Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kegagalan Akuntabilitas Hibrida Dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Analisis Hukum, Tata Kelola, dan Risiko Keuangan Negara Dalam Pola Bantuan Pemerintah Berbasis Yayasan Ahmad Zakiyuddin; Firman Alamsyah Taufik Robbi; Dina
Indonesian Research of Sustainability Management, Business, & Administration (IRHAMNA) Vol. 2 No. 02 (2026): IRHAMNA (MAY 2026)
Publisher : Trasearch (Training, Research and Academy Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Free Nutritious Meals Program (Makan Bergizi Gratis—MBG) is a strategic government policy designed to fulfil the public’s right to adequate nutrition through the Government Assistance (Bantuan Pemerintah—Banper) scheme. Its implementation, however, has produced a hybrid governance arrangement in which foundations serve as the formal recipients of government assistance, while operational control and actual decision-making authority are exercised by civil servants assigned to the Nutrition Fulfilment Service Units (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi—SPPG) under the National Nutrition Agency (Badan Gizi Nasional—BGN). This study examines the disjunction between formal accountability and effective control from the perspectives of administrative law, public finance law, and public-sector risk management. It employs a normative juridical method using statutory, conceptual, and risk-governance approaches based on the 2017 COSO Enterprise Risk Management framework. The findings reveal a formal beneficiary–factual controller dichotomy that creates an accountability gap, increases the potential for maladministration and conflicts of interest, and exposes the state to financial losses. The concentration of procurement, payment, verification, and reporting functions in the hands of the factual controller further heightens the risk of public-sector fraud. This article proposes the Hybrid Accountability Failure Model, which argues that public accountability should follow effective control and decision-making authority rather than merely formal legal status. This governance structure also undermines the principles of transparency, accountability, effectiveness, and public participation. The study recommends a clear segregation of duties, written delegation of authority, the digitalisation of audit trails, and risk-based oversight. These findings contribute to the study of public governance, political accountability, and corruption-risk mitigation in partnership-based social welfare programmes.  
Inovasi Pembangunan Rocket Stove di Desa Wangisagara untuk Solusi Sampah Lingga Fathan; Linda Herpiyanti; Adellia Bella; Muhammad Radiansyah; Anisa Fitria; Firman Alamsyah Taufik Robbi
Jurnal Pengabdian Tri Bhakti Vol 7 No 3 (2025): Jurnal Pengabdian Tribhakti (Edisi Khusus)
Publisher : LPPM Universitas Langlangbuana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70825/jptb.v7i3.2361

Abstract

The Community Service Program (KKN) of Langlangbuana University, Group 18, conducted in Wangisagara Village, Majalaya District, Bandung Regency, focused on addressing issues related to waste management facilities. The program introduced an innovative solution through the construction of a rocket stove, a waste incineration device designed to minimize smoke emissions. The methods implemented included field observations, community interviews, the construction of rocket stove, and the preparation of a user manual. The Rocket stove effectively reduced the volume of smoke produced during waste burning due to its combustion chamber design, which oprimizes the burning process. The implications of this program include a significant reduction in air pollution and an increase in community awareness of simple yet effective innovations in waste management.
KOMUNIKASI KESEHATAN PUSKESMAS CIPARAY MELALUI MEDIA DIGITAL DAN KONVENSIONAL Sheila Hafsari; Firman Alamsyah Taufik Robbi; Rodhiyat Fajar Salim
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 8 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Agustus 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i8.2513

Abstract

Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, Puskesmas dituntut mampu memanfaatkan media digital tanpa meninggalkan media konvensional agar informasi kesehatan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara efektif. Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi komunikasi kesehatan yang diterapkan oleh Puskesmas Ciparay melalui media digital dan konvensional, meliputi bentuk komunikasi yang digunakan, alasan pemilihan media, kelebihan dan kekurangan masing-masing media, serta respons masyarakat terhadap informasi kesehatan yang diterima. Penelitian ini menggunakan Teori Komunikasi Kesehatan dari Thomas L. Thompson (2011) dengan pendekatan kualitatif melalui desain studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka, dengan petugas Puskesmas Ciparay sebagai informan kunci dan masyarakat sebagai informan pendukung. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, metode, dan waktu, sedangkan analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Puskesmas Ciparay menggabungkan komunikasi langsung, seperti penyuluhan, kegiatan Posyandu, dan konsultasi di poliklinik, dengan media digital berupa Instagram, WhatsApp, dan situs resmi, serta media cetak seperti poster, brosur, dan spanduk. Media digital dipilih karena kecepatan, jangkauan luas, dan kemudahan pembaruan informasi, sementara media konvensional tetap dipertahankan untuk menjangkau kelompok lanjut usia dan masyarakat dengan keterbatasan akses internet. Respons masyarakat terhadap kedua pendekatan tersebut secara umum positif, ditandai dengan meningkatnya partisipasi dalam kegiatan kesehatan serta interaksi aktif di media digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi media digital dan konvensional yang disesuaikan dengan karakteristik audiens menjadi kunci efektivitas komunikasi kesehatan di tingkat pelayanan primer.