesketoprakrelating to the Pembayun. The conclusion results show that Pembayun's character can be transformed through a conceptual approach pathetic and dramatic structure. Concept pathet icused in this composition include: pathetic slim branch and pathetic pelog oodsas well as a dramatic structure that aims to provide a dramatic plot so that the four characters become one unified whole.
Pengembangan website berbasis Google Site sebagai media pembelajaran blended learning Karawitan melalui fitur interaktif Jatilinuar, Setya Rahdiyatmi Kurnia; Widyastuti, Ipuk
INOTEKS: Jurnal Inovasi Ilmu Pengetahuan,Teknologi, dan Seni VOL 27, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ino.v1i2.64384

Abstract

The development of technology that presents a 'new era', namely the digital era, is one of the aspects driving blended learning, especially in karawitan practice courses. Of course, this change in learning methods raises various kinds of efforts and new challenges that must be faced, one of which is in choosing appropriate learning methods and media. This research is an effort to develop the use of blended learning media by utilizing google sites. Google site was developed by referring to smartphone-based learning media to be 'user-friendly', meaning that it can be easily used or accessed by students and lecturers. Google site is an alternative to online learning media, especially in practical lectures because it is 'user-friendly' (flexible, easy to access/operate, smartphone-based), has adequate features, has an attractive-systematic design, and does not require large costs (free access). The method used in this study is a qualitative method with data collection techniques through observation, literature studies, and questionnaires. The type of data is quantitative data that is processed using survey, comparative, and descriptive methods. The population of this study are students and lecturers of the Karawitan Department of ISI Yogyakarta. This research uses symbol system theory, e-learning, and blended learning in the development of google sites. The results of this study are in the form of blanded learning media using google sites that have been developed by adding interactive features.
PRIYANGGA: Sebuah Komposisi Karawitan dalam Perspektif Personal Atmojo, R. Bambang Sri; Marsudi, Marsudi; Jatilinuar, Setya Rahdiyatmi Kurnia
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v23i3.6405

Abstract

ABSTRACT Priyangga composition is a karawitan composition that has a specific concept of presentation which is individual presentation. A karawitan composition performance normally has a lot of supportive elements because of affected by the collective character of traditional music. Inspired by the case, the writer has an idea to create a Priyangga composition then embody it into a musical artwork. A performer will individually or simultaneously play and present all of the available musical ricikan including himself/herself as the singer. The place arrangement of the ricikan is based on function and purpose so that the performer can easily move around. The arrangement procedure to create Priyangga composition is through two steps which are (1) preparation and implementation to rehearse and improve in order to find a new musical and vocal arrangement in the karawitan sphere; (2) to create karawitan composition with the number of ricikan which will be utilized by the performer with high value musicality. ABSTRAK Komposisi Priyangga merupakan komposisi karawitan yang mempunyai spesifikasi konsep penyajian dengan penyajian oleh seorang diri. Pergelaran komposisi pada umumnya banyak melibatkan pendukung, hal tersebut dipengaruhi dari musik tradisonal yang bersifat kolektif. Berangkat dari hal tersebut maka, penulis tergugah untuk membuat komposisi Priyangga dalam bentuk perancangan karya seni. Pemain menyajikan semua ricikan yang ada, baik secara bersamaan untuk beberapa ricikan maupun satu ricikan dan sekaligus sebagai vokalis. Penataan ricikan ditata sesuai dengan fungsi dan peranannya agar pemain dapat leluasa berpindah tempat. Metode penelitian dalam menciptakan komposisi Priyangga melalui dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Hasil karya menunjukkan bahwa berolah instrumen serta vokal dalam rangka mencari garapan baru dalam dunia karawitan serta menciptakan komposisi karawitan dengan menggunakan beberapa maupun banyak ricikan yang disajikan oleh seorang pemain yang terdapat rasa musikalitas dan nilai garap.
Pelatihan Gending Gerejawi Kepada Kelompok Sabda Laras Gereja Kristen Muria Indonesia Yogyakarta Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar; Bagas Arga Saputra
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4711

Abstract

Kelompok Karawitan Sabda Laras merupakan sekelompok jemaat Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Yogyakarta yang mengupayakan realisasi dari inkulturasi dalam lingkungan gereja. Namun, tidak adanya pelatih tetap sejak tahun 2017 berdampak pada jumlah anggota yang tidak bertambah tetapi justru berkurang, dan hingga saat ini belum ditemukan strategi atau metode untuk menyemarakkan/memajukan grup. Pelatihan bagi kelompok Karawitan Sabda Laras diperlukan untuk meningkatkan kemampuan menabuh gamelan dengan lagu gerejawi. Pelatihan dilakukan melalui program Penyuluhan Seni ISI Yogyakarta, yang diselenggarakan pada bulan Maret-Agustus 2020. Pelatihan awalnya diselenggarakan dengan tatap muka, namun karena pandemi covid-19 maka pelatihan dilanjutkan secara daring. Materi yang diberikan yaitu lagu S’mua Baik”, “Betapa Kita Tidak Bersyukur”, dan “Angkatlah Hati-Mu pada Tuhan”. Materi ini diberikan untuk menambah vocabulary lagu-lagu gerejawi. Materi diberikan melalui grup whatsapp dengan media video (link youtube) dan google site. Hasil pelatihan ini antara lain menambah kemampuan dan pengetahuan mengenai teknik tabuhan instrumen dan garap, terutama dalam hal menggubah lagu gerejawi dengan menggunakan media gamelan dan beberapa variasi tabuhan sebagai bagian dari aransemen lagu. Selain itu, peserta dapat menguasai lagu “S’mua Baik”, “Betapa Kita Tidak Bersyukur”, dan “Angkatlah Hati-Mu pada Tuhan”. The Karawitan Sabda Laras group is a group of members of the Indonesian Muria Christian Church (GKMI) Yogyakarta which strive for the realization of inculturation within the church environment. However, the absence of a permanent coach since 2017 has an impact on the number of members who have not increased but instead decreased, and until now there has been no strategy or method to enliven / advance the group. Training for the Karawitan Sabda Laras group is needed to improve the ability to beat the gamelan with ecclesiastical songs. The training was carried out through the ISI Yogyakarta Art Counseling program, which was held in March-August 2020. The training was initially held face-to-face, but due to the Covid-19 pandemic the training was continued online. The materials given were the songs S'mua Baik "," How We Are Not Grateful ", and" Raise Your Heart to God ". This material is given to add to the vocabulary of ecclesiastical songs. The material is given through the whatsapp group with video media (link youtube) and google site. The results of this training, among others, increase the ability and knowledge of the technique of instrument beats and work on, especially in terms of composing ecclesiastical songs using gamelan media and several variations of wasps as part of song arrangement. In addition, the participants were able to master the songs "S'mua Baik", "How We Are Not Grateful", and "Raise Your Heart to God".